Setiap perjalanan selalu membawa warna cerita tersendiri bagi setiap pelakunya. Ada yang menyenangkan, ada juga yang dirasakan melelahkan. Semuanya berpulang kepada yang bersangkutan.
Jika seseorang menganggap perjalanan adalah beban, maka setiap langkahnya menjadi berat. Sebaliknya, jika seseorang memandang perjalanan sebagai kesenangan, maka setiap tapaknya menjadi ringan meskipun jalan terjal dan berliku terus ditemuinya.
Aku sendiri sangat merindukan perjalanan ini, meskipun sempat tertinggal jauh karena kelalaian. Beruntung, masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan. Perlahan namun pasti, kuikuti saja arah dari sebuah aplikasi. Semoga, dengan cara ini aku akan sampai di tujuan yang didamba meskipun terlambat.
Pelatihan Belajar Menulis PGRI merupakan perjalanan yang harus kutempuh dengan susah payah. Seberapa pun beratnya tak akan kulepas. Terbayang bagaimana sulitnya aku berperang dengan diriku sendiri pada saat memutuskan bahwa aku harus ikut dalam pelatihan ini.
Ingin belajar tapi takut taksanggup. Raga yang termakan usia menjadi sumber kekhawatiran. Banyak lagi hal yang harus dipertimbangkan saat itu. Akhirnya, dengan menyebut nama Allah, dan atas izin-Nya pula aku pun terdampar di tempat yang menyenangkan.
Kegiatan belajar menulis PGRI yang diprakarsai Om Jay telah mengubah nasibku. Menulis yang awalnya hanya khayalan, kini menjadi passion-ku. Ada saja yang bisa dijadikan ide untuk menulis. Apa yang kulihat, kurasa, kudengar, kualami, dan lain-lain bisa ditulis dengan begitu lancar. Bahkan, seperti keajaiban, aku juga bisa menulis berbagai genre tulisan. Tak Percaya? Aku juga begitu awalnya. Tapi, semua itu nyata adanya.
Om Jay, sebagai pemrakarsa kegiatan belajar menulis PGRI telah banyak berkiprah dalam proses metamorfosa hidupku. Bukan hanya aku, melainkan juga seluruh peserta belajar dari gelombang 1 sampai 18. Aku sendiri berada di gelombang 19. Saat itu ada 2 gelombang kegiatan belajar - gelombang 19 dan 20 - dengan jadwal belajar yang sama.
Belajar dimulai pada tanggal 12 Juli 2021 dan berakhir pada 17 September 2021. Kegiatan belajar dilakukan via WhatsApp (WA) grup belajar sebanyak 3 kali dalam 1 pekan: Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 19.00 – 21.00.
Acara pembukaan pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 19.00 via zoom meeting sangat menggetarkan jiwa. Pada saat itulah pintu kepenulisan dibuka oleh penulis-penulis hebat yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Serasa bermimpi terbang ke awan, aku ikuti acara pembukaan dengan tak hendak kehilangan sekecil apa pun informasi yang terkandung di dalamnya.
Belajar di grup menulis di kelas Om Jay dirasakan aneh bagi sebagian orang. Betapa tidak! Belajar hanya dengan menggunakan Whatsapp bisa menelurkan penulis-penulis andal. Bukan hanya penulis, gelar sebagai bloger juga langsung disandang di hari pertama kegiatan belajar. Bagaimana ini bisa terjadi?
Syarat mengikuti kegiatan menulis harus mempunyai blog. Yang belum punya harus membuatnya. Sulitkah? Tentu saja ‘ya’ untuk seorang guru jadul seperti aku. Namun, Om Jay sangat paham dengan permasalahan yang terjadi. Beliau dan tim memberikan cara membuat blog.
Ternyata, membuat blog mudah sekali setelah aku didampingi oleh anak sulungku untuk membuatnya. Juga, ketika aku meminta murid-muridku untuk membuat blog, mereka bisa melakukannya hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit. He … he …, aku memang termasuk golongan pengecut dalam urusan terkait dunia digital. Tak mengapa, yang penting aku sudah menjadi seorang bloger. Keren, bukan?
Sebelum jadwal belajar dimulai, Om Jay sering sekali memberikan pancingan-pancingan agar peserta belajar mau menulis. Ada-ada saja yang dibagi di kolom chat WA grup belajar. Misalnya, gambar pohon mangga dengan buah yang lebat. Di saat yang lain, Om Jay mengepos gambar pisang, soto, dan lain-lain. Kami diminta untuk menulis tentang gambar tersebut.
Tulisan para peserta belajar beragam. Semuanya dibagikan di kolom chat WA. Ada yang menulis artikel, cerpen, pantun, sementara aku sendiri lebih memilih menulis puisi. Pokoknya suka-suka kamilah mau menulis apa. Kalau aku mengingat saat itu, lucu sekali. Intinya, tulisanku saat itu tidak ada bagus-bagusnya. Tapi, beberapa tulisan kami bisa bermigrasi ke blog guru penggerak. Hal yang sangat tidak terduga.
Terkait kegiatan belajar menulis kepada Om Jay, ada juga kegiatan yang cukup seru. Pada siang menjelang sore hari, Om Jay melakukan bedah buku penulis dari gelombang sebelumnya melalui livestreaming YouTube. Di salah satu siaran langsung YouTube tersebut, Om Jay membacakan nama pemenang tantangan menulis di blog berdasarkan objek yang diberikan. Ada hadiah pulsa bagi pemenangnya. Aku pernah memenangkan tantangan itu. Ternyata, begitu cara Om Jay memotivasi peserta belajar untuk menulis.
Hari pertama belajar, narasumbernya cantik, lembut dan bersahaja. Namanya Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. yang biasa disapa Bu Kanjeng. Beliau memberikan materi dengan tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Aku tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, tapi kedekatan batin terasa sekali. Hal ini disebabkan karena materi yang disajkan mengena di hati.
Bu Kanjeng memberikan materi lebih banyak dengan rekaman suara. Oleh karena itu, aku tahu beliau orangnya lembut. Gairah berbagi ilmu tidak menampakkan usianya yang tidak muda lagi. Saking terpesonanya dengan sajian materi beliau, aku tidak bisa menyelesaikan resume pertamaku dalam waktu semalam. Akibatnya, keesokan malamnya barulah resume itu dikumpulkan.
Tak mengapa resume terlambat dikumpulkan, karena memang tak ada aturan resume harus ditulis tepat pada saat materi disajikan. Karena itulah, belajar dilakukan melalui WA agar peserta belajar dapat menyesuaikan waktu dengan kondisi masing-masing. Lagi pula, dari 30 kali pertemuan, peserta belajar hanya wajib mengumpulkan 20 resume saja.
Aku memperhatikan materi Bu Kanjeng dengan seksama. Tak ingin ada sedikitpun yang tertinggal. Motivasi besar terlahir dari materi pertama ini. Kata “passion” telah membiusku untuk bertekad menjadikan menulis sebagai passion-ku juga. Tak hanya itu, orientasi menulis yang diajarkan Bu Kanjeng sebagai sarana mencari rida Allah telah pula memantapkan diriku untuk terus berada di grup belajar ini. Aku ingin mendapatkan amal jariah melalui tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.
Tak sebatas pertemuan pertama, Bu kanjeng juga mengajak kami menulis buku antologi – buku karya bersama. akupun terseret menuju ke grup baru, “Antologi Menulis gelombang 19 dan 20”. Dari kegiatan ini lahirlah buku antologi perdanaku dengan judul “Writing is My Passion – Jilid 1”. Bersyukur aku bisa menjadi bagian dari buku ini. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Tak hanya antologi cerita, Bu kanjeng juga mengajak kami bergabung dalam grup “Belajar Puisi Telelet”. Nah, apa itu puisi telelet? Jika mau tahu, silakan bergabung di grup belajar menulis. Puisi ini super sulit menurutku. Namun, karena penasaran, aku terus berjuang untuk menulisnya. Akhirnya, aku mampu menulis beberapa puisi jenis ini. Selanjutnya, kami juga membuat karya bersama puisi ini. Jika semua peserta sudah mengumpulkan karyanya, buku ini pun segera diterbitkan.
Satu hal yang sangat mengejutkanku, ketika Bu Kanjeng chat ke WA-ku. Beliau mengabarkan bahwa resume perdanaku masuk majalah bulanan Edupos, no. 16, Tahun II, Agustus 2021. Perasaan bingung dan gembira bertaut menjadi satu. Kok bisa?
Ternyata pada saat Bu Kanjeng memberikan materi pada webinar Public Speaking PGRI dengan tema yang sama, redaksi majalah tersebut meminang Bu Kanjeng untuk mengisi majalah mereka. Akhirnya, qadarullah, Bu Kanjeng menjadikan resume perdanaku menjadi referensinya.
Tak ada yang istimewa dari tulisanku. Aku hanya menulis resume apa adanya. Itu pun dengan perjuangan berlumuran kebingunan dan ketidaktahuan. Namun, dengan bismillah dan dengan hati yang ikhlas dan penuh cinta, aku ketik satu per satu huruf yang ada di keyboard laptop dengan “11” jari. Jadilah untaian kata ala kadarnya. Begitulah kalau Allah berkehendak. Ibu Kanjeng tergerak hatinya untuk mencomot karya sederhanaku itu.
Keberanian mencoba berbagai genre tulisan telah pula membawaku terdampar di grup Pantun Bersuka Ria. Di grup ini ada Mas Miftah sang juara pantun yang membimbing kami menulis pantun. Akhirnya, aku pun ikut mengambil bagian dalam buku antologi “Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri” dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Menyenangkan, bukan? Jujur, sebelumnya aku paling tidak mengerti tentang pantun.
Begitu indah rahasia Allah membersamai perjalananku menuju dunia baruku ini. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa memotivasi, membimbing, dan mendoakan. Suami tercinta yang merestui, ananda terkasih ikut membantu, keponakan kecilku yang menginspirasi, keluarga besar, murid-murid, dan kawan turut membantu, menyemangati, dan mengapresiasi.
Tak kalah penting, yang membuat aku bertahan dan terus berjuang menulis adalah suasana yang nyaman yang diciptakan para guru hebat dan kawan-kawan di kelas belajar menulis ini. Semuanya seperti kompak menjadi lampu yang terus menyala memberikan cahaya yang menerangi dunia literasiku.
Ilmu baru tentang kepenulisan satu per satu memenuhi ruang otakku. Setiap pertemuan kegiatan belajar memberikan warna yang berbeda. Dari pertemuan pertama sampai pertemuan ke-30, aku ikuti kegiatan belajar tanpa jeda. Resume pun tak pernah aku tinggalkan. Hingga kegiatan belajar yang terjadwal berakhir, aku telah menulis 30 resume yang semuanya dipublikasikan di blog pribadiku. Ini penting bagiku, sebagai jejak bahwa aku serius belajar sekaligus sebagai pedoman penulisan pada saat dibutuhkan.
Dari keseluruhan materi yang tersaji, dapat aku kelompokkan menjadi: mental penulis; ide menulis; ilmu dasar menulis; strategi menulis resume dengan cepat di blog; komitmen dan konsistensi menulis; menulis karya ilmiah dan fiksi; swasunting/proofreading; pemanfaatan blog sebagai sarana pembelajaran; langkah-langkah menulis buku; menerbitkan buku, dan memasarkan buku; mengelola taman bacaan; dan manfaat menulis bagi PNS.
Seluruh narasumber menempatkan motivasi di bagian terbesar dari materi inti. Hal ini penting, karena motivasi menulis menjadi dasar dari kesuluruhan kegiatan menulis. Dengan adanya motivasi, seseorang akan mampu melahirkan karya.
Terkait motivasi dan teori dasar menulis, tak putus-putusnya aku dapatkan dari grup belajar menulis ini. Om Jay dan tim, juga kawan-kawan seperjuangan sepertinya tak kehabisan akal menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar dan berkarya. Kegiatan blogwalking dengan meninggalkan jejak positif pada kolom komentar menjadi salah satu cara memotivsi peserta dalam menulis.
Mengunjungi blog kawan-kawan dan tim belajar menulis menjadi sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan yang tak terhingga. Konten yang beragam dengan berbagai hiasan berupa gambar dan video, gaya penulisan, penggunaan diksi dan tata bahasa membuat aku seakan berada di sebuah cakrawala. Begitu luas ilmu yang tersaji di sana untuk dinikmati sebagai bekal mempercantik diri dalam berkarya.
Kejutan demi kejutan aku rasakan. Hadiah buku dari Penerbit Andi pernah aku terima sebagai peserta pertama yang mengumpulkan remuse saat Bapak Joko Irawan Mumpuni - Direktur Penerbitan Penerbit Andi - menjadi narasumber materi belajar pada pertemuan ke-12, 6 Agustus 2021. Rasa bahagia yang luar biasa aku rasakan saat itu. Begitu mulus perjalanan meraih ilmu yang dibentangkan Allah pada hamba-Nya yang fakir ini.
Semakin bergairahnya aku bergelut dalam dunia literasi ini, aku pun iseng-iseng merekam pembacaan puisi yang aku tulis sendiri. Suara rekaman aku bagikan di kolom obrolan WA grup belajar menulis. Tak lama, Pak D. Susanto, salah satu narasumber yang fokus terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengisi kolom chat dengan komentar yang lucu. Hal ini menandakan bahwa beliau telah meyimak bacaan puisiku. Rasanya, wow …!
Tak sampai di situ. Pak D Susanto juga mengundangku untuk bergabung di komunitas Cakrawala Bloger Guru Nasional (Lagerunal) dengan memberikan tautan bergabung di grup. Dalam hitungan menit, aku pun resmi menjadi anggota baru di grup ini. Di grup ini lebih banyak lagi ilmu yang menanti untuk mengisi ruang kosong di otak kiri dan otak kananku.
Aturan yag harus dipatuhi di Lagerunal membuat aku sangat terkesan dan nyaman. Tak boleh ada iklan di dalam kolom obrolan WA, termasuk informasi penting terkait webinar. Semua yang ingin disampaikan harus ditulis di blog dulu, barulah tautan blognya yang dibagikan di kolom obrolan. Ada lagi acara Senin Bogwalking, Selasa Berbagi, dan Kamis Menulis. Ada pembahasan tentang konten tulisan juga terkait penggunaan bahasa, teknik menulis, dan lain-lain. Ada juga tentang cara mengelola blog agar para bloger lebih terampil dengan blognya.
Menuju di titik akhir perjalanan kegiatan Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay, peserta gelombang 19 dan 20 berkolaborasi untuk merayakan acara penutupan. Aku menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Terbentuklah grup WA panitia untuk membahas pelaksanaan acara tersebut agar bisa berlangsung meriah dan mengesankan. Dari hasil berembuk, akhirnya disepakati rangkaian acara yang harus ditampilkan oleh panitia, sekaligus terbentuklah komunitas baru dengan nama “Laskar Literasi 1920”.
Dalam rangka menyemarakkan acara penutupan itu, aku ikut menyumbang acara pembacaan puisi. Untuk itu, aku berjuang menulis puisi secepat kilat karena aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk guru-guru hebat. Meskipun darurat, aku mencoba untuk menghasilkan karya seadanya namun berharap bermakna sebagai hasil belajar selama 2 bulanan.
Lantaran khawatir kendala terjadi saat petemuan dengan zoom, pembacaan puisi pun aku rekam saja, kemudian dibuatkan menjadi video dan diunggah di YouTube. Alhamdulillah, acara yang diselenggrakan pada malam Ahad, 18 September 2021 berjalan dengan lancar. Puisiku pun ditayangkan pada acara tersebut. Berbagai rasa yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata hadir bersama berjalannya acara.
Sejak acara penutupan, perasaanku terasa gamang. Biasanya, pada hari Senin, Rabu, dan Jumat aku sudah menyiapkan energi super untuk menyambut kelas malam belajar menulis. Semua itu sudah lewat. Artinya, tak ada lagi yang memeriahkan malam penantianku. Tak ada lagi pertarungan sengit, kebut-kebutan berlomba mengumpulkan resume duluan seperti ketika belajar bersama kawan-kawan. Duh … rindunya suasana itu.
Kerinduanku terobati dengan cara menggarap buku solo setelah kegiatan belajar selesai. Cerita tentang perjalanan belajar selama 30 kali pertemuan dan segala sesuatu yang terkait di dalamnya dengan apik aku ceritakan juga. Lahirlah mahkota penulis perdanaku dengan judul “Jendela Literasi – Kumpulan Artikel Dunia Menulis dan Menerbitkan Buku”.
Menambah indahnya perjalananku, saat aku dinobatkan sebagai peraih juara kedua dalam “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggarakan oleh Guru Blogger Indonesia Bekerjasama dengan Ikatan Guru TIK PGRI pada Bulan Oktober 2021.
Suatu hal yang paling tidak pernah kuduga. Bagiku, dapat menaklukkan blog gurupenggerakindonesia.com, tempat tulisan yang dilombakan dipublikasikan, sudah menjadi keberhasilan yang luar biasa, mengingat blog tersebut baru dan rumit dibandingkan blog pribadiku. Jika ternyata aku mendapatkan lebih, itu adalah bonus dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Kini, aku sudah melewati serangkaian perjalanan belajar menulis yang sampai kapan pun tak akan pernah sampai, karena sejatinya hakikat belajar adalah sepanjang hayat. Yang aku rasakan setelah mengikuti kegiatan belajar menulis kepada Om Jay dan tim adalah semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula yang belum aku ketahui.
Teriring doa, semoga guru-guru hebat yang telah memberikan rambu-rambu untuk mengantarkan perjalananku berikutnya, senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah subhanahu wataala.
Pangkalpinang, 25 Desember 2021
Rosminiyati
* Tulisan ini telah terbit dalam buku antologi "Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan - Kumpulan Pengalaman Belajar Menulis Gelombang 19"