Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba-serbi. Show all posts

Thursday, December 2, 2021

"Bagimu Negeri"- Aku denganmu


 


Bagimu Negeri
Pencipta: Kusbini

"Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami"

Lirik lagu nasional di atas hanya terdiri dari dari empat baris, namun setiap kali saya mendengar lagu tersebut dinyanyikan, ada yang menghembus permukaan kulit tubuh saya sehingga terasa merinding. Ada juga yang menusuk ke relung dada saya, dalam menghunjam. Yang tak kalah dahsyatnya, bulir-bulir bening keluar dari netra saya tanpa bisa ditahan. Semua itu tak dapat dikendalikan atau dihentikan untuk waktu yang cukup lama. 

Dulu, saya mengira bahwa perasaan yang saya alami seperti paparan di atas adalah momen sesaat. Mungkin karena suasananya yang spesial seperti saat wisuda atau upacara khidmat lainnya. Namun, ternyata tidak! Kapan pun lagu itu dinyanyikan, perasaan yang sama masih tetap saya alami, termasuk saat saya mengetik tulisan ini. 

Saya tidak mengerti, ada kekuatan apa di dalam lagu ini. Yang jelas, saya seperti terbawa ke alam yang luar biasa hampa. Sebuah ruang kosong tanpa penghuni, yang meminta siapa pun yang masuk ke dalamnya untuk memberikan sesuatu yang dimiliki. Sebuah lampu yang menerangi, sebuah lukisan untuk menghiasi, atau sebuah ukiran sebagai prasasti. Apa pun itu, ada jejak bahwa kita pernah ada di ruang ini. 

Jika saya yang mendengar lagu ini saja sebegitu bergetarnya, bisa saya bayangkan bagaimana dengan sang penulis liriknya. Kini saya semakin mengerti kata-kata para guru literasi saya yang mengatakan bahwa tulisan yang ditulis dari hati akan sampai pula ke hati pembacanya. 

Setelah lagu ini selesai dinyanyikan, masih dengan perasaan yang berkecamuk, saya pun berujar di dalam hati, "Maafkan diriku negeriku tercinta. Belum ada  hal berarti yang kupersembahkan padamu yang telah memberikan surga untukku."


Pangkalpinang, 2 Desember 2021

Rosminiyati







Tuesday, August 3, 2021

Aneh tapi Nyata-Durian di dalam Durian

 

Keberuntungan tak terjadi setiap saat. Tak pula kepada semua orang. Perjalanan yang baru beberapa tapak menuju mahkota penulis terasa sangat jauh. Menjadikan menulis sebagai passion tak selalu berjalan mulus. Kampanye “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi” terkadang dirasakan sangat berat. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena ide yang sulit didapat. Namun, benar adanya.  Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan tak terduga. 

Pagi ini, pukul 07.30 saya kedatangan tamu istimewa membawa kabar istimewa. Pak H. Baharudin bin H. Ishak namanya. Beliau adalah tentangga orang tua saya (saya juga waktu masih tinggal bersama orang tua). Kami memanggil beliau dengan sebutan Mang Bahar (mang=paman). Sekarang Mang Bahar tinggal di desa Puding Besar Kabupaten Bangka. Rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman orang tua saya ditinggali oleh anaknya. Rumah beliau di desa Puding Besar berjarak kira-kira 29 kilometer dari rumah saya, kota Pangkalpinang, atau perjalanan sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Bersyukur saya ada di rumah karena hari ini giliran bekerja dari rumah, sehingga bisa meyambut kedatangan beliau. 

Mang Bahar adalah seorang pemuka agama di desa Puding Besar. Kedatangan beliau kali ini merupakan kedatangan kedua kalinya ke rumah kami. Pertama, sekitar 3 tahun yang lalu pada saat beliau berniat merenovasi sebuah masjid tua yang bersejarah di desanya. Kedatangan beliau bukannya tidak beralasan. Itu semua karena suami saya berprofesi sebagai wartawan di media Bangka Pos, group Kompas-Gramedia. Beliau meminta suami saya untuk mengabarkan tentang masjid bersejarah itu.  

Kedatangan Mang Bahar kali ini membawa sebuah durian istimewa. Tidak seperti biasanya, durian ini berukuran sangat kecil, kurang lebih sama dengan besarnya daging durian yang masih utuh dengan bijinya. Bertekstur keras dan mempunyai warna seperti daging buah durian. Aromanya pun istimewa, kurang lebih sama persis dengan durian biasa.

H. Baharudin dan durian unik

 

 


 

 


Terdorong rasa ingin tahu yang besar, saya dan suami menanyakan asal-usul durian istimewa tersebut. Berkisahlah beliau pada kami. Semalam, beliau dengan temannya yang bernama Pak Hasanusi makan durian di rumah beliau. Durian tersebut dibawa oleh Pak Hasanusi dari “kelekak” (hutan kecil yang dirawat, biasanya ditanami pohon tahunan yang diwariskan secara turun temurun) durian milik pak Hasanusi. Jumlahnya 3 buah. Buah pertama dan kedua dikupas dan dinikmati bersama. Normal-normal saja. Di buah ketiga muncullah keunikan. Di salah satu “lundang” (ruang/rongga kulit) durian, menempel sebuah durian istimewa tersebut. Posisinya tepat menempati ruang/rongga kulit durian. Masya Allah. Hanya itu yang dapat saya ucapkan.

Penasaran dengan detil cerita Mang Bahar tentang posisi durian unik tersebut, saya pun meminta suami untuk membeli durian di pinggir jalan di dekat rumah (modus ingin makan durian juga). Mang Bahar segera membelah kulit durian dan meletakkan durian istimewa yang dibawanya ke dalam “lundang”. Kira-kira seperti inilah kondisi ditemukannya durian unik di dalam durian tersebut.

Posisi si durian unik 

 






Aneh tapi nyata. Itu sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Bukan hoax. Ingin segera berbagi dengan yang lainnya, suami pun menelpon rekan kerjanya sesama personil di Bangka Pos. Wawan, cameraman dan Edy Yusmanto, PIC (Person in Charge) atau koordinator video Bangka Pos pun segera meluncur ke kediaman kami. Setelah berbincang sejenak, mereka berdua melakukan siaran langsung video, berbincang dengan Mang Bahar di teras rumah. Berikut ini link-nya.  

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=190350319805539&id=177892288911274

Menjelang siang, buah durian istimewa (biji durian berduri) itu mulai merekah laiknya durian yang dalam proses dibelah. Sebetulnya saya penasaran dengan bagian dalamnya, tapi sudahlah. Yang terpenting kita semua dapat mengambil hikmah dari keanehan ini. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

kulit durian unik merekah


 

 

 

 

 




Sekitar pukul 10.30 Mang Bahar meninggalkan rumah kami dengan membawa pulang durian unik itu bersamanya. Tak lama kemudian, Mas Wawan dan Edy Yusmanto pamit pulang setelah diminta berfoto oleh suami untuk dokumentasi saya. Terima kasih Mang Bahar yang telah jauh-jauh datang sekaligus menjadi sumber inspirasi saya pagi ini. Terima kasih juga buat Mas Wawan dan Edy yang telah mengizinkan fotonya menghiasi tulisan saya ini.   

Mas Wawan dan Mas Edy

   

 





Entah berapa lama durian di dalam durian itu bisa bertahan. Membusuk atau mengering nantinya. Itu tak penting. Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Saya bersyukur pagi-pagi mendapat rezeki, bisa menjadi saksi mata keunikan durian di dalam durian secara langsung. Bersyukur juga ditakdirkan Allah bergabung di dalam kelas belajar menulis bersama PGRI dan Om Jay (Bpk. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru bloger Indonesia, motivator, penulis buku) sehingga saya dapat mengabadikan keunikan ini di dalam tulisan saya. Semoga Allah merahmati dan memberkahi kita semua.

 

Pangkalpinang, 3 Agustus 2021

Rosminiyati












Saturday, July 3, 2021

Tips Berani Menulis bagi Pemula

 

Menyadari pentingnya menulis, terutama di masa sekarang ini, banyak orang mulai melirik kegiatan satu ini. Berbagai teori dan tips menulis mulai dipelajari, bahkan pelatihan pun mulai digandrungi. Sebagus apapun teori, tips, dan pemahaman tentang kegiatan menulis ini tak akan memberikan arti apapun jika tidak pernah membiasakan diri untuk memulainya.

Pembiasaan merupakan hal terpenting dari kegiatan menulis. Pembiasaan tidak akan diperoleh jika kita terikat dengan aturan-aturan yang rumit: jenis karya, struktur kalimat, struktur teks, penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan lain sebagainya. Jika kita fokus pada hal-hal tersebut sementara kita belum pernah menulis apapun, nyali kita akan ciut, kita menjadi minder, dan akhirnya mundur teratur.

Untuk pemula, terutama yang belum pernah bergelut dengan kegiatan menulis, mari kita fokus pada pembiasaan saja dulu.

Hal-hal berikut dapat kita lakukan untuk sekedar akrab dengan menulis:

  1. Amati sebuah objek di sekitar kita, yang terdekat saja;
  2. Tulislah apa saja yang kita lihat dari objek tersebut: bentuk, warna, ukuran, manfaat, gerakan, atau apapun menurut kita perlu diceritakan tentang objek tersebut;
  3. Baca apa yang sudah kita tulis. Wah... ternyata banyak, bukan?
  4. Lakukan kegiatan-kegiatan di atas secara berulang, usahakan sesering mungkin.

Nah, kalau kebiasaan menulis sudah melekat pada diri kita, menulis terasa ringan kita lakukan, barulah kita lanjutkan ke tingkat penyempurnaan tulisan. Di sinilah teori-teori dan tips menulis dengan benar berperan. Untuk langkah awal, cukuplah membaca tulisan yang sudah kita buat, mencermatinya, dan lakukan revisi. Kemudian, bacalah kembali hasil editan kita, dan rasakan bedanya. Jika merasa sudah aman, bolehlah mencoba menulis berbagai jenis tulisan.

Untuk menjadi penulis sungguhan, mari kita belajar kepada  penulis hebat, guru-guru kita tercinta. Semoga kita diberikan kemudahan, kelancaran  dan keberkahan  oleh Allah Subhanahu wa taala, Pemilik ilmu sesungguhnya.

 

Pangkalpinang, 3 Juli 2021

Rosminiyati

Belajar menulis, belajar berbagi.

Menulis, Menulis, Menulis!