 |
| Sumber: Dokumen pribadi om Jay dari chat WA belajar menulis gel.19 |
"Asyik
... Wak Yos pulang!" teriak Aran kegirangan begitu melihat aku sudah
berada di depan pintu. Ditinggalkannya mainan yang berserakan di lantai dan
langsung memelukku. "Halo, Sayang. Sedang apa?" tanyaku berbasa-basi.
"Main mobil-mobilan." jawabnya sambil menunjukkan ke arah mainan yang
masih tergeletak di lantai.
 |
| Sumber: Dokumen pribadi |
"Wak
bawa apa?" tanya Aran sambil memegang bungkusan yang aku tenteng.
Kuletakkan 3 kantong plastik yang aku bawa di lantai dan langsung memeluk si
kecil kesayanganku. "Hmm ... apa ya?" Aku sengaja menunda jawaban karena Aran suka main
tebakan-tebakan.
"Ayo, Wak ... dibuka!" rengeknya tidak sabar. "OK deh ..., tapi baca
bismillah dulu, ya!" "Bismillahirrohmanirrohim," ucapnya
bersemangat. Aku pun segera membuka sebuah kantong plastik demi menepati janji.
"Tara ... inilah dianya!" "Wow, banyak sekali! teriak Aran
kegirangan. "Asyik ... pisang!" teriaknya semakin tinggi.
“Kalau
yang ini apa, Wak?” tanyanya ingin tahu isi kantong yang kedua. “Apa ya?” Sengaja aku menunda lagi jawabannya. “Ayo, Wak, buka … cepatlah!” pinta Aran
memelas. “Nggak ah …!” jawabku mempermainkannya. “He eh … buka, Wak, please …!”
Aran selalu mengucapkan kata ‘please’ sambil merapatkan kedua telapak tangan
dan meletakkannya tepat di depan dada. Itulah yang dia lakukan jika betul-betul
memohon. Aku pun segera membukanya demi menghindari kekecewaan permata hatiku
ini. “Yuk, baca bismillah lagi ….”
"Wow
... ada 'bijur' (baca: ubi jalar) juga!” ucapnya sambil membelalakkan netranya
yang polos. “Kalau yang itu apa, Wak?” tanyanya masih ingin tahu sambil
menyentuh kantong terakhir. “Mau dibuka juga?” tanyaku memancing. “Mau dong!”
balasnya cepat. “Nggak ah!” Ini bukan makanan anak-anak. Aran pasti nggak
suka." jelasku padanya. “Buka dulu dong, Wak!” pintanya memaksa. “Buka
saja sendir!” jawabku sekenanya.
Aran
berjuang membuka kantong plastik yang ketiga. Kubiarkan dia melakukannya
sendiri. Jari-jari mungilnya menari-nari di atas simpulan gagang kantong plastik
itu. Dia gagal membukanya dengan cara itu. Akhirnya, disobeknya permukaan plastik
yang sedikit terbuka. Kali ini usahanya berhasil, dan satu per satu buah labu
siam pun keluar dari sarangnya.
“Wak!
Ini apa namanya?” tanyanya. “Labu siam, Nak,” jawabku singkat. “Ibu sering
masak ini, masak sayur asam,” jelasnya. “Tapi Adek nggak suka makannya. Nggak
enak.” jelas Aran dengan mengerutkan dahi sambil menyipitkan matanya. “Tuh, kan
... Wak juga bilang apa? Ini bukan makanan anak-anak, karena Uwak tahu Adek
nggak suka. Makanya tadi Uwak Nggak mau membukanya.” Jelasku panjang lebar sambil menunjukkan
ekspresi menang.
“Nah,
sekarang gimana? Buah labunya berserakan. Kantongnya sudah rusak.” keluhku pada
Aran agar dia bertanggung jawab. “Sebentar, Wak. Adek ambilkan baskom dulu, ya.”
Jawabnya yang tak kusangka-sangka sambil pergi menuju ke dapur. Benarlah, dia
kembali dengan membawa sebuah baskom kecil. Dengan lincah dimasukkannya buah
labu siam satu per satu hingga habis ke dalam baskom. Masya Allah, si kecilku
benar-benar cerdas. “Alhamdulillah, ya Allah, Engkau telah memberikanku seorang
keponakan yang luar biasa.” syukurku dalam hati.
“Wak,
kita goreng yuk pisang dan bijurnya!” ajaknya. “Kali ini kita rebus saja ya,
Sayang.” Aku menawar karena baru kemarin pagi menggoreng pisang dan ubi jalar. “Boleh,
Wak. Direbus juga enak, kok. Ibu juga sering merebus pisang sama bijur untuk katering.”
Jelasnya luar biasa. “Ayo, Wak. Cepatlah. Adek sudah nggak sabar nih!” ajaknya
langsung berjalan ke dapur. Aku pun mengikuti langkah kecilnya menuju dapur.
Singkat
cerita, aku sudah selesai merebus ketiga bahan makanan mentah itu dan menyajikannya
di sebuah piring. Hal yang tak kuduga, Aran ternyata masih bertanya, “Wak, beli
di mana tadi makanan ini?” Aku pun menjelaskan, “Ini tidak beli, Nak. Semuanya
dikasih Om Jay, tetangga sebelah. Tadi, sewaktu Uwak pulang dari membayar uang
arisan, Om Jay baru pulang dari liburan, dan membawa oleh-oleh makanan ini
untuk kita.”
“Oh,
gitu … Om Jay baik ya, Wak.” Jelasnya sambil melihat ke arahku yang sedang
mengupas kulit ubi jalar. “Ya, Nak. Om Jay sangat baik, tapi sayangnya, Om Jay
tidak sempat mengajak kita jalan-jalan.” Lanjutku iseng-iseng menyampaikan
kekecewaanku karena tidak ikut jalan-jalan menikmati sejuknya daerah
pegunungan. “Emangnya kenapa, Wak?’ Si Bawel bertanya lagi. “Om Jay perginya buru-buru.
Sedang kerja, tiba-tiba diajak Tante dan Ayuk-ayuk (baca: kakak-kakak
perempuan) pergi ke rumah saudaranya.”
“Nggak
apa-apa deh, Wak. Yang penting oleh-oleh dapet … deh!” Dengan ekspresi lucu
sambil menggigit ubi jalar rebus, kata-kata itu keluar dari bibir mungilnya. “Ya,
Nak. Kita juga harus mengucapkan Alhamdulillah karena Om Jay dan keluarga kembali ke rumah dengan selamat.”
Menikmati
hari-hari tua dengan ceria bersama si kecil pun memberikan hikmah yang luar
biasa. Banyak hal tak terduga didapatkan. Mensyukuri nikmat yang diberikan
Allah membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Menjaga hubungan baik dengan
tetangga menjadi ikatan yang luar biasa. Kebahagiaan tetangga menjadi
kebahagiaan kita juga.
Pangkalpinang,
5 Agustus 2021
Rosminiyati