Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Thursday, March 17, 2022

Gotong Royong - Puisi


 
GOTONG ROYONG

Budaya gotong royong begitu melekat
Dalam kehidupan masyarakat
Keakraban semakin kuat
Tanpa dibatasi sekat.

Pekerjaan berat terasa ringan
Dengan banyaknya uluran tangan
Kekeluargaan dirasakan nyaman
Jauh dari kesombongan.

Gotong royong memang jitu
Gerakan saling bantu
Tidak ada jalan buntu
Jika semua bersatu.

Gotong royong ciri khas bangsa
Wujud pengamalan Pancasila
Satu untuk bersama
Bergerak tanpa dipaksa.

Teruslah membangun kebersamaan
Dalam suasana yang nyaman
Satu sama lain saling menguatkan
Menghalau segala rintangan.

Gotong royong bukti ketaatan
Kepada Allah yang menciptakan
Agar hidup dalam keberkahan
Mari terus kita lestarikan.


Pangkalpinang, 17 Maret 2022

Sunday, March 13, 2022

Semangat Litersi - Puisi

 


SEMANGAT LITERASI 


Gaung literasi mulai terdengar

Menyelinap di antara hingar bingar

Bermuara pada kalbu yang bergetar

Pikiran dan hati terbuka lebar.


Sangkar emas tak lagi terasa indah

Ada cahaya di luar yang begitu cerah

Batin yang terusik terbang menjelajah

Tinggalkan kisah jiwa yang pasrah


Nasib bukan takdir yang bisu

Pemilik raga hanya diam terpaku

Hamparan tulisan terus mengusik kalbu

Rangkaian kata menjelma menjadi buku


Semangat literasi tak lagi tertahan

Sukses bersama menjadi semboyan

Buku antologi perdana berhasil diciptakan

Kolaborasi indah bernuansa kekeluargaan.


Gelora literasi semakin membara

Getarannya menembus cakrawala

Pemilik asa mengukir kisahnya

Dari dunia maya semua bermula.


Satu per satu jiwa tergelitik

Poster indah sebagai pemantik

Buku solo bukan lagi hal pelik

Mahkota penulis mulai dipetik.


Menjadi penulis bukan lagi mimpi

Bukti sejarah kepenulisan sudah tersaji

Deretan buku terpajang indah di lemari

Buah karya penulis yang rela berbagi.


Semangat literasi yang telah berkobar

Teruslah membakar jiwa-jiwa yang nalar

Bergerak bersama agar terus menjalar

Untuk kebaikan kita bernazar.



Pangkalpinang, 13 Maret 2022




Thursday, March 3, 2022

Beriman


Beriman

Suatu kepercayaan
Dengan hati ia dibenarkan
Diungkapkan secara lisan
Diamalkan dalam perbuatan.

Orang beriman tidak akan malas
Rajin belajar dan bekerja keras
Jaga bicara tak asal lepas
Jauh dari rasa was-was.

Orang beriman tak pernah rugi
Ringan tangan dan selalu berbagi
Berbuat baik bukan untuk dipuji
Kepada orang tua senantiasa berbakti

Orang beriman selalu bertawakal
Berserah diri tanpa mengabaikan akal
Berbuat baik menghimpun amal
Bekal kehidupan kelak yang kekal.

Orang beriman berjiwa penolong
Berhati sabar tidak merongrong
Rendah hati dan tidak sombong
Menepati janji dan tidak berbohong

Orang beriman menyayangi sahabat
Suka dan duka tetap kerabat
Saling memberi nasihat
Agar hidup tidak sesat.

Orang beriman pasti tenang
Menghadapi ujian yang datang
Menjauhkan diri dari yang dilarang
Yakin Allah Maha Penyayang

Orang beriman disayang Allah
Hidup tenang rezeki pun berkah
Tak pernah mengeluh lelah
Masuk surga insya Allah.

Pangkalpinang, 3 Maret 2022


Thursday, February 17, 2022

Buah Renjana

 



Ambisi

Lanjutkan aksi

Tanpa basa-basi

Tanpa ada kata kompromi


Pamit

Modal sedikit

Receh pun mengernyit

Saat bulan berbentuk sabit


Renjana

Bertabur cerita

Semangat yang membara

Menepis keraguan yang menerpa


Renjana

Kini nyata

Menghalau sejuta tanya

Pertaruhkan kesenangan tanpa jeda


Anakku

Menepati janji

Membawa segenggam bukti

Bukan lukisan indahnya ilusi


Wisuda

Buah renjana

Raih gelar kedua

Di tengah bencana negara


Doa

Semoga berguna

Ilmu yang ditimba

Sebagai sarana menuju surga


Pangkalpinang, 17 Februari 2022

Rosminiyati







Thursday, December 23, 2021

Aku Rindu Ibu - Puisi

 




Aku Rindu Ibu

Ibu,
Engkau selalu ada dalam diriku
Setiap tarikan nafasku adalah nafasmu
Setiap detak jantungku adalah jantungmu
Setiap aliran darahku adalah juga darahmu

Ibu,
Tanpa gawai engkau mengajarkanku tentang dunia
Tanpa aksara engkau mengajarkanku membaca
Tanpa lisan engkau mendidikku berkahlak mulia
Tanpa dana engkau mengajarkanku menjadi kaya.

Ibu,
Sebaris cerita yang engkau kisahkan
Akan terus kusimpan sebagai kenangan
Tentang arti ketegaran tanpa perlawanan
Tentang ketulusan tanpa polesan.

Ibu,
Selama nadiku masih berdenyut
Besar harapanku masih bergelayut
Aku ingin terus hanyut
Dalam belaianmu yang lembut.

Ibu,
Sekalipun engkau telah tiada
Aku masih tetap menjadi anak manja
Aku masih berharap kasihmu yang mulia
Di sisimu tanpa jeda, di surga.

Ibu,
Kini aku melanjutkan warisanmu,
Mengukir jalan dengan keluarga kecilku
Tak seindah lukisan tanganmu
Tapi itulah yang aku mampu.

Ibu,
Aku hanyalah setetas embun pagi
Memberikan sedikit kesejukan kemudian pergi
Tak seperti engkau yang menjadi hujan di siang hari
Mampu membasahi seluruh isi bumi

Ibu,
Aku hanya mampu melantunkan sedikit doa
Yang hanya sampai di rongga dada
Tak seperti doamu yang membahana
Yang mampu menggetarkan isi dunia.

Ibu,
Aku rindu padamu.



Pangkalpinang, 23 Desember 2021

Thursday, December 16, 2021

Antikorupsi - Puisi

 



Antikorupsi

Oleh Rosminiyati 


Korupsi sama dengan mencuri

Bukan perbuatan yang terpuji

Bukan pula jalan mencari rezeki

Itulah jalan yang dibenci.


Demi kehidupan yang mewah

Tapi tak mau kerja lelah

Korupsi menjadi solusi termudah

Sekalipun rezekinya tak berkah.


Kehidupan mewah boleh dimilki

Dengan kegigihan usaha dilakoni

Kesederhanaan jauh lebih terpuji

Dengan kepedulian berbagi.


Dengan korupsi hidup tak tenang

Penyakit silih berganti menyerang

Harga diri pun menjadi hilang

Kenikmatan hidup ikut melayang.


Korupsi bisa dihindari

Kuatkan iman di hati

Disiplin dalam mengabdi

Kejujuran terus dipatri.


Ayo galakkan sikap antikorupsi

Jadikan agama sebagai pondasi

Kerja sama untuk mengawasi

Kedisiplinan harus dimilki.


Jadikan antikorupsi budaya bangsa

Sejak dini kepada seluruh jiwa

Korupsi perbuatan yang tercela

Gapailah hidup yang mulia.


Pangkalpinang, 16 Desember 2021

Sunday, November 28, 2021

GURUKU - PUISI

 

GURUKU

Oleh: Rosminiyati

 

Guru,
Begitu dalam makna dari sebutan itu
Setiap ucapan yang keluar dari mulutmu
Adalah titah alam yang patut ditiru
Setiap goresan tinta yang terukir dari tanganmu
Adalah prasasti yang lekat di dalam kalbu.

Guru,
Bicaramu adalah untaian doa yang tertambat
Tulisanmu adalah rangkaian maklumat yang tersemat
Diammu adalah pengajaran yang menguraikan isyarat
Gerakanmu adalah model akhlak yang bermartabat.

Guru,
Kerjamu tak pernah mengenal waktu
Tak pula ada tangan-tangan yang bisa membantu
Karena yang engkau persembahkan bukanlah sesuatu
Melainkan keutuhan jiwa dan raga yang menyatu.

Guru,
Jika komoditas dengan mahal diperjualbelikan
Rupiah yang kaudapatkan bukanlah ukuran pertukaran
Seisi dunia pun tak akan mampu menggantikan
Cinta kasih yang kau semai dengan ketulusan.

Guru,
Banyak ilmu yang berserakan di dunia digital
Dalam sekejap dapat digapai di berbagai kanal
Potret penguasaan ilmu berjejer laksana karnaval
Tak dapat menggantikan kesejukan jiwa yang kekal.

Guru,
Siapa pun dirimu
Yang telah mengukir keluhuran budiku
Engkaulah guruku.


Pangkapinang, 28 November 2021

Thursday, November 18, 2021

Guru dan Peradaban-Puisi versi telelet


 

GURU DAN PERADABAN

Oleh: Rosminiyati

 

Guru sebagai pelukis peradaban

Penentu wajah pendidikan di masa depan

Salah langkah berarti kehancuran.

 

Dulu, dengan kapur guru menulis

Mengeja aksara bak seorang pelukis

Murid hanya diam duduk manis

Tak boleh ada yang ceriwis.

 

Pengajaran mulai ada kemajuan

Spidol dipakai untuk menulis di papan

Mengejar materi agar tetap tersampaikan

Keberhasilan diukur dengan nilai ulangan

Terkadang murid-murid pun keteteran.

 

Guru berjuang sampai kelelahan

Jurus jitu dikeluarkan tanpa keengganan

Guru berperan sebagai seorang informan

Ruang kelas seakan panggung hiburan

Murid-murid asyik menikmati tontonan

Tak jarang menghadirkan kebosanan.


Seiring waktu yang telah berganti

Perbaikan demi perbaikan digeluti

Tak ada lagi ilmu yang dinanti

Kini guru sebagai teman sejati

Belajar dari hati ke hati.

 

Guru sebagai motivator

Bukan sebagai pendonor

Guru sebagai fasilitator

Bukan sebagai eksekutor

Sesama murid menjadi tutor.

 

Belajar dari internet sangatlah tepat

Semua ilmu bisa diakses secara cepat

Hanya perlu ilmu tentang internet sehat

Agar tak terjebak dalam kehidupan sesat.

 

Peran guru tak akan pernah tergantikan

Sekalipun dunia mengalami perubahan

Pendidikan karakter tetap terdepan.

 

Pangkalpinang, 18 November 2021

Friday, November 12, 2021

MGMP-ku Kembali - Puisi

 

MGMP-ku Kembali

Oleh: Rosminiyati

 


MGMP-ku kini

Mulai bergerak kembali

Secercah harapan mulai bersemi

Setelah memudar sejak pandemi.

 

Dua tahun telah berlalu

Hatiku memendam rasa rindu

Tak ada berita yang menyeru

"Ayo guru kita bertemu."

 

November yang mencerahkan

Undangan pertemuan disampaikan

Salam hangat dan rindu dari kejauhan

Menghiasi pesan membersamai undangan.

 

Pertemuan pertama yang menakjubkan

Kerinduan yang tak lagi bisa ditahan

Pelukan hangat tak terelakkan

Di antara sesama kawan.

 

Agenda bersama dipaparkan

Pemilihan pengurus baru dilaksanakan

4 serangkai terpilih hasil kemufakatan

Serah terima langsung berjalan.

 

Ada penambahan agenda

Literasi pada posisi pertama

Tak perlu waktu yang lama

Bloger pemula langsung tercipta.

 

Kini MGMP-ku berubah warna

Dalam blog kami mulai berkarya

Dengan tulisan kami bercengkrama

Tautan alamat blog menghiasi chat WA.

 

Kini MGMP-ku telah kembali lagi 

Kepada kami para pengabdi sejati

Tekad yang kuat mulai terpatri

Semoga Allah meridai.

 

Pangkalpinang, 12 November 2021

Tuesday, October 26, 2021

Writer's Block- Puisi Versi Telelet



WRITER'S BLOCK

Oleh: Rosminiyati



Diam dalam kelam

Dengan gawai tergenggam

Tak meninggalkan jejak kalam.



Begitu banyak ide yang datang

Tanpa mampu untuk dihadang

Terus pergi dan menghilang

Hati pun terasa lengang.



Rangkaian kata bermakna

Cerita tentang luasnya buana

Area pengembara berkelana

Tanpa goresan adiwarna

Tanpa tinta pena.



Berusaha untuk fokus

Agar ide bisa dibungkus

Namun sayang jiwa tandus

Merangkai kata tak bisa mulus

Bagaikan disekat makhluk halus

Dipenjarakan secara misterius.



Semua jalan dirasakan buntu

Tak dapat diurai satu per satu

Tak ada yang bisa membantu

Tak guna juga menggerutu

Pasrahkan pada waktu.



Pergilah dengan aman

Carilah suatu kesenangan

Lupakan sejuta kemalangan

Hingga beroleh ketenangan.



Writer's block bukan tragedi

Pernah terjadi pada setiap pribadi

Tetaplah menjadi penulis trendi.



Pangkalpinang, 26 Oktober 2021

Thursday, October 21, 2021

Bulutangkis-Puisi


Bulutangkis

Oleh: Rosminiyati


Bulutangkis olah raga praktis

Hanya dua orang saja bisa eksis

Empat orang menjadi keren habis

Terkena shuttlecock hanya meringis.

 

Bulutangkis permainan sederhana

Olah raga yang banyak peminatnya

Dari anak-anak sampai orang tua

Dari kota sampai pelosok desa.

 

Bulutangkis olah raga bergengsi

Jika sungguh-sunguh ditekuni

Harumkan nama Ibu Pertiwi

Buktikan cinta pada Negeri.

 

Tim bulutangkis Indonesia berjaya

19 tahun penantian tak sia-sia

Piala Thomas kembali diterima

Sebagai kemenangan berlaga.

 

Kemenangan bukan hasil sesaat

Latihan dilakukan sangatlah berat

Disiplin waktu yang sangat ketat

Demi meraih sebuah martabat.

 

Martabat bangsa di tangan kita

Di bidang olah raga dan lainnya

Tangan kekar torehkan karya

Hasilkan cipta yang nyata.


Pangkalpinang, 21 Oktober 2021

Thursday, October 14, 2021

Hanca pada Bulan September - Puisi


 

Hanca pada Bulan September

Oleh: Rosminiyati

 


Ketika hidup mulai tertata

Tak ada lagi cerita yang hampa

Apalagi kisah waktu yang terjeda

Semua terukir dalam daftar rencana

 

Bulan September deretan kegiatan terukir

Tersusun sesuai prioritas waktu untuk digulir

Satu per satu rencana yang dibuat mulai mengalir

Hingga batas waktu yang ditargetkan pun berakhir

 

Berbagai usaha telah digencarkan secara maksimal

Dengan perangkat diri dan doa yang terus diamal

Gairah literasi disandingkan dengan tawakal

Sebuah hanca tak kuat untuk disangkal

 

Hadiah buku dari sahabat Lage tak selesai dibaca

“Menembus Batas Mimpi” bukan sekedar cerita sederhana

Pejuang agama bertarung mewujudkan mimpi leluhurnya

Memoar suci dilukiskan begitu apik oleh penulisnya

 

Pertarungan dalam keterbatasan terus kulakoni

Kedaifan dipatutkan lewat usaha yang diridai

Maafkan daku duhai sahabat yang telah memberi

Hanca yang terjadi bukanlah karena aku tak sudi

 

Lembar demi lembar cerita dalam bukumu kusantap

Keinginan hati melahap seluruhnya dalam sekejap

Apa daya keterbatasan waktu dan daya serap

Mahkota tulisanmu hanya mampu kudekap.

 

Pangkalpinang, 14 Oktober 2021

Sunday, October 10, 2021

Jendela Literasi dengan Takdirnya


 


Oleh: Rosminiyati

 

Semilir angin petang perlahan menyapa

Semburat sang surya masih setia bertahta

Nyanyian burung tentang alam ikut bersama

Bisikkan pesan kepada raga yang mulai renta

 

Cerita petang menyeruak di balik gawai

Siluet cinta di ujung waktu mulai terurai

Sebuah lukisan sampul asmara menari gemulai

Kudekap erat dalam pelukan rindu yang aduhai

 

Kisah di suatu petang datang dari seberang

Menyibak jejak perjuangan tanpa kepalang

Terikat rapi dalam untaian aksara yang terpajang

Menggoda insan untuk segera bertandang

 

Mahkota yang dirindukan sampai jua pada takdirnya

Pelukis alam mewarnainya dengan kesempurnaan paripurna

Tak ada celah untuk sebuah guratan kealpaan apa lagi cela 

Tunduk patuh dalam setiap goresan pena tanpa tanya

 

Rangkaian kisah tentang pelukis aksara terhampar di sana

Mukaddimah sang pemrakarsa terukir indah di singgasana

Tak ada kisah takdir sebelum nasib diperjuangkannya

Tak ada pula waktu menunggu jiwa menggapainya

 

Inilah sebuah kisah yang sempurna

Petualangan cinta membara di hari tua

Tak ada kata terlambat untuk mengukir cerita

Sebelum nama diukir oleh keabadain yang tak mendua.

 

Di balik awan kemilau cahaya bintang telah bersembunyi

Dengan kelam malam cahaya petang pun telah berganti

Ukirlah kisah diri sebelum sang mentari pagi ingkar janji

Tak ada lagi yang peduli dengan cerita yang dibagi.

 

Pangkalpinang, 10 Oktober 2021



Thursday, October 7, 2021

VAKSIN - Puisi Versi Telelet

 



VAKSIN

Oleh: Rosminiyati

 

Istilah vaksin menjadi popular

Saat pandemi Covid 19 menjalar

Sebuah upaya agar tidak tertular.

 

Vaksinasi untuk semua kalangan

Dilaksanakan tanpa diminta bayaran

Hanya bersabar menunggu antrian

Karena semua butuh pelayanan.

 

Vaksinasi umumnya diterima dua kali

Untuk semua kalangan tanpa kecuali

Masyarakat awam sampai para ahli

Semuanya harus saling peduli

Karena vaksin tak perlu dibeli.

 

Ada masyarakat yang takut divaksin

Khawatir obatnya mengandung toksin

Ada pula yang masih perang batin

Ada ketakutan mengganggu janin

Ada pula yang sudah lama ingin

Berharap kesehatannya terjamin.

 

Vaksinasi diatur sesuai regulasi

Tak sembarangan melakukan aksi

Wewenang dipegang oleh instansi

Setelah melalui proses birokrasi

Oleh Lembaga terakreditasi.

 

Vaksinani sangat bermanfaat

Mencegah gejala Covid yang berat

Pertahanan Kesehatan menjadi kuat

Pengembalian ekonomi yang sehat.

 

Setelah divaksin jangan pernah lalai

Terhadap prokes jangan pula abai

Agar hidup kita kembali damai.

 

 Pangkalpinang, 7 September 2021

 

Thursday, September 23, 2021

Puisi-Lukisan Mega, Lintang, Buana

 





Lukisan Mega, Lintang,  Buana

 Oleh: Rosminiyati


Malam temaram berselimut kehampaan

Kutatap mega hitam melirik garis lintang

Seisi buana membuncahkan kesombongan

Tak peka akan jiwaku yang terbang

 

Kupeluk kesepian berbungkus kegelisahan

Dekap kuat asa yang kian merenggang

Purnama kesekian kan terlewatkan

Berbalut kecewa yang masih kukenang

 

Mega pekat terus berarak tak mau diam

Menenggelamkan cercah cahaya di balik pinta

Senyuman buana bersembunyi dalam kelam

Sekedar menyapa pun seperti tak rela

 

Semakin kelam hasrat yang tak sampai

Riak tak terbaca cukuplah sebagai sesal

Aral melintang tak lagi kan dibelai

Bianglala di kelopak mata sebagai bekal

 

Embun pagi membasahi bumi

Menyejukkan jiwa yang mulai berwarna

Genggam erat senyuman sang mentari

Selamat tinggal duka nestapa.

 

Pangkalpinang, 23 September 2021

 

Friday, September 17, 2021

Puisi: 264 Tahun Kota Pangkalpinang

 


264 Tahun Kota Pangkalpinang

Oleh: Rosminiyati


Selamat ulang tahun kotaku tercinta

Kota Pangkalpinang yang selalu ceria

Di sini aku dilahirkan, dibesarkan dan menua

Di sini pula aku abdikan jiwa dan raga

 

264 tahun usiamu kini

Berbagai peristiwa telah terjadi

Pembangunan dilakukan di sana sini

Dari infrastruktur sampai bidang religi

 

9 Februari 2001 resmi menjadi ibu kota Provinsi

Berbagai etnis hidup berdampingan dengan serasi

Tak pernah ada benturan yang terjadi

Masyarakat menjunjung tinggi toleransi

 

Titik O kilometer kota Pangkalpinang

Ciri khas Pangkalpinang semakin kentara

Titik nol kilometer di depan rumah dinas Walikota

Tudung saji menghiasi kantor Wali Kotanya

Destar menjadi ciri khas budaya pula

 

Kantor Walikota Pangkalpinang

Destar

Nganggung menjadi ajang ukuwah

Makan bersama bekal makanan dari rumah

Menikmati ketupat dan lepet sambil berkisah

Tak ada lagi cerita tentang hidup susah

 

Museum Timah

Berbagai destinasi wisata tersedia

Museum Timah berada di pusat kota

Pantai Pasir Padi hanya 10 kilometer saja

Wisata religi tak kalah menariknya

Pantai Pasir Padi

Jembatan Emas tak pernah sepi pengunjung

Banyak pula yang piknik ke Jembatan Gantung

Taman Wilhelmina juga menjadi tempat tersanjung

Di Alun-alun Taman Merdeka berbagai acara berlangsung


Wilhelmina Park (Taman Sari)

Alun-alun Taman Merdeka

Pangkalpinang-ku teruslah berkarya

Ukirlah peradaban dengan cerita yang mulia

Buatlah para leluhur kita bangga

Generasi penerus yang berhati mulia

 

Pangkalpinang-ku teruslah berkiprah

Membangun umat tanpa pernah menyerah

Bersihkan diri dari segala hal yang salah

Agar hidup kita senantiasa diridai Allah

 

Selamat ulang tahun kota Pangkalpinang

Jadilah kota yang selalu dikenang

Bagi siapa saja yang bertandang

Membawa pulang perasaan senang.

 

 

Pangkalpinang, 17 September 2021

 

Wednesday, September 15, 2021

Literasi untuk Negeri-Puisi

 

Literasi untuk Negeri

Oleh: Rosminiyati

 

Untuk apa kita ada?

Hanya diam tanpa kata

Tak meninggalkan goresan pena

Lalu, apa kata dunia?

 

Bukalah netra kita lebih lebar

Meraih cita bukan hanya angan

Saatnya kita harus belajar

Mengubah nasib dengan perjuangan

 

Man jadda wajada

Bersungguh-sungguh pasti bisa

Waktu kita semuanya sama

Tak lebih walau sedetik saja

 

Kuatkan tekad melawan kemalasan

Dengan kebaikan kita berkawan

Niatkan hati mendapatkan rida Ilahi

Janji Allah itu pasti

 

Menulislah setiap hari

Buktikan apa yang terjadi

Karya besar sudah menanti

Tanpa pernah kita sadari

 

Jadikan menulis sebagai passion kita

Merangkai kata menjadi karya bermakna

Sertakan hati dengan balutan cinta

Tulisan sederhana menjadi memesona

 

Ayo kawan, sebarkan virus literasi

Ke seantero pelosok negeri

Mulailah dari diri sendiri

Sedikit demi sedikit belajar berbagi

 

Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Gerakkan literasi untuk negeri

Bukti cinta kita pada ibu pertiwi

 

Bangunlah kawan, hari tak lagi pagi

Bergerak cepat melangkah dengan pasti

Tak perlu menunggu aba-aba dari para petinggi

Kita bisa maju bersama dengan berkolaborasi

 

Dengan literasi kita hebat

Dengan kolaborasi kita kuat

Dengan Pancasila kita bermartabat

Indonesia jaya, Indonesia sehat.

 

Pangkalpinang, 15 September 2021


Menulis, Menulis, Menulis!