Showing posts with label Belajar Bicara. Show all posts
Showing posts with label Belajar Bicara. Show all posts

Tuesday, February 15, 2022

Jurus Ampuh Presentasi yang Keren

 


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke        :    3

Gelombang       :    5

Tanggal             :    15 Februari 2022

Tema                 :    Jurus Ampuh Presentasi yang Keren

Narasumber      :    Adi Prastiyanto, S.Pd., CT.PS


Memulai sesuatu dengan hal menarik akan membuka jalan bagi kelancaran proses berikutnya. Jika proses berjalan dengan baik, maka tujuan yang ditetapkan akan dapat tercapai pula.

Kegiatan Belajar Bicara 5 PGRI malam ini dimulai dengan kuis Acak Kata. Narasumber Bapak Adi Prastiyanto, S.Pd., CT.PS, seorang guru Bahasa Inggris di MA Annajah, juga trainer Public Speaking, memberikan daftar kata yang diacak, dan peserta berusaha menebak kata-kata tersebut. Kata-kata yang dipilih merupakan kata-kata yang digunakan dalam keseharian kita. Inspiratif dan menggembirakan sekali kegiatan ini.


Sumber: Narasumber via zoom


Konsep dan Tujuan Presentasi

Sumber: Narasumber via zoom

Presentasi adalah komunikasi antara pembicara dengan orang/sekelompok orang (audiens). Dalam pelaksanaannya, hampir setiap orang mengalami kendala, berupa takut berbicara di depan umum (glossophobia); presentasi hanya mengandalkan power point; dan merasa kurang bepengalaman.  

Sumber: Narasumber via zoom

Tujuan presentasi dipengaruhi oleh jenis-jenis audiens, antara lain menurut Ongky Hojanto dalam Public Speaking Master:

  1. The sheep. Tipe ini fokus pada apa yang dikatakan oleh presenter dan menanti jawaban pembicara, tidak suka menunjukkan kemandirian dan kreativitas.
  2. Hotshot. Audiens ini percaya diri dan nyaman dalam kegiatan presentasi.
  3. Clown. Audiens tipe ini suka berinteraksi sosial, cerewet, suka bertanya di luar topik, dan suka berdiskusi.
  4. Sniper. Tipe audiens ini memulai dengan sikap permusuhan dan sinis, menunggu peluang untuk mengkritik yang bersifat destruktif.
  5. Snowman. Audiens tipe ini bersifat pasif, sesi tanya jawab sulit berjalan.
  6. Black cloud. Tipe ini cenderung menunjukkan bahasa tubuh yang negatif.
  7. Unwanted panelist. Audiens ini adalah ahli yang tidak diundang, sering menjawab pertanyaan pertama dengan panjang, cenderung membuat kekacauan.

Dengan mengenal tipe-tipe audiens akan memudahkan kita dalam kegiatan presentasi. Bagaimana pun proses yang dijalani, seorang presenter harus tetap fokus pada target yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut.

Presentasi yang keren dengan jurus 3 K

Permasalahan yang umumnya terjadi pada seorang presenter bukanlah bersifat permanen. Dengan menguasai jurus-jurus dalam presentasi, maka permasalahan-permasalahan pun dapat diatasi. Berikut adalah jurus-jurus yang dapat mengantarkan kita sukses menjadi presenter.


Sumber: Narsumber via zoom

1.   Kuat. Hal ini terkait dengan pemahaman terhadap audiens dan penguasaan materi. Untuk memahami materi dengan baik, dapat dilakukan dengan riset untuk menemukan bukti/evidence yang dapat dilakukan dengan demonstrasi, pemberian contoh-contoh, analogi, testimoni, dan data statistik.

Sumber: Narasumber via zoom

2.  Kreatif. Maksudnya, seorang presenter harus bisa menyusun kerangka/slide presentasi dengan cara menentukan alur cerita yang dimulai dari pembukaan, isi, dan penutup, yang dapat juga dirancang dengan menjawab pertanyan 5W dan 1H, yang disajikan dalam media yang sesuai.

Sumber: Narasumber via zoom

3.   Keren. Artinya, seorang presenter harus mampu menyampaikan materi dalam aksi nyata dengan bahasa tubuh yang menarik, mudah dipahami, dan berkesan. Dalam presentasi, bahasa tubuh mendominasi 55 %, kata-kata 7%, dan intonasi 38%.

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melaksanakan presentasi

1. Kontrak. Hal ini penting dilakukan untuk memastikan respon audiens sebelum kita menyampaikan pesan. Oleh karena itu perlu adanya kontrak belajar antara narasumber dengan audiens, antara lain minta audiens menulis hal-hal yang tidak boleh dilakukan saat kegiatan belajar. Tujuannya agar mereka sendiri yang menentukan dan dapat menjalankan kesepakatan yang mereka buat sendiri.

2. Sapa audiens. Hal ini penting dilakukan agar terjalin komunikasi yang baik dan aktif antara pembicara dan audiens. Melibatkan audiens secara aktif dalam presentasi kita dapat juga dilakukan dengan ice breaking/game, dll.

3. Media. Pastikan media sudah dalam kondisi siap dan baik setengah jam sebelum presentasi dimulai. Karena fungsinya hanya sebagai alat bantu, jangan sampai lebih menarik/keren dari penampilan kita.

4. Eye contact. Hal ini perlu dijaga untuk memantau respon audiens sekaligus untuk menunjukkan bahwa kita memperhatikan audiens agar tidak merasa diabaikan.

5. Sesi tanya jawab. Pada sesi ini tak jarang kita mengalami kendala berupa kehilangan ide. Untuk itu, kitab isa mengatasinya dengan cara melemparkan pertanyaan peserta kepada peserta lain sambil mencari jawaban kita sendiri.

6. Penutupan yang berkesan. Di akhir presentasi, seorang presenter dapat mengajak audiens muhasabah (merenung), membuat pernyataan kesimpulan, menyampaikan kalimat sugestif, cerita motivasi yang menggugah, bisa juga dengan lagu, tepuk semangat, game, dll.

Sebuah kesimpulan sekaligus pesan yang tajam dari Narasumber bahwa presentasi bukan sekedar Power Point, dan jangan jadikan media lebih keren dari presenternya sendiri.

Materi Pelatihan belajar Berbicara malam ini benar-benar memberikan pencerahan bagi calon presenter ataupun presenter pemula. Terima kasih kepada Bapak Adi Prastiyanto yang telah menyampaikan materi dengan sangat keren degan didampingi moderator andal Ibu Lilis Ernawati yang juga keren. Besar harapan saya materi ini bisa menjadi rujukan jika kelak berkesempatan menjadi presenter.

 

Pangkalpinang, 15 Februari 2022

Rosminiyati


Tuesday, February 1, 2022

Berbicara Efektif di Dunia Digital

 



Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke        :    1

Gelombang       :    5

Tanggal             :    1 Februari 2022

Tema                 :    Berbicara Efektif di Dunia Digital

Narasumber      :    Ajun Pujang Anom

Moderator          :    Sunarmi

 

Kekuatan alam dari pojok hati terdalam terus menggelitik nyali untuk menggali bongkahan-bongkahan ilmu yang bertebaran. Setelah gagal menimbun ilmu berbicara pada episode sebelumnya lantaran kekuatan minim yang tak kuat menyokong padatnya kegiatan, kini mencoba bertarung kembali untuk melanjutkan penggalian. Semoga diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuat.

Mengangkat tema “Berbicara Efektif di Dunia Digital”, pertemuan pertama ini masih saja menggugah selera meskipun pada gelombang sebelumnya saya pernah membuat resume dengan tema yang sama. Tentu saja, pembicara yang berbeda akan menyuguhkan isi materi yang berbeda pula.

Dimoderatori oleh Ibu Sunarmi yang ramah dan selalu memotivasi, semakin memberikan ruang gerak yang semakin sempurna bagi peserta untuk berbicara. Pak Ajun sebagai Narasumber sepertinya tak kalah gesit memancing peserta untuk aktif mengeluarkan suara emasnya. Alhasil, saya yang biasanya sering tidak PD untuk berbicara di depan umum, jadi begitu lancarnya meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang terus bersambung. Efeknya, hadiah yang tak terduga saya terima bersama beberapa peserta lainnya.

Pak Ajun memulai materi dengan meminta peserta untuk mengambil buku, alat tulis, dan sebotol air. Para peserta pun menyediakan itu semua, kecuali saya. Bukannya saya tidak patuh, melainkan karena saya terlambat masuk ruang zoom. Saya mengetahui instruksi saat perlengkapan tersebut sudah tersedia di dekat para peserta. Jika saya baru melakukannya, berarti saya akan kehilangan informasi selanjutnya.

Pertanyaan pun bermunculan terkait instruksi tersebut. Ternyata, itu semua tidak ada hubungannya dengan tema. Hal itu dilakukan untuk sekedar memancing reaksi peserta sekaligus memberikan contoh tentang kepatuhan siswa terhadap gurunya, yang tentu saja seringnya kita jumpai siswa yang menyangkal gurunya.

Pak ajun Ajun memulai materi dengan menanyakan kapan kami terakhir berbicara di depan umum. Otomatis, pertanyaan itu memancing peserta untuk berbicara yang lumayan panjang. Beberapa peserta mulai satu persatu menguraikan ceritanya sesuai dengan pengalaman masing-masing. Saya sendiri, melakukan itu pada bulan Desember tahun lalu, saat bertugas sebagai Narasumber pada “Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Plaform Blog” di sekolah sendiri. Awalnya agak gugup, kemudian biasa saja, dilanjutkan rasa gembira yang luar biasa pada saat audience kita bersemangat mengikuti materi yang kita sajikan. Kuncinya satu, menguasai materi.

Selanjutnya materi disampaikan berdasarkan pertanyaan peserta. Pak Ajun menguraikan jawaban atas pertanyaan peserta secara tuntas. Terkait menumbuhkan rasa percaya diri berbicara di depan umum saat menjadi narasumber, khususnya motivator, sangat erat kaitannya dengan jam terbang alias pengalaman. Menurut Pak Ajun, hal pertama yang harus dipersiapkan agar percaya diri (PD) di depan umum adalah penampilan, khususnya pakaian. Untuk itu, kenakanlah pakaian formal, akan lebih baik jika jas.

Langkah berikutnya adalah berlatih tersenyum sebelum masuk ke ruangan. Sepintas, hal ini terdengar sepele, namun kenyataannya tidak semua orang bisa menampilkan wajah yang manis. Untuk itulah perlunya latihan.

Berikutnya yang perlu diperhatikan adalah gestur. Triknya dengan banyak gerak. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan atau membingungkan peserta, karena pada dasarnya manusia itu cuma mempunyai satu fokus saja. Tak kalah menarik, trik selanjutnya adalah dengan membawa buku tebal, dengan asumsi orang yang membawa buku tebal dianggap smart.

Agar materi yang disampaikan padat dan berbobot, kita perlu membaginya menjadi bagian-bagian berikut: definisi, jika penting cukup 30 persen, dilanjutkan dengan narasi/latar belakang, dan isi. Persiapan materi yang bagus harus pula diimbangi dengan penyampaian yang bersemangat dan suara yang jelas. Jika tidak, maka materi tersebut menjadi tidak berguna.

Untuk mengatasi penyampaian materi tidak berulang, perlu dilakukan dokumentasi dengan mencatat dan merekam, dan dibuat peta konsep dengan cara membaca lebih banyak referensi serta mencari sesuatu yang baru agar cakrawala lebih luas. Hal ini juga penting untuk mempersiapkan diri menjawab pertanyaan peserta.

Untuk mengatasi peserta yang tidak fokus terhadap materi yang disajikan, kita harus melakukan trik sesuai dengan usia. Untuk orang dewasa bisa dilakukan dengan intonasi, joke, sentuhan agama, mengutip ucapan tokoh-tokoh.

Tak jarang, seorang pembicara di depan umum mengalami demam panggung (glossophobia). Oleh karena itu, bagi pemula perlu melakukan latihan sebelum naik ke panggung. Semakin banyak kita tampil, akan semakin berkurang demam panggung tersebut.

Selain itu, ada trik yang dapat membantu mengatasi demam panggung, yaitu:

1. Minum air putih (mengatasi kurang oksigen)

2 . Gerakan tubuh, tangan, kepala (menghilangkan stres)

3. Bawa sesuatu yang kecil yang bisa dipegang, seperti pena, dll.  

Terkait presentasi online, hal-hal yang harus diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut: pakaian hendaknya rapi dan sopan; pencahayaan yang baik; dan slide putih polos, karena slide presentasi yang indah-indah teryata tidak terserap oleh otak. Trik agar saat memaparkan materi secara online sukses, kitab isa melakukan hal-hal berikut: perubahan pola pikir; siapkan mental, jangan baper; dan background harus kosong, jangan ada benda-benda yang mengganggu dan suara-suara berisik.

Demikianlah materi yang mampu saya rekam dari paparan yang disajikan oleh Pak Ajun, yang dapat disimpulkan menjadi dua hal, yaitu memperbanyak jam terbang dan membuat dokumentasi tentang pelaksanaan presentasi.

 

Pangkalpinang, 1 Februari 2022

Rosminiyati

 

 


Saturday, January 29, 2022

Opening Ceremony Belajar Bicara PGRI Gelombang 5


  
Berbicara di depan umum bagi sebagian orang adalah hal yang mudah, namun bagi sebagian lainnya merupakan hal yang sangat sulit, tidak terkecuali bagi guru yang sudah terbiasa berbicara di depan siswanya. Untuk itu, guru pun perlu belajar berbicara, agar kemampuan berbicara di depan siswa, apalagi di depan forum resmi lainnya menjadi lebih baik.

Hari ini, Sabtu, 29 Januari 2022, pukul 13.00 WIB, Pelatihan Belajar Bicara PGRI kembali dibuka dengan nama Belajar Bicara Gelombang 5. Artinya, sudah ada 4 gelombang sebelumnya, yang tentu saja sudah menghasilkan guru-guru yang terampil dalam berbicara. Bukti dari produk belajar bicara ini adalah mereka yang telah menjadi moderator dan bahkan narasumber pada pelatihan belajar bicara pada periode yang sedang berlangsung.

Acara Opening Ceremony ini dipandu oleh Ibu Sunarmi Juweni dari Samarinda dan Ibu Daru Ayu Putri sebagai moderator, dan Ibu Leni Friska sebagai koordinator. Mereka adalah lulusan belajar berbicara gelombang terdahulu. Tak diragukan lagi kepiawaian ketiganya dalam kegiatan yang luar biasa ini.

Hadir pada acara pembukaan ini Om Jay sebagai pemrakarsa kegiatan ini, memberikan sambutan dan menyemangati peserta, sekaligus meminta untuk mengajak kawan-kawan lainnya agar semakin banyak guru yang cakap berbicara di depan umum.

Peserta pada acara Opening Ceremony

Peserta pada acara Opening Ceremony

Sebelumnya, saya telah bergabung pada pelatihan Belajar Bicara Gelombang 4. Namun, karena lemahnya motivasi yang terus digerus oleh banyaknya kegiatan lainnya, saya belum berhasil menyelesaikan kelas belajar ini. Oleh karena itu, saya kembali bergabung di kelas Belajar Menulis Gelombang 5, dengan harapan saya bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik nantinya.

Sama halnya dengan gelombang sebelumnya, di kelas bicara ini, peserta wajib mengikuti kegiatan via zoom atau jika terjadi kendala, boleh menggantikannya dengan siaran ulang-nya via YouTube Fajar Tri Laksono. Inilah kemudahan yang diberikan oleh PGRI bagi guru yang selalu ingin mengembangkan diri.

Masih sama dengan ketentuan pada gelombang sebelumnya, peserta juga diharuskan menulis 16 resume materi yang disampaikan oleh narasumber sejumlah 16 kali pertemuan. Tambahannya, ada ketentuan peserta menulis buku antologi dari kegiatan belajar bicara tersebut.

Ada hal yang berbeda yang saya catat dari acara pembukaan ini, yaitu jadual belajar. Kalau sebelumnya belajar bicara diadakan dua kali seminggu, pada gelombang 5 ini hanya satu kali seminggu, hari Selasa saja. Untuk watunya masih sama, pukul 17.00 – 21.00, sehingga kegiatan belajar menulis ini akan berlangsung selama 16 kali pertemuan, Januari – Juni 2022.

Hal menarik dari acara pembukaan belajar menulis kali ini adalah hadiah yang diberikan oleh panitia kepada peserta yang berbicara, bertanya dan memberikan masukan. Apa pun isinya, semuanya mendapatkan hadiah berupa transferan dan buku. Bukan seberapa nilai hadiahnya yang membuat peserta senang, namun cara panitia memotivasi peserta untuk berbicara inilah yang membuat saya kagum. Sesuai dengan jenis pelatihan yang diselenggarakan, maka tujuan akhir dari kegiatan ini adalah berbicara. Untuk itu, berbagai cara pun digunakan oleh panitia agar peserta berbicara.

Motivasi yang berasal dari luar diri sangatlah bagus, karena dapat memberikan kekuatan untuk bergerak. Namun, motivasi dari dalam diri jauh lebih baik, karena sifat bergeraknya tanpa syarat. Oleh karena itu, ada atau tidaknya hadiah dari siapa pun, diharapkan semangat belajar tidak pernah kendur. 

Acara pembukaan yang berlangsung sekitar satu jam lebih ini sangat menginspirasi dan memotivasi. Semoga kegiatan belajar bicara yang dimulai hari Selasa, 1 Februari 2022 berjalan lancar, dan seluruh peserta dapat mengikutinya dengan penuh semangat hingga lulus.



Pangkalpinang, 29 Januari 2022.

Rosminiyati

Wednesday, November 17, 2021

Bicara secara Virtual yang Menarik


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke        :    11

Gelombang       :    4

Tanggal             :    16 November 2021

Tema                 :    Bicara secara Virtual yang Menarik

Narasumber      :    Prof. Richardus Eko Indrajid




Belajar pada masa belum sepenuhnya normal, menuntut guru untuk terus kreatif dalam mengelola kelas virtual. Untuk itu, berbagai aplikasi dan strategi digunakan. Aplikasi yang sering digunakan adalah zoom dan google meet. Namun, kenyataannya keluhan muncul di sana-sini. Mulai dari murid yang tidak aktif memperhatikan, sampai tugas yang tidak dikerjakan.

Sejauh ini, permasalahan-permasalahan yang muncul belum dapat diatasi secara maksimal. Hal ini disebabkan belum terampilnya guru dalam mengelola kelas virtual tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan yang dapat mengantarkan guru kepada pengelolaan kelas virtual yang baik.

Prof. Richardus Eko Indrajid, pemilik 1 Gelar S1, 5 Gelar S2, dan 4 Gelar S3,  seorang akademisi, tokoh Pendidikan, dan pakar teknologi informatika ini sangatlah memahami permasalahan yang dihadapi oleh para guru. Oleh sebab itu, dalam pelatihan Belajar Bicara PGRI pada pertemuan ke-11 yang dilaksanakan pada Rabu, 16 November 2021 ini, beliau membahas tema “Bicara secara Virtual yang Menarik”, dengan moderator Ibu Rifatun.

Pada pembahasan pertama, Prof. Eko mengemukakan bahwa agar kelas virtual dapat berjalan dengan baik, guru harus dapat mengelola kelas virtual dengan menarik. Namun, ada 3 tantangan yang dihadapi, yaitu: (1) psikologis, (2) teknologi yang bermacam-macam, dan (3) perhatian yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru perlu melakukan pendekatan yang berbeda-beda pula.

Ada 10 prinsip/kiat yang dapat dilakukan guru agar kelas virtual menjadi menarik dan peserta didik dapat terlibat aktif di dalamnya. Berikut prinsip-prinsip tersebut:

1. Kita bukan berbicara dengan mesin, tetapi berkomunikasi dengan kumpulan manusia. Oleh karena itu, guru harus berempati dengan peserta didik. Ajak mereka berkomunikasi dengan menyapa mereka secara bergantian, sewaktu-waktu memberikan pertanyaan, dan lain-lain, sehingga kelas terasa hidup.

2. Tetapkan tujuan kita berkomunikasi, dan pastikan kita dapat mengetahui cara mengukur keberhasilannya. Pastikan tujuan yang kita tetapkan berpusat pada 1 pencapaian saja sehingga materi kita jelas dan mudah mengukurnya. Untuk mengukur ketercapaian ini, sekali-kali peserta didik ditanya secara langsung tentang apa yang sudah disampaikan sebelum melanjutkan ke uraian materi berikutnya.

3.   Kenalilah pendengar kita dengan kondisi teknologi yang digunakan dan situasi dan kondisi keberagaman Indonesia. Kita perlu memahami apabila di antara peserta didik kita ada yang tidak mengaktifkan kamera, mungkin karena kondisi kuota data internet uang minim, keluar masuk ruang zoom karena sinyal tidak lancar, dan lain-lain.

4.   Pakailah bahasa yang mudah dimengerti semua orang agar target komunikasi dapat dicapai dengan baik. Bahasa yang digunakan guru hendaknya sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan peserta didik, sehingga materi yang disampaikan dapat dengan mudah mereka pahami;

5.  Pemilihan intonasi suara dan model interaksi akan sangat menentukan keberhasilan kita berkomunikasi virtual. Ketika kita berada dalam kelas maya, kita tidak boleh terlalu percaya diri bahwa kita adalah satu-satunya orang yang dihadapi oleh peserta didik. Kita tidak tahu apa yang ada di belakang layar peserta didik kita. Mungkin chat WA, isntragram, facebook, teman, TV, dan lain-lain. Oleh karena itu, kita harus mampu memenangkan persaingan ini. Caranya, dengan mengatur intonasi suara, bisa dengan intonasi tinggi, menggunakan mikrofon, dan lain-lain. Model interaksi harus pula beragam. Misalnya, dengan memberikan pertanyaan yang dijawab dengan suara, menulis di kolom komentar, dan lain-lain.

6. Kuasai sungguh-sungguh aplikasi yang digunakan sebagai media komunikasi beserta segenap fitur interaksinya. Penggunaan fitur yang tersedia di dalam aplikasi zoom dapat memberikan variasi kegiatan yang menarik untuk menghindari kebosanan. Misalnya, menggunakan fitur aksesori yang lucu-lucu untuk saat tertentu, kemudian aksesori lainnya pada saat berikutnya. Agar fitur tersebut tersedia pada laptop kita, kita harus sering-sering melakukan update.

7.  Jangan monoton menggunakan satu modus komunikasi, berganti-gantilah setiap saat agar pendengar tidak bosan. Monoton bisa menyebabkan peserta didik kita bosan, mengantuk, hingga tertidur. Oleh karena itu, variasai dalam komunikasi sangatlah penting

8.  Hindari menggunakan slot waktu yang terlampau panjang untuk menyampaikan pesan, perbanyak interaksi tanya jawab. Anak didik kita adalah generasi Z yang cepat menangkap informasi, namun tidak bertahan lama dalam menyimak materi. Oleh karena itu, penyampaian materi jangan lebih dari 15 menit.

9.    Powerpoint adalah alat bantu berkomunikasi, bukan untuk dibaca oleh narasumber. Peserta didik dapat membaca sendiri powerpoint yang kita buat. Oleh karena itu, guru tidak perlu membacanya. Tugas kita adalah menambahkan penjelasan terhadap materi inti yang terdapat pada Powerpoint tersebut.

10. Sering-sering melatih diri berkomunikasi via internet dan belajar dari YouTuber yang hebat-hebat. Kita belajar bagaimana mereka bisa menarik, kita bisa bisa ketagihan menyaksikan sajian konten mereka, dan lain-lain.  

Kesepuluh prinsip yang dipaparkan oleh Prof. Eko di atas, semuanya telah dipraktikkan secara langsung kepada kami sebagai peserta. Benarlah adanya, begitu menarik dan interaktif. Saya yang belum beristirahat sama sekali sejak pukul 2.30 dini hari pun tak merasakan kantuk dan lelah sama sekali. Demikianlah seyogianya kita sebagai guru mengelola kelas virtual, agar peserta didik kita senang dalam belajar, dan tujuan yang kita tentukan dapat tercapai.

Prof. Eko mempraktikkan penggunaan fitur zoom agar tidak monoton

Berikut tautan video rekaman tentang keseruan belajar bicara secara virtual yang menarik bersama Prof. Richardus Eko Indrajit. 

https://www.youtube.com/watch?v=5E4mNZv23bg


Pangkalpinang, 17 November 2021

Rosminiyati

Tuesday, October 12, 2021

Public Speaking for Teacher - 1st Meeting

 


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke       :    1

Gelombang       :    4

Tanggal             :    12 Oktober 2021

Tema                 :    Berbicara Efektif di Dunia Digital

Narasumber      :    Indra Charismiadji

 

Pertemuan pertama Public Speaking PGRI yang diprakarsai Bapak Wijaya Kusumah alias om Jay dilakukan melalui zoom meeting. Materi dengan tema “Berbicara Efektif di Dunia Digital” disajikan oleh narasumber Bapak Indra Charismiadji dan didampingi moderator andal Ibu Rifatun.  

Pak Indra Charismiadji lahir di Bandung, 9 Maret 1976. Beliau adalah Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS). Beliau senantiasa berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan.

Pak Indra merupakan alumnus the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu dari universitas tersebut, beliau melanjutkan studi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Setelah mempunyai pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat seperti Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, pada tahun 2002, akhirnya Pak Indra kembali ke tanah air dan berperan aktif dalam mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia. Itulah sedikit profil seorang praktisi Pendidikan yang berperan sebagai pemateri pada acara Public Speaking malam ini.

Acara berjalan lancar meskipun Bapak Indra memberikan materi di dalam kegelapan malam karena sedang dalam perjalanan dari kota Padang Panjang menuju Padang, Sumatra Barat. Kegiatan lebih banyak dilakukan dengan tanya jawab.

Berbicara efektif di dunia digital terdapat perbedaan dengan berbicara secara langsung. Perbedaan yang terbesar adalah kita tidak dapat memastikan apakah orang tertarik dengan materi kita karena kita tidak dapat melihat raut wajah dan ekspresi orang yang diajak berbicara. 

Sebelum memulai penyajian materi, kita harus memvisualisasi diri kita sendiri. Atinya, kita uji coba presentasi kita dengan cara merekamnya dan kemudian menempatkan diri kita sebagai pendengar. Jika kita sendiri tidak tertarik dengan cara penyajian kita, secara otomatis orang juga tidak akan tertarik. 

Selanjutnya, kita harus menyajikan materi sesuai dengan kebermanfaatannya. Oleh karena itu, materi yang akan disajikan harus disesuaikan dengan kebutuhan audience kita. 

Beberapa poin penting yang sempat saya rekam dalam pemaparan materi dan hasil tanya jawab terkait kegiatan pembelajaran di sekolah sebagai berikut:

  • Belajar dalam jaringan (daring) tidak efektif karena tidak menampilkan ekspresi/mimik maksimal dari masing-masing personil, baik guru maupun siswa.
  • Murid cenderung mematikan kamera dengan berbagai alasan.
  • Murid menggantikan video background dengan foto diri dengan tampilan seakan-akan mereka hadir dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh tersebut.
Dibahas pula tentang pilar pendidikan menurut UNESCO: 

  • Learning to know;
  • Learning to do;
  • Learning to be;
  • learning to live together.

Peran guru saat ini tidak lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai fasilitator dan motivator. Murid sebagai subjek pembelajaran dibimbing untuk mencari tahu tentang berbagai hal, Oleh karena itu, guru berbicara atau memberikan informasi cukup 15 menit saja, selebihnya muridlah yang aktif dalam kegiatan belajar.

Guru harus mengajar tentang cara mencari tahu. Guru mengajar tentang cara belajar. Guru harus mencari cara menjadikan murid mau belajar. Sesuai prinsip belajar Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, maka guru sebagai pemberi contoh. Oleh karena itu, guru harus rajin belajar terlebih dahulu agar murid dapat mencontoh gurunya yang rajin belajar.

Jangan pernah menyuruh murid untuk belajar karena sesuai teori Newton dimana ada aksi, maka akan muncul reaksi. Jika disuruh belajar, maka murid justru semakin tidak mau belajar. Untuk itu, guru harus melakukan kiat-kiat, antara lain: menggunakan model yang berbeda, belajar dengan praktik, dan menggunakan game online.

Guru dituntut untuk dapat membuat game online sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui proses belajar. Guru harus selalu belajar dan belajar tentang berbagai hal, karena itulah hakikat belajar sepanjang hayat.

Selanjutnya, dalam mendidik karakter peserta didik, guru harus  berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan kolaborasi, maka kebiasaan yang kurang baik dapat dikomukasikan dan diatasi bersama-sama. Terkait pemberian contoh bagi murid, harus pula dilakukan secara bersama-sama. Antara guru yang satu dengan lainnya harus mempunyai pola yang sama. Akan sia-sia jika hanya segelintir saja guru yang memberikan contoh yang baik, sementara yang lainnya tidak melakukan apa-apa.

Guru tidak hanya memberikan contoh yang baik bagi murid-murid, melainkan juga harus mengajak mereka bersama-sama melakukannya. Misalnya, masalah membuang sampah pada tempatnya. Sesekali guru mengajak murid bersama-sama mengerjakannya. Maka, rasa bahagia akan dirasakan pula oleh mereka.

Terkait Pendidikan karakter tanpa tatap muka, kita dapat menggunakan video-video terkait sesuai dengan jenis karakter mana yang ingin dikembangkan. Kita dapat memilihnya sesuai dengan kebutuhan.

Diharapkan guru tidak hanya menjadi contoh dan menggerakkan murid-muridnya, melainkan juga menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya.

Demikianlah isi diskusi dengan narasumber dalam acara Public Speaking pada malam hari ini yang dapat saya rekam. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

 

Pangkapinang, 12 Oktober 2021

Rosminiyati


Menulis, Menulis, Menulis!