Judul : Pelatihan Belajar Berbicara PGRI
Resume ke : 1
Gelombang : 5
Tanggal :
1 Februari 2022
Tema : Berbicara Efektif di Dunia Digital
Narasumber : Ajun
Pujang Anom
Moderator : Sunarmi
Kekuatan alam dari pojok hati terdalam terus
menggelitik nyali untuk menggali bongkahan-bongkahan ilmu yang bertebaran.
Setelah gagal menimbun ilmu berbicara pada episode sebelumnya lantaran kekuatan
minim yang tak kuat menyokong padatnya kegiatan, kini mencoba bertarung kembali
untuk melanjutkan penggalian. Semoga diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuat.
Mengangkat tema “Berbicara Efektif di
Dunia Digital”, pertemuan pertama ini masih saja menggugah selera meskipun pada
gelombang sebelumnya saya pernah membuat resume dengan tema yang sama. Tentu
saja, pembicara yang berbeda akan menyuguhkan isi materi yang berbeda pula.
Dimoderatori oleh Ibu Sunarmi yang ramah
dan selalu memotivasi, semakin memberikan ruang gerak yang semakin sempurna
bagi peserta untuk berbicara. Pak Ajun sebagai Narasumber sepertinya tak kalah
gesit memancing peserta untuk aktif mengeluarkan suara emasnya. Alhasil, saya
yang biasanya sering tidak PD untuk berbicara di depan umum, jadi begitu
lancarnya meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang terus bersambung. Efeknya,
hadiah yang tak terduga saya terima bersama beberapa peserta lainnya.
Pak Ajun memulai materi dengan meminta
peserta untuk mengambil buku, alat tulis, dan sebotol air. Para peserta pun
menyediakan itu semua, kecuali saya. Bukannya saya tidak patuh, melainkan karena
saya terlambat masuk ruang zoom. Saya mengetahui instruksi saat perlengkapan
tersebut sudah tersedia di dekat para peserta. Jika saya baru melakukannya,
berarti saya akan kehilangan informasi selanjutnya.
Pertanyaan pun bermunculan terkait
instruksi tersebut. Ternyata, itu semua tidak ada hubungannya dengan tema. Hal
itu dilakukan untuk sekedar memancing reaksi peserta sekaligus memberikan
contoh tentang kepatuhan siswa terhadap gurunya, yang tentu saja seringnya kita
jumpai siswa yang menyangkal gurunya.
Pak ajun Ajun memulai materi dengan
menanyakan kapan kami terakhir berbicara di depan umum. Otomatis, pertanyaan
itu memancing peserta untuk berbicara yang lumayan panjang. Beberapa peserta
mulai satu persatu menguraikan ceritanya sesuai dengan pengalaman
masing-masing. Saya sendiri, melakukan itu pada bulan Desember tahun lalu, saat
bertugas sebagai Narasumber pada “Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan
Plaform Blog” di sekolah sendiri. Awalnya agak gugup, kemudian biasa saja,
dilanjutkan rasa gembira yang luar biasa pada saat audience kita
bersemangat mengikuti materi yang kita sajikan. Kuncinya satu, menguasai
materi.
Selanjutnya materi disampaikan
berdasarkan pertanyaan peserta. Pak Ajun menguraikan jawaban atas pertanyaan peserta
secara tuntas. Terkait menumbuhkan rasa percaya diri berbicara di depan umum
saat menjadi narasumber, khususnya motivator, sangat erat kaitannya dengan jam
terbang alias pengalaman. Menurut Pak Ajun, hal pertama yang harus dipersiapkan
agar percaya diri (PD) di depan umum adalah penampilan, khususnya pakaian.
Untuk itu, kenakanlah pakaian formal, akan lebih baik jika jas.
Langkah berikutnya adalah berlatih
tersenyum sebelum masuk ke ruangan. Sepintas, hal ini terdengar sepele, namun
kenyataannya tidak semua orang bisa menampilkan wajah yang manis. Untuk itulah
perlunya latihan.
Berikutnya yang perlu diperhatikan
adalah gestur. Triknya dengan banyak gerak. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan
atau membingungkan peserta, karena pada dasarnya manusia itu cuma mempunyai
satu fokus saja. Tak kalah menarik, trik selanjutnya adalah dengan membawa buku
tebal, dengan asumsi orang yang membawa buku tebal dianggap smart.
Agar materi yang disampaikan padat dan berbobot,
kita perlu membaginya menjadi bagian-bagian berikut: definisi, jika penting
cukup 30 persen, dilanjutkan dengan narasi/latar belakang, dan isi. Persiapan
materi yang bagus harus pula diimbangi dengan penyampaian yang bersemangat dan
suara yang jelas. Jika tidak, maka materi tersebut menjadi tidak berguna.
Untuk mengatasi penyampaian materi tidak
berulang, perlu dilakukan dokumentasi dengan mencatat dan merekam, dan dibuat
peta konsep dengan cara membaca lebih banyak referensi serta mencari sesuatu
yang baru agar cakrawala lebih luas. Hal ini juga penting untuk mempersiapkan
diri menjawab pertanyaan peserta.
Untuk mengatasi peserta yang tidak fokus
terhadap materi yang disajikan, kita harus melakukan trik sesuai dengan usia.
Untuk orang dewasa bisa dilakukan dengan intonasi, joke, sentuhan agama,
mengutip ucapan tokoh-tokoh.
Tak jarang, seorang pembicara di depan
umum mengalami demam panggung (glossophobia). Oleh karena itu, bagi pemula
perlu melakukan latihan sebelum naik ke panggung. Semakin banyak kita tampil,
akan semakin berkurang demam panggung tersebut.
Selain
itu, ada trik yang dapat membantu mengatasi demam panggung, yaitu:
1.
Minum air putih (mengatasi kurang oksigen)
2
. Gerakan tubuh, tangan, kepala (menghilangkan stres)
3. Bawa sesuatu yang kecil yang bisa
dipegang, seperti pena, dll.
Terkait presentasi online,
hal-hal yang harus diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut: pakaian
hendaknya rapi dan sopan; pencahayaan yang baik; dan slide putih polos,
karena slide presentasi yang indah-indah teryata tidak terserap oleh otak. Trik
agar saat memaparkan materi secara online sukses, kitab isa melakukan
hal-hal berikut: perubahan pola pikir; siapkan mental, jangan baper; dan
background harus kosong, jangan ada benda-benda yang mengganggu dan suara-suara
berisik.
Demikianlah materi yang mampu saya rekam
dari paparan yang disajikan oleh Pak Ajun, yang dapat disimpulkan menjadi dua
hal, yaitu memperbanyak jam terbang dan membuat dokumentasi tentang pelaksanaan
presentasi.
Pangkalpinang, 1 Februari 2022
Rosminiyati