Tuesday, February 1, 2022

Berbicara Efektif di Dunia Digital

 



Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke        :    1

Gelombang       :    5

Tanggal             :    1 Februari 2022

Tema                 :    Berbicara Efektif di Dunia Digital

Narasumber      :    Ajun Pujang Anom

Moderator          :    Sunarmi

 

Kekuatan alam dari pojok hati terdalam terus menggelitik nyali untuk menggali bongkahan-bongkahan ilmu yang bertebaran. Setelah gagal menimbun ilmu berbicara pada episode sebelumnya lantaran kekuatan minim yang tak kuat menyokong padatnya kegiatan, kini mencoba bertarung kembali untuk melanjutkan penggalian. Semoga diberikan kekuatan oleh Yang Maha Kuat.

Mengangkat tema “Berbicara Efektif di Dunia Digital”, pertemuan pertama ini masih saja menggugah selera meskipun pada gelombang sebelumnya saya pernah membuat resume dengan tema yang sama. Tentu saja, pembicara yang berbeda akan menyuguhkan isi materi yang berbeda pula.

Dimoderatori oleh Ibu Sunarmi yang ramah dan selalu memotivasi, semakin memberikan ruang gerak yang semakin sempurna bagi peserta untuk berbicara. Pak Ajun sebagai Narasumber sepertinya tak kalah gesit memancing peserta untuk aktif mengeluarkan suara emasnya. Alhasil, saya yang biasanya sering tidak PD untuk berbicara di depan umum, jadi begitu lancarnya meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang terus bersambung. Efeknya, hadiah yang tak terduga saya terima bersama beberapa peserta lainnya.

Pak Ajun memulai materi dengan meminta peserta untuk mengambil buku, alat tulis, dan sebotol air. Para peserta pun menyediakan itu semua, kecuali saya. Bukannya saya tidak patuh, melainkan karena saya terlambat masuk ruang zoom. Saya mengetahui instruksi saat perlengkapan tersebut sudah tersedia di dekat para peserta. Jika saya baru melakukannya, berarti saya akan kehilangan informasi selanjutnya.

Pertanyaan pun bermunculan terkait instruksi tersebut. Ternyata, itu semua tidak ada hubungannya dengan tema. Hal itu dilakukan untuk sekedar memancing reaksi peserta sekaligus memberikan contoh tentang kepatuhan siswa terhadap gurunya, yang tentu saja seringnya kita jumpai siswa yang menyangkal gurunya.

Pak ajun Ajun memulai materi dengan menanyakan kapan kami terakhir berbicara di depan umum. Otomatis, pertanyaan itu memancing peserta untuk berbicara yang lumayan panjang. Beberapa peserta mulai satu persatu menguraikan ceritanya sesuai dengan pengalaman masing-masing. Saya sendiri, melakukan itu pada bulan Desember tahun lalu, saat bertugas sebagai Narasumber pada “Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Plaform Blog” di sekolah sendiri. Awalnya agak gugup, kemudian biasa saja, dilanjutkan rasa gembira yang luar biasa pada saat audience kita bersemangat mengikuti materi yang kita sajikan. Kuncinya satu, menguasai materi.

Selanjutnya materi disampaikan berdasarkan pertanyaan peserta. Pak Ajun menguraikan jawaban atas pertanyaan peserta secara tuntas. Terkait menumbuhkan rasa percaya diri berbicara di depan umum saat menjadi narasumber, khususnya motivator, sangat erat kaitannya dengan jam terbang alias pengalaman. Menurut Pak Ajun, hal pertama yang harus dipersiapkan agar percaya diri (PD) di depan umum adalah penampilan, khususnya pakaian. Untuk itu, kenakanlah pakaian formal, akan lebih baik jika jas.

Langkah berikutnya adalah berlatih tersenyum sebelum masuk ke ruangan. Sepintas, hal ini terdengar sepele, namun kenyataannya tidak semua orang bisa menampilkan wajah yang manis. Untuk itulah perlunya latihan.

Berikutnya yang perlu diperhatikan adalah gestur. Triknya dengan banyak gerak. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan atau membingungkan peserta, karena pada dasarnya manusia itu cuma mempunyai satu fokus saja. Tak kalah menarik, trik selanjutnya adalah dengan membawa buku tebal, dengan asumsi orang yang membawa buku tebal dianggap smart.

Agar materi yang disampaikan padat dan berbobot, kita perlu membaginya menjadi bagian-bagian berikut: definisi, jika penting cukup 30 persen, dilanjutkan dengan narasi/latar belakang, dan isi. Persiapan materi yang bagus harus pula diimbangi dengan penyampaian yang bersemangat dan suara yang jelas. Jika tidak, maka materi tersebut menjadi tidak berguna.

Untuk mengatasi penyampaian materi tidak berulang, perlu dilakukan dokumentasi dengan mencatat dan merekam, dan dibuat peta konsep dengan cara membaca lebih banyak referensi serta mencari sesuatu yang baru agar cakrawala lebih luas. Hal ini juga penting untuk mempersiapkan diri menjawab pertanyaan peserta.

Untuk mengatasi peserta yang tidak fokus terhadap materi yang disajikan, kita harus melakukan trik sesuai dengan usia. Untuk orang dewasa bisa dilakukan dengan intonasi, joke, sentuhan agama, mengutip ucapan tokoh-tokoh.

Tak jarang, seorang pembicara di depan umum mengalami demam panggung (glossophobia). Oleh karena itu, bagi pemula perlu melakukan latihan sebelum naik ke panggung. Semakin banyak kita tampil, akan semakin berkurang demam panggung tersebut.

Selain itu, ada trik yang dapat membantu mengatasi demam panggung, yaitu:

1. Minum air putih (mengatasi kurang oksigen)

2 . Gerakan tubuh, tangan, kepala (menghilangkan stres)

3. Bawa sesuatu yang kecil yang bisa dipegang, seperti pena, dll.  

Terkait presentasi online, hal-hal yang harus diperhatikan adalah hal-hal sebagai berikut: pakaian hendaknya rapi dan sopan; pencahayaan yang baik; dan slide putih polos, karena slide presentasi yang indah-indah teryata tidak terserap oleh otak. Trik agar saat memaparkan materi secara online sukses, kitab isa melakukan hal-hal berikut: perubahan pola pikir; siapkan mental, jangan baper; dan background harus kosong, jangan ada benda-benda yang mengganggu dan suara-suara berisik.

Demikianlah materi yang mampu saya rekam dari paparan yang disajikan oleh Pak Ajun, yang dapat disimpulkan menjadi dua hal, yaitu memperbanyak jam terbang dan membuat dokumentasi tentang pelaksanaan presentasi.

 

Pangkalpinang, 1 Februari 2022

Rosminiyati

 

 


No comments:

Post a Comment

Menulis, Menulis, Menulis!