Pangkalpinang, 5 November 2021
Rosminiyati
Pangkalpinang, 5 November 2021
Rosminiyati
Pengalaman adalah guru terbaik di sekolah
kehidupan. Pengalaman mengajarkan banyak hal kepada kita sebagai agen pembelajaran.
Guru kehidupan akan bermakna jika kita mampu mengambil hikmah dari setiap
pelajaran, yang kemudian melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Senin, hari pertama di bulan November
2021, kembali saya melakoni peran moderator di kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang
21 dan 22 melalui WA grup. Kali ini, narasumbernya adalah Bapak Susanto, S.Pd.,
yang biasa saya sapa Pak D dengan tema “Proofreading sebelum Menerbitkan
Tulisan”.
Pak D Susanto adalah guru menulis saya
di gelombang 19 dan di komunitas Cakrawala Guru Bloger Nasional. Dari beliau saya
belajar banyak hal tentang menulis yang benar dengan berpedoman pada KBBI dan PUEBI,
juga tentang logika alur tulisan. Beliau juga selalu memotivasi saya untuk
terus berkarya dan mengingatkan saya untuk bisa memberikan skala prioritas terhadap
banyaknya sajian kelas belajar yang tersedia.
Ada hal yang bisa dikatakan istimewa yang harus saya abadikan di sini. Saat saya melakukan konfirmasi tentang kesiapan Pak D untuk masuk ke kelas yang pada minggu ini berpusat pada gelombang 21 - gelombang 22 menerima terusan pesan, beliau menanyakan apakah beliau sudah berada di WA grup tersebut. Bergegas saya memeriksa deskripsi grup WA. Ternyata beliau masih belum tergabung di grup ini.
Ketika saya akan memasukkan nomor HP beliau ke dalam grup, ternyata muatannya penuh. Saya pun menyampaikan kondisi ini kepada beliau, dan beliau pun menyatakan tidak apa-apa. Urusan materi bisa diteruskan dari WA pribadi saya. "Hmm ... new problem! Is it serious I'll be the single fighter in 2 classes?"
Sempat termangu sejenak sambil berpikir. Akhirnya, saya teringat ada teman saya satu sekolah tempat bertugas yang belum pernah mengumpulkan resume. Saya bergegas minta izin kepada beliau untuk mengeluarkannya dari WA grup. Alhamdulillah, beliau bersedia. Selanjutnya, menjelang detik-detik terakhir menuju pukul 19.00, saya berhasil memasukkan nomor HP Pak D ke dalam grup, dan saya pun terselamatkan dari berbicara sendiri di dalam grup yang terkunci.
Berbeda dengan dua pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-4 dan ke-9), kali ini saya merasa lebih tenang dari awal hingga berakhirnya
kegiatan belajar. Saya pun sudah mulai bisa menyela penyampaian materi sebagai
respon interaktif dari narasumber.
Benarlah kata Om jay sebagai pemrakarasa
kegiatan belajar menulis ini. Kita perlu jam terbang yang banyak agar dapat menjadi
apa pun yang lebih baik. Tentu saja hal ini tidak lepas dari adanya kesempatan
pertama yang tidak kita biarkan pergi begitu saja.
Terima kasih kepada Om Jay dan Tim Solid
yang telah memberikan kesempatan pertama dan berikutnya kepada saya yang bukan
siapa-siapa. Saya hanyalah seorang yang baru menyadari pentingnya belajar
banyak hal di saat usia tak lagi muda.
Hanya ungkapan syukur yang patut saya haturkan
kepada Allah yang telah membukakan hati saya terhadap suatu perubahan, dan memberikan
saya kemudahan dalam menjalani prosesnya. Semoga apa pun yang terjadi pada diri
saya merupakan pintu kebaikan yang senantiasa mengantarkan saya kepada tujuan
yang diridai-Nya.
Pangkalpinang, 3 November 2021
Rosminiyati
Sebuah perjalanan tanpa rencana tak
selamanya membawa kesesatan yang kelam. Seperti halnya saya, sekarang dalam
keadaan tersesat di tempat yang benar. Berawal dari keinginan yang kuat untuk keluar
dari zona nyaman, kini berada di zona yang sangat nyaman. Itulah yang
disebutkan takdir baik.
Patut disyukuri, karena tak semua orang
mendapatkan kesempatan emas ini. Hanya berniat ingin belajar
menulis agar bisa berbagi, ternyata merambat ke dunia lain yang lebih menantang.
Tentu saja sama-sama memberikan manfaat bagi sesama. Itulah dunia pemandu
acara.
Kagum dengan peran moderator pada kegiatan
belajar menulis gelombang 19 via WA yang saya sebagai pesertanya, saya pun membayangkan
bagaimana rasanya menjadi moderator. Ternyata, bisikan hati saya didengar
malaikat dan diteruskan kepada Pemilik takdir.
Jumat barokah. 15 Robiul Awal,
bertepatan dengan 22 Oktober 2021, saya diberikan kesempatan mendampingi
Narasumber dalam kegiatan belajar menulis gratis PGRI gelombang 21 dan 22. Tak
tanggung-tanggung, saya membersamai Founder kegiatan belajar menulis ini. Berjuta
rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata tentunya.
Demi lancarnya acara, sejak siang saya
sudah mempersiapkan diri. Kebetulan tidak ada acara balik lagi ke sekolah
lantaran peringatan Maulid Nabi dibagi menjadi 2 sesi, tidur siang pun dilakoni.
Makan malam diganti makan sore. Selanjutnya,
memeriksa kondisi HP dan laptop agar dalam kondisi prima. Doa pun dipanjatkan
agar tidak terjadi listrik padam seperti saat pertama kali menjadi moderator
pada pertemuan ke-4.
Tepat pukul 19.00 acara dimulai. Dengan
lafal basmalah, saya mulai memandu acara. Berbeda dengan saat membersamai Narasumber
Ibu Noralia, saat ini saya merasakan jantung saya berjalan tidak normal. Tangan
saya agak gemetar. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan ini semua. Betapa
tidak! Saya, murid yang baru kemarin diajar menulis oleh Tokoh besar, founder
kegiatan belajar ini dan tim yang luar biasa, tiba-tiba mendampingi sang "mahaguru" memberikan materi di
gelombang yang baru. Ada perasaan tidak layak untuk dilakukan. Tapi, karena
beliau sendiri begitu luar biasanya memberikan amunisi berupa motivasi dan
pencerahan tanpa lelah pada saya untuk terus berkembang, akhirnya saya pun memberanikan
diri.
Alhamdulillah, sambil tak henti-hentinya
berdoa agar diberikan ketenangan, beberapa saat kemudian semuanya terkendali. Saya
sudah tenang, dan dapat membersamai Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau Om Jay sampai
acara berakhir. Sempat terjadi pemadaman listrik selama sekitar 10 menit, tetapi
tidak mempengaruhi jalannya acara.
Tak ada ucapan yang pantas saya persembahkan
kepada gurunda Om Jay dan Tim Solid-nya atas kesempatan besar yang diberikan
kepada saya. Teriring doa, semoga beliau diberikan kemudahan dan kelancaran
dalam menyelesaikan Pendidikan S3-nya. Tak lupa pula puji dan syukur kepada
Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.
Pangklapinang, 24 Oktober 2021
Rosminiyati
Perjalanan hidup memang tak dapat
ditebak. Namun, tak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semua sudah
tertulis di Laul Mahfudz yang kita belum tahu apa sebenarnya. Tugas kita
hanyalah menjalani ikhtiar secara maksimal demi menjemput takdir yang sudah
direncanakan Allah Azza wa Jalla.
Sejak bergabung di dalam kelas belajar
menulis gelombang 19, keajaiban terjadi silih berganti. Banyak hal yang saya
tidak mengerti dan menimbulkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tak dapat
menjawabnya. Entah apa rahasia Allah pada saya, tapi tentunya pastilah indah
menurut-Nya. Oleh karena itu, tugas saya hanyalah berusaha menjalankannya dengan
sebaik-baiknya.
Ahad, 10 Oktober 2021 pukul 16.42, ada
chat WA dari Ms. Phia, salah satu Tim Solid Om Jay - Tim belajar menulis PGRI.
Beliau menanyakan kesanggupan saya untuk menjadi moderator pada minggu kedua
kegiatan belajar menulis gelombang 21 dan 22. Tanpa berpikir panjang, saya pun
menjawab bahwa saya bisa. Setelah itu, saya berpikir, apakah benar saya bisa?
Beberapa hari sebelumnya, saya memang
sudah digabungkan Ibu Aam di dalam WA grup Tim solid Om Jay. Namun, sejauh itu,
saya tidak tahu apa peran saya, karena memang saya belum mengerti apa-apa. Oh,
ternyata di sini tempat saya belajar menjadi moderator. Ya, “moderator magang”
saya menyebutnya.
Sambil meraba-raba apa yang harus saya
lakukan sebagai pemandu acara belajar via chat WA, saya pun menggencarkan gerakan usaha. Meminta
arahan dari Ibu Maesaroh, selanjutnya minta izin kepada Om Jay. Rambu-rambu dari Pak Dail juga saya jadikan
pedoman. Buku “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online” milik Bu Aam pun tak
luput menjadi sasaran.
Chat WA pada saat belajar saya buka kembali untuk melihat-lihat
gaya masing-masing moderator membersamai narasumber. Wah, sepertinya
berat-berat semua yang saya tak mungkin mengikutinya. Mereka adalah para
moderator andal yang tak terkalahkan. Saya hanya mampu mengikuti bagian yang
ringan-ringannya saja dengan harapan tidak mengurangi esensi peran moderator
itu sendiri.
Pukul 17.20 saya mengirim pesan kepada
Ibu Nora, bahwa saya meminta waktu untuk memulai dengan penyampaian sedikit
motivasi yang saya perkirakan tidak sampai 10 menit. Penyampaian ini saya maksudkan
agar Bu Nora tidak menunggu terlalu lama. Namun, jawaban Bu Nora di luar dugaan
saya. Beliau baru saja mau menyampaikan bahwa beliau terlambat 15 menit karena
sedang mengikuti pelatihan di luar jaringan (luring).
Tepat pukul 19.00 saya minta izin
mengunci grup kepada guru hebat peserta belajar menulis gelombang 21 dan 22. Mulailah
saya beraksi ala moderator sejati (ha … ha …). Atas izin Om Jay, saya
memberanikan diri memberikan motivasi kepada seluruh peserta belajar agar
mereka bersemangat mengikuti dan menyelesaikan kuliah malam sampai tuntas. Hal
ini saya lakukan berangkat dari keprihatinan saya tentang sedikitnya yang
mengumpulkan resume padahal jumlah pasukan di masing-masing gelombang 200-an.
Sampai di sini, perjalanan memandu kelas
aman-aman saja. Setelah menayangkan video pembacaan puisi tentang semangat
literasi milik saya sendiri, saya mengintip kesiapan Ibu Nora di seberang sana
khawatir beliau menunggu lama. Pukul 19.19 WIB saya mengirimkan chat,
“Sudah siap, Bu?” Chat pun berbalas, “Sebentar, Bu. Baru sampai rumah. 5
menit lagi nggih,” balas beliau dengan sisipan bahasa Jawa yang belakangan ini
sering saya simak di kolom chat.
Setelah membaca pesan tersebut, saya
merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam sanubari saya. Ada juga tamparan pada
mental saya yang tak bisa saya elak. Ternyata, orang-orang yang tergabung dalam
Tim Solid Om Jay benar-benar orang yang tangguh, pejuang sejati, tulus, tanpa
pamrih. Mereka juga seperti mempunyai 1.000 nyawa untuk melakukan 1 kegiatan ke
kegiatan lainnya. Lalu, saya ini siapa? "Ya Allah … saya bukanlah siapa-siapa …," begitu lirih suara nurani saya berbisik. Di sini, saya mendapatkan pelajaran
yang utama.
Pukul 19.20 masuk pesan lagi dari Bu
Nora yang menyatakan bahwa beliau belum dijadikan admin. Akhirnya, sambil
menunggu beliau mempersiapkan diri, saya membagikan profil Bu Nora kepada para
peserta. Saya juga segera menjadikan Bu Nora sebagai admin di gelombang 22 dan
memasukkan sekaligus menjadikan beliau admin di gelombang 21. Bagian ini
benar-benar di luar pengetahuan saya. Ternyata, memeriksa kondisi tentang
keberadaan narasumber di dalam grup WA kelas belajar sebelum kegiatan dimulai,
harus pula menjadi perhatian. Ini merupakan pelajaran kedua yang saya
dapatkan.
Pukul 19.28, Ibu Nora memasuki kelas.
Alhamdulillah, saya lega. Akhirnya Ibu Nora sudah siap dan dapat meluncur ke WA
grup gelombang 22. Saya menunggu Ibu Nora meneruskan pesan pertamanya ke
gelombang 21. Ternyata, sudah agak lama tidak kunjung ada. Lalu, saya berpikir
cepat. Oh, ternyata, itu merupakan tugas moderator juga. Dengan sigap saya
teruskan pesan demi pesan dari Bu Nora ke grup sebelah meskipun ada beberapa yang selip (he ... he ...) Ini
pelajaran ketiga.
Saya mulai menikmati acara yang sedang
berjalan. Beberapa pesan sponsor memberikan dukungan datang dari WA pribadi
maupun grup. Ya Allah … saya terharu. Ternyata, begitu banyak orang yang peduli
dan mendoakan keberlangsungan saya dalam dunia literasi ini. Begitu indah jalan
yang Allah berikan kepada saya.
Acara penyampaian materi oleh Bu Nora
berjalan lancar hingga sesi pertanyaan. Kelincahan tangan saya dalam meneruskan
pesan pun mulai datang. Ada kebingungan terjadi pada pemberian label pertanyaan
peserta. Tak terpikir bertanya tentang hal tersebut membuat saya harus
mencoba-coba tentang caranya. Alhamdulillah, akhirnya saya temukan juga caranya
dengan bermodalkan kecerdasan yang diberikan Allah yang masih sedikit tersisa di masa
tua.
Sampai pada pertanyaan ke-9, semuanya
masih berjalan aman. Pukul 20.58 WIB
listrik padam, sementara pertanyaan belum selesai. Tidak ada orang lain di
rumah. Suami dan anak saya kebetulan sedang ada keperluan di luar. Dalam
kegelapan, hanya bermodalkan cahaya dari gawai, saya mencari lampu senter.
Alhamdulillah, pertanyaan nomor 10 masih bisa diteruskan dengan pengalihan koneksi
dari Indihome ke hotspot data seluler.
Menjelang pertanyaan ke-11, kuota data
ternyata juga habis. Hal ini diketahui pada saat pesan itu tidak terkirim ke
tujuannya. Ya Allah … saya terpaku sejenak. Hal tak biasa terjadi pada diri saya. Biasanya, apabila ada masalah, saya panik. Kali ini saya
bisa tenang dengan setenang-tenangnya. Ada terbersit untuk menghubungi Tim Solid
agar bisa mengambil alih, tapi tidak mungkin, karena masalahnya pada kuota data
internet. Akhirnya, dengan menggunakan jalur telepon biasa, saya menghubungi
adik saya untuk mengisi kuota internet saya. Alhamdulillah, respon adik saya
sangat cepat. Pertolongan Allah tiba pada saat yang tepat. Akhirnya, acara
dapat diselesaikan meskipun dengan perasaan sedikit terburu-buru karena khawatir
baterai juga akan habis.
Ada pembelajaran keempat yang saya
dapatkan dari peristiwa terakhir.
Kuota data internet harus cukup tersedia, sehingga harus pula diperkisa sebelum
memulai acara. Tak ketinggalan, baterai HP dan laptop juga harus dalam keadaan
prima sebagai antisipasi pemadaman listrik terjadi.
Setelah melalui serangkaian peran sebagai moderator magang, kini saya semakin kagum dengan para moderator andal yang selama ini sudah memandu kami belajar. Betapa sigap, cerdas, dan cermatnya mereka memerankan diri sebagai pemandu acara hingga tak ada pesan yang tertinggal.
Apa pun keadaan yang sudah terjadi,
pengalaman menjadi moderator magang dengan segala kendalanya merupakan
pengalaman yang tak terlupakan. Rasa syukur tiada henti atas kesempatan yang telah
diberikan oleh Om Jay dan Tim. Bersyukur pula telah dipertemukan dengan
orang-orang baik yang ada di sekeliling saya yang tak pernah lelah berbagi, menginspirasi, dan memberikan dukungan.
Hikmah besar di balik peristiwa, yaitu
harus meningkatkan ketelitian, senantiasa bersyukur atas setiap keadaan, dan teruslah
berbagi kebaikan. Tak kalah pentingnya, mulailah setiap perbuatan baik dengan ucapan
basmalah, maka kemudahan akan senantiasa menyertai.
Pangklapinang, 12 Oktober 2021
Rosminiyati