Showing posts with label Moderator. Show all posts
Showing posts with label Moderator. Show all posts

Tuesday, November 9, 2021

Jejak Langkah Moderator GMLD


Anak-anak adalah buah hati, penyejuk jiwa, pelipur lara, dambaan dan harapan masa depan keluarga dan bangsa. Di pundak merekalah masa depan negeri ini diamanahkan. Di luar semua itu, ancaman keamanan mereka terjadi di mana saja, tak terkecuali di dunia maya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengambil langkah preventif agar anak-anak kita terlidungi dari ancaman-ancaman dalam bentuk apa pun.

Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) pertemuan keempat dilaksanakan pada Senin, 8 November 2021. Materi pada pertemuan ini “Yuk Cegah Cyber Bullying” dengan narasumber Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau biasa disapa Om Jay. Beliau mengupas tuntas tentang cara-cara mencegah cyber bullying (perundungan dunia maya).

Sesuai dengan jadwal yang telah disusun, seyogianya narasumber pada pertemuan ini adalah Bapak Munif Chatib. Namun, karena beliau sedang dalam kondisi kurang sehat - demikian yang disampaikan kepada saya saat dikonfirmasi, posisi ini akhirnya diambil alih oleh sang pemrakarsa kegiatan GMLD ini.

Selaku moderator yang diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Om Jay, saya berusaha semaksimal mungkin meskipun sempat mengerutkan kening lantaran kengerian melanda. Betapa tidak! Saya yang baru 3 kali memandu kegiatan Belajar Menulis dengan 2 WA grup saja sempat kebingungan, kali ini harus berhadapan dengan 6 WA grup sekaligus. Namun, sebagai seorang pejuang yang tak akan mundur sebelum berperang, saya harus mampu mengalahkan segala bentuk kegalauan. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk menguji kesetiaan, ketangguhan, dan tanggung jawab.

Kurang lebih 15 menit menuju pukul 16.00, saya tiba dari sekolah. Bergegas mandi, dilanjutkan membuka laptop dan menggenggam gawai. Pertarungan siap dimulai. Sang moderator pemula mulai memainkan jari-jari renta di atas keyped gawai. Sementara, layar monitor laptop menjalankan perannya sendiri sebagai pemantau. Fokus di GMLD 2!

Pada awal kegiatan, sempat tersendat lantaran grup GMLD 1 - 6 tidak berada dalam layar yang berdekatan. Hal ini disebabkan banyaknya chat yang masuk di sela-sela WA grup GMLD. Akibatnya, sang ibu jari dan netra harus menari lebih lincah lagi dalam mencari keberadaan masing-masing pasukan.

Alhamdulillah, berkat bimbingan dan kemudahan yang senantiasa dilimpahkan Allah, kegiatan memandu para guru hebat dalam kegiatan pelatihan Guru Motivator Literasi Digital berjalan dengan lancar. Begitu dahsyatnya materi yang disampaikan oleh Om Jay, pertanyaan pun berdatangan begitu banyaknya. Akibatnya, hingga azan Maghrib, tidak semua pertanyaan dapat dibahas seluruhnya. Solusinya, Om Jay menawarkan agar para peserta yang pertanyaannya belum sempat dijawab, dapat langsung bertanya ke WA pribadi beliau.

Ada rasa tak biasa yang mengalir perlahan dalam sanubari. Entah rasa apa, saya tidak bisa mengutarakannya. Selanjutnya, salut dan hormat saya semakin bertambah kepada sang guru literasi sebagai pelopor dan penggerak kegiatan ini. Saya juga merasa kagum atas semangat para guru hebat peserta pelatihan ini, dan bangga kepada kawan-kawan panitia yang selalu menguatkan dan memotivasi.

Tak ada yang sia-sia dari sebuah kebaikan yang diniatkan dan dijalankan. Berbagai keajaiban mengikuti tiada henti. Sebuah kerugian jika kesempatan dibiarkan berlalu tanpa ikhtiar. Takdir tak ada yang tahu, namun nasib harus diperjuangkan agar takdir baik dapat diraih.

Terima kasih kepada gurunda Om Jay, kawan-kawan tim GMLD, dan peserta GMLD. Berkat kesamaam visi dan misi, serta adanya kolaborasi, acara ini dapat berjalan dengan baik. Semoga apa yang kita lakukan memberikan manfaat yang tak terhingga bagi masyarakat luas, khususnya bagi anak-anak didik kita.

 

Pangkalpinang, 5 November 2021

Rosminiyati

Wednesday, November 3, 2021

Jejak Langkah Moderator Pemula

 


Pengalaman adalah guru terbaik di sekolah kehidupan. Pengalaman mengajarkan banyak hal kepada kita sebagai agen pembelajaran. Guru kehidupan akan bermakna jika kita mampu mengambil hikmah dari setiap pelajaran, yang kemudian melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.  

Senin, hari pertama di bulan November 2021, kembali saya melakoni peran moderator di kelas Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22 melalui WA grup. Kali ini, narasumbernya adalah Bapak Susanto, S.Pd., yang biasa saya sapa Pak D dengan tema “Proofreading sebelum Menerbitkan Tulisan”.

Pak D Susanto adalah guru menulis saya di gelombang 19 dan di komunitas Cakrawala Guru Bloger Nasional. Dari beliau saya belajar banyak hal tentang menulis yang benar dengan berpedoman pada KBBI dan PUEBI, juga tentang logika alur tulisan. Beliau juga selalu memotivasi saya untuk terus berkarya dan mengingatkan saya untuk bisa memberikan skala prioritas terhadap banyaknya sajian kelas belajar yang tersedia.

Ada hal yang bisa dikatakan istimewa yang harus saya abadikan di sini. Saat saya melakukan konfirmasi tentang kesiapan Pak D untuk masuk ke kelas yang pada minggu ini berpusat pada gelombang 21 - gelombang 22 menerima terusan pesan, beliau menanyakan apakah beliau sudah berada di WA grup tersebut. Bergegas saya memeriksa deskripsi grup WA. Ternyata beliau masih belum tergabung di grup ini. 

Ketika saya akan memasukkan nomor HP beliau ke dalam grup, ternyata muatannya penuh. Saya pun menyampaikan kondisi ini kepada beliau, dan beliau pun menyatakan tidak apa-apa. Urusan materi bisa diteruskan dari WA pribadi saya. "Hmm ... new problem! Is it serious I'll be the single fighter in 2 classes?"

Sempat termangu sejenak sambil berpikir. Akhirnya, saya teringat ada teman saya satu sekolah tempat bertugas yang belum pernah mengumpulkan resume. Saya bergegas minta izin kepada beliau untuk mengeluarkannya dari WA grup. Alhamdulillah, beliau bersedia. Selanjutnya, menjelang detik-detik terakhir menuju pukul 19.00, saya berhasil memasukkan nomor HP Pak D ke dalam grup, dan saya pun terselamatkan dari berbicara sendiri di dalam grup yang terkunci. 

Berbeda dengan dua pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-4 dan ke-9), kali ini saya merasa lebih tenang dari awal hingga berakhirnya kegiatan belajar. Saya pun sudah mulai bisa menyela penyampaian materi sebagai respon interaktif dari narasumber.

Benarlah kata Om jay sebagai pemrakarasa kegiatan belajar menulis ini. Kita perlu jam terbang yang banyak agar dapat menjadi apa pun yang lebih baik. Tentu saja hal ini tidak lepas dari adanya kesempatan pertama yang tidak kita biarkan pergi begitu saja.

Terima kasih kepada Om Jay dan Tim Solid yang telah memberikan kesempatan pertama dan berikutnya kepada saya yang bukan siapa-siapa. Saya hanyalah seorang yang baru menyadari pentingnya belajar banyak hal di saat usia tak lagi muda.

Hanya ungkapan syukur yang patut saya haturkan kepada Allah yang telah membukakan hati saya terhadap suatu perubahan, dan memberikan saya kemudahan dalam menjalani prosesnya. Semoga apa pun yang terjadi pada diri saya merupakan pintu kebaikan yang senantiasa mengantarkan saya kepada tujuan yang diridai-Nya.

 

Pangkalpinang, 3 November 2021

Rosminiyati

Sunday, October 24, 2021

2 Jam bersama sang Founder Kelas Belajar Menulis

 


Sebuah perjalanan tanpa rencana tak selamanya membawa kesesatan yang kelam. Seperti halnya saya, sekarang dalam keadaan tersesat di tempat yang benar. Berawal dari keinginan yang kuat untuk keluar dari zona nyaman, kini berada di zona yang sangat nyaman. Itulah yang disebutkan takdir baik.

Patut disyukuri, karena tak semua orang mendapatkan kesempatan emas ini. Hanya berniat ingin belajar menulis agar bisa berbagi, ternyata merambat ke dunia lain yang lebih menantang. Tentu saja sama-sama memberikan manfaat bagi sesama. Itulah dunia pemandu acara.

Kagum dengan peran moderator pada kegiatan belajar menulis gelombang 19 via WA yang saya sebagai pesertanya, saya pun membayangkan bagaimana rasanya menjadi moderator. Ternyata, bisikan hati saya didengar malaikat dan diteruskan kepada Pemilik takdir.

Jumat barokah. 15 Robiul Awal, bertepatan dengan 22 Oktober 2021, saya diberikan kesempatan mendampingi Narasumber dalam kegiatan belajar menulis gratis PGRI gelombang 21 dan 22. Tak tanggung-tanggung, saya membersamai Founder kegiatan belajar menulis ini. Berjuta rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata tentunya.

Demi lancarnya acara, sejak siang saya sudah mempersiapkan diri. Kebetulan tidak ada acara balik lagi ke sekolah lantaran peringatan Maulid Nabi dibagi menjadi 2 sesi, tidur siang pun dilakoni.  Makan malam diganti makan sore. Selanjutnya, memeriksa kondisi HP dan laptop agar dalam kondisi prima. Doa pun dipanjatkan agar tidak terjadi listrik padam seperti saat pertama kali menjadi moderator pada pertemuan ke-4.

Tepat pukul 19.00 acara dimulai. Dengan lafal basmalah, saya mulai memandu acara. Berbeda dengan saat membersamai Narasumber Ibu Noralia, saat ini saya merasakan jantung saya berjalan tidak normal. Tangan saya agak gemetar. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan ini semua. Betapa tidak! Saya, murid yang baru kemarin diajar menulis oleh Tokoh besar, founder kegiatan belajar ini dan tim yang luar biasa, tiba-tiba mendampingi sang "mahaguru" memberikan materi di gelombang yang baru. Ada perasaan tidak layak untuk dilakukan. Tapi, karena beliau sendiri begitu luar biasanya memberikan amunisi berupa motivasi dan pencerahan tanpa lelah pada saya untuk terus berkembang, akhirnya saya pun memberanikan diri.

Alhamdulillah, sambil tak henti-hentinya berdoa agar diberikan ketenangan, beberapa saat kemudian semuanya terkendali. Saya sudah tenang, dan dapat membersamai Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau Om Jay sampai acara berakhir. Sempat terjadi pemadaman listrik selama sekitar 10 menit, tetapi tidak mempengaruhi jalannya acara.

Tak ada ucapan yang pantas saya persembahkan kepada gurunda Om Jay dan Tim Solid-nya atas kesempatan besar yang diberikan kepada saya. Teriring doa, semoga beliau diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan Pendidikan S3-nya. Tak lupa pula puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.

 

Pangklapinang, 24 Oktober 2021

Rosminiyati


Tuesday, October 12, 2021

Kisah Moderator Magang dan Listrik Padam

 


Perjalanan hidup memang tak dapat ditebak. Namun, tak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semua sudah tertulis di Laul Mahfudz yang kita belum tahu apa sebenarnya. Tugas kita hanyalah menjalani ikhtiar secara maksimal demi menjemput takdir yang sudah direncanakan Allah Azza wa Jalla.

Sejak bergabung di dalam kelas belajar menulis gelombang 19, keajaiban terjadi silih berganti. Banyak hal yang saya tidak mengerti dan menimbulkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tak dapat menjawabnya. Entah apa rahasia Allah pada saya, tapi tentunya pastilah indah menurut-Nya. Oleh karena itu, tugas saya hanyalah berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Ahad, 10 Oktober 2021 pukul 16.42, ada chat WA dari Ms. Phia, salah satu Tim Solid Om Jay - Tim belajar menulis PGRI. Beliau menanyakan kesanggupan saya untuk menjadi moderator pada minggu kedua kegiatan belajar menulis gelombang 21 dan 22. Tanpa berpikir panjang, saya pun menjawab bahwa saya bisa. Setelah itu, saya berpikir, apakah benar saya bisa?

Beberapa hari sebelumnya, saya memang sudah digabungkan Ibu Aam di dalam WA grup Tim solid Om Jay. Namun, sejauh itu, saya tidak tahu apa peran saya, karena memang saya belum mengerti apa-apa. Oh, ternyata di sini tempat saya belajar menjadi moderator. Ya, “moderator magang” saya menyebutnya.

Sambil meraba-raba apa yang harus saya lakukan sebagai pemandu acara belajar via chat WA, saya pun menggencarkan gerakan usaha. Meminta arahan dari Ibu Maesaroh, selanjutnya minta izin kepada Om Jay.  Rambu-rambu dari Pak Dail juga saya jadikan pedoman. Buku “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online” milik Bu Aam pun tak luput menjadi sasaran.

Chat WA pada saat belajar saya buka kembali untuk melihat-lihat gaya masing-masing moderator membersamai narasumber. Wah, sepertinya berat-berat semua yang saya tak mungkin mengikutinya. Mereka adalah para moderator andal yang tak terkalahkan. Saya hanya mampu mengikuti bagian yang ringan-ringannya saja dengan harapan tidak mengurangi esensi peran moderator itu sendiri.

Pukul 17.20 saya mengirim pesan kepada Ibu Nora, bahwa saya meminta waktu untuk memulai dengan penyampaian sedikit motivasi yang saya perkirakan tidak sampai 10 menit. Penyampaian ini saya maksudkan agar Bu Nora tidak menunggu terlalu lama. Namun, jawaban Bu Nora di luar dugaan saya. Beliau baru saja mau menyampaikan bahwa beliau terlambat 15 menit karena sedang mengikuti pelatihan di luar jaringan (luring). 

Tepat pukul 19.00 saya minta izin mengunci grup kepada guru hebat peserta belajar menulis gelombang 21 dan 22. Mulailah saya beraksi ala moderator sejati (ha … ha …). Atas izin Om Jay, saya memberanikan diri memberikan motivasi kepada seluruh peserta belajar agar mereka bersemangat mengikuti dan menyelesaikan kuliah malam sampai tuntas. Hal ini saya lakukan berangkat dari keprihatinan saya tentang sedikitnya yang mengumpulkan resume padahal jumlah pasukan di masing-masing gelombang 200-an.

Sampai di sini, perjalanan memandu kelas aman-aman saja. Setelah menayangkan video pembacaan puisi tentang semangat literasi milik saya sendiri, saya mengintip kesiapan Ibu Nora di seberang sana khawatir beliau menunggu lama. Pukul 19.19 WIB saya mengirimkan chat, “Sudah siap, Bu?” Chat pun berbalas, “Sebentar, Bu. Baru sampai rumah. 5 menit lagi nggih,” balas beliau dengan sisipan bahasa Jawa yang belakangan ini sering saya simak di kolom chat.

Setelah membaca pesan tersebut, saya merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam sanubari saya. Ada juga tamparan pada mental saya yang tak bisa saya elak. Ternyata, orang-orang yang tergabung dalam Tim Solid Om Jay benar-benar orang yang tangguh, pejuang sejati, tulus, tanpa pamrih. Mereka juga seperti mempunyai 1.000 nyawa untuk melakukan 1 kegiatan ke kegiatan lainnya. Lalu, saya ini siapa? "Ya Allah … saya bukanlah siapa-siapa …," begitu lirih suara nurani saya berbisik. Di sini, saya mendapatkan pelajaran yang utama.

Pukul 19.20 masuk pesan lagi dari Bu Nora yang menyatakan bahwa beliau belum dijadikan admin. Akhirnya, sambil menunggu beliau mempersiapkan diri, saya membagikan profil Bu Nora kepada para peserta. Saya juga segera menjadikan Bu Nora sebagai admin di gelombang 22 dan memasukkan sekaligus menjadikan beliau admin di gelombang 21. Bagian ini benar-benar di luar pengetahuan saya. Ternyata, memeriksa kondisi tentang keberadaan narasumber di dalam grup WA kelas belajar sebelum kegiatan dimulai, harus pula menjadi perhatian. Ini merupakan pelajaran kedua yang saya dapatkan.

Pukul 19.28, Ibu Nora memasuki kelas. Alhamdulillah, saya lega. Akhirnya Ibu Nora sudah siap dan dapat meluncur ke WA grup gelombang 22. Saya menunggu Ibu Nora meneruskan pesan pertamanya ke gelombang 21. Ternyata, sudah agak lama tidak kunjung ada. Lalu, saya berpikir cepat. Oh, ternyata, itu merupakan tugas moderator juga. Dengan sigap saya teruskan pesan demi pesan dari Bu Nora ke grup sebelah meskipun ada beberapa yang selip (he ... he ...) Ini pelajaran ketiga.

Saya mulai menikmati acara yang sedang berjalan. Beberapa pesan sponsor memberikan dukungan datang dari WA pribadi maupun grup. Ya Allah … saya terharu. Ternyata, begitu banyak orang yang peduli dan mendoakan keberlangsungan saya dalam dunia literasi ini. Begitu indah jalan yang Allah berikan kepada saya.

Acara penyampaian materi oleh Bu Nora berjalan lancar hingga sesi pertanyaan. Kelincahan tangan saya dalam meneruskan pesan pun mulai datang. Ada kebingungan terjadi pada pemberian label pertanyaan peserta. Tak terpikir bertanya tentang hal tersebut membuat saya harus mencoba-coba tentang caranya. Alhamdulillah, akhirnya saya temukan juga caranya dengan bermodalkan kecerdasan yang diberikan Allah yang masih sedikit tersisa di masa tua.

Sampai pada pertanyaan ke-9, semuanya masih berjalan aman.  Pukul 20.58 WIB listrik padam, sementara pertanyaan belum selesai. Tidak ada orang lain di rumah. Suami dan anak saya kebetulan sedang ada keperluan di luar. Dalam kegelapan, hanya bermodalkan cahaya dari gawai, saya mencari lampu senter. Alhamdulillah, pertanyaan nomor 10 masih bisa diteruskan dengan pengalihan koneksi dari Indihome ke hotspot data seluler.

Menjelang pertanyaan ke-11, kuota data ternyata juga habis. Hal ini diketahui pada saat pesan itu tidak terkirim ke tujuannya. Ya Allah … saya terpaku sejenak. Hal tak biasa terjadi pada diri saya. Biasanya, apabila ada masalah, saya panik. Kali ini saya bisa tenang dengan setenang-tenangnya. Ada terbersit untuk menghubungi Tim Solid agar bisa mengambil alih, tapi tidak mungkin, karena masalahnya pada kuota data internet. Akhirnya, dengan menggunakan jalur telepon biasa, saya menghubungi adik saya untuk mengisi kuota internet saya. Alhamdulillah, respon adik saya sangat cepat. Pertolongan Allah tiba pada saat yang tepat. Akhirnya, acara dapat diselesaikan meskipun dengan perasaan sedikit terburu-buru karena khawatir baterai juga akan habis.

Ada pembelajaran keempat yang saya dapatkan dari peristiwa terakhir. Kuota data internet harus cukup tersedia, sehingga harus pula diperkisa sebelum memulai acara. Tak ketinggalan, baterai HP dan laptop juga harus dalam keadaan prima sebagai antisipasi pemadaman listrik terjadi.

Setelah melalui serangkaian peran sebagai moderator magang, kini saya semakin kagum dengan para moderator andal yang selama ini sudah memandu kami belajar. Betapa sigap, cerdas, dan cermatnya mereka memerankan diri sebagai pemandu acara hingga tak ada pesan yang tertinggal. 

Apa pun keadaan yang sudah terjadi, pengalaman menjadi moderator magang dengan segala kendalanya merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Rasa syukur tiada henti atas kesempatan yang telah diberikan oleh Om Jay dan Tim. Bersyukur pula telah dipertemukan dengan orang-orang baik yang ada di sekeliling saya yang tak pernah lelah berbagi, menginspirasi, dan memberikan dukungan.

Hikmah besar di balik peristiwa, yaitu harus meningkatkan ketelitian, senantiasa bersyukur atas setiap keadaan, dan teruslah berbagi kebaikan. Tak kalah pentingnya, mulailah setiap perbuatan baik dengan ucapan basmalah, maka kemudahan akan senantiasa menyertai.

 

Pangklapinang, 12 Oktober 2021

Rosminiyati

 


Menulis, Menulis, Menulis!