Showing posts with label Ceritaku. Show all posts
Showing posts with label Ceritaku. Show all posts

Sunday, January 23, 2022

Sinopsis Buku Antologi "Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan"

 


Buku antologi satu ini sangat mengesankan. Di samping prosesnya yang panjang dan berliku, ada keunikan yang hadir mewarnai perjalanannya. Sang kurator, Bapak Muliadi (Ketua Kelas Gelombang 19) terlalu sibuk untuk menggedor pasukan. Akhirnya, saya turun lapangan untuk membantu peluncuran buku ini. Tak ayal, kawan-kawan peserta Belajar Menulis Gelombang 19 saya gedor satu per satu via WA pribadi. 

Tak kurang ide, tiga orang narasumber sekaligus pengurus kegiatan Pelatihan Belajar Menulis PGRI ikut dimintai menulis - Ibu Maesaroh, Pak Brian Prasetyawan, dan Ibu Aam Nurhasanah. Sementara, sang "Ratu Antologi" (gelar yang diberikan Om Jay kepada Ibu Sri Sugiastuti atau biasa disapa Bu Kanjeng) telah menanti untuk menulis Kata Pengantar dan mengedit naskah. 

Buku yang sudah dimulai prosesnya sejak Pelatihan Belajar Menulis Gelombnag 19 dan 20 berakhir (September 2021) ini akhirnya terbit juga pada pertengahan Desember 2021. Alhamdulillah, di samping isi yang menghiasi lembaran buku bersama ini, saya ikut menyumbang Judul, Prakata, dan Sinopsis sebagai syarat terbitnya buku yang membuat saya selalu terharu. 

Berikut Sinopsis buku bersama ini. 

Belajar menulis di kelas yang sama tidak serta merta membuat pesertanya memiliki cerita yang sama pula. Latar belakang, kondisi fisik, usia, motivasi, kesiapan, waktu, potensi, keberanian, fasilitas, dan faktor lainnya ikut mempengaruhinya. Itu pulalah penyebab lahirnya warna-warni yang tersaji di dalam buku ini.

Suguhan menu belajar istimewa dan bervariasi di kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 memberikan kesempatan kepada para peserta belajar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia untuk mewujudkan impian menjadi penulis. Rasa takut, minder, malas, dan faktor yang melemahkan lainnya mampu dipangkas oleh kesabaran, ketelatenan, dan ketulusan para guru hebat sebagai mentor dan pengurus di kelas belajar ini yang dikemas dalam bentuk motivasi tanpa henti.

Metode belajar yang tak biasa dan syarat kelulusan yang berat dapat dilewati dengan perjuangan yang tidak sedikit. Didukung oleh nuansa belajar yang menyenangkan yang diciptakan oleh panitia dan antarsesama peserta telah menyatukan hati para penulis dalam ikatan batin yang kuat sehingga sepakat untuk mengabadikannya dalam sebuah karya buku antologi ini.

Bagaimana keseruan kisah perjalanan belajar menulis dari sudut pandang peserta dan mentor/pengurus di kelas belajar istimewa ini? Yuk, disimak dengan membaca tuntas bukunya dan ambil pelajaran berharga dari isinya.


Semoga kenangan ini dapat selalu dikenang sepanjang hayat. 


Pangkalpinang, 23 Januari 2021

Rosminiyati

 



Sinopsis Buku "Jendela Literasi"


Buku solo perdana ini lahir pada bulan Oktober 2021 dengan Kata Pengantar ditulis oleh Bapak Wijaya Kusumah, M. Pd. atau biasa disapa Om Jay, pemrakarsa Pelatihan Belajar Menulis PGRI. Buku ini merupakan hasil belajar selama 30 kali pertemuan di kelas Belajar Menulis Gelombang 19 dan 20, Juli - September 2021.

Pengalaman menulis sinopsis buku sendiri memberikan kenangan yang begitu manis. Segala kekuatan lahir dan batin dikerahkan agar dapat mewakili isinya. Berikut rangkaian katanya. 

Keinginan yang kuat untuk menjadi seorang penulis cukup lama terpendam lantaran tak mengerti sama sekali tentang seluk beluk kepenulisan. Hingga akhirnya, takdir membawanya bertemu dengan para penulis hebat dalam kelas belajar menulis PGRI yang diprakarsai oleh Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau Om Jay.

Bermula dari kebingungan dengan teknik belajar di kelas ini, kemudian berubah menjadi kesenangan yang tak terhingga. Kemasan belajar yang luar biasa dari para Narasumber dan Tim telah menjadikan penulis seorang yang cerdas dalam waktu yang sangat singkat. Bukan semata-mata tentang cara menulis, melainkan juga tentang cara menyikapi peluang dan kesempatan yang ada.

Menyadari diri tak berdaya terkait menulis, penulis pun bekerja keras tanpa lelah mengikuti kegiatan belajar. Bahkan, beberapa komunitas penulis berbagai genre tulisan diikuti hingga lahirlah buku antologi sebagai wujud hasil belajar dengan sepenuh hati. Proses metamorfosa yang begitu cepat membuat dirinya sendiri tak percaya. Keajaiban demi keajaiban terjadi begitu saja tanpa disadari.

Bagaimana cerita bermula hingga bisa menjadi penulis dengan karya besar yang tak dapat dipandang sebelah mata tersaji di dalam buku ini. Jika para pembaca ingin pula mengambil ibrah atau pembelajaran dari sebuah perjalanan belajar menulis, membaca buku ini adalah pilihan yang paling tepat. Tidak percaya? Silakan buktikan!

Sinopsis ini ditulis kembali agar tersimpan rapi di dunia maya. Jika suatu saat nanti buku kertas hilang entah ke mana, ia masih dapat dibaca.


Pangkalpinang, 23 Januari 2022

Rosminiyati

Saturday, January 8, 2022

Melirik Bisnis Pangkas Rambut

 

Rambut merupakan mahkota bagi kaum Adam, tetapi aurat bagi kaum Hawa. Penataan rambut kaum laki-laki dapat mencerminkan kondisi jiwa pemiliknya maupun profesi yang sedang dijalaninya. Orang yang bekerja di kantor atau mereka yang berstatus siswa, cenderung memiliki potongan rambut pendek dengan model standar karena model rambut tersebut menjadi syarat keberadaan mereka pada komunitas tersebut.

Telah beberapa kali kami membujuk Aran, si keponakan tercinta untuk potong rambut tapi selalu ditolaknya. Dulu, waktu dia masih berumur di bawah 1 tahun, saya memotong rambutnya saat dia tidur. Begitu bagun, rambutnya sudah pendek, meskipun tidak terbilang rapi. Di atas 2 tahun, dia sudah mau rambutnya dipotong tapi di rumah, tidak mau di salon. Alhasil, rambut berserakan di mana-mana karena proses memotong rambutnya berpindah-pindah tempat sesuai kemauannya.

Akhir tahun 2021, usia Aran - keponakan tersayang - 4 tahun. Beberapa hari ini dia belum dititipkan di tempat penitipan yang disebutnya sekolah, karena badannya kurang sehat. Tak salah memang dia menyebutnya sekolah, karena di sana dia bersama beberapa anak lainnya diajarkan sholat, menghapal doa, hadist, mengaji, dll. Dengan rambut yang sudah panjang, terlihat tubuhnya kurus dan penampilan acak-acakan. Hari ini, dengan alasan untuk kepentingan sekolah, iseng-iseng saya menawarkannya untuk potong rambut di kios terdekat, dan dia mau asalkan diberi hadiah coklat. Setelah sepakat, kami pun meluncur ke tukang pangkas rambut yang jaraknya hanya sekitar 300 meter saja dari rumah.

Setelah sampai di tempat tujuan, sudah ada beberapa orang yang antri. Tiap 10 menit, pelanggan pun berganti. Proses pangkas rambut yang begitu cepat dengan biaya 15.000 rupiah saja membuat saya terpukau. Saya menjadi teringat dengan usaha jasa pangkas rambut langganan suami dan anak-anak saya. Sejak anak saya bersekolah di SD hingga anak saya sekarang selesai kuliah, tukang pangkas rambut tersebut masih istkomah menjalankan profesinya. Bahkan, dulu tempat pangkas rambut yang ukurannya kecil sekaligus berfungsi sebagai rumah tinggal telah ditinggalkan, berganti dengan menyewa ruko yang lebih besar. Sementara, rumah pribadi sudah dimiliki, dan mobil baru pun dibeli dari hasil memangkas rambut tersebut.

Melihat pelanggan di tempat pangkas rambut yang datang silih berganti dari anak-anak usia sekitar 1 tahun sampai orang tua, memberikan pemandangan yang menakjubkan. Dua orang pemangkas rambut yang masih muda dengan ketangkasan dan keramahannya, tak kalah menarik menjadi pusat perhatian saya.

Sampailah saya kepada suatu pemikiran bahwa usaha jasa pangkas rambut ini merupakan peluang bisnis yang menjanjikan. Bayangkan saja, peralatan yang digunakan sangat sederhana, mesin cukur yang harganya terjangkau, kursi putar yang juga tidak memerlukan modal besar. Tinggal sewa tempat, yang menurut saya tidak terlalu mahal karena tidak perlu ruangan yang besar.

Ditinjau dari kemajuan teknologi digital, usaha jasa potong rambut sepertinya tidak memberikan dampak gulung tikar, malahan bertambah maju pesat dengan memanfaatkan aplikasi digital sebagai sarana promosi. Bisnis ini tidak perlu beralih menggunakan layanan delivery sekalipun masyarakat mulai dimanjakan dengan kemudahan tersebut. Masalahnya, meskipun ada layanan door to door service, sedikit sekali yang berkenan rumahnya menjadi kotor dengan sisa potongan rambut yang berserakan.

Jadi, bagi siapa pun yang ingin membuka bisnis tapi belum menemukan jenis usahanya, jasa pangkas rambut bisa menjadi alternatif bidang usaha yang dapat digarap. Cukup mengikuti pelatihan memangkas rambut beberapa saat, kemudian langsung membuka usaha layanan jasa pangkas rambut sederhana. Dengan kemasan keramahan dan pelayanan prima, insya Allah pintu rezeki terbuka lebar.



Pangkalpinang, 8 Januari 2022

Rosminiyati

Liburan Tak Berasa Liburan

Liburan merupakan waktu istirahat bagi siapa pun setelah kurun waktu tertentu melakukan pekerjaan yang sama. Diharapkan dengan beristirahat beberapa saat dapat memberikan kesegaran kembali saat masuk kerja pada periode berikutnya. Banyak kegiatan yang dilakukan dalam mengisi liburan, antara lain bertamasya, melakukan kegiatan sesuai hobi, pulang kampung mengunjungi orang tua yang sudah lama ditunda, atau sekedar berkumpul bersama keluarga, terutama yang memiliki anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang yang membutuhkan perhatian dari orang tuanya.

Liburan semester gazal tahun pelajaran 2021 - 2022 bagi guru-guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang sangat berbeda dari biasanya. Pada liburan kali ini, guru-guru justru disibukkan dengan pengolahan nilai mata pelajaran yang diampu, dilanjutkan dengan pengisian rapot. Hal ini disebabkan kebijakan yang ulur tarik tentang jadual ulangan semester gazal yang tentu saja dipatuhi oleh pihak sekolah serta didukung oleh kondisi tertentu di sekolah ini. Akibatnya, jadual ulangan diundur 1 minggu, dan menjelang masa liburan, nilai-nilai belum bisa diolah secara maksimal.

Jadual liburan semeter gazal berlangsung 27 Desember 2021 dan berakhir 7 Januari 2022. Awal semester genap sekaligus jadual masuk ke sekolah kembali pada 10 Januari 2022. Sementara, pembagian rapot dijadualkan pada Senin,10 Januari 2022, dan rapot sudah harus ditandatangani oleh Kepala Sekolah pada Jumat, 7 Januari 2022. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa guru-guru nyaris tidak merasakan liburan yang sesunghunnya. Tentu saja kesegaran yang diharapkan diperoleh selama liburan tidak didapatkan.

Guru-guru tidak meluncurkan kata-kata keluhannya terhadap kondisi ini. Namun, terlihat kelelahan dari wajah-wajah mereka yang tidak merasakan istirahat sebagiamana mestinya. Pada hari-hari kerja biasa, guru sudah membawa berbagai tugas untuk dikerjakan di rumah, saat liburan pun masih harus mengerjakan hal yang sama. Mungkin inilah takdir yang harus dijalani guru sebagai wujud pengabdian tanpa henti.

Seberapa pun ikhlasnya guru menerima takdirnya, namun guru tetaplah manusia biasa yang membutuhkan istirahat layaknya pekerja lainnya. Oleh karena itu, sangatlah bijaksana jika pemangku jabatan dapat memahami masalah ini dan mengambil kebijakan yang lebih elegan terkait guru. Guru bekerja dengan menyertakan hati, bukan hanya pikiran dan kekuatan fisik. Oleh karena itu, kesegaran jiwa dan raga guru perlu dijaga agar dapat mempersembahkan yang terbaik pula bagi murid-muridnya.

Ada lagi hal lain yang jika diperhatikan secara seksama kurang berpihak pada guru. Banyaknya aplikasi yang harus diisi oleh guru terkait administrasi kepegawaian saat sedang aktif menjalankan tugas maupun saat liburan terkadang mengganggu konsentarasi dan membuat guru tidak tenang. Sepertinya berkas-berkas kepegawaian guru yang telah diarsip dengan rapi di ruang Tata Usaha kurang berfungsi secara maksimal jika semuanya masih harus guru yang mengerjakan. Hal ini sangat bertentangan dengan pernyataan Mas Menteri yang menggaungkan penyederhanaan administarasi guru.

Diharapkan ke depannya, guru-guru diberikan kesempatan untuk fokus pada kegiatan yang terkait urusan belajar mengajar saja, dengan memberikan ruang dan waktu bagi guru untuk dapat belajar beradaptasi dengan kondisi terkini dan mengembangkan potensi diri. Dengan demikian, guru dapat mengejar ketertinggalan yang disebabkan oleh kemajuaan teknologi informasi yang begitu pesat. Jika kondisi ini tercipta, bukan tidak mungkin, nasib pendidikan yang selama 2 tahun terpuruk yang disebabkan pandemi dapat pulih kembali dalam waktu yang relatif singkat.

Liburan telah berlalu. Waktu liburan tidak dirasakan sebagai liburan oleh guru. Semoga guru diberikan Kesehatan dan keberkahan yang berlimpah atas semua pengorbanan yang telah dilakukan.

 

Pangkalpinang, 8 Januari 2021

Roaminiyati

Saturday, December 25, 2021

Perjalanan yang Tak Pernah Sampai



Setiap perjalanan selalu membawa warna cerita tersendiri bagi setiap pelakunya. Ada yang menyenangkan, ada juga yang dirasakan melelahkan. Semuanya berpulang kepada yang bersangkutan.

Jika seseorang menganggap perjalanan adalah beban, maka setiap langkahnya menjadi berat. Sebaliknya, jika seseorang memandang perjalanan sebagai kesenangan, maka setiap tapaknya menjadi ringan meskipun jalan terjal dan berliku terus ditemuinya.

Aku sendiri sangat merindukan perjalanan ini, meskipun sempat tertinggal jauh karena kelalaian. Beruntung, masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan. Perlahan namun pasti, kuikuti saja arah dari sebuah aplikasi. Semoga, dengan cara ini aku akan sampai di tujuan yang didamba meskipun terlambat.

Pelatihan Belajar Menulis PGRI merupakan perjalanan yang harus kutempuh dengan susah payah. Seberapa pun beratnya tak akan kulepas. Terbayang bagaimana sulitnya aku berperang dengan diriku sendiri pada saat memutuskan bahwa aku harus ikut dalam pelatihan ini.

Ingin belajar tapi takut taksanggup. Raga yang termakan usia menjadi sumber kekhawatiran. Banyak lagi hal yang harus dipertimbangkan saat itu. Akhirnya, dengan menyebut nama Allah, dan atas izin-Nya pula aku pun terdampar di tempat yang menyenangkan.

Kegiatan belajar menulis PGRI yang diprakarsai Om Jay telah mengubah nasibku. Menulis yang awalnya hanya khayalan, kini menjadi passion-ku. Ada saja yang bisa dijadikan ide untuk menulis. Apa yang kulihat, kurasa, kudengar, kualami, dan lain-lain bisa ditulis dengan begitu lancar. Bahkan, seperti keajaiban, aku juga bisa menulis berbagai genre tulisan. Tak Percaya? Aku juga begitu awalnya. Tapi, semua itu nyata adanya.

Om Jay, sebagai pemrakarsa kegiatan belajar menulis PGRI telah banyak berkiprah dalam proses metamorfosa hidupku. Bukan hanya aku, melainkan juga seluruh peserta belajar dari gelombang 1 sampai 18. Aku sendiri berada di gelombang 19. Saat itu ada 2 gelombang kegiatan belajar - gelombang 19 dan 20 - dengan jadwal belajar yang sama.

Belajar dimulai pada tanggal 12 Juli 2021 dan berakhir pada 17 September 2021. Kegiatan belajar dilakukan via WhatsApp (WA) grup belajar sebanyak 3 kali dalam 1 pekan: Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 19.00 – 21.00.

Acara pembukaan pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 19.00 via zoom meeting sangat menggetarkan jiwa. Pada saat itulah pintu kepenulisan dibuka oleh penulis-penulis hebat yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Serasa bermimpi terbang ke awan, aku ikuti acara pembukaan dengan tak hendak kehilangan sekecil apa pun informasi yang terkandung di dalamnya.

Belajar di grup menulis di kelas Om Jay dirasakan aneh bagi sebagian orang. Betapa tidak! Belajar hanya dengan menggunakan Whatsapp bisa menelurkan penulis-penulis andal. Bukan hanya penulis, gelar sebagai bloger juga langsung disandang di hari pertama kegiatan belajar. Bagaimana ini bisa terjadi?

Syarat mengikuti kegiatan menulis harus mempunyai blog. Yang belum punya harus membuatnya. Sulitkah? Tentu saja ‘ya’ untuk seorang guru jadul seperti aku. Namun, Om Jay sangat paham dengan permasalahan yang terjadi. Beliau dan tim memberikan cara membuat blog.

Ternyata, membuat blog mudah sekali setelah aku didampingi oleh anak sulungku untuk membuatnya. Juga, ketika aku meminta murid-muridku untuk membuat blog, mereka bisa melakukannya hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit. He … he …, aku memang termasuk golongan pengecut dalam urusan terkait dunia digital. Tak mengapa, yang penting aku sudah menjadi seorang bloger. Keren, bukan?

Sebelum jadwal belajar dimulai, Om Jay sering sekali memberikan pancingan-pancingan agar peserta belajar mau menulis. Ada-ada saja yang dibagi di kolom chat WA grup belajar. Misalnya, gambar pohon mangga dengan buah yang lebat. Di saat yang lain, Om Jay mengepos gambar pisang, soto, dan lain-lain. Kami diminta untuk menulis tentang gambar tersebut.

Tulisan para peserta belajar beragam. Semuanya dibagikan di kolom chat WA. Ada yang menulis artikel, cerpen, pantun, sementara aku sendiri lebih memilih menulis puisi. Pokoknya suka-suka kamilah mau menulis apa. Kalau aku mengingat saat itu, lucu sekali. Intinya, tulisanku saat itu tidak ada bagus-bagusnya. Tapi, beberapa tulisan kami bisa bermigrasi ke blog guru penggerak. Hal yang sangat tidak terduga.

Terkait kegiatan belajar menulis kepada Om Jay, ada juga kegiatan yang cukup seru. Pada siang menjelang sore hari, Om Jay melakukan bedah buku penulis dari gelombang sebelumnya melalui livestreaming YouTube. Di salah satu siaran langsung YouTube tersebut, Om Jay membacakan nama pemenang tantangan menulis di blog berdasarkan objek yang diberikan. Ada hadiah pulsa bagi pemenangnya. Aku pernah memenangkan tantangan itu. Ternyata, begitu cara Om Jay memotivasi peserta belajar untuk menulis.

Hari pertama belajar, narasumbernya cantik, lembut dan bersahaja. Namanya Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. yang biasa disapa Bu Kanjeng. Beliau memberikan materi dengan tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Aku tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, tapi kedekatan batin terasa sekali. Hal ini disebabkan karena materi yang disajkan mengena di hati.

Bu Kanjeng memberikan materi lebih banyak dengan rekaman suara. Oleh karena itu, aku tahu beliau orangnya lembut. Gairah berbagi ilmu tidak menampakkan usianya yang tidak muda lagi. Saking terpesonanya dengan sajian materi beliau, aku tidak bisa menyelesaikan resume pertamaku dalam waktu semalam. Akibatnya, keesokan malamnya barulah resume itu dikumpulkan.

Tak mengapa resume terlambat dikumpulkan, karena memang tak ada aturan resume harus ditulis tepat pada saat materi disajikan. Karena itulah, belajar dilakukan melalui WA agar peserta belajar dapat menyesuaikan waktu dengan kondisi masing-masing. Lagi pula, dari 30 kali pertemuan, peserta belajar hanya wajib mengumpulkan 20 resume saja.

Aku memperhatikan materi Bu Kanjeng dengan seksama. Tak ingin ada sedikitpun yang tertinggal. Motivasi besar terlahir dari materi pertama ini. Kata “passion” telah membiusku untuk bertekad menjadikan menulis sebagai passion-ku juga. Tak hanya itu, orientasi menulis yang diajarkan Bu Kanjeng sebagai sarana mencari rida Allah telah pula memantapkan diriku untuk terus berada di grup belajar ini. Aku ingin mendapatkan amal jariah melalui tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.

Tak sebatas pertemuan pertama, Bu kanjeng juga mengajak kami menulis buku antologi – buku karya bersama. akupun terseret menuju ke grup baru, “Antologi Menulis gelombang 19 dan 20”. Dari kegiatan ini lahirlah buku antologi perdanaku dengan judul “Writing is My Passion – Jilid 1”. Bersyukur aku bisa menjadi bagian dari buku ini. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Tak hanya antologi cerita, Bu kanjeng juga mengajak kami bergabung dalam grup “Belajar Puisi Telelet”. Nah, apa itu puisi telelet? Jika mau tahu, silakan bergabung di grup belajar menulis. Puisi ini super sulit menurutku. Namun, karena penasaran, aku terus berjuang untuk menulisnya. Akhirnya, aku mampu menulis beberapa puisi jenis ini. Selanjutnya, kami juga membuat karya bersama puisi ini. Jika semua peserta sudah mengumpulkan karyanya, buku ini pun segera diterbitkan.

Satu hal yang sangat mengejutkanku, ketika Bu Kanjeng chat ke WA-ku. Beliau mengabarkan bahwa resume perdanaku masuk majalah bulanan Edupos, no. 16, Tahun II, Agustus 2021. Perasaan bingung dan gembira bertaut menjadi satu. Kok bisa?

Ternyata pada saat Bu Kanjeng memberikan materi pada webinar Public Speaking PGRI dengan tema yang sama, redaksi majalah tersebut meminang Bu Kanjeng untuk mengisi majalah mereka. Akhirnya, qadarullah, Bu Kanjeng menjadikan resume perdanaku menjadi referensinya.

Tak ada yang istimewa dari tulisanku. Aku hanya menulis resume apa adanya. Itu pun dengan perjuangan berlumuran kebingunan dan ketidaktahuan. Namun, dengan bismillah dan dengan hati yang ikhlas dan penuh cinta, aku ketik satu per satu huruf yang ada di keyboard laptop dengan “11” jari. Jadilah untaian kata ala kadarnya. Begitulah kalau Allah berkehendak. Ibu Kanjeng tergerak hatinya untuk mencomot karya sederhanaku itu.

Keberanian mencoba berbagai genre tulisan telah pula membawaku terdampar di grup Pantun Bersuka Ria. Di grup ini ada Mas Miftah sang juara pantun yang membimbing kami menulis pantun. Akhirnya, aku pun ikut mengambil bagian dalam buku antologi “Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri” dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Menyenangkan, bukan? Jujur, sebelumnya aku paling tidak mengerti tentang pantun.

Begitu indah rahasia Allah membersamai perjalananku menuju dunia baruku ini. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa memotivasi, membimbing, dan mendoakan. Suami tercinta yang merestui, ananda terkasih ikut membantu, keponakan kecilku yang menginspirasi, keluarga besar, murid-murid, dan kawan turut membantu, menyemangati, dan mengapresiasi.

Tak kalah penting, yang membuat aku bertahan dan terus berjuang menulis adalah suasana yang nyaman yang diciptakan para guru hebat dan kawan-kawan di kelas belajar menulis ini. Semuanya seperti kompak menjadi lampu yang terus menyala memberikan cahaya yang menerangi dunia literasiku.

Ilmu baru tentang kepenulisan satu per satu memenuhi ruang otakku. Setiap pertemuan kegiatan belajar memberikan warna yang berbeda. Dari pertemuan pertama sampai pertemuan ke-30, aku ikuti kegiatan belajar tanpa jeda. Resume pun tak pernah aku tinggalkan. Hingga kegiatan belajar yang terjadwal berakhir, aku telah menulis 30 resume yang semuanya dipublikasikan di blog pribadiku. Ini penting bagiku, sebagai jejak bahwa aku serius belajar sekaligus sebagai pedoman penulisan pada saat dibutuhkan.

Dari keseluruhan materi yang tersaji, dapat aku kelompokkan menjadi: mental penulis; ide menulis; ilmu dasar menulis; strategi menulis resume dengan cepat di blog; komitmen dan konsistensi menulis; menulis karya ilmiah dan fiksi; swasunting/proofreading; pemanfaatan blog sebagai sarana pembelajaran; langkah-langkah menulis buku; menerbitkan buku, dan memasarkan buku; mengelola taman bacaan; dan manfaat menulis bagi PNS.

Seluruh narasumber menempatkan motivasi di bagian terbesar dari materi inti. Hal ini penting, karena motivasi menulis menjadi dasar dari kesuluruhan kegiatan menulis. Dengan adanya motivasi, seseorang akan mampu melahirkan karya.

Terkait motivasi dan teori dasar menulis, tak putus-putusnya aku dapatkan dari grup belajar menulis ini. Om Jay dan tim, juga kawan-kawan seperjuangan sepertinya tak kehabisan akal menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar dan berkarya. Kegiatan blogwalking dengan meninggalkan jejak positif pada kolom komentar menjadi salah satu cara memotivsi peserta dalam menulis.

Mengunjungi blog kawan-kawan dan tim belajar menulis menjadi sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan yang tak terhingga. Konten yang beragam dengan berbagai hiasan berupa gambar dan video, gaya penulisan, penggunaan diksi dan tata bahasa membuat aku seakan berada di sebuah cakrawala. Begitu luas ilmu yang tersaji di sana untuk dinikmati sebagai bekal mempercantik diri dalam berkarya.

Kejutan demi kejutan aku rasakan. Hadiah buku dari Penerbit Andi pernah aku terima sebagai peserta pertama yang mengumpulkan remuse saat Bapak Joko Irawan Mumpuni - Direktur Penerbitan Penerbit Andi - menjadi narasumber materi belajar pada pertemuan ke-12, 6 Agustus 2021. Rasa bahagia yang luar biasa aku rasakan saat itu. Begitu mulus perjalanan meraih ilmu yang dibentangkan Allah pada hamba-Nya yang fakir ini.

Semakin bergairahnya aku bergelut dalam dunia literasi ini, aku pun iseng-iseng merekam pembacaan puisi yang aku tulis sendiri. Suara rekaman aku bagikan di kolom obrolan WA grup belajar menulis. Tak lama, Pak D. Susanto, salah satu narasumber yang fokus terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengisi kolom chat dengan komentar yang lucu. Hal ini menandakan bahwa beliau telah meyimak bacaan puisiku. Rasanya, wow …!

Tak sampai di situ. Pak D Susanto juga mengundangku untuk bergabung di komunitas Cakrawala Bloger Guru Nasional (Lagerunal) dengan memberikan tautan bergabung di grup. Dalam hitungan menit, aku pun resmi menjadi anggota baru di grup ini. Di grup ini lebih banyak lagi ilmu yang menanti untuk mengisi ruang kosong di otak kiri dan otak kananku.

Aturan yag harus dipatuhi di Lagerunal membuat aku sangat terkesan dan nyaman. Tak boleh ada iklan di dalam kolom obrolan WA, termasuk informasi penting terkait webinar. Semua yang ingin disampaikan harus ditulis di blog dulu, barulah tautan blognya yang dibagikan di kolom obrolan. Ada lagi acara Senin Bogwalking, Selasa Berbagi, dan Kamis Menulis. Ada pembahasan tentang konten tulisan juga terkait penggunaan bahasa, teknik menulis, dan lain-lain. Ada juga tentang cara mengelola blog agar para bloger lebih terampil dengan blognya.

Menuju di titik akhir perjalanan kegiatan Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay, peserta gelombang 19 dan 20 berkolaborasi untuk merayakan acara penutupan. Aku menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Terbentuklah grup WA panitia untuk membahas pelaksanaan acara tersebut agar bisa berlangsung meriah dan mengesankan. Dari hasil berembuk, akhirnya disepakati rangkaian acara yang harus ditampilkan oleh panitia, sekaligus terbentuklah komunitas baru dengan nama “Laskar Literasi 1920”.

Dalam rangka menyemarakkan acara penutupan itu, aku ikut menyumbang acara pembacaan puisi. Untuk itu, aku berjuang menulis puisi secepat kilat karena aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk guru-guru hebat. Meskipun darurat, aku mencoba untuk menghasilkan karya seadanya namun berharap bermakna sebagai hasil belajar selama 2 bulanan.

Lantaran khawatir kendala terjadi saat petemuan dengan zoom, pembacaan puisi pun aku rekam saja, kemudian dibuatkan menjadi video dan diunggah di YouTube. Alhamdulillah, acara yang diselenggrakan pada malam Ahad, 18 September 2021 berjalan dengan lancar. Puisiku pun ditayangkan pada acara tersebut. Berbagai rasa yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata hadir bersama berjalannya acara.

Sejak acara penutupan, perasaanku terasa gamang. Biasanya, pada hari Senin, Rabu, dan Jumat aku sudah menyiapkan energi super untuk menyambut kelas malam belajar menulis. Semua itu sudah lewat. Artinya, tak ada lagi yang memeriahkan malam penantianku. Tak ada lagi pertarungan sengit, kebut-kebutan berlomba mengumpulkan resume duluan seperti ketika belajar bersama kawan-kawan. Duh … rindunya suasana itu.

Kerinduanku terobati dengan cara menggarap buku solo setelah kegiatan belajar selesai. Cerita tentang perjalanan belajar selama 30 kali pertemuan dan segala sesuatu yang terkait di dalamnya dengan apik aku ceritakan juga. Lahirlah mahkota penulis perdanaku dengan judul “Jendela Literasi – Kumpulan Artikel Dunia Menulis dan Menerbitkan Buku”.

Menambah indahnya perjalananku, saat aku dinobatkan sebagai peraih juara kedua dalam “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggarakan oleh Guru Blogger Indonesia Bekerjasama dengan Ikatan Guru TIK PGRI pada Bulan Oktober 2021.

Suatu hal yang paling tidak pernah kuduga. Bagiku, dapat menaklukkan blog gurupenggerakindonesia.com, tempat tulisan yang dilombakan dipublikasikan, sudah menjadi keberhasilan yang luar biasa, mengingat blog tersebut baru dan rumit dibandingkan blog pribadiku. Jika ternyata aku mendapatkan lebih, itu adalah bonus dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Kini, aku sudah melewati serangkaian perjalanan belajar menulis yang sampai kapan pun tak akan pernah sampai, karena sejatinya hakikat belajar adalah sepanjang hayat. Yang aku rasakan setelah mengikuti kegiatan belajar menulis kepada Om Jay dan tim adalah semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula yang belum aku ketahui.

Teriring doa, semoga guru-guru hebat yang telah memberikan rambu-rambu untuk mengantarkan perjalananku berikutnya, senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah subhanahu wataala.



Pangkalpinang, 25 Desember 2021

Rosminiyati



* Tulisan ini telah terbit dalam buku antologi "Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan - Kumpulan Pengalaman Belajar Menulis Gelombang 19"




 

Monday, December 13, 2021

Pembelajar “Sejati”



Sabtu siang yang cerah. Waktu masih belum genap di pertengahan hari. Matahari dengan garangnya memancarkan sinarnya tanpa basa-basi. Berada di dalam rumah pun terasa begitu gerah. Peluh yang singgah di sekujur tubuhku membuat bajuku sedikit basah. Rasa kantuk yang mulai menyerangku tak membuatku bisa memejamkan netra yang lelah. Padahal, sudah hampir setengah jam aku merebahkan tubuh yang beratnya jauh di bawah 1 karung lada putih yang menjadi ciri khas pertanian masyarakat Bangka.

Akhir-akhir ini, aku memang tidak bisa lagi berlama-lama menikmati dunia mimpi, baik pada siang maupun malam hari. Kebiasaan baru ini dimulai sejak aku bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI yang diprakarsai oleh Om Jay. Betapa tidak! Jadwal belajar menulis selama 3 kali dalam 1 minggu pukul 19.00 – 21.00 harus aku lakoni untuk menyimak materi inti yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab via WhatsApp grup. Selanjutnya, menulis resume di blog pribadi tentang materi yang telah dibahas terkadang tidak tuntas hingga berkahirnya kegiatan belajar. Untuk itu, terpaksa dilanjutkan hingga larut malam. Kegiatan blogwalking menjadi rutinitas pula, karena terdorong rasa penasaran ingin membaca tulisan kawan sesama peserta sekaligus untuk saling memberikan dukungan.

Rutinitas baru yang sudah berlangsung selama 2 bulan tentulah sangat berpengaruh terhadap pola tidurku. Tidak hanya itu, kegiatan menulis yang sudah menjadi passion menuntut waktu dan tenaga ekstra pula. Sementara, persiapan mengajar yang prima tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, pemangkasan jam tidur benar-benar dilakukan dengan sempurna.

Dek, jadi nggak ke rumah Aran?” Pertanyaan itu cukup membuatku terkejut dan membuyarkan ingatanku tentang capaian yang sudah aku peroleh selama hampir 3 bulan ini. Kuarahkan pandangan menuju sumber suara. Laki-laki yang telah menemani perjalanan hidupku selama seperempat abad telah berdiri di ambang pintu. Kupandang pemilik wajah tampan dengan hidung mancung dan mahkota yang mulai memutih itu tanpa menjawab pertanyaannya.

Suamiku melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kamar. Posisi duduk di tepi dipan menjadi pilihan cerdas untuk memulai percakapan. Pertanyaan yang belum aku jawab diulangnya kembali. Aku pun menjawab dengan nada yang kurang bersemangat, “Sebentar lagi, ya, Kak. Masih capek nih.” Jawaban yang tak biasa aku berikan untuk ajakan bertemu Aran, si kecil keponakan tercinta yang selalu menyenangkan hati dalam berbagai suasana.

Sambil menatapku dengan sorotan yang teduh seperti biasanya, suamiku melanjutkan pertanyaannya, “Oh, ya … Dek, naskah buku Adek sudah selesai diedit?” Entah mengapa, tiba-tiba suamiku bertanya tentang hal ini. “Barusan selesai, dan sudah Adek kirim lagi ke Bu Kanjeng,” jelasku dengan antusias. “Hah …? Cepat sekali!” lanjutnya setengah tidak percaya. “He eh …,” balasku sambil mengangguk dan memberikan senyuman termanisku.

Suamiku ikut mengangguk perlahan. Sepasang bibir merahnya yang tak pernah tersentuh gulungan kertas putih berisi tembakau mendarat di keningku. Tangan kokohnya tak mau kalah beraksi, menggiring telapak tangannya menyapu kepalaku yang lunglai. “Kalo gitu, istirahatlah dulu. Ntar, kalo capeknya sudah hilang, baru kita ke rumah Aran,” petuah suamiku sebelum berlalu meninggalkanku seorang diri di kamar.

Aku kembali melanjutkan perjalanan kisah petualangan guru pembelajar yang baru mendapatkan jalan terang pada usia menjelang senja. Senyuman yang terlanjur aku persembahkan kepada belahan jiwaku tak dapat kutarik kembali. Istirahat dalam arti memejamkan mata untuk mengarungi mimpi versi suamiku tentunya semakin jauh untuk direalisasi.

Bayangan mahkota penulis yang sebentar lagi akan diterbitkan semakin manari-nari di panggung jiwaku. Naskah buku solo yang baru saja dituntaskan swasuntingnya sudah kukirim kembali kepada Ibu Kanjeng untuk segera diterbitkan. Pengerjaannya yang berlangsung 2 hari dan sangat menguras energi, sebenarnya cukup menjadi alasanku untuk bisa memejamkan mata yang sudah begitu lelah. Namun, aku tetap tak bisa melakukannya. Malah senyumanku yang semakin lebar, selebar sungai Rangkui yang membelah kota Pangkalpinang.

Kembali aku melanjutkan pengembaraan ingatanku tentang kejadian-kejadian yang mewarnai kisahku dalam kegiatan belajar menulis. Para narasumber tak hanya memberikan materi pada jam terjadwal, melainkan juga terus menghembuskan mantera-mantera ke dalam lorong pikiran dan hatiku. Aku mulai terseret ke dalam grup menulis antologi. Ada cerita, puisi, dan pantun. Tak hanya itu, ada pula grup menulis karya ilmiah dan bloger guru. Hasilnya, luar biasa. Aku yang semula tak mengerti apa-apa tentang kepenulisan, ternyata bisa menghasilkan karya buku antologi cerita hanya dalam waktu 1 bulan saja, dan antologi pantun pada bulan berikutnya.

Senyumanku masih bertahan pada posisi semula. Sudah dipastikan, sepasang bola penghias wajah dan pembaca isi buana semakin terbuka lebar. Jauh dari meredup, apalagi tertutup. Pikiranku kembali berselancar dalam kenangan yang tak dapat dilupakan. Ia begitu melekat dalam jiwa bagaikan darah dan daging yang menyatu dalam raga. Sampailah pada perjalanan yang semakin seru.

Sebuah pesan masuk ke kolom chat WA grup kelas belajar. Om Jay - pelopor guru penggerak - memberikan sebuah pengumuman tentang lomba blog untuk memeriahkan Hari Sumpah Pemuda. Artikel tentang guru penggerak dengan panjang tulisan 500 – 750 kata menjadi syarat yang harus dipenuhi. 100% unik menjadi syarat mutlak jika ingin menjadi juara di samping kriteria umumnya yang dipersyaratkan pada sebuah lomba menulis.

Merasa bukan guru penggerak, dan tidak mengerti sama sekali tentang guru penggerak, aku abaikan saja pesan chat tersebut. Cukup lama kejadian itu berlangsung. Hingga akhirnya, Om Jay yang tak pernah bosan memotivasi dan menginspirasi, memberikan sebuah gambaran tentang definisi guru penggerak. Tak hanya itu, beliau juga memberikan gambaran tentang guru penggerak tanpa Surat Keputusan, yaitu guru penggerak yang terpilih bukan dari hasil seleksi Kemdikbud, melainkan seleksi alam.

Cukup lama aku merenung tentang lomba blog itu. Bukan hanya sekedar tentang artikel yang harus ditulis, melainkan juga tentang blog tempat tulisan itu dipublikasikan. Syarat yang sangat berat bagiku yang baru berstatus sebagai penulis dan bloger pemula. Tidak main-main. Ini sebuah lomba tingkat nasional. Pesertanya tentu saja penulis yang sudah berpengalaman dan bloger terkenal. Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak mungkin bisa ikut ambil bagian dalam lomba tersebut.

Flyer tentang lomba terus-menerus singgah di kolom chat WA grup. Rasa penasaran menggelitik hati dan jiwa pembelajarku. Bayangan lomba yang menantang ikut bersemayam dalam ingatanku. Dari pada menyimpan kegalauan sendirian, kisah tentang lomba ini akhirnya kuceritakan kepada suami tercinta. Beliaulah yang tak pernah bosan mendengar kisah apa pun yang kubawa. Akhirnya, sebagai wujud kesepakatan bersama, aku memberanikan diri mengambil bagian dalam ajang bergengsi ini. Terlepas dari apa pun hasilnya, setidaknya aku sudah ikut meramaikan blog gurupenggerakindonesia.com dengan artikel yang ditulis dengan tanganku sendiri.

Penulisan artikel untuk lomba Hari Sumpah Pemuda kulakukan dengan kerja keras. Pencarian referensi di YouTube dan “wawancara” pun kulakukan demi menggali informasi agar tak salah menulis. Demi sebuah keunikan, suamiku ikut merepotkan dirinya, tanpa kuminta. “Dek, Kakak ke pusat kota sebentar, ya,” ucap suamiku sesaat setelah dia mengitip tulisanku dari layar laptop yang sedang aku kerjakan. “Ada apa, Kak?” tanyaku tak mengerti. Setahuku, tak ada urusan apa pun yang akan dikerjakannya di sana. “Nggak … cuma mau ngambil foto,” jawabnya singkat sambil berlalu tanpa aku sempat berkata-kata apa pun lagi.

Masih bergelut dengan artikel lomba, tiba-tiba ada pesan masuk di kolom chat WA dari suamiku. Sebuah foto bertengger cantik di sana. “Hmm … ini ternyata!” gumamku sambil tersenyum semanis-manisnya. Ternyata, suamiku benar-benar mendukung keikutsertaanku dalam lomba ini. Segera aku ganti foto sebelumnya dengan foto baru yang dikirim suamiku karena kualitasnya lebih bagus.

Perjuangan belum selesai. Bertemu dengan jenis blog baru, cukup membuat aku galau. Sudah ada dua kali presentasi melalui zoom meeting tentang cara mengunggah naskah tulisan di blog gurupenggerak. Namun, bagi pemilik paket kecerdasan terbatas berbalut usia beranjak tua, hal itu bukan perkara mudah. Sasaran selanjutnya adalah sahabat guru yang jago terkait dunia digital. Akhirnya, berkat bimbingan beliau, naskah pun sukses diunggah.

Hasil publikasi naskah di blog ternyata jauh berbeda dengan tampilan yang ada di draf. Tampilan gambar dan video terlalu besar, sehingga tidak indah dipandang mata. Artinya, perjuangan harus dilanjutkan. Kudekati suamiku yang sedang asyik menonton TV. “Kak, ba’da Isya kita ke rumah Sonie, ya,” ajakku padanya. “Tumben … akhir-akhir ini kan sering nggak sempet kalo diajak pergi,” ledek suamiku sambil tersenyum. Suamiku tahu persis kalau aku yang mengajak pergi, pastilah ada sesuatu yang penting. “Ya, Kak. Minta diajari cara mengatur tampilan gambar dan video sama Sonie,” jelasku padanya.

Setelah berkutat cukup lama dengan pengaturan gambar dan video di bawah bimbingan adikku, akhirnya aku bisa mengerjakannya sendiri ketika di rumah kurasakan tampilannya masih kurang pas. Ilmu baru kudapatkan lagi. Tak hanya sekedar tentang tulisan, tetapi juga tentang pengelolaan blog baru yang sudah menjadi dunia baruku kini.

Urusan lomba kelar. Aku tak menghiraukan lagi kelanjutannya. Kesanggupan melewati tantangan bagiku sudah menjadi prestasi yang luar biasa dan menakjubkan. Betapa tidak! Selama ini, aku terlelap di dalam sangkar emas. Tak penah terbang mengarungi luasnya alam semesta. Kini aku mulai kerja keras demi sebuah perubahan. Keluar dari zona nyaman menuju zona yang ternyata sangat nyaman – dunia menulis.

Jiwa pembelajarku masih terus dipacu oleh keadaan yang diciptakan oleh para pakar di kelas belajar PGRI. Tantangan menulis resume selama 2 bulan dan satu buku solo sebagai bukti telah lulusnya belajar yang dapat ditukar dengan sertifikat senilai 40 jam sudah dilewati dengan mulus. Ternyata, itu semua masih belum dirasakan cukup. Ruang belajar lain pun dibuka untukku yang selalu ingin bergerak. Peran menjadi moderator di kelas belajar menulis angkatan yang baru menjadi sasaran juga.

Ingatanku semakin jauh mengembara. Di suatu sore saat aku sedang santai, tiba-tiba ada notifikasi aku tergabug dalam sebuah grup WA “Tim Solid Om Jay”. “Grup apa lagi ini?” tanyaku dalam hati. Aku buka deskripsi grup. Kuperhatikan satu per satu anggota yang tertera di sana. “Oh, ternyata para narasumber dan moderator yang tergabung di dalam tim Belajar Menulis PGRI,” gumamku tanpa memikirkan lagi kelanjutannya.

Aku tidak mengerti mengapa aku digabungkan di dalam grup ini. Rasa-rasanya tak ada yang istimewa pada diriku dibandingkan dengan 400-an peserta belajar lainnya. Dua orang teman belajarku memang pantas masuk dalam tim ini. Keduanya memang luar biasa prestasinya. Tak ada yang bisa kulakukan di dalam grup baru ini selain mengucapkan syukur kepada Allah dan terima kasih atas telah digabungkannya aku di dalam grup hebat ini.

Kebingunganku terjawab saat satu dari Tim Solid Om Jay menghubungiku. “Assalamualaikum Ibu yang baik hati. Izin konfirmasi. Untuk minggu depan, bersediakah menjadi moderator di kelas BM 21 dan 22?” Ups … ada detak yang tak normal terjadi dalam gumpalan daging di dalam dadaku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam agar ia kembali berjalan normal.

Tak menunggu lama, chat itu pun kubalas “Ya, siap!” Jawaban tanpa basa-basi. Ya, aku memang bersedia menjadi moderator di grup belajar menulis bagi peserta baru. “Ini kesempatanku untuk belajar,” bisik batinku yang terus bersemangat untuk belajar. Perkara apa yang harus aku persiapkan, itu urusan nanti. Masih ada waktu satu hari untuk belajar. Kabar baik yang cukup menggetarkan jiwaku yang haus akan ilmu dan keterampilan baru ini memintaku untuk memperjuangkan takdir baiknya. Maka, aku tidak boleh melewatinya.

Akhirnya, lakon sebagai moderator aku jalani dengan cukup baik. Waktu 2 jam memandu kegiatan belajar para guru hebat se-Indonesia via WA terlewati. Keterlambatan narasumber hampir setengah jam karena ada pelatihan tatap muka, tak membuat aku bingung. Momen itu aku isi dengan memberikan motivasi. Tak ada yang tahu bahwa listrik padam dan kehabisan kuota data internet terjadi pada diriku. Karena ketenangan yang datang menghampiriku dengan tiba-tiba, membuatku bisa mengatasi semuanya dengan mulus. Begitulah, jika Allah menghendaki. Tak ada kesulitan yang tak dapat diselesaikan jika diawali dengan niat baik dan menyertakan Allah dalam setiap langkah.

Diriku bagaikan minum air laut. Semakin diteguk, semakin haus rasanya. Ruang kosong di otakku terus menggoda untuk diiisi dengan ilmu yang baru. Sambil melakoni peran moderator di kelas Belajar Menulis, aku pun ikut serta di kelas Belajar Berbicara. Masih sama, paket ini juga merupakan agenda PGRI yang diprakarsai Om Jay. Bedanya, belajar menulis sudah sampai 22 angkatan, sedangkan belajar berbicara baru angkatan ke-4. Belajar menulis dilakukan melaui WA, sedangkan belajar berbicara melalui zoom meeting.

Kelas belajar berbicara sudah kujalani dua kali pertemuan. Aku menikmati acara presentasi via zoom dengan gembira. Pertanyaan pun aku lontarkan di dua pertemuan tersebut sebagai praktik awal berbicara. Kali ini pertemuan ketiga. Sejak pagi sudah ada flyer yang dibagikan di WA grup; kegiatan dimulai pukul 19.00. Ada keanehan yang aku rasakan. Dua pertemuan sebelumnya dimulai pukul 19.30. Namun, karena ruang zoom dan aksesori lainnya masih sama seperti biasanya, aku pun tidak menghiraukannya. Berarti aku harus membuka zoom sebelum pukul 19.00. “Hmm … malam ini beraksi lagi,” gumamku bersemangat.

Udara panas semakin aku rasakan. Tanpa pendingin ruangan, peluhku semakin bertambah. Sepasang bola mataku tak mau juga mengantarkan aku berkelana dalam dunia mimpi yang indah di siang hari. Entah berapa lama aku sudah menerawang ke saat-saat yang belum lama ini terjadi. Akhirnya, aku berangkat dari rebahanku.

“Ayo Kak, kita pergi,” ajakku pada suamiku yang masih setia menunggu sambil menonton acara TV. “Nggak jadi tidur?” tanyanya heran. “Nggak … mana bisa tidur, cuaca panas kayak gini,” lanjutku beralasan. Akhirnya, kami pun pergi ke rumah adikku, menemui Aran yang selalu aku rindukan. Panas terik sinar matahari menjelang Zuhur tak kurasakan sama sekali. Itulah salah satu contoh energi positif yang memacu semangatku untuk segera bertemu dengan sang cintaku.

Dari ba’da sholat Zuhur sampai menjelang Maghrib, kami habiskan waktu bertiga untuk jalan-jalan, silaturrahmi ke rumah saudara, dan bermain bersama. Setengah hari kami lewati dengan penuh ceria, seperti biasanya. Menjelang Maghrib, Aran minta diantar pulang. Aku dan suami pun segera memenuhi permintaannya.

“Kak, pulang yuk!” ajakku pada suami setelah aku sholat Maghrib di rumah adikku. “Nantilah, sebentar lagi. Aran ngajak main kartu, nih,” jelas suamiku yang belum mau pulang. “Ada zoom belajar berbicara,” jelasku pada suami. “Nge-zoom lagi?” tanya suamiku ragu. “Ya, makanya cepet pulang,” rengekku padanya.

Sesampainya di rumah, aku mulai mempersiapkan diri dengan membuka aplikasi zoom dengan mengeklik alamat tautan yang diberikan. Hujan deras tiba-tiba datang diiringi dengan suara petir yang sempat membuatku khawatir. “Ternyata, ini yang menyebabkan panas yang luar biasa tadi siang ya, Kak,” ucapku pada suamiku yang duduk tepat di depan meja laptopku. “Ya, mudah-mudahan hujannya tidak lama. Biasanya kalau langsung deras, hujannya cuma sebentar,” jawab suamiku lengkap dengan penjelasan. “Charger laptop tidak usah dicolok, nanti bahaya!” lanjutnya mengingatkan. “Ya, Kak,” jawabku patuh.

Di layar monitor laptop, moderator mulai beraksi. Tibalah waktunya narasumber memulai acara inti. Aku menyimak pembahasan yang disuguhkan narasumber dengan serius meskipun muncul rasa curiga yang memperkuat kecurigaanku pagi tadi. Tak ingin berlama-lama dihantui rasa penasaran, aku segera bertanya kepada Om Jay untuk memastikan kebenaran acara yang aku ikuti ini.

“Om, bedah soal PPPK ini termasuk kelas berbicara, bukan?” tanyaku pada Om Jay via chat WA. “Bukan,” jawab Om Jay. “Om, kan belajar berbicara Selasa, Kamis, dan Sabtu?” tanyaku lagi dengan percaya diri karena menyelaraskan dengan waktu jam belajar menulis pada Senin, Rabu, dan Jumat. Om Jay pun lanjut menjawab, “Kelas bicara belajar Selasa dan Kamis.” Ada bintang-bintang di langit yang mulai mengintip celah kesadaranku. Ada pula cacing mungil yang merayap perlahan dan menggelitik hatiku. “Oh, Cuma 2 kali seminggu. Dikira 3 kali,” balasku dengan emoji ketawa. “Terima kasih, Om atas informasinya,” lanjutku dengan rasa malu yang luar biasa.

Setelah menerima penjelasan Om jay, aku pun cepat-cepat keluar dari ruang zoom “Pembahasan Soal-Soal Calon ASN PPPK”. Sebenarnya, aku juga butuh ilmu itu, namun, dengan pertimbangan memberikan kesempatan kepada yang lebih membutuhkan untuk menggunakan ruang zoom, aku tak boleh berlama-lama di sana.

Suamiku yang menyaksikan kejadian ini bertanya, “Loh, kok laptopnya ditutup?” “Ya, Kak, ternyata salah kamar,” jawabku tak bersemangat. “Terus, belajar bicaranya gimana?” lanjutnya pula. “Ternyata cuma dua kali seminggu,” jelasku sambil menatap lurus ke arah sepasang mata yang selalu kudamba.

“Tuh, kan … tadi buru-buru ngajak pulang, padahal Aran masih mau main,” protes suamiku. Aku tak menjawab. Hanya mata yang aku kerjap-kerjapkan sambil memonyongkan bibir ke arahnya. “Salah jadwal nih ye …,” ledeknya padaku sambil tertawa. “Adek kan pembelajar sejati …,” jawabku membela diri. “Pembelajar sejati sih pembelajar sejati … tapi nggak segitunya kaleee …!” ledeknya masih tertawa dengan volume suara yang semakin tinggi. Aku pun tak dapat menahan geli. Akhirnya, tawaku pun pecah menyusul tawa suamiku. Acara pun dilanjutkan dengan menonton sinetron yang sudah lama tidak kami lakukan berdua di Sabtu malam yang ceria.

Wednesday, December 1, 2021

Oh, Kamisku!


Tepat tanggal 21 November 2021, Cakrawala Blogger Guru Nasional (Lagerunal) yang diketuai oleh Bapak Raimundus Brian Prasetyawan berusia 1 tahun. Tanggal yang persis sama dengan ulang tahun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang ke-21. Hal ini memudahkanku untuk mengingatnya, dengan selisih waktu 20 tahun. Acara ulang tahun ini diadakan melalui zoom dari pukul 19.00 sampai dengan 21.00 WIB. Perjalanan 1 tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk sebuah komunitas yang lahir dari kesadaran dan kemauan sendiri, dan tanpa ikatan apa pun.

Aku bergabung di komunitas ini pada 15 Agustus 2021 melalui undangan bergabung di grup yang diberikan oleh Pak D Susanto, yang bermula dari komentar lucu terhadap rekaman pembacaan puisi perdana yang aku bagikan di WA grup Belajar Menulis Gelombang 19. Bagiku, ini merupakan suatu kebetulan. Namun, jika dikembalikan dari sisi keimanan, pastilah Allah telah merencanakan sesuatu yang indah bagi diriku.

Kegiatan yang terdapat di komunitas Lagerunal ini luar biasa membangkitkan semangat untuk menulis dan berbagi. Tak hanya itu, pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai hal juga terus berkembang. Belum lagi dahsyatnya persaudaraan yang terbangun dari sebuah komunitas maya yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Yang berprestasi dan keren merangkul yang kurang. Sebaliknya, yang masih baru belajar tidak pernah merasa disisihkan. Benar-benar membuat aku nyaman berada di dalamnya meskipun baru berstatus sebagai bloger dan penulis pemula.

Program yang disajikan dalam komunitas Lagerunal semuanya segar. Senin Blogwalking menampung tulisan seluruh anggota dengan tema bebas untuk dinikmati dan dikomentari. Selanjutnya, jika perlu pembahasan, konten tulisan dibahas melalui chat WA grup pada Selasa berbagi. Bahkan, ada acara melalui zoom pada Selasa malam jika diperlukan.

Program lainnya adalah Kamis menulis dengan tema yang ditentukan dengan cara mengundinya dari daftar tema yang sudah direncanakan, dan Jumat adalah pengumuman pemenang Kamis Menulis dengan hadiah yang sudah menanti. Nama yang keluar dari hasil undian akan menadapatkan hadiah buku dari sponsor, yaitu sukarelawan yang merupakan anggota Lagerunal juga.

Semenjak 3 bulan bergabung dalam Lagerunal, tantangan menulis merupakan kegiatan yang paling seru. Betapa tidak! Tema tulisan diberikan pada pagi hari (jam kerja), dan deadline pukul 23.59 WIB. Rasanya gimana … gitu. Belum lagi tema yang diberikan umumnya sangat aneh bagiku yang kurang ilmu, terutama terkait diksi. Namun, di sinilah letak keseruannya.

Tantangan Kamis Menulis seringkali menimbulkan dilema pada diriku yang mengalami kesulitan dalam merangkai kata. Di satu sisi, aku ingin menembus tantangan tersebut karena temanya begitu menggelitik jiwa tuaku yang seringkali penasaran. Namun, di sisi lain aku mengalami kesulitan terkait waktu. Itu semua bersebab aku belum bisa menulis secepat angggota Lagerunal yang lainnya yang sudah terlatih dan piawai. Namun, aku tidak mau menjadi seorang pecundang – menyerah sebelum berjuang. Akhirnya, dengan memanfaatkan waktu istirahat mengajar, aku pun berhasil menjawab tantangan Kamis Menulis dengan memilih genre tulisan yang paling bisa aku kerjakan.

Tantangan Kamis Menulis yang dirasakan rumit adalah saat menulis dengan tema “Mega, Lintang, Buana”. Ketiga kata tersebut harus terhubung dalam satu paket tulisan. Lama aku merenung untuk memulai menulis terkait tema tersebut. Jangankan untuk menghubungkannya, makna ketiganya saja aku masih ragu.

Aku tak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa ada jejak bahwa aku belajar hari itu. Dengan sigap aku mencari makna ketiganya di KBBI online agar tidak salah dalam menggunakannya.
Menilik dari keindahan bunyinya, ketiga kata tersebut lebih cocok untuk menggambarkan cerita tentang alam dalam bentuk puisi. Akhirnya, sebuah puisi pun tercipta dari tantangan Kamis Menulis dengan judul “Lukisan Mega, Lintang, Buana”.

Ada lagi tantangan Kamis Manulis yang lebih dahsyat, yaitu tema “Hanca”. Kebingungan pun terjadi. “Makhluk apa ini?” pikirku saat itu. Kata “hanca” membuat jiwaku tertantang. Tak pelak, KBBI online menjadi pelarian jitu untuk mengatasi masalahku. Akhirnya, sebuah puisi meluncur dengan gambar buku “Menembus Batas Mimpi” hadiah dari Ibu Pipit Piharsi sebagai pemenang Kamis Menulis yang aku peroleh saat baru bergabung di komunitas ini.

Tema “Guru” pada Kamis Menulis tertanggal 25 November 2021 sangat mengesankan. Selain momen ini bertepatan dengan peringatan Hari Guru, juga karena berisi kisah tentang pelaksanaan upacara Hari Guru Nasional yang pada sesi akhir ada acara pembacaan puisi dan pemberian tanda cinta kasih kepada guru-guru. Selanjutnya, diadakan acara motivasi yang disampaikan oleh Ustadz Kemas Machmud – ustadz muda yang inspiratif. Semua itu belum pernah dilakukan pada peringatan Hari Guru pada tahun-tahun sebelumnya.

Mempercantik kisah dalam tantangan Kamis Menulis adalah saat aku sedang menikmati getaran motivasi yang menyusup sampai ke relung hati terdalam seorang guru yang 1sedang mencari pencerahan, sebuah printer Epson tiba di tanganku. Hadiah juara kedua “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggrakan oleh Guru Blogger Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Guru TIK PGRI pada Bulan Oktober 2021 ini tiba pada saat yang indah, tepat pada peringatan Hari Guru. Salut kepada PT. Epson Indonesia atas kepedulian terhadap dunia pendidikan, sehingga rela berbagi kepada para guru.


Program Kamis Menulis Lagerunal memang luar biasa. Sebuah program yang mampu memfasilitasi para anggota untuk menuangkan ide tulisan yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan untuk diabadikan. Rasa syukurku semakin bertambah atas anugerah yang dilimpahkan Allah dengan bergabungnya aku di komunitas ini. Terima kasih “Sahabat Lage” yang telah menerima aku menjadi bagian dari komunitas istimewa dengan para anggota yang istimewa pula.


Pangkalpinang, 1 Desember 2021

Rosminiyati

Tuesday, November 30, 2021

Guru yang Merindu

Setelah acara pelepasan siswa kelas 12 tahun 2017

Menjadi guru bukanlah pilihan pekerjaan berdasarkan pertimbangan besarnya imbalan/penghasilan. Bukan juga berdasarkan perhitungan untung dan rugi seperti halnya jual beli. Profesi guru dipilih sesuai dengan hati nurani karena ingin mengabdi untuk negeri.

Guru merupakan garda terdepan bagi keberlangsungan peradaban bangsa. Peran guru dalam hal ini tak tergantikan oleh secanggih apa pun kemajuan teknologi. Ilmu memang bertebaran di mana-mana, namun kemuliaan akhlak tetaplah perlu dipandu dengan contoh nyata yang dihadirkan oleh para guru. 

Guru sebagai model akhlak mulia bagi anak-anak didik setelah orang tua, perlu menampilkan potensi diri yang prima. Suasana yang menyenangkan harus pula diciptakan oleh para guru agar murid-murid merasa nyaman berada di lingkungan sekolah maupun di dalam ruang kelas. Hal ini hanya akan tercipta jika profesi guru benar-benar digeluti dengan nyaman pula. Kenyamanan menjadi guru hanya diperoleh dengan niat yang lurus dan dilakukan dengan hati yang tulus.

Mengajar dari hati akan sampai pula ke hati murid-murid. Demikian juga halnya jika guru merindukan murid-muridnya, maka murid-murid pun akan merasakan hal yang sama. Jika situasi seperti ini telah tercipta, maka pembelajaran akan mengalir dengan sendirinya. Guru tidak perlu menguras tenaga dan pikiran hanya untuk membahas tentang materi ajar di dalam kelas. Dengan mengajarkan tentang cara belajar dan memaksimalkan peran guru sebagai motivator, fasilitator, kreator, dan inspirator, maka murid pun akan maksimal dalam belajar.

Mendidik jauh lebih sulit dari pada mengajar. Mengajar dalam suasana yang menyenangkan dapat selesai sesuai dengan yang direncanakan, dan tujuan pun tercapai. Mendidik menyangkut pembentukan karakter, dan membutuhkan pengulangan untuk waktu yang panjang, serta melibatkan banyak pihak. Itulah pentingnya kolaborasi dan komitmen para guru yang berada dalam satu sistem yang tidak terpisahkan.

Bersama murid-murid menjelang UN 2017

Dengan kolaborasi, sekolah akan terasa semakin nyaman bagi seluruh personilnya karena pekerjaaan yang berat akan dirasakan ringan. Jika segala sesuatu telah dirasakan ringan, maka profesi guru semakin menyenangkan sekaligus membawa keberkahan.

 

Pangkalpinang, 30 November 2021

Rosminiyati

 

Thursday, November 25, 2021

Printer di Hari Guru


Peringatan Hari Guru ke-76, bertepatan dengan hari Kamis, 21 November 2021 di sekolah saya diawali dengan kegiatan upacara seperti biasanya. Di akhir sesi upacara, kelompok paduan suara menyanyikan lagu "Terima Kasihku", dilanjutkan dengan penyerahan tanda cinta kepada seluruh guru oleh murid-murid kelas 12 sebagai peserta upacara.

Upacara Hari Guru 25 November 2021 di SMKN 2 Pangkalpinang

Siswa-siswi memberikan tanda cinta kepada para guru

Pukul 09.00 WIB diadakan acara "Penguatan Soft Skill melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)” yang disampaikan oleh Ustadz Kemas Mahmud AlHanif, pimpinan Pesantren Motivasi dan Tahfizhul Quran Daarul Mahabbah Bangka Belitung. Motivasi yang disampaikan oleh narasumber sangat membakar semangat saya untuk menjadi guru yang semakin bermanfaat bagi peserta didik khususnya, juga bagi orang-orang di sekitar saya pada umumnya.

Plt. Jepala Sekolah dan panitia bersama Ust. Kemas Mahmud

Ust. Kemas Mahmud Al Hanif menyampaikan materi

Saat sedang menyimak Ust. Kemas Mahmud menyampaikan materi, sebuah printer Epson sebagai hadiah juara kedua “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggrakan oleh Guru Blogger Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Guru TIK PGRI pada Bulan Oktober 2021 pun tiba. Indahnya hadiah yang diberikan Allah di Hari Guru ini. Terima kasih PT. Epson Indonesia atas kemurahan hati berbagi kepada para guru. Semoga memberikan manfaat dalam meneruskan kebaikan. 

Terima kasih guru-guru hebat di bawah naungan PGRI yang tulus ikhlas mengajarkan saya tentang menulis dan berbagi. Bukan hanya menulis yang saya dapatkan, melainkan tentang hidup yang lebih bermanfaat. Semoga ilmu dan motivasi yang diberikan kepada saya menjadi amal jariah yang mengalir pahala tanpa putus. 

Terima kasih kepada guru-guru yang telah memberikan saya berbagai ilmu yang bermanfaat: dari tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil, tidak mengerti adab menjadi berbudi luhur. Berkat inspirasi dan motivasi para gurulah saya menjadi guru. Semoga guru-guru saya berbahagia di dunia dan akhirat. 

Tulisan tangan yang ditulis dengan setulus hati

Terima kasih kepada anak-anak didik saya yang telah memberikan hadiah terbesar bagi guru-guru dengan senantiasa hormat, patuh dan giat mencari ilmu. Semoga doa kalian menjadi jalan bagi guru-guru menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan khirat.


Pangkalpinang, 25 November 2021

Rosminiyati

Wednesday, November 24, 2021

Kunjungan ke Situs Sejarah di Pulau Bangka



 

Benteng Kuto Aji - bersama Narasumber

Belajar dapat dilakukan di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Field trip merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat menumbuhkan semangat literasi dan menguatkan karakter profil Pelajar Pancasila pada peserta didik. SMK Negeri 2 Pangkalpinang melaksanakan program ini dengan melakukan lawatan ke sebuah situs sejarah yang terdapat di Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan tujuan utama Benteng Kuto Aji, pada Selasa, 23 November 2021.

Persiapan keberangkatan ke Belinyu kabupaten Bangka

Perjalanan dimulai dari halaman SMK Negeri 2 Pangkalpinang sebagai titik kumpul. 9 bus dan 8 mobil pribadi telah siap bergerak sejak pukul 6.00 WIB. Rombongan yang terdiri dari 90 orang siswa, dan 60 orang guru, staf TU dan keluarga yang dipimpin langsung oleh Plt. Kepala SMK Negeri 2 Pangkalpinang Bapak M. rafajar, M.T., meninggalkan halaman sekolah pada pukul 07.15 WIB dengan membawa makanan dan perlengkapan secukupnya.

Destinasi pertama adalah Benteng Kuto Panji. Perjalanan seharusnya ditempuh selama 2 jam, menjadi hampir 3 jam karena terjadi masalah dengan bus nomor 6, sehingga seluruh rombongan harus menunggu. Hambatan lainnya saat memasuki jalan menuju ke lokasi, terjadi kesalahan dalam mengikuti petunjuk arah, ditambah signal internet tidak dapat dijangkau.

Tiba di lokasi Benteng Kuto Panji, rombongan SMK Negeri 2 pangkalpinang disambut oleh Bapak Andre, Kepala Lingkungan 4 Kuto Panji. Beliau ditugaskan oleh Lurah Kuto Panji untuk memberikan edukasi dan penjelasan kepada pengunjung yang ingin mengetahui keberadaan Benteng Kuto Panji.

Pengarahan kepada siswa-siswi

Dijelaskan, Benteng Kuto Panji (Benteng Bong Kap), merupakan bangunan yang dibangun pada tahun 1766, berdasarkan penelusuran sejarah. Dijelaskan juga bahwa bangunan Benteng Kuto Panji ini dibawah Kesultanan Palembang Darussalam, dan merupakan bangunan asli yang tidak pernah selesai sejak pertama kali dibangun.

Papan nama di dekat pintu masuk Benteng Kuto Panji

Tembok bagian belakang benteng Kuto Panji

Siswa-siswi di bagian dalam tembok masuk Benteng Kuto Panji

Meninggalkan bagian belakang benteng setelah menerima paparan sejarah

Sekitar 1 jam berada di lokasi Benteng Kuto Panji, membuat catatan penting, dan dilanjutkan dengan acara berfoto, rombongan meninggalkan benteng tersebut menuju Tapak Liang, salah satu tempat wisata religi di Bangka.

Wisata Tapak Liang di Belinyu

Dari obyek wisata Tapak Liang, rombongan menuju pabrik kerupuk Belinyu, sekaligus berbelanja aneka kerupuk khas Belinyu. Selesai berbelanja, perjalanan dilanjutkan ke destinasi terakhir, pantai Penyusuk yang berjarak kurang lebih 10 KM dari Benteng Kuto Panji.

Di sebuah toko kerupuk di Belinyu

Pantai Penyusuk


Di sisi kiri Pantai Penyusuk

Tiba di pantai Penyusuk sekitar pukul 12.30. Guru, staf TU dan peserta didik menggelar berbagai kegiatan hiburan setelah acara makan siang dan sholat Zuhur. Lomba makan kerupuk bagi guru, staf TU dan siswa, estafet pemindahan tepung bagi siswa, kereta balon bagi siswa meramaikan suasana di halaman berumput di seberang pantai. Tak kalah heboh, balapan membawa kelereng dengan sendok diadakan bagi anak-anak guru dan pegawai. Semua perlombaan memberikan kegembiraan kepada seluruh personil yang hadir dengan ditemani nyanyian yang diiringi keyboard yang dibawa sendiri dari sekolah.

Lomba menuang tepung siswa-siswa SMKN 2 Pangkalpinang

Lamba makan kerupuk

Setelah sholat Ashar, diadakan pembagian hadiah bagi pemenang lomba, dilanjutkan dengan acara penutupan dan pengambilan video dan foto di pinggir pantai. Tak lupa, operasi semut membersihkan sisa-sisa sampah dialkukan agar lingkungan pantai tetap bersih seperti sedia kala.

Plt. Kepala Sekolah meberikan hadiah kepada pemenang lomba makan kerupuk

Anak-anak penerima hadiah lomba balapan membawa kelereng dengan sendok

Acara penutupan

Pengambilan foto dan persiapan pengambilan video di pinggring pantai Penyusuk

Pengambilan video dengan menggunakan drone

Tepat pukul 16.30, rombongan mulai meninggalkan pantai Penyusuk, dan tiba kembali di sekolah pukul 19.30 dengan jeda berhenti di Masjid Nurul Ikhsan Belinyu sekitar setengah jam untuk melaksanakan sholat Maghrib.

Masjid Nurul Ikhsan Belinyu

Alamdulillah, kegiatan field trip SMK Negeri 2 Pangkalpinang berjalan dengan baik. Sangat diharapkan peserta didik memperoleh pelajaran yang luar biasa dari perjalanan ini, sekaligus dapat meninggalkan jejak digital yang bermanfaat pula bagi orang lain.

 

Pangkalpinang, 24 November 2021

Rosminiyati

 

 

 









Menulis, Menulis, Menulis!