Thursday, December 2, 2021
"Bagimu Negeri"- Aku denganmu
Tuesday, August 3, 2021
Aneh tapi Nyata-Durian di dalam Durian
Keberuntungan tak terjadi setiap saat. Tak pula kepada
semua orang. Perjalanan yang baru beberapa tapak menuju mahkota penulis terasa
sangat jauh. Menjadikan menulis sebagai passion tak selalu berjalan mulus. Kampanye
“menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi” terkadang dirasakan sangat
berat. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena ide yang sulit didapat. Namun, benar adanya. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan tak terduga.
Pagi ini, pukul 07.30 saya kedatangan tamu istimewa membawa kabar istimewa. Pak H. Baharudin bin H. Ishak namanya. Beliau adalah tentangga orang tua saya (saya juga waktu masih tinggal bersama orang tua). Kami memanggil beliau dengan sebutan Mang Bahar (mang=paman). Sekarang Mang Bahar tinggal di desa Puding Besar Kabupaten Bangka. Rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman orang tua saya ditinggali oleh anaknya. Rumah beliau di desa Puding Besar berjarak kira-kira 29 kilometer dari rumah saya, kota Pangkalpinang, atau perjalanan sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Bersyukur saya ada di rumah karena hari ini giliran bekerja dari rumah, sehingga bisa meyambut kedatangan beliau.
Mang Bahar adalah seorang pemuka agama di desa Puding Besar.
Kedatangan beliau kali ini merupakan kedatangan kedua kalinya ke rumah kami.
Pertama, sekitar 3 tahun yang lalu pada saat beliau berniat merenovasi sebuah
masjid tua yang bersejarah di desanya. Kedatangan beliau bukannya tidak
beralasan. Itu semua karena suami saya berprofesi sebagai wartawan di media
Bangka Pos, group Kompas-Gramedia. Beliau meminta suami saya untuk mengabarkan
tentang masjid bersejarah itu.
Kedatangan Mang Bahar kali ini membawa sebuah durian
istimewa. Tidak seperti biasanya, durian ini berukuran sangat kecil, kurang
lebih sama dengan besarnya daging durian yang masih utuh dengan bijinya. Bertekstur
keras dan mempunyai warna seperti daging buah durian. Aromanya pun istimewa, kurang
lebih sama persis dengan durian biasa.
![]() |
| H. Baharudin dan durian unik |
Terdorong rasa ingin tahu yang besar, saya dan suami menanyakan asal-usul durian istimewa tersebut. Berkisahlah beliau pada kami. Semalam, beliau dengan temannya yang bernama Pak Hasanusi makan durian di rumah beliau. Durian tersebut dibawa oleh Pak Hasanusi dari “kelekak” (hutan kecil yang dirawat, biasanya ditanami pohon tahunan yang diwariskan secara turun temurun) durian milik pak Hasanusi. Jumlahnya 3 buah. Buah pertama dan kedua dikupas dan dinikmati bersama. Normal-normal saja. Di buah ketiga muncullah keunikan. Di salah satu “lundang” (ruang/rongga kulit) durian, menempel sebuah durian istimewa tersebut. Posisinya tepat menempati ruang/rongga kulit durian. Masya Allah. Hanya itu yang dapat saya ucapkan.
Penasaran dengan detil cerita Mang Bahar tentang posisi durian unik tersebut, saya pun meminta suami untuk membeli durian di pinggir jalan di dekat rumah (modus ingin makan durian juga). Mang Bahar segera membelah kulit durian dan meletakkan durian istimewa yang dibawanya ke dalam “lundang”. Kira-kira seperti inilah kondisi ditemukannya durian unik di dalam durian tersebut.
![]() |
| Posisi si durian unik |
Aneh tapi nyata. Itu sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Bukan hoax. Ingin segera berbagi dengan yang lainnya, suami pun menelpon rekan kerjanya sesama personil di Bangka Pos. Wawan, cameraman dan Edy Yusmanto, PIC (Person in Charge) atau koordinator video Bangka Pos pun segera meluncur ke kediaman kami. Setelah berbincang sejenak, mereka berdua melakukan siaran langsung video, berbincang dengan Mang Bahar di teras rumah. Berikut ini link-nya.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=190350319805539&id=177892288911274
Menjelang siang, buah durian istimewa (biji durian
berduri) itu mulai merekah laiknya durian yang dalam proses dibelah. Sebetulnya
saya penasaran dengan bagian dalamnya, tapi sudahlah. Yang terpenting kita
semua dapat mengambil hikmah dari keanehan ini. Tidak ada yang tidak mungkin
jika Allah berkehendak. Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.
![]() |
| kulit durian unik merekah |
Sekitar pukul 10.30 Mang Bahar meninggalkan rumah kami dengan membawa pulang durian unik itu bersamanya.
Tak lama kemudian, Mas Wawan dan Edy Yusmanto pamit pulang setelah diminta
berfoto oleh suami untuk dokumentasi saya. Terima kasih Mang Bahar yang telah
jauh-jauh datang sekaligus menjadi sumber inspirasi saya pagi ini. Terima kasih
juga buat Mas Wawan dan Edy yang telah mengizinkan fotonya menghiasi tulisan saya ini.
![]() |
| Mas Wawan dan Mas Edy |
Entah berapa lama durian di dalam durian itu bisa
bertahan. Membusuk atau mengering nantinya. Itu tak penting. Segala sesuatu di
dunia ini tidak ada yang abadi. Saya bersyukur pagi-pagi mendapat rezeki, bisa
menjadi saksi mata keunikan durian di dalam durian secara langsung. Bersyukur
juga ditakdirkan Allah bergabung di dalam kelas belajar menulis bersama PGRI dan
Om Jay (Bpk. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru bloger Indonesia, motivator, penulis buku) sehingga saya dapat
mengabadikan keunikan ini di dalam tulisan saya. Semoga Allah merahmati dan memberkahi
kita semua.
Pangkalpinang, 3 Agustus 2021
Rosminiyati
Saturday, July 3, 2021
Tips Berani Menulis bagi Pemula
Menyadari pentingnya menulis, terutama
di masa sekarang ini, banyak orang mulai melirik kegiatan satu ini. Berbagai
teori dan tips menulis mulai dipelajari, bahkan pelatihan pun mulai
digandrungi. Sebagus apapun teori, tips, dan pemahaman tentang kegiatan menulis
ini tak akan memberikan arti apapun jika tidak pernah membiasakan diri untuk
memulainya.
Pembiasaan merupakan hal terpenting
dari kegiatan menulis. Pembiasaan tidak akan diperoleh jika kita terikat dengan
aturan-aturan yang rumit: jenis karya, struktur kalimat, struktur teks,
penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan lain sebagainya. Jika kita fokus pada
hal-hal tersebut sementara kita belum pernah menulis apapun, nyali kita akan
ciut, kita menjadi minder, dan akhirnya mundur teratur.
Untuk pemula, terutama yang belum
pernah bergelut dengan kegiatan menulis, mari kita fokus pada pembiasaan saja
dulu.
Hal-hal berikut dapat kita lakukan
untuk sekedar akrab dengan menulis:
- Amati sebuah objek di sekitar kita, yang terdekat saja;
- Tulislah apa saja yang kita lihat dari objek tersebut: bentuk, warna, ukuran, manfaat, gerakan, atau apapun menurut kita perlu diceritakan tentang objek tersebut;
- Baca apa yang sudah kita tulis. Wah... ternyata banyak, bukan?
- Lakukan kegiatan-kegiatan di atas secara berulang, usahakan sesering mungkin.
Nah, kalau kebiasaan menulis sudah melekat pada diri kita, menulis terasa ringan kita lakukan, barulah kita lanjutkan ke tingkat penyempurnaan tulisan. Di sinilah teori-teori dan tips menulis dengan benar berperan. Untuk langkah awal, cukuplah membaca tulisan yang sudah kita buat, mencermatinya, dan lakukan revisi. Kemudian, bacalah kembali hasil editan kita, dan rasakan bedanya. Jika merasa sudah aman, bolehlah mencoba menulis berbagai jenis tulisan.
Untuk menjadi penulis sungguhan, mari kita belajar kepada penulis hebat, guru-guru kita tercinta. Semoga kita diberikan kemudahan, kelancaran dan keberkahan oleh Allah Subhanahu wa taala, Pemilik ilmu sesungguhnya.
Pangkalpinang, 3 Juli 2021
Rosminiyati
Belajar menulis, belajar berbagi.
-
Sumber gambar: Grup WA komunitas Lagerunal Pentingkah blogwalking bagi seorang bloger? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita mem...
-
Aku bukan pecundang Yang tak punya cita-cita dan harapan Aku bukan pecundang Yang menutup diri dari pengetahuan Aku bukan pecund...
-
Pengalaman datang dari mana saja dan kapan saja. Bentuknya pun beraneka pula. Tak terkecuali kisah sebagai moderator online via WA dalam ...




