Showing posts with label Pantun. Show all posts
Showing posts with label Pantun. Show all posts

Wednesday, December 15, 2021

Pantun Refleksi Diri 2021 Menuju Resolusi 2022




Lama tak bersua dengan menantu,

Di hari petang ke rumah mertua,

Selamat tinggal dua puluh satu,

Selamat datang dua puluh dua.


Tangan menggaruk sambil makan bolu,

Duduk di dipan si baju merah,

Tinggalkan hal buruk di masa lalu,

Sambut masa depan yang lebih cerah.


Buruan berlari dari depan mata,

Laras senapan jangan dipancang,

Refleksi diri perlu sekali ditata,

Resolusi ke depan perlu dirancang.


Berseragam biru duduk berjajar,

Duduk berjajar di atas pelaminan,

Seorang guru harus rajin belajar,

Agar mengajar semakin nyaman.


Berbaju biru senyum merekah,

 Gerai rambut tanpa dikepang,

Tahun baru mambawa berkah,

Jika disambut dengan hati lapang.


Meniup suling sambil menjual ikan,

Ikan di peti takbisa berenang,

Indahnya saling memaafkan,

Dosa hilang hati pun senang. 

 

Tuesday, December 7, 2021

Pantun Pembuka Workshop Literasi Digital SMKN 2 Pangkalpinang

 


Buah selasih di atas nasi,

Buah kepayang di meja makan,

Terima kasih Ibu Lusi,

Atas kesempatan yang diberikan.


Bunga sekuntum dihinggapi debu,

Debu menyebar di sekelilingnya,

Assalamualaikum Bapak/Ibu,

Apa kabar semuanya?


Buah srikaya berbentuk gerigi,

Ditanam di taman indah jadinya,

Izinkan saya untuk berbagi,

Sedikit pengalaman yang saya punya.


Buka lapak jual teralis,

Teralis laku dengan sangat cepat,

Ayo Bapak Ibu kita menulis,

Karya buku nilai kredit didapat. 


Berbagi cerita kepada sesama,

Gantungkan asa sebagai narasi,

Mari kita maju bersama,

Pasti bisa dengan kolaborasi.


Buah selasih di sebelah delima,

Buah dimakan sesuai kebutuhan,

Terima kasih telah belajar bersama,

Mohon dimaafkan atas kesalahan.


Pangkalpinang, 6 Desember 2021

Rosminiyati 

Friday, December 3, 2021

Untuk Ibu Tersayang - Pantun


Gadis menyulam tanpa kaku,
Tabuhan gendang mengiringinya,
Teringat senyuman termanis ibuku,
Yang telah hilang untuk selamanya.

Memotong kuku haruslah tenang,
Kukunya retak keluar air mata,
Kekuatan hidupku telah berkurang,
Doa ibundaku tak lagi menyerta.

Makan ikan bukan sembarang ikan,
Makan bersama di atas bangku,
Ibundaku tak kan tergantikan,
Wanita utama di dalam hidupku.

Menyembelih itik dengan belati,
Belati dipakai haruslah tajam,
Ibuku mendidik sepenuh hati,
Akhlak disemai pengganti kalam.

Pasang tenda untuk pelaminan,
Pelaminan dipasang untuk mempelai,
Nasihat ibunda sebagai pedoman,
Hiduplah dengan tenang dan damai.

Gadis merenda di beranda,
Tanpa perlu memintal benang,
Meskipun ibunda telah tiada,
Kesolehannya kekal dikenang.

Membuka jendela dengan anggun,
Duduk di dipan sambil bercerita,
Ibunda rela melakukan apa pun,
Demi masa depan anak tercinta.

Memasak labu di dalam wajan,
Agar banyak ditambah kuah,
Wasiat ibu haruslah dijalankan,
Agar hidup bertambah berkah.

Menggigit tebu gigi berjajar,
Tebu di kebun dipanen bulanan,
Pengorbanan ibu tak bisa dibayar,
Dengan apa pun yang kita berikan.

Bermain layang-layang di lapangan,
Gunakan galah ulurkan benang,
Hanya doa yang bisa kupanjatkan,
Surga Allah untuk ibu tersayang.


Pangkalpinang 2 Desember 2021

Rosminiyati

Tuesday, August 3, 2021

Pantun Kemerdekaan


SEMANGAT HARI MERDEKA

Oleh: Rosminiyati


 Taruh gelas bagus di samping boneka,

Disimpan bertahun di tempat sama,

Tujuh belas Agustus hari merdeka.

Pada tahun empat puluh lima. 


Beli pita seorang dara,

Jahitkan baju model draperi,

Mari kita bergembira,

Rayakan kemerdekaan RI.


Pasang dasi kemeja cual,

Tanpa diberi benang simpul,

Rayakan proklamasi ala virtual,

Untuk hindari kumpul-kumpul.


Uang dolar patokan rupiah,

Siapa gerangan mau memberi,

Kemerdekaan bukan hadiah,

Hasil perjuangan anak negeri.


Kaum bangsawan membawa upeti,

Upeti diperiksa oleh paduka,

Para pahlawan rela mati,

Demi bangsa yang merdeka.


Pasang lentera jangan letih,

Karena malam telah tiba,

Kibarkan bendera merah putih,

Tanpa kalam sebagai aba-aba.


Berbalut kepekaan menghias dada,

Bermahkota budi menjunjung bakti,

Rebut kemerdekaan kini tiada,

Pemuda-pemudi sebagai pengganti.


Terbentur karang saat memancing,

Perahu ditambat di tepi pantai,

Pahlawan perang dengan bambu runcing,

Bangsa yang hebat tak boleh santai.


Air menggerus tepian jurang,

Jangan menari cari sensasi,

Kobarkan terus semangat perang,

Mengisi hari dengan prestasi.


Makan mangga di kala luang,

Daging dimakan buang bijinya.

Betapa bangga para pejuang,

Menyaksikan pemuda  mengisinya.


Tak ada pawai antri berjajar,

Karnaval ala kolonial,

Ambil gawai mulai belajar,

Berjuang  ala milenial.


Burung tekukur hinggap di jendela,

Pijakkan kaki kuncupkan sayapnya.

Mari bersyukur pada Allah taala,

Atas rezeki dan segala nikmat-Nya.


Pangkalpinang, 2 Agustus 2021

Rosminiyati

Pantun Perkenalan

 PEMILIK NAMA

Oleh: Rosminiyati


Di depan rumah bunga sekuntum,

Lidah buaya tanaman berduri,

Mukaddimah assalamualaikum,

Izinkan saya memperkenalkan diri.


Pohon pepaya dihinggapi merpati,

Kayu manis di sebelah pohon pinang,

Nama saya Rosminiyati,

Orangnya manis asal Pangkalpinang.


Merajut benang menjadi sejadah,

Duduk santai tanpa bertanya,

Kota Pangkalpinang sangatlah indah,

Banyak pantai yang mengelilinginya.


Pangkalpinang, 1 Agustus 2021

Rosminiyati


* Pantun ini telah diterbitkan dalam buku antologi "Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri" pada September 2021


Menulis, Menulis, Menulis!