Saturday, July 31, 2021

Covid Belum Pergi

 

COVID BELUM PERGI

Oleh: Rosminiyati

 

Virus corona sembilan belas

Masih menjadi topik teratas

Tak pernah habis dibahas.

 

Bukannya pergi malah bertahan

Membawa teman sebagai pasukan

Terus menyerang bagaikan setan

Begitu kebal tak mempan dilawan.

 

Merusak semua aspek kehidupan

Menggoyahkan seluruh tatanan

Mematikan kegiatan perkantoran

Membatasi arus pergerakan

Menyekat jalan pendidikan.

 

Sekolah dan perkantoran seperti kuburan

Pekerja lapangan merasa ketakutan

Petugas medis semakin kewalahan

Wirausahawan jauh dari kecukupan

Pihak swasta menjadi kebingungan

Penduduk pun kehilangan harapan.

 

Berbagai rencana sudah direalisasi

Mencuci tangan sampai vaksinasi

Donasi pun banyak didistribusi

Kepada segenap instansi

Agar dapat menjadi solusi.

 

Kerjasama terus digalakkan

Berharap bangsa bisa dipertahankan

Saling tolong dan menguatkan

Berbagai bentuk kebajikan.

 

Mari kita ikhlas dan rela

Menerima takdir Allah Taala

Atas musibah dan bala.

 

Pangkalpinang, 31 juli 2021









Menulis untuk Berbagi

Mendengar kata “menulis” membuat saya merinding. Teringat betapa sulitnya melakukan pekerjaan itu.  Menulis ibarat melukis wajah seseorang yang belum dikenal atau menggali sumur di tanah berbatu hanya dengan menggunakan cangkul. Oh ... tidak! Itulah yang saya rasakan ketika diminta untuk menulis.

Tidak ada ketertarikan sama sekali menggeluti dunia menulis ini awalnya. Sulitnya mencari ide apalagi diksi dan merangkainya menjadi kalimat yang tertata indah dan penuh makna menjadi penghambat besar di kala sekali-sekali ingin mencoba. Membuka laptop, mengetik beberapa kalimat, akhirnya berhenti dan tak kembali. Mengapa? Karena tidak tahu arah menulisnya ke mana.

3 tahun yang lalu, seorang teman guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia akan mengakhiri masa kerjanya di sekolah kami. Beliau meminta saya untuk membaca puisi pada acara purnabakti. Suatu tantangan yang sangat berat bagi saya karena saya tipe orang yang tidak suka tampil di muka umum. Demi memenuhi permintaan sahabat sejati sekaligus mentor dan motivator saya dalam menjalankan tugas sebagai guru di sekolah yang terkadang membuat saya menjadi lemah, saya pun menerima tantangan itu.

Masalah muncul di saat saya hendak berlatih membaca puisi. Belum ada puisi yang tersedia. Mulailah saya mencari puisi dari berbagai sumber di internet. Berhari-hari saya mencari puisi yang dapat mewakili perasaan dan pikiran saya kepada guru tercinta. Tak satu pun yang mengena di hati. Akhirnya, dengan sekuat tenaga dan pikiran saya mencoba menulisnya sendiri. Alhamdulillah, dua hari menjelang acara purnabakti, puisi itu pun selesai ditulis. Berlatih membaca puisi karya sendiri tidak perlu berlama-lama karena di saat menulis pun saya sudah menyertakan perasaan yang terdalam.

Tibalah saatnya acara purnabakti dua orang guru sekaligus, guru Bahasa Indonesia dan guru BK. Hadir di acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan atau yang mewakilinya, para alumni guru dan keluarga, kepala-kepala sekolah dari sekolah lain yang diundang, guru yang sedang purnabakti dan keluarga, dan guru-guru beserta staf TU di sekolah kami yang jumlahnya 120-an orang. Dengan jantung berdebar, saya naik panggung dan mulai membaca puisi ciptaan saya. Di saat judul puisi saya baca dengan menyebutkan nama pengarangnya, aula sekolah yang dingin ber-AC terasa hangat lantaran disambut tepuk tangan hadirin. Entah perasaan apa yang menyelimuti saya kala itu.

Perasaan berbeda kembali muncul dalam diri saya. Salah satu guru sempat menyampaikan perasaannya saat mendengar puisi yang saya bacakan. Merinding, katanya. Beberapa yang lainnya mengatakan bahwa saya mempunyai bakat terpendam. Sejak saat itu, saya bertanya pada diri sendiri, benarkah saya bisa menulis? Ah… itu cuma kebetulan karena terdesak kebutuhan. Itulah kesimpulan saya lantaran masih tak yakin bahwa saya mampu menulis.

Pandemi Covid-19 mulai melanda bangsa ini. Pada bulan Mei 2020 yang lalu, saya mengikuti kegiatan workshop dan webinar berseri yang diselenggrakan oleh PBPGRI bekerja sama dengan Mahir Academi. “Self Driving for Teacher Guru Daring Milenial Indonesia” selama 98 jam pelajaran. Lantaran sulitnya melaksanakan pembelajaran daring yang mendadak terjadi, saya bertekad mengikuti kegiatan webinar tersebut dengan serius. Kegiatan berlangsung dari pukul 07.00 sampai 21.00. Pembukaan dan seterusnya materi inti yang silih berganti.  Sedapat mungkin kegiatan saya ikuti melalui zoom di siang hari dan live streaming di malam hari. Saya tak hendak tertinggal informasi dari narasumber hebat di negeri ini. Dari kegiatan itulah saya tahu ternyata PGRI adalah organisasi luar biasa, memperjuangkan nasib guru Indonesia sekaligus pendidikan di seluruh pelosok negeri.

Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. yang biasa disapa Om Jay merupakan salah satu narasumber pada kegiatan webinar tersebut. Pada saat itu, 8 Mei 2020, beliau memaparkan materi dengan tema “Menjadi Blogger Ternama Blogger Guru Indonesia”. Beliau bercerita tentang prestasi yang diraih berkat menulis; antara lain diundang Bapak Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Pergi naik metro mini dan pulang naik taksi lantaran khawatir hadiah uang tunai Rp. 20.000.000 melayang. Jalan-jalan ke luar negeri tanpa biaya pribadi juga menjadi kenangan tersendiri. Banyak lagi prestasi lain yang diceritakan beliau berkenaan dengan menulis. Sejumlah bonus berupa hadiah sampai ketenaran hingga diundang sebagai narasumber di berbagai webinar.

Menyimak cerita Om Jay pada webinar PGRI saat itu membuat diri ini merasa semakin kecil. Belum ada apapun yang dipesembahkan untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Belum ada karya yang dapat dibanggakan apalagi untuk berbagi sebagai bakti pada ibu pertiwi. Tawaran Om Jay untuk mengikuti kegiatan belajar menulis bersama Om Jay di akhir materi webinar PGRI sangat memikat hati saya yang berniat untuk berbagi. Segera saya simpan nomor ponsel Om Jay di gawai saya dengan rencana untuk segera ditidaklanjuti.

Keinginan yang kuat untuk bergabung di kelas belajar Om Jay mengalami pasang surut tatkala berhadapan dengan tugas utama sebagai guru di masa awal pandemi Covid 19. Perang batin sempat terjadi. Ingin segera mendaftar atau menunda. Perjuangan mengajar dalam jaringan tanpa didampingi ahlinya secara langsung menyebabkan saya bingung. Belum lagi perangkat lunak yang bersemayam cantik di kepala dengan kapasitas lambat menangkap dan cepat lupa ini menyebakan saya lelah. Indra penglihatan yang sering tak kuat berlama-lama di hadapan gawai ataupun laptop juga dirasakan sangat menghambat. Akhirnya, keinginan menjadi salah satu peserta dalam kegiatan belajar menulis bersama Om Jay tertunda.

Cukup lama saya melupakan cerita tentang belajar menulis bersama Om Jay. Teringat kembali setelah membaca postingan seorang teman di grup Whatsapp pada 18 Juni 2021. Ibu Okmi Astuti, M.Pd., rekan sesama anggota MGMP  membagikan video tentang kenangan  indahnya di gelombang 18 Belajar Menulis PGRI. Membaca judulnya, saya langsung tercenung. “Belajar Menulis Gelombang 18”, artinya sudah begitu banyak saya melewatkan kesempatan untuk belajar menulis.

Saya buka dan cermati isi video yang dikirim Ibu Okmi. Slide pertama dihiasi oleh wajah manis Om Jay, guru blogger, motivator, dan penulis buku. Disusul oleh wajah keibuan dengan senyum manis nan menawan Bu Kanjeng, pegiat literasi, motivator dan penulis buku. Di slide ketiga dihiasi oleh tampang ganteng Pak Raimundus Brian Prasteyawan, admin tim Om Jay. Selanjutnya, wajah chubby nan manis Ibu Aam Nurhasanah, moderator. Berikutnya adalah wajah-wajah peserta belajar menulis gelombang 18. Terakhir, Flyer yang berisi wajah para narasumber secara bergiliran. Gambar jempol pun langsung diklik dengan jempol. Berkali-kali saya putar tayangan youtube tersebut sambil bertanya. Inikah saatnya?

Tak hendak melewati kesempatan lagi, saya segera mengambil gawai dan mencari nomor cantik milik Om Jay. Saya langsung menyapa dan menyampaikan niat saya untuk bergabung dalam kegiatan belajar menulis. Tak berlama-lama, Om Jay memasukkan saya di Whatsapp Group Belajar Menulis Gelombang 19.

Saya merasa senang telah bergabung di grup belajar menulis sejak 22 Juni 2021 karena saya berpikir belajar segera dimulai. Dengan demikian saya bisa fokus untuk belajar karena bertepatan dengan waktu liburan. Ternyata perkiraan saya salah total. Kegiatan belajar menulis dimulai pada 12 Juli 2021 dengan acara pembukaan pada 10 Juli 2021.  Artinya, bertepatan dengan awal masuk sekolah yang tentunya sejumlah kesibukan sebagai guru harus disandingkan secara harmonis dengan kegiatan belajar menulis.  Keraguan mulai menerpa mengingat kondisi saya yang gampang lelah. Satu pertanyaan pamungkas, kuatkah saya menjalaninya?

Mengisi tenggat waktu menuju materi inti, Om Jay dan beberapa anggota tim mulai memberikan beraneka ragam menu terkait persiapan belajar. Form pendaftaran, link blog yang membuat penasaran untuk dikunjugi sebagai bahan referensi, flyer dan informasi tentang webinar yang relevan, tata tertib kegiatan belajar, buku-buku terbitan terbaru tim belajar menulis, sampai tantangan menulis sederhana dari Om Jay. Semangat menulis bertambah lagi.

Tangal 28 Juni 2021, ada postingan dari Admin grup bahwa pendaftaran pada google form sebelumnya harus diulang karena ada tambahan data, yaitu link alamat blog. Dug! Ada yang bergemuruh di dada. Bagaimana ini? Dengan bantuan anak sulung saya, akhirnya saya mempunyai blog meskipun terpaksa.

Sudah beberapa hari blog dibuat tapi halamannya masih kosong. Dengan bantuan Pak Wahyu, seorang pengajar di Program Keahlian Teknik Informatika di sekolah saya, tampilan blog saya berubah cantik karena ada foto pemilik bertengger di sana. Tak kalah indahnya ketika halaman blog sudah terisi dengan salin-tempel tulisan yang saya buat beberapa hari sebelumya.

Tak sabar untuk dikomentari oleh pembaca, link blog pertama lagsung dibagikan ke WAG sekolah, dilanjutkan dengan tulisan kedua. Menerima komentar dari teman-teman membuat hati berbunga-bunga dan mulailah muncul rasa percaya diri. Dengan sedikit keberanian, link tulisan ketiga saya bagikan ke Whatsapp Group (WAG) belajar menulis, dan langsung disambut manis oleh Ibu Ditta Widya Utami yang ternyata juga adalah tim Om Jay dalam kegiatan belajar menulis. Kebahagiaan dan semangat mengisi blog pun semakin meningkat sejak saat itu.

Pertemuan pertama dengan Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau akrab disapa dengan Bu Kanjeng pada kegiatan belajar menulis memberikan kesan mendalam pada diri saya. Melalui tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion” yang disajikan beliau membuat saya paham dengan tujuan atau orientasi menulis yang bersifat filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi kehidupan kita di dunia. Semakin kuat keyakinan saya bahwa tujuan menulis hendaknya sejajar dengan tujuan kehidupan kita sendiri yaitu untuk mengabdi kepada-Nya.

Tujuan menulis merupakan pondasi untuk berkarya, menjadikan menulis sebagai passion adalah dinding-dindingnya, dan ilmu tentang menulis merupakan atapnya.

Motto hidup Bu Kanjeng “bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silaturrahmi” menjadi pemantik semangat saya untuk menjadikan menulis sebagai passion. Menulis apa saja yang disuka. Ide dapat diperoleh dari mana saja. Menjadikan menulis sebagai passion untuk dapat menulis sebanyak-banyaknya. Jangan takut salah. Seiring berjalannya waktu, ilmu tentang menulis sedikit demi sedikit mulai diterapkan. Tulisan yang dibuat di blog mulai direvisi. Selanjutnya, agar tulisan dapat menjadi karya nyata, target waktu harus ditetapkan; kedisiplinan, kenyamanan, dan mood booster harus dijaga; dan fasilitas menulis harus dalam kondisi prima.

Begitu banyak yang saya dapatkan dari kegiatan belajar menulis PGRI ini. “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” dari Om Jay telah dapat saya nikmati. Tujuan menulis dan “menjadikan menulis sebagai passion” dan pernak-pernik terkait kepenulisan yang dihadiahi Bu Kanjeng sepertinya sudah mulai menyatu dengan diri ini.

Baru seperempat waktu dari keseluruhan jadwal belajar menulis yang ditentukan berjalan, tulisan di blog sudah dapat dirasakan manfaatnya. Pembelajaran di seokolah saya tak lagi dengan tatap muka terbatas seperti semester sebelumnya sejak Senin, 26 Juli 2021. Saya memanfaatkan tulisan di blog tersebut sebagai bahan literasi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Hanya dengan membagikan link tulisan di halaman blog ke WAG kelas atau forum di google classroom, peserta didik sudah dapat menikmati tulisan saya dan mengambil hikmah dari isinya.

“Fabi ayyi aalaa'i Rabbikumaa tukazzibaan” (Q.S. Ar-Rahman 17)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat Al-Quran inilah yang pantas menjadi pengingat diri. Pengalaman belajar menulis PGRI bersama Om Jay patut saya syukuri. Menulis yang dirasakan begitu sulit kini menjadi passion saya dengan manfaat yang benar-benar nyata. Tak ada kata yang pantas dipersembahkan kepada para penulis hebat, guru-guru pada kegiatan belajar menulis ini, selain ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Berharap keteladanan yang diberikan dengan selalu ikhlas berbagi di kegiatan belajar menulis PGRI dapat melahirkan penulis-penulis yang ikhlas berbagi pula. Semoga dengan terbitnya buku karya penulis pemula menjadi jalan untuk berbagi yang diridai.

 

Pangkalpinang, 28 Juli 2021

Rosminiyati

*) Cerita ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul "Writing is My Passion 1" terbitan Agustus 2021


Friday, July 30, 2021

Mengatasi Writer's Block

 


Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke     :    9

Gelombang     :    19

Tanggal           :    30 Juli 2021

Tema              :    Mengatasi Writer’s Block

Narasumber    :    Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.

 

Belajar menulis bersama Om Jay dan PGRI gelombang 19 dan 20 selalu menggairahkan. Setiap pertemuan selalu disajikan tema yang menantang. Istilah-istilah menulis yang belum pernah didengar membuat diri ini penasaran. Belum lagi narasumber yang hebat dan penuh dedikasi. Ditemani moderator andal yang selalu bisa menghangatkan suasana belajar. Lelah, ngantuk, haus, dan lapar terkadang tak dirasakan. Inikah yang dinamakan kasmaran?

Tema belajar malam ini ditayangkan Om Jay lebih dini. Pagi Jumat berkah telah dihiasi dengan flyer yang membuat diri penasaran. “Mengatasi Writer’s Block”, begitu temanya. Menebak sepintas, sepertinya saya sering mengalami kejadian ini. Terlalu sering bahkan. Entah karena pemula, atau karena sebab lainnya. Yang jelas, ketika terjadi, saya tinggalkan laptop dan beralih ke kegiatan lainnya.

Kegiatan belajar dibuka lebih awal oleh Moderator andal, Ibu Maesaroh, M.Pd. sang blogger millennial, yang akrab disapa Ibu May. Beliau memulai acara dengan mengucapkan salam. Saya jawab dalam hati, semoga keselamatan atas dirimu juga. Seperti halnya saya, ternyata Ibu May juga sudah tak sabar ingin berjumpa. Sehati jadinya.

Mengawali materi inti “Mengatasi Writer's Block”, Bu May menjelaskan tentang pentingnya materi ini yang merupakan modal dalam membuat tulisan berkualitas. Selanjutnya beliau memperkenalkan Narasumber cantik dan cerdas dengan sekian banyak prestasi. Sukses mengikuti kegiatan belajar menulis PGRI gelombang ke-7, dan naik kelas menjadi moderator dan narasumber di berbagai pelatihan.

Ibu Ditta Widya Utami, demikian nama Narasumber yang membahas materi malam ini. Beliau lahir di Subang pada tanggal 23 Mei 1990. Berprofesi sebagai guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat. Untuk menunjang profesinya, beliau aktif dalam kegiatan MGMP IPA,  PGRI, Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat (KPPJB), Literasi Subang Bihari dan Berwibawa (Lisangbihwa), dan Cakrawala Blogger Guru Nasional (Lagerunal).


Lulusan S1 Pendidikan Kimia UPI ini telah menerbitkan 3 buku solo (versi cetak), 1 novel di platform wattpad, dan 2 short story di storial dan wattpad sejak tahun 2017, dan 12 buku karya bersama sejak tahun 2019. Telah meraih 7 buah prestasi sejak tahun 2020 yang meliputi Penghargaan Bupati Subang (2020) dan Penghargaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang sebagai guru berprestasi (2021). 

Sebelum menyampaikan materi inti tentang Writer’s block yang dipopulerkan oleh Edmund Berger, Ibu Ditta memberikan sebuah tantangan untuk menulis dengan durasi 15 menit. Sebuah foto wayang dengan panjang tulisan 3 paragraf. Berhubung kesehatan tidak begitu memungkinkan untuk banyak berfikir, saya mengabaikan tantangan itu. Syukur-syukur kuliah malam ini bisa saya ikuti. Lumayan banyak yang berpartsipasi dalam tantangan ini.







Materi Bu Ditta dimulai dengan pertanyaan apakah peserta pernah mengalami kejadian tak mempunyai ide dalam menulis atau sudah menulis namun kemudian tak dapat melanjutkannya. Kondisi seperti itulah yang dinamakan dengan writer’s block. Bu Ditta sangat yakin bahwa peserta belajar menulis dapat mengatasi writer’s block. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta belajar yang dengan sigap menulis berdasarkan tantangan yang diberikannya.

Bu Ditta mengambil rujukan dari Wikipedia bahwa writer's block sebagai keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya. Adapun tanda-tandanya antara lain: sulit fokus, tidak ada inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan frustasi.


Writer’s block bisa menimpa siapa saja, penulis pemula ataupun penulis prefesional. Tentu saja demikian, karena masalah ini tidak ada hubungannya dengan komitmen atau kompetensi penulis. Lamanya writer’s block terjadi pada seorang penulis bisa bervariasi. Dalam hitungan menit, jam, hari, bulan atau bertahun-tahun.








Untuk mengatasi writer’s block, kita harus mencari penyebabnya. Yang tahu hal ini tentunya diri kita sendiri. Namun, secara garis besar, penyebanya adalah: mencoba metode/topik baru dalam menulis, stress, lelah fisik/mental, dan perfeksionis berlebihan.

Jika kita mengalami writer’s block yang disebabkan oleh topik yang baru, maka hal yang harus kita lakukan adalah dengan meneguhkan komitmen, kemudian segera mencari sumber bacaan. Cara lain juga bisa dilakukan dengan membuat kreasi dengan warna tulisan sendiri/berbeda. Serlain itu, bisa juga dengan berlatih secara terus menerus sampai sesuatu yang baru tersebut menjadi terbiasa dengan diri kita.

Apabila writer’s block disebabkan oleh stres dan kelelahan fisik/mental, maka istirahat sejenak adalah jalan yang terbaik. Hal ini dapat dilakukan dengan mencari suasana baru yang menyenangkan. Dengan segarnya kembali fisik/mental kita, maka ide baru pun akan datang dengan sendirinya.

Untuk mengatasi writer’s block yang disebabkan oleh perfeksionis berlebihan adalah dengan cara mengembalikan niat awal kita menulis. Untuk itu kita perlu flash back ke masa lalu di saat kita masih belum tahu apa-apa tentang menulis.

Writer’s block bisa dialami siapa saja dan dapat diatasi jika sudah tahu penyebabnya. Yang tahu penyebabnya tentunya diri kita sendiri. Oleh karena itu, yang dapat mengatasinya juga diri kita sendiri. Dengan mengenali ciri-ciri/tanda-tanda writer’s block dapat membantu kita dalam penyelesaian masalah ini. Yang terpenting untuk diingat, jangan biarkan writer’s block ini berlama-lama menyerang kita agar tujuan yang ingin dicapai tidak terbengkalai. Mari berkarya dengan warna yang sesuai selera.

Terima kasih Bu May dan Bu Ditta atas kebersamaan yang hangat malam ini. Semoga materi yang sudah dibagi dapat melancarkan urusan kami dalam mewujudkan mahkota yang dirindukan.

 

Pangkalpinang, 30 Juli 2021

Rosminiyati, S,Pd.

 


Wednesday, July 28, 2021

Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan




 

Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke     :    8

Gelombang     :    19

Tanggal           :    28 Juli 2021

Tema              :    Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan

Narasumber    :    Thamrin Dahlan, SKM, M.Si.  


Menulis tanpa menerbitkan buku ibarat berjalan tidak sampai ke tujuan. Sudah banyak energi dan waktu yang dikeluarkan namun tujuan tak sampai. Keuntungan tetap ada, namun tak dirasakan maksimal. Ibarat berjalan, kita hanya bisa menikmati pemandanagn di sekitar atau berhenti untuk mengobrol dengan orang-orang yang belum dikenal.

Keinginan yang kuat dari dalam diri ibarat langkah pertama dalam perjalanan. Belajar bersama Om Jay dan tim merupakan langkah-langkah berikutnya. Bergandengan tangan, saling menarik atau mendorong agar tetap semangat di saat lelah dan lemah adalah energi tambahan yang harus tetap dijaga. Pelajaran dari narasumber menjadi aba-aba pemandu agar tak salah arah dalam mencapai tujuan. Demikian indah dan ringan perjalanan menjadi penulis jika semuanya saling rangkul dan bersinergi secara positif.  Tujuan pun pasti sampai.

"Buku Mahkota Penulis, Buku Muara Tulisan” merupakan tema belajar menulis PGRI bersama Om Jay gelombang 19 dan 20 dengan narasumber Bapak Thamrin Dahlan, SKM, M.SI. sempat membuat saya tercenung. Mahkota adalah sesuatu yang dihargai atau yang dijunjung tinggi (KBBI V). Betapa tingginya penghargaan tehadap suatu karya tulisan. Muara berarti ujung (KBBI V). Terasa begitu jauh perjalanan sebuah tulisan hingga sampai di muara, menjadi buku, jika saat ini baru sampai pada lembaran-lembaran blog ala kadarnya.

Mengawali kegiatan belajar menulis, Bapak Bambang Purwanto atau Mr. Bams membagikan begitu banyak slide untuk dibaca. Salam pembuka ala muslim, nasional dan literasi pertanda kegiatan belajar malam ini dimulai. Atas seizin Om jay beliau pun membuka kegiatan dengan mencurahkan perasaan senang dapat bersama peserta kembali mengikuti kegiatan belajar bersama narasumber hebat. Saran untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk menemani kegiatan belajar. Menebarkan senyuman bagi orang di rumah menjadi penyemangat.

Narasumber, H. Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. lahir di Tempino Jambi pada tanggal 7 Juli 1952.
Purnawirawan Polri dengan pangkat Kombes Pol. Saat ini beliau mengajar di Akper Polri.  Pendidikan terakhir S2 UI. Beliau juga penggiat literasi, penulis yang telah menerbitkan 40 buku. Tak hanya itu, beliau merupakan pendiri penerbit Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan.
 
Pak Thamrin Dahlan memotivasi para guru dengan menggunakan petuah nama. “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Jika kita hanya meninggalkan nama di buku nikah, buku tabungan, buku Yasin, dan batu nisan, tentulah bukan sesuatu yang istimewa.

Akan lebih baik dan bermanfaat tentunya jika nama kita tercantum pada cover buku ber-ISBN. Dengan demikian, nama kita akan abadi dan dikenang sebagai orang yang pernah hadir di muka bumi. Buku kita akan dipajang di Perpustakaan Nasional, dibaca oleh siapapun yang membutuhkan.
 
Guru adalah arsitek peradaban, artinya guru mendidik dan mengajar secara tulus. Guru memberikan contoh yang baik bagi anak didik dengan keteladanan melalui sikap dan tingkah laku yang baik. Tugas mulia tersebut mengantar para guru mendapatkan rida Ilahi. Sebagai arsitek peradaban, guru juga harus mampu berfikir kritis dan terbuka terhadap perkembangan. Itulah guru yang hebat. Guru yang mampu memenuhi tuntutan zaman, yang pada akhirnya akan menigkatkan mutu pendidikan.
 
Penulis adalah pekerjaan mulia. Dengan tulisan, seorang penulis mengabdi untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Seorang guru penulis akan terus dikenang karena karya-karyanya. Tulisan yang bermanfaat bagi umat akan menjadi amal jariah bagi penulisnya.

Dalam menghasilkan buku dan karya tulisan yang begitu banyak, Pak Thamrin mengungkapkan rahasia keberhasilannya kepada para peserta belajar menulis. Konsisten menulis pak Thamrin Dahlan adalah niat untuk berbagi kebaikan. Ide menulis berasal dari mana saja. Menulis tentang sesuatu yang dipahami, dialami, dan dengan sungguh-sungguh.
 
Keberhasilan pak Thamrin dalam menulis tak lepas dari motto menulis beliau “3 Pena: Penasehat, Penakawan dan Penasaran” dan "jangan pernah tinggalkan tulisan terbengkalai". Artinya, menulis harus sampai selesai. Beliau selalu menyelesaikan tulisannya dalam suatu waktu, tanpa terputus.
 
Dengan niat berbagi kebaikan, konsistensi menulis yang tinggi, disertai motto menulis yang luar biasa, beliau sudah memproduksi hampir 3.000 artikel selama 11 tahun berkerja di media sosial dan 40 judul buku. Jika berusaha, maka akan dilancarkan. Itulah yang telah dibuktikan oleh Pak Thamrin dengan karya-karyanya. Dengan berbagi kebaikan beliau juga merasakan kebahagiaan.
 
Beliau memperkenalkan ragam tulisan ke dalam 3 jenis: reportase/liputan/laporan; opini berupa artikel membahas permasalahan aktual; dan fiksi berupa cerpen, puisi dan pantun. Menulis dilakukan dengan menyediakan waktu khusus, waktu luang, saat menunggu, setelah sholat Subuh, menjelang tidur, dan 1 hari 1 postingan. Tulisan beliau dibagikan di website sekolah, kompasiana.com, facebook, whatsapp, email, messanger, dan twitter. Tulisan juga disimpan di facebook, gawai, laptop, komputer, dan media sosial.
 
Keajaiban rahasia penulis yang sudah dibuktikan: tulisan memiliki ruh, akan hidup jika dibagikan di media sosial dan mendapatkan komentar dari pembaca; penulis menjadi terkenal, dan membawa keberuntangan yang tak terduga.
  
Pak Thamrin Dahlan menyayangkan jika para guru yang telah mempunyai banyak tulisan, namun tulisan tersebut berserakan, tidak disatukan menjadi buku. Beliau menyarankan agar naskah buku yang sudah dibuat segera diterbitkan agar menjadi mahkota penulis dan sekaligus muara tulisan.
 
Anggapan para guru bahwa menerbitkan buku itu sulit dan mahal dipatahkan oleh Pak Thamrin Dahlan. Beliau membuktikannya dengan telah diterbitkannya 232 buku ber-ISBN oleh penerbit YPTD hanya dalam kurun waktu 1 tahun 4 bulan. Sebagian besar buku-buku tersebut merupakan karya guru-guru di Indonesia.
 
Sebagai pemilik Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), Pak Thamrin diperkenalkan oleh Om Jay kepada komunitas Guru Indonesia Hebat. Di sinilah awal mula beliau membantu para guru dalam menerbitkan tulisan menjadi buku sebagai mahkota penulis.
 

Pak Thamrin memperkenalkan langkah awal menerbitkan buku di YPTD. Tentu saja naskah buku yang sudah dibuat dikirim ke email thamrindahlan@gmail.com. Selanjutnya, YPTD akan memproses pengusulan ISBN ke Perpustakaan Nasional.  Proses selanjutnya adalah editing, cover, dan layout. Setelah melalui proses tersebut, maka buku dicetak. Terbitlah buku sebagai mahokta seorang penulis.

 















Buku ber-ISBN adalah buku yang sesuai dengan standar UNESCO, yaitu berisi 80 halaman dan merupakan karya asli penulis. YPTD sendiri mensyaratkan minimal 150 halaman dengan ukuran kertas ukuran A5, huruf Times New Roman 12, diketik dengan spasi 1,5 dan margin kiri 1,5; atas, kanan dan bawah masing-masing 1. 
 
Biaya cetak buku standard YPTD Rp. 50.000 per eksemplar. Meskipun menerbitkan buku di YPTD, penulis diberikan master buku berupa softcopy buku sehingga bisa memperbanyak buku di penerbit lain yang diinginkan.  YPTD merupakan Yayasan non komersial. Karena itu, yayasan ini mengabdikan diri untuk membantu para penulis menerbitkan buku ber-ISBN. YPTD juga melayani desain cover gratis. Dalam waktu 14 hari pengiriman naskan, buku sudah diterbitkan.
 
Di samping keunggulan tentang penerbit YPTD, Pak Thamrin Dahlan juga menjelaskan tentang keunggulan buku cetak dibandingkan buku digital. Buku digital tak dapat dinikmati secara bebas karena bergantung pada listrik dan sinyal. Buku cetak dapat dibaca kapan saja dan di mana saja. Terkait promosi buku yang diterbitkan, beliau menyarankan lewat Whatsapp grup, facebook, twitter atau media sosial lainnya.
 
“Sesungguhnya muara dari menulis adalah buku, karena buku bersifat abadi dan menjadi alibi tak terbantahkan atas kehadiran seorang anak manusia di muka bumi ini.” (Thamrin Dahlan)
 
Sebagai penulis pemula sekaligus sabagai guru yang tidak ingin tergilas oleh peradaban, maka kesempatan terbaik yang ditawarkan Pak Thamrin Dahlan hendaklah disambut dengan segera. Menjadi guru hebat yang namanya tertulis di cover buku, dan menjadi terkenal merupakan pilihan bijak.
 
Terima kasih Mr. Bams dan pak Thamrin Dahlan atas kebersamaan malam ini. Semoga motivasi, ilmu, dan tawaran bantuan penerbitan buku dapat menjadi jalan bagi peserta belajar menulis meraih mahkota sebagai muara dari kegiatan belajar menulis ini.
 

 

Pangkalpinang, 28 Juli 2021

Rosminiyati, S.Pd.

Naiklah hingga tingkat tertinggi, berjalanlah hingga sampai di tujuan.

Monday, July 26, 2021

Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie


 

Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke     :    7

Gelombang     :    19

Tanggal           :    26 Juli 2021

Tema               :    Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie

Narasumber    :    Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd.  


Terbitnya buku merupakan saat yang ditunggu-tunggu oleh penulis pemula. Tak lain karena momen ini menjadi tonggak bersejarah atas perjuangan yang tiada lelah seorang penulis pemula. Berangkat dari belum tahu apa-apa. Menulis saja masih takut salah. Menemukan ide bagaikan mencari jarum di dalam sekam. Memilih kata laksana menghitung bintang di langit. Merangkai kata menjadi  kalimat tak ubahnya seperti anak balita yang menyusun puzzle.  Jauh dari struktur yang benar apalagi enak dibaca. Hingga akhirnya, mampu menulis dalam lembaran-lembaran halaman blog yang siap dibukukan.

Dengan terbitnya buku menjadikan seorang penulis pemula naik kelas ke level yang lebih tinggi. Tulisan yang semula hanya menjadi konsumsi sendiri atau orang lain dengan jumlah yang sangat terbatas, akhirnya bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas. Dengan demikian, ide-ide, harapan-harapan, dan informasi apapun yang ingin segera dibagikan oleh penulis, dapat tersampaikan sesuai tujuan.

Seperti biasa, sebelum mulai kegiatan belajar menulis PGRI bersama Om Jay gelombang 19 dan 20, Om Jay selalu mengawali kegiatan dengan memberikan aba-aba tentang akan mulainya kegiatan belajar. Tak lupa, sebagai pemrakarsa kegiatan ini, Om Jay tak pernah lelah memberikan motivasi bagi peserta untuk senantiasa fokus dan semangat dalam belajar agar apa yang diharapkan dengan pertolonagn Allah dapat tercapai. Waktu akan terus melaju, sementara kesempatan tak selamanya mampir di kehidupan kita. Maka, dengan memperhatikan secara serius pemaparan materi oleh Narasumber yang berprestasi, akan menambah pengetahuan dan semangat baru dalam menulis.

Seorang guru yang masih muda dan berprestasi, Bapak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd.  menjadi Narasumber kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 dengan tema “Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie”, didampingi moderator andal Ibu Aam Nurhasanah, akan menjadi semakin semaraknya kegiatan belajar ini. Betapa tidak! Tema terkait penerbitan buku seakan semakin memberikan ruang luas bagi peserta belajar yang boleh dikatakan sebagai penulis pemula untuk menertbitkan karya-karya tulisnya selama belajar bersama Om jay.

Dengan ucapan salam dan mengingatkan para peserta tentang jumlah perte di kelas berikutnya menjadi ikon nasihat yang mujarab. Inilah hebatnya guru sejati, pengalaman burumuan yang sudah dilalui sekaligus kewajiban yang harus dipenuhi, Ibu Aam mampu membesarkan hati peserta yang sempat tertinggal pelajaran. Bahkan, ketertinggalan beliau sampai mengulangk tak rela dialami pula oleh para muridnya.

Perkenalan dengan Narasumber malam ini membuat saya terkesima. Pak Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd. yang lahir di Jakarta, 30 Juni 1992, tinggal di Bekasi dan berprofesi sebagai guru SD di Jakarta benar-benar memiliki segudang prestasi. Beliau adalah alumnus belajar menulis PGRI gelombang 4 yang mengabdikan diri pada kegiatan belajar ini dengan membantu Om Jay mengurus kegiatan pelatihan agar peserta, khususnya guru, dapat merasakan kesuksesan seperti beliau.

Pak Brian, lulusan S1 di PGSD Unika Atma Jaya Jakarta (2010-2014), dengan profesi utama sebagai guru di SDN Sumur Batu 01 Pagi, Jakarta sejak tahun 2015-sekarang ini memulai aktivitas menulis di blog pertamanya (www.praszetyawan.com) pada 2009. Profilnya pernah dimuat dalam buku berjudul "Majors for the Future". Puluhan tulisannya sudah dimuat di berbagai media cetak berupa Tabloid Bola, Harian Bola, Tabloid Soccer, Harian Kompas, Kedaulatan Rakyat, Warta Kota, Media Indonesia, dan Majalah Hidup.

Tak hanya itu, tulisan Pak Brian juga terpampang manis dalam berbagai blog, antara lain:

www.praszetyawan.com,

www.briandanbuku.my.id,

www.tamanbelajarblog.blogspot.com,

www.bahastematiksd.blogspot.com

www.kompasiana.com/brianprasetyawan

www.brianprasetyawan.gurusiana.id,

https://gulisiana.id/penulis/raimundus_brian_prasetyawan.html,

https://terbitkanbukugratis.id/author/brian-prasetyawan/

Beberapa buku solo pun telah menghiasi dunia literasi negeri, seperti: “Blog Untuk Guru Era 4.0” yang terbit Januari 2020, “Aksi Literasi Guru Masa Kini” yang terbit pada bulan Mei 2020, dan “Menerjang Tantangan Menulis Setiap Hari”, terbitan Juni 2020. Ada pula 8 buku karya bersama yang dipersembahkan untuk para pembaca yang haus literasi, antara lain antologi puisi “Senandung Rasa” dan “Ramadhan Tahun Ini”, antologi true story  “Semangatmu Inspirasiku” dan “Kembara Bakti, yang semuanya dihasilkan dalam waktu 6 bulan saja, Januari – Juni 2020.

Tak hanya bergelut dalam kegiatan menulis buku, beliau juga mempunyai profesi tambahan sebagai blogger, narsumber dan kurator/penangggung jawab pembuatan beberapa buku antologi “Ini Cerita Seru Hobiku”, “Pena Digital Guru Milenial”,  “Ukir Prestasi Tebar Inspirasi”, “Pahlawan Dalam Hidupku”, dan “Membongkar Rahasia Menulis Ala Guru Belajar Blogger” yang semuanya terbitan tahun 2020.

Prestasi yang diraih Pak Brian bukanlah tiba-tiba terwujud dengan sekejap mata. Setiap orang yang sukses ternyata ada cerita duka yang mendahuluinya. Keinginan menulis buku tentang tutorial blog pada tahun 2014 sempat dikuburkannya lantaran tidak mengerti cara menulis dan menerbitkan buku. Namun, ketika membaca hashtag di Instagram tentang penerbit indie pada tahun 2019, wawasan beliau pun semakin bertambah dan semangat untuk menulis dan menerbitkan buku muncul kembali. Akhirnya, pada bulan Januari 2020 buku pertama beliau pun terbit. Inilah kesuksesan perdana beliau dalam dunia literasi.






Guru muda dengan segudang prestasi ini mengambil tema “Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie” bukan tanpa alasan. Beliau ingin memberikan gambaran bahwa menerbitkan buku itu mudah karena sekarang ini ada penerbit indie yang menerbitkan buku tanpa proses seleksi, sementara di waktu yang lalu hanya ada penerbit mayor, seperti Gramedia, Grasindo, dan Elex Media, yang kita tahu bahwa untuk menembus penerbit tersebut sangatlah sulit. Tidak hanya itu, Pak Brian yang sudah membantu Om Jay dalam mengurus kegiatan pelatihan ini sejak Juli 2020, akan menjadi penghubung para peserta dengan penerbit indie dalam penerbitan buku agar dapat lulus dalam kegiatan belajar ini.

Bagi penulis pemula yang ingin cepat merasakan manisnya perjuangan menulis, tentunya ingin segera bukunya diterbitkan. Oleh karena itu, penerbit indie menjadi solusi terbaik karena naskah pasti diterbitkan dan proses penerbitannya juga terbilang mudah dan cepat. Meskipun kita mengeluarkan biaya sendiri untuk penerbitan, tentunya tidak akan menjadi masalah. Diterbitnya buku kita dengan mudah sudah merupakan keberuntungan yang luar biasa. Sertifikat lulus pelatihan sudah di depan mata, dan keinginan berbagi pada khalayak ramai pun dapat tercapai.

Dengan hadirnya beberapa penerbit indie yang sudah diperkenalkan kepada kita tidak serta merta menjadikan buku kita diterbitkan. Tetap saja ada ketentuan yang harus kita penuhi sesuai dengan standar masing-masing penerbit indie itu sendiri. Penerbit Gemala, sebagai rekanan Pak Brian, memberikan fasilitas berupa desain cover, ISBN, layout, 2 buku bukti terbit, dan e-sertifikat dengan biaya Rp. 300.000,- untuk maksimal 130 halaman.  Jika menginginkan paket gratis dengan hanya membayar biaya cetaknya saja, maka kita harus mencetak sebanyak 40 eksemplar buku.

 

Selanjutnya yang harus kita siapkan adalah naskah diketik dengan ukuran kertas A5, huruf Times New Roman 12, spasi 1,5, margin keliling 2 cm, dan paragraf rata kiri-kanan (justify). Tulisan kita hendaknya dibuat sesempurna mungkin karena Penerbit Gemala hanya melakukan edit ringan.

Ketentuan lain yang perlu kita cermati dalam penerbitan buku di Penerbit Gemala adalah: cover yang berisi judul buku dan nama penulis, prakata ditulis oleh penulis sendiri, daftar isi dibuat tanpa nomor halaman, profil penulis, sinopsis yang terdiri dari 3 paragraf, dan masing-masing paragraf berisi 3 kalimat, kata pengantar ditulis oleh orang lain, boleh minta bantuan Om jay, dan bersifat tidak wajib. Untuk jumlah halaman buku yang dicetak, tidak ada ketentuan khusus. Jika kita membukukan kumpulan resume kita, biasanya sudah lebih dari 90 halaman kertas A5.

Satu hal yang diingatkan Pak Brian tentang Penerbit Gemala ini. Apabila naskah sudah masuk ke meja penerbit, kita harus bersabar menunggu buku diterbitkan karena naskah buku penulis yang lain juga mengantri bersama kita. Untuk informasi lebih lanjut tentang Penebit Gemala, silakan klik link ini.

www.praszetyawan.com/2021/01/butuh-bantuan-menerbitkan-buku-disini.html

Nah, tunggu apa lagi? Ingin segera buku diterbitkan dengan segala kemudahan dan keuntungan yang sudah menanti, mari gencarkan menulis resume dengan rapi atau tulisan-tulisan lain sesuai passion kita. Kemudian, hubungi Pak Brian untuk menjembatani kita dengan Penerbit Gemala. Selanjutnya, isi form bukti buku telah diterbitkan, dan  sertifikat 40 jam pun segera kita terima.

Terima kasih Om Jay, Bu Aam, dan Pak Brian atas kebersamaan yang hangat dan inspiratif ini. Semoga dengan ilmu yang telah diberikan, menjadikan kami penulis yang benar-benar bisa memberikan manfaat bagi umat.

 

Pangkalpinang, 26 Juli 2021

Rosminiyati

Semangat yang tinggi diiringi usaha dan doa akan mengantarkan kita kepada kesuksesan.

 

Friday, July 23, 2021

Menulis Menjadikan Ibu Aam Naik Kelas dan Berprestasi

 


Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke     :    6

Gelombang     :    19

Tanggal           :    23 Juli 2021

Tema              :    Menulis Membuatku Naik Kelas dan Brerprestasi

Narasumber    :    Aam Nurhasanah, S.Pd.  


Naik kelas, berdasarkan KBBI, diartikan sebagai berganti kelas dari kelas yang lebih rendah ke kelas yang lebih tinggi (sesuai dengan urutan angka) setelah memenuhi persyaratan nilai yang ditentukan. Kalau diterjemahkan secara bebas, naik kelas dapat diartikan sebagai berpindahnya tingkat kemampuan seseorang dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi setelah melalui proses belajar yang bersungguh-sungguh.
 
Prestasi diartikan sebagai hasil usaha yang dicapai dari apa yang dikerjakan atau yang diusahakan (KBBI). Usaha untuk mencapai hasil atau prestasi melibatkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketangguhan seseorang dalam menjalani prosesnya. Karena itu, prestasi dapat dijadikan tolak ukur tingkat pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan seseorang sekaligus menjadi kebanggaan sebagian besar orang.
 
Prestasi mencakup banyak bidang kehidupan, tak terkecuali menulis. Tingkat pencapaiannya pun sangatlah beragam, sesuai dengan bidang dan ruang lingkup penilaian. Apresiasi dan tanggapan terhadap prestasi yang dicapai juga tak kalah banyaknya. Ada yang biasa-biasa saja, bahagia, bangga, dan aneka yang lainnya. Namun satu hal yang nyaris pasti, orang yang berprestasi tentu saja akan naik kelas.
 
“Menulis Membuatku Naik Kelas dan Berprestasi” merupakan tema pembahasan yang akan dipaparkan oleh Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. pada kegiatan Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay Gelombang 19 dan 20 Pertemuan 6 ini. Untuk mengungkap makna di balik tema yang diangkat Ibu Aam, akan lebih baik jika kita simak bersama kegiatan belajar ini dengan mengikuti petunjuk moderator andal kita, Ibu Maysaroh, M.Pd.
 
Om Jay sudah mulai memberikan aba-aba dengan menutup pesan chat masuk kecuali admin, dilanjutkan dengan menyampaikan bahwa malam ini, seperti malam pertemuan 5, kuliah  masih difokuskan pada Gelombang 20. Tak terasa bedanya, belajarnya sama saja. Tetap semangat. Apalagi dengan motivasi Om Jay dengan mempersiapkan 10 kali pertemuan untuk motivasi prestasi, selebihnya yang 20 kali untuk materi menulis.
 
Kembali Om Jay mengingatkan agar peserta terus berkonsentrasi dan berkomitmen tinggi agar dapat lulus dari pelatihan ini. Sertifikat dengan muatan 40 jam akan diberikan bagi peserta yang telah menerbitkan buku setelah pelatihan menulis yang diselenggrakan oleh PGRI sebagai Rumah bahagia para guru ini. Solidaritas yes!
 
Pesan yang mendalam dari Om Jay “Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna. Kolaborasi atau kerjasama itu penting dalam membangun kesuksesan diri. Jadilah guru tangguh berhati cahaya.” Semoga.
 
Moderator andal pun mulai beraksi. Ibu Maesaroh, M.Pd., sang blogger milenial mulai memperkenalkan tema belajar pada kegiatan malam ini. Bahasa puitis nan santun menghiasi perkenalan dengan nara sumber disertai dengan selayang pandang.  
 
Aam Nurhasanah, S.Pd. Lahir di Cipanas, tanggal 12 Agustus 1988. Menempuh masa pendidikan mulai dari  SD  Negeri Bintangresmi 02, SMP Negeri 1 Cipanas, SMA Negeri 1 Cipanas, Kuliah S1 di STKIP Setia Budhi Rangkasbitung, Program studi Pendidikan Sastra Indonesia dan lulus tahun 2012. Saat ini, beliau menjabat Kepala Sekolah di SMPS Mathla Ul Hidayah Cipanas.
 
Sesuai tema “Menulis Menjadikanku Naik kelas dan Berprestasi”, maka perjalanan bu Aam meraih prestasi pun  satu per satu mulai terkuak.
  
Ibu Aam, begitu beliau biasa disapa, adalah peraih Juara 1 Lomba Blog PGRI tingkat Nasional Maret 2021. Dalam kurun waktu 1,5 tahun belajar di kelas menulis PGRI, beliau mampu  meraih prestasi  yang gemilang, salah satunya telah menulis 20 Buku ber-ISBN. Bagi Ibu Maesaroh, Ibu Aam bukan sekedar teman, melainkan juga seorang motivator karena berkat ajakan beliaulah Ibu Maesaroh bisa berabung dalam grup belajar menulis.
 
Prestasi yang diraih bu Aam bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Beliau pun mengalami cobaan yang menghadang. Pertama kali belajar di kelas Belajar Menulis bersama Omjay, beliau tergabung di gelombang 8 bersama Cak Inin (Pak Mukminin), Bu Nora, dan Mr. Bams. Saat itu, Mr.Bams berperan sebagai ketua kelas mereka yang dipercaya Omjay bertugas sebagai moderator dan beliau pun mulai mengagumi profesi tersebut. Sejak itu beliau bermimpi untuk menjadi moderator di kelas belajar gelombang 8. Namun, keinginan itu pun sirna lantaran tidak lulus yang disebabkan tidak fokus dan bingung tentang cara membuat resume.
 
Sempat meninggalkan kelas belajar, akhirnya dengan semangat yang tinggi, beliau kembali mengulang belajar di gelombang 12. Kembali kagum dengan peran moderator, saat itu yang bertugas Ibu Fatimah dari Aceh. Beliau bergerak cepat dengan terus belajar sehingga terbitlah buku antologi pertama dengan judul “Semangat Menulis bersama Bu Kanjeng.”
 
Dengan terus giat belajar menulis dan dengan dimotivasi oleh bu Kanjeng, beliau pun berhasil menulis buku solo pertama denga judul “Kunci Sukses Menjadi Moderator” dengan editor Bu Kanjeng dan Pak D. Susanto.

Dengan bakat yang semakin tampak dan diiringi semangat belajar semakin meningkat, prestasi demi prestasi pun semakin membukit. Ditawari bu Kanjeng sebagai kurator yang bertugas menghimpun naskah dan administrasi yang masuk hingga buku diterbitkan di kelas belajar menulis gelombang 16, 17, dan 18, yang langsung diterima, karir sebagai kurator pun mulai dinikmati.  
 
Sebagai pembelajar sejati, Ibu Aam selalu merasa kurang ilmu. Karena itu, beliau pun mulai merambah ajang perlombaan. Diantaranya, lomba blog HUT AISEI, meraih 10 besar dengan hadiah webcam. Selanjutnya, lomba blog PGRI dan berhasil menyabet juara 1. Luar biasa.
 
Seperti minum air garam, semakin diminum semakin haus, beliau pun mengikuti kegiatan belajar menulis 1 pekan bersama Prof. Eko Indrajid dan berhasil menulis buku duo yang diterbitkan oleh penerbit Mayor Andi Offset Yogyakarta, dengan judul “Parenting 4.0 Mengenali Pribadi dan Potensi Anak Generasi Multiple Intelligence”.












Bintang pun semakin memancarkan cahaya terangnya. Profesi baru di bidang menulis mulai terbuka, sebagai editor. Karir ini dimulai dengan mengedit naskah tulisan muridnya yang bernama Juminah yang tinggal di Arab Saudi. Dengan teknik pengiriman via WA, naskah ini pun sukses diedit.  Selanjutnya, kembali bu Kanjeng menawarkan beliau menjadi editor beberapa buku. Kembali sukses. Bahkan, beliau diberi kepercayaan mengedit naskah gurunya sendiri, Ibu Endah Hamidah, S.Pd.  Kehormatan yang luar biasa.
 
Kecerdasan Ibu Aam semakin tampak dengan bijaknya beliau mengambil hikmah dari kegagalan sebelumnya. Alih-alih mau frustrasi, beliau malah semakin gigih dalam memperjuangkan nasib demi takdirnya sebagai orang yang berprestasi; penulis, moderator, kurator, editor, dan pembicara. Semua itu tak terlepas dari keaktifan dan konsitensinya dalam menulis. Terlihat dari banyaknya komunitas terkait kegiatan menulis yang diikutinya, sebagai berikut:

1.Pengurus Kelas Belajar Menulis Gratis Omjay dan PGRI (admin, moderator, dan narasumber)
2. Cakrawala Blogger Guru Nasional (Lagerunal) sebagai admin, moderator, dan narasumber.
3. Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan (YPTD) sebagai admin dan moderator
4. Komunitas AISEI (Association for International-Minded School Educators Indonesia)
5. Komunitas Aksara Bermakna (KAB) Wonosobo Founder Kak Usrorun Hasanah
6. Sahabat Pena Kita (SPK) Tulungagung Founder Dr.Ngainun Naim
7. Founder Komunitas Pantun Bersuka Ria dan Puisi (Patidusa dan Telelet)
8. Pengurus di kelas belajar menulis Omjay dan PGRI,
9.Pengurus kelas belajar bicara atau Public Speaking for Teacher sebagai admin, narasumber, dan moderator.
 
Selain prestasi dan kegiatan yang menunjang tercapainya prestasi, bu Aam membagikan rahasia sukses menulis beliau dari seorang yang bukan apa-apa menjadi seorang yang luar biasa. Naik kelas, istilah yang beliau pakai. 

Menemukan ide dan menyampaikan pesan
Berikut ini adalah cara beliau menemukan dan membagikan gagasan dalam menulis:
1. Memukan gagasan dari orang terdekat yang menginsirasi.
2. Menulis tentang hal-hal inspiratif tentang mereka.
3. Menulis deskripsi tentang sosok inspiratif tersebut.
 
Proses Menulis
Dalam kegiatan menulis, Ibu Aam melakukan hal-hal berikut:
1. Mengumpulkan gagasan;
2. Menentukan tokoh dan karakter dari setiap sub bab;
3. Membuat outline atau daftar isi dari sub bab;
4. Menulis sesuai gagasan;
5. Mengawali tulisan dengan kalimat yang memotivasi  (Alquran, hadis, orang-orang hebat).
 
Tujuan menulis
Bagi beliau menulis bukanlah suatu keterpaksaan, melainkan bertujuan untuk mengobati kegelisahan, menghindari lupa, memotivasi kaum perempuan, berdakwah, menghargai tokoh yang ditulis, membantu menyelesaikan masalah, memberikan hikmah atas setiap kejadian, berbagi dan menjadi inspirasi bagi pembaca.

Manfaat Menulis
Sebagai orang yang konsisten dan merasakan nikmatnya menulis, gambaran manfaat menulis bagi beliau sebagai berikut:
1. Berbagi ilmu dan menyampaikan kebenaran;
2. Menyatukan ide yang berserakan dan membagikannya kepada orang;
3. Ungkapan apresiasi kepada guru;
4. Perjuangan yang membuahkan prsestasi;
5. Meneruskan kebenaran;
6. Merancang dan menghasilkan sesuatu yang baru;
7. Menyajikan sesuatu yang inspiratif.
 
Persiapan Membuat Outline
Sebelum mulai menulis, Ibu Aam melakukan hal-hal beikut:
1. Mungmpulkan materi pendukung sesuai kebutuhan;
2. Menentukan topik;
3. Menentukan jenis teks tulisan;
4. Fokus dan konsisten.
 
Manfaat Menulis Buku Antologi
Karir menulis Ibu Aam dimulai dari menulis buku antologi. Langkah ini memberikan manfaat bagi beliau sebagai berikut:
1. Memiliki komunitas menulis;
2. Menumbuhkan keberanian dalam menulis sesuai karakter;
3. Menjadi langkah awal menulis buku solo.
 
Orang yang berprestasi sudah barang tentu akan naik kelas. Namun perlu disadari bahwa setiap orang akan mengalami tingkatan naik kelasnya sendiri-sendiri. Tinggi atau rendahnya kelas akan bergantung pada kapasitas, latar belakang, dan faktor pendukung yang menyertainya. Yang terpenting, kerahkan semua kemampuan yang ada, optimalkan ikhtiar, jalani proses sesuai dengan prosedur yang berlaku, mohon doa dan restu keluarga tercinta. Selanjutnya, jadikan prestasi orang lain sebagai ilmu berharga sekaligus cambuk pemacu semangat di kala tak berdaya.
 
Prestasi dalam bidang menulis ditandai dengan diterbitkannya buku oleh penerbit, khususnya ber-ISBN. Namun, bagi penulis pemula janganlah berkecil hati. Seperti halnya kelas-kelas dalam pendidikan formal, setiap siswa menjalani proses melalui tahapan-tahapan yang berjenjang. Dari tingkat dasar, bahkan kelompok bermain, sampai perguruan tinggi. Kalaupun terjadi loncatan, tetap saja alur itu dilalui. Karenanya, bagi kita peserta belajar menulis, mari kita pahami dulu, di tingkat mana kita berada sekarang ini. Yang bisa menjawabnya hanyalah diri kita masing-masing.
 
Ibu Aam, dengan seperangkat kapasitas yang ada, dan melalui proses yang panjang dan penuh perjuangan, bahkan sempat gagal, dapat mengukir prestasi. Bermula dari blogger, berlanjut sebagai moderator, penulis, kurator, dan terus naik kelas menjadi editor dan narasumber pada kegiatan belajar menulis. Bagi kita yang baru menapaki dunia menulis, mungkin dengan bisa menulis di blog, apalagi banyak yang sudi membacanya, sudah merupakan suatu prestasi yang luar biasa. Dengan ini pun kita sudah naik kelas, dari tidak biasa menjadi biasa, tidak berani menjadi berani, dan tidak bisa menjadi bisa. Selanjutnya, teruslah menulis dan menulis, belajar dan belajar. Pada akhirnya, perjuangan akan sampai di tujuan: berprestasi dan naik kelas lagi.
 
Terima kasih Ibu Aam Nurhasanah dan Ibu Maesaroh atas kebersamaan dan ilmu yang bermanfaat ini.  Semoga lelahnya berbagi berbuah manis dengan bermunculannya peserta belajar yang berprestasi. Prestasi seorang pembelajar adalah ketika bisa mempersembahkan sederet piagam penghargaan, medali, tropi, atau serangkaian materi; sementara prestasi seorang guru ditandai oleh lahirnya peserta belajar yang dapat menoreh prestasi karena kepiawaian sang guru sejati. Sebagai pengingat diri, prestasi seorang penulis yang sesungguhnya bukanlah sekedar menerbitkan buku, melainkan seberapa bermanfaatnya buku tersebut bagi pembacanya.
 
"Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, maka ia akan menjadi keruh lalu membusuk."

 (Imam Syafi’i)

  

Pangkalpinang, 23 Juli 2021

Rosminiyati

Raihlah prestasi dengan jujur karena itulah yang menjadikannya abadi selamanya.


Menulis, Menulis, Menulis!