Monday, December 13, 2021

Pembelajar “Sejati”



Sabtu siang yang cerah. Waktu masih belum genap di pertengahan hari. Matahari dengan garangnya memancarkan sinarnya tanpa basa-basi. Berada di dalam rumah pun terasa begitu gerah. Peluh yang singgah di sekujur tubuhku membuat bajuku sedikit basah. Rasa kantuk yang mulai menyerangku tak membuatku bisa memejamkan netra yang lelah. Padahal, sudah hampir setengah jam aku merebahkan tubuh yang beratnya jauh di bawah 1 karung lada putih yang menjadi ciri khas pertanian masyarakat Bangka.

Akhir-akhir ini, aku memang tidak bisa lagi berlama-lama menikmati dunia mimpi, baik pada siang maupun malam hari. Kebiasaan baru ini dimulai sejak aku bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI yang diprakarsai oleh Om Jay. Betapa tidak! Jadwal belajar menulis selama 3 kali dalam 1 minggu pukul 19.00 – 21.00 harus aku lakoni untuk menyimak materi inti yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab via WhatsApp grup. Selanjutnya, menulis resume di blog pribadi tentang materi yang telah dibahas terkadang tidak tuntas hingga berkahirnya kegiatan belajar. Untuk itu, terpaksa dilanjutkan hingga larut malam. Kegiatan blogwalking menjadi rutinitas pula, karena terdorong rasa penasaran ingin membaca tulisan kawan sesama peserta sekaligus untuk saling memberikan dukungan.

Rutinitas baru yang sudah berlangsung selama 2 bulan tentulah sangat berpengaruh terhadap pola tidurku. Tidak hanya itu, kegiatan menulis yang sudah menjadi passion menuntut waktu dan tenaga ekstra pula. Sementara, persiapan mengajar yang prima tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, pemangkasan jam tidur benar-benar dilakukan dengan sempurna.

“Dek, jadi nggak ke rumah Aran?” Pertanyaan itu cukup membuatku terkejut dan membuyarkan ingatanku tentang capaian yang sudah aku peroleh selama hampir 3 bulan ini. Kuarahkan pandangan menuju sumber suara. Laki-laki yang telah menemani perjalanan hidupku selama seperempat abad telah berdiri di ambang pintu. Kupandang pemilik wajah tampan dengan hidung mancung dan mahkota yang mulai memutih itu tanpa menjawab pertanyaannya.

Suamiku melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kamar. Posisi duduk di tepi dipan menjadi pilihan cerdas untuk memulai percakapan. Pertanyaan yang belum aku jawab diulangnya kembali. Aku pun menjawab dengan nada yang kurang bersemangat, “Sebentar lagi, ya, Kak. Masih capek nih.” Jawaban yang tak biasa aku berikan untuk ajakan bertemu Aran, si kecil keponakan tercinta yang selalu menyenangkan hati dalam berbagai suasana.

Sambil menatapku dengan sorotan yang teduh seperti biasanya, suamiku melanjutkan pertanyaannya, “Oh, ya … Dek, naskah buku Adek sudah selesai diedit?” Entah mengapa, tiba-tiba suamiku bertanya tentang hal ini. “Barusan selesai, dan sudah Adek kirim lagi ke Bu Kanjeng,” jelasku dengan antusias. “Hah …? Cepat sekali!” lanjutnya setengah tidak percaya. “He eh …,” balasku sambil mengangguk dan memberikan senyuman termanisku.

Suamiku ikut mengangguk perlahan. Sepasang bibir merahnya yang tak pernah tersentuh gulungan kertas putih berisi tembakau mendarat di keningku. Tangan kokohnya tak mau kalah beraksi, menggiring telapak tangannya menyapu kepalaku yang lunglai. “Kalo gitu, istirahatlah dulu. Ntar, kalo capeknya sudah hilang, baru kita ke rumah Aran,” petuah suamiku sebelum berlalu meninggalkanku seorang diri di kamar.

Aku kembali melanjutkan perjalanan kisah petualangan guru pembelajar yang baru mendapatkan jalan terang pada usia menjelang senja. Senyuman yang terlanjur aku persembahkan kepada belahan jiwaku tak dapat kutarik kembali. Istirahat dalam arti memejamkan mata untuk mengarungi mimpi versi suamiku tentunya semakin jauh untuk direalisasi.

Bayangan mahkota penulis yang sebentar lagi akan diterbitkan semakin manari-nari di panggung jiwaku. Naskah buku solo yang baru saja dituntaskan swasuntingnya sudah kukirim kembali kepada Ibu Kanjeng untuk segera diterbitkan. Pengerjaannya yang berlangsung 2 hari dan sangat menguras energi, sebenarnya cukup menjadi alasanku untuk bisa memejamkan mata yang sudah begitu lelah. Namun, aku tetap tak bisa melakukannya. Malah senyumanku yang semakin lebar, selebar sungai Rangkui yang membelah kota Pangkalpinang.

Kembali aku melanjutkan pengembaraan ingatanku tentang kejadian-kejadian yang mewarnai kisahku dalam kegiatan belajar menulis. Para narasumber tak hanya memberikan materi pada jam terjadwal, melainkan juga terus menghembuskan mantera-mantera ke dalam lorong pikiran dan hatiku. Aku mulai terseret ke dalam grup menulis antologi. Ada cerita, puisi, dan pantun. Tak hanya itu, ada pula grup menulis karya ilmiah dan bloger guru. Hasilnya, luar biasa. Aku yang semula tak mengerti apa-apa tentang kepenulisan, ternyata bisa menghasilkan karya buku antologi cerita hanya dalam waktu 1 bulan saja, dan antologi pantun pada bulan berikutnya.

Senyumanku masih bertahan pada posisi semula. Sudah dipastikan, sepasang bola penghias wajah dan pembaca isi buana semakin terbuka lebar. Jauh dari meredup, apalagi tertutup. Pikiranku kembali berselancar dalam kenangan yang tak dapat dilupakan. Ia begitu melekat dalam jiwa bagaikan darah dan daging yang menyatu dalam raga. Sampailah pada perjalanan yang semakin seru.

Sebuah pesan masuk ke kolom chat WA grup kelas belajar. Om Jay - pelopor guru penggerak - memberikan sebuah pengumuman tentang lomba blog untuk memeriahkan Hari Sumpah Pemuda. Artikel tentang guru penggerak dengan panjang tulisan 500 – 750 kata menjadi syarat yang harus dipenuhi. 100% unik menjadi syarat mutlak jika ingin menjadi juara di samping kriteria umumnya yang dipersyaratkan pada sebuah lomba menulis.

Merasa bukan guru penggerak, dan tidak mengerti sama sekali tentang guru penggerak, aku abaikan saja pesan chat tersebut. Cukup lama kejadian itu berlangsung. Hingga akhirnya, Om Jay yang tak pernah bosan memotivasi dan menginspirasi, memberikan sebuah gambaran tentang definisi guru penggerak. Tak hanya itu, beliau juga memberikan gambaran tentang guru penggerak tanpa Surat Keputusan, yaitu guru penggerak yang terpilih bukan dari hasil seleksi Kemdikbud, melainkan seleksi alam.

Cukup lama aku merenung tentang lomba blog itu. Bukan hanya sekedar tentang artikel yang harus ditulis, melainkan juga tentang blog tempat tulisan itu dipublikasikan. Syarat yang sangat berat bagiku yang baru berstatus sebagai penulis dan bloger pemula. Tidak main-main. Ini sebuah lomba tingkat nasional. Pesertanya tentu saja penulis yang sudah berpengalaman dan bloger terkenal. Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak mungkin bisa ikut ambil bagian dalam lomba tersebut.

Flyer tentang lomba terus-menerus singgah di kolom chat WA grup. Rasa penasaran menggelitik hati dan jiwa pembelajarku. Bayangan lomba yang menantang ikut bersemayam dalam ingatanku. Dari pada menyimpan kegalauan sendirian, kisah tentang lomba ini akhirnya kuceritakan kepada suami tercinta. Beliaulah yang tak pernah bosan mendengar kisah apa pun yang kubawa. Akhirnya, sebagai wujud kesepakatan bersama, aku memberanikan diri mengambil bagian dalam ajang bergengsi ini. Terlepas dari apa pun hasilnya, setidaknya aku sudah ikut meramaikan blog gurupenggerakindonesia.com dengan artikel yang ditulis dengan tanganku sendiri.

Penulisan artikel untuk lomba Hari Sumpah Pemuda kulakukan dengan kerja keras. Pencarian referensi di YouTube dan “wawancara” pun kulakukan demi menggali informasi agar tak salah menulis. Demi sebuah keunikan, suamiku ikut merepotkan dirinya, tanpa kuminta. “Dek, Kakak ke pusat kota sebentar, ya,” ucap suamiku sesaat setelah dia mengitip tulisanku dari layar laptop yang sedang aku kerjakan. “Ada apa, Kak?” tanyaku tak mengerti. Setahuku, tak ada urusan apa pun yang akan dikerjakannya di sana. “Nggak … cuma mau ngambil foto,” jawabnya singkat sambil berlalu tanpa aku sempat berkata-kata apa pun lagi.

Masih bergelut dengan artikel lomba, tiba-tiba ada pesan masuk di kolom chat WA dari suamiku. Sebuah foto bertengger cantik di sana. “Hmm … ini ternyata!” gumamku sambil tersenyum semanis-manisnya. Ternyata, suamiku benar-benar mendukung keikutsertaanku dalam lomba ini. Segera aku ganti foto sebelumnya dengan foto baru yang dikirim suamiku karena kualitasnya lebih bagus.

Perjuangan belum selesai. Bertemu dengan jenis blog baru, cukup membuat aku galau. Sudah ada dua kali presentasi melalui zoom meeting tentang cara mengunggah naskah tulisan di blog gurupenggerak. Namun, bagi pemilik paket kecerdasan terbatas berbalut usia beranjak tua, hal itu bukan perkara mudah. Sasaran selanjutnya adalah sahabat guru yang jago terkait dunia digital. Akhirnya, berkat bimbingan beliau, naskah pun sukses diunggah.

Hasil publikasi naskah di blog ternyata jauh berbeda dengan tampilan yang ada di draf. Tampilan gambar dan video terlalu besar, sehingga tidak indah dipandang mata. Artinya, perjuangan harus dilanjutkan. Kudekati suamiku yang sedang asyik menonton TV. “Kak, ba’da Isya kita ke rumah Sonie, ya,” ajakku padanya. “Tumben … akhir-akhir ini kan sering nggak sempet kalo diajak pergi,” ledek suamiku sambil tersenyum. Suamiku tahu persis kalau aku yang mengajak pergi, pastilah ada sesuatu yang penting. “Ya, Kak. Minta diajari cara mengatur tampilan gambar dan video sama Sonie,” jelasku padanya.

Setelah berkutat cukup lama dengan pengaturan gambar dan video di bawah bimbingan adikku, akhirnya aku bisa mengerjakannya sendiri ketika di rumah kurasakan tampilannya masih kurang pas. Ilmu baru kudapatkan lagi. Tak hanya sekedar tentang tulisan, tetapi juga tentang pengelolaan blog baru yang sudah menjadi dunia baruku kini.

Urusan lomba kelar. Aku tak menghiraukan lagi kelanjutannya. Kesanggupan melewati tantangan bagiku sudah menjadi prestasi yang luar biasa dan menakjubkan. Betapa tidak! Selama ini, aku terlelap di dalam sangkar emas. Tak penah terbang mengarungi luasnya alam semesta. Kini aku mulai kerja keras demi sebuah perubahan. Keluar dari zona nyaman menuju zona yang ternyata sangat nyaman – dunia menulis.

Jiwa pembelajarku masih terus dipacu oleh keadaan yang diciptakan oleh para pakar di kelas belajar PGRI. Tantangan menulis resume selama 2 bulan dan satu buku solo sebagai bukti telah lulusnya belajar yang dapat ditukar dengan sertifikat senilai 40 jam sudah dilewati dengan mulus. Ternyata, itu semua masih belum dirasakan cukup. Ruang belajar lain pun dibuka untukku yang selalu ingin bergerak. Peran menjadi moderator di kelas belajar menulis angkatan yang baru menjadi sasaran juga.

Ingatanku semakin jauh mengembara. Di suatu sore saat aku sedang santai, tiba-tiba ada notifikasi aku tergabug dalam sebuah grup WA “Tim Solid Om Jay”. “Grup apa lagi ini?” tanyaku dalam hati. Aku buka deskripsi grup. Kuperhatikan satu per satu anggota yang tertera di sana. “Oh, ternyata para narasumber dan moderator yang tergabung di dalam tim Belajar Menulis PGRI,” gumamku tanpa memikirkan lagi kelanjutannya.

Aku tidak mengerti mengapa aku digabungkan di dalam grup ini. Rasa-rasanya tak ada yang istimewa pada diriku dibandingkan dengan 400-an peserta belajar lainnya. Dua orang teman belajarku memang pantas masuk dalam tim ini. Keduanya memang luar biasa prestasinya. Tak ada yang bisa kulakukan di dalam grup baru ini selain mengucapkan syukur kepada Allah dan terima kasih atas telah digabungkannya aku di dalam grup hebat ini.

Kebingunganku terjawab saat satu dari Tim Solid Om Jay menghubungiku. “Assalamualaikum Ibu yang baik hati. Izin konfirmasi. Untuk minggu depan, bersediakah menjadi moderator di kelas BM 21 dan 22?” Ups … ada detak yang tak normal terjadi dalam gumpalan daging di dalam dadaku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam agar ia kembali berjalan normal.

Tak menunggu lama, chat itu pun kubalas “Ya, siap!” Jawaban tanpa basa-basi. Ya, aku memang bersedia menjadi moderator di grup belajar menulis bagi peserta baru. “Ini kesempatanku untuk belajar,” bisik batinku yang terus bersemangat untuk belajar. Perkara apa yang harus aku persiapkan, itu urusan nanti. Masih ada waktu satu hari untuk belajar. Kabar baik yang cukup menggetarkan jiwaku yang haus akan ilmu dan keterampilan baru ini memintaku untuk memperjuangkan takdir baiknya. Maka, aku tidak boleh melewatinya.

Akhirnya, lakon sebagai moderator aku jalani dengan cukup baik. Waktu 2 jam memandu kegiatan belajar para guru hebat se-Indonesia via WA terlewati. Keterlambatan narasumber hampir setengah jam karena ada pelatihan tatap muka, tak membuat aku bingung. Momen itu aku isi dengan memberikan motivasi. Tak ada yang tahu bahwa listrik padam dan kehabisan kuota data internet terjadi pada diriku. Karena ketenangan yang datang menghampiriku dengan tiba-tiba, membuatku bisa mengatasi semuanya dengan mulus. Begitulah, jika Allah menghendaki. Tak ada kesulitan yang tak dapat diselesaikan jika diawali dengan niat baik dan menyertakan Allah dalam setiap langkah.

Diriku bagaikan minum air laut. Semakin diteguk, semakin haus rasanya. Ruang kosong di otakku terus menggoda untuk diiisi dengan ilmu yang baru. Sambil melakoni peran moderator di kelas Belajar Menulis, aku pun ikut serta di kelas Belajar Berbicara. Masih sama, paket ini juga merupakan agenda PGRI yang diprakarsai Om Jay. Bedanya, belajar menulis sudah sampai 22 angkatan, sedangkan belajar berbicara baru angkatan ke-4. Belajar menulis dilakukan melaui WA, sedangkan belajar berbicara melalui zoom meeting.

Kelas belajar berbicara sudah kujalani dua kali pertemuan. Aku menikmati acara presentasi via zoom dengan gembira. Pertanyaan pun aku lontarkan di dua pertemuan tersebut sebagai praktik awal berbicara. Kali ini pertemuan ketiga. Sejak pagi sudah ada flyer yang dibagikan di WA grup; kegiatan dimulai pukul 19.00. Ada keanehan yang aku rasakan. Dua pertemuan sebelumnya dimulai pukul 19.30. Namun, karena ruang zoom dan aksesori lainnya masih sama seperti biasanya, aku pun tidak menghiraukannya. Berarti aku harus membuka zoom sebelum pukul 19.00. “Hmm … malam ini beraksi lagi,” gumamku bersemangat.

Udara panas semakin aku rasakan. Tanpa pendingin ruangan, peluhku semakin bertambah. Sepasang bola mataku tak mau juga mengantarkan aku berkelana dalam dunia mimpi yang indah di siang hari. Entah berapa lama aku sudah menerawang ke saat-saat yang belum lama ini terjadi. Akhirnya, aku berangkat dari rebahanku.

“Ayo Kak, kita pergi,” ajakku pada suamiku yang masih setia menunggu sambil menonton acara TV. “Nggak jadi tidur?” tanyanya heran. “Nggak … mana bisa tidur, cuaca panas kayak gini,” lanjutku beralasan. Akhirnya, kami pun pergi ke rumah adikku, menemui Aran yang selalu aku rindukan. Panas terik sinar matahari menjelang Zuhur tak kurasakan sama sekali. Itulah salah satu contoh energi positif yang memacu semangatku untuk segera bertemu dengan sang cintaku.

Dari ba’da sholat Zuhur sampai menjelang Maghrib, kami habiskan waktu bertiga untuk jalan-jalan, silaturrahmi ke rumah saudara, dan bermain bersama. Setengah hari kami lewati dengan penuh ceria, seperti biasanya. Menjelang Maghrib, Aran minta diantar pulang. Aku dan suami pun segera memenuhi permintaannya.

“Kak, pulang yuk!” ajakku pada suami setelah aku sholat Maghrib di rumah adikku. “Nantilah, sebentar lagi. Aran ngajak main kartu, nih,” jelas suamiku yang belum mau pulang. “Ada zoom belajar berbicara,” jelasku pada suami. “Nge-zoom lagi?” tanya suamiku ragu. “Ya, makanya cepet pulang,” rengekku padanya.

Sesampainya di rumah, aku mulai mempersiapkan diri dengan membuka aplikasi zoom dengan mengeklik alamat tautan yang diberikan. Hujan deras tiba-tiba datang diiringi dengan suara petir yang sempat membuatku khawatir. “Ternyata, ini yang menyebabkan panas yang luar biasa tadi siang ya, Kak,” ucapku pada suamiku yang duduk tepat di depan meja laptopku. “Ya, mudah-mudahan hujannya tidak lama. Biasanya kalau langsung deras, hujannya cuma sebentar,” jawab suamiku lengkap dengan penjelasan. “Charger laptop tidak usah dicolok, nanti bahaya!” lanjutnya mengingatkan. “Ya, Kak,” jawabku patuh.

Di layar monitor laptop, moderator mulai beraksi. Tibalah waktunya narasumber memulai acara inti. Aku menyimak pembahasan yang disuguhkan narasumber dengan serius meskipun muncul rasa curiga yang memperkuat kecurigaanku pagi tadi. Tak ingin berlama-lama dihantui rasa penasaran, aku segera bertanya kepada Om Jay untuk memastikan kebenaran acara yang aku ikuti ini.

“Om, bedah soal PPPK ini termasuk kelas berbicara, bukan?” tanyaku pada Om Jay via chat WA. “Bukan,” jawab Om Jay. “Om, kan belajar berbicara Selasa, Kamis, dan Sabtu?” tanyaku lagi dengan percaya diri karena menyelaraskan dengan waktu jam belajar menulis pada Senin, Rabu, dan Jumat. Om Jay pun lanjut menjawab, “Kelas bicara belajar Selasa dan Kamis.” Ada bintang-bintang di langit yang mulai mengintip celah kesadaranku. Ada pula cacing mungil yang merayap perlahan dan menggelitik hatiku. “Oh, Cuma 2 kali seminggu. Dikira 3 kali,” balasku dengan emoji ketawa. “Terima kasih, Om atas informasinya,” lanjutku dengan rasa malu yang luar biasa.

Setelah menerima penjelasan Om jay, aku pun cepat-cepat keluar dari ruang zoom “Pembahasan Soal-Soal Calon ASN PPPK”. Sebenarnya, aku juga butuh ilmu itu, namun, dengan pertimbangan memberikan kesempatan kepada yang lebih membutuhkan untuk menggunakan ruang zoom, aku tak boleh berlama-lama di sana.

Suamiku yang menyaksikan kejadian ini bertanya, “Loh, kok laptopnya ditutup?” “Ya, Kak, ternyata salah kamar,” jawabku tak bersemangat. “Terus, belajar bicaranya gimana?” lanjutnya pula. “Ternyata cuma dua kali seminggu,” jelasku sambil menatap lurus ke arah sepasang mata yang selalu kudamba.

“Tuh, kan … tadi buru-buru ngajak pulang, padahal Aran masih mau main,” protes suamiku. Aku tak menjawab. Hanya mata yang aku kerjap-kerjapkan sambil memonyongkan bibir ke arahnya. “Salah jadwal nih ye …,” ledeknya padaku sambil tertawa. “Adek kan pembelajar sejati …,” jawabku membela diri. “Pembelajar sejati sih pembelajar sejati … tapi nggak segitunya kaleee …!” ledeknya masih tertawa dengan volume suara yang semakin tinggi. Aku pun tak dapat menahan geli. Akhirnya, tawaku pun pecah menyusul tawa suamiku. Acara pun dilanjutkan dengan menonton sinetron yang sudah lama tidak kami lakukan berdua di Sabtu malam yang ceria.

8 comments:

  1. Luar biasa... Pembelajar sejati, tdk diukur oleh usia dan waktu. Yg terpenting ada kemauan dan usaha

    ReplyDelete
  2. Pembelajar "Sejati". Saya menangkap ke-sejati-an seorang pembelajar. Namun kesulitan mengeja kata "sejati" yang diapit tanda petik. Sehat selalu kak Ros.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah..sehat selalu Jak Ros .. sang pembelajar sejati . Sukses selalu Kak Rus...suami idaman yg dll mndukung kira. Alhmdulilah..

    ReplyDelete
  4. Pembelajar sejati yg siap dengan segala konsekwensi. Salut Bu👍

    ReplyDelete
  5. senang sekali bacanya pasangan yang saling support dan tetap ada gemas-gemasnya ledek-ledekan. So sweet.

    ReplyDelete
  6. Luar biasa, Kak Ros. Enak kan punya pasangan yang se frekuensi. Haha

    ReplyDelete
  7. Tulisannya rapi. Keren. Panutan ini. hehe

    ReplyDelete

Menulis, Menulis, Menulis!