![]() |
| Sumber: dokumen pribadi |
Pukul
6.00 pagi anak sulungku pergi ke puskesmas untuk mengantre dalam rangka mendapatkan
vaksin Covid 19 ke-2. Pelaksanaaan vaksinansinya sendiri baru dimulai pukul
08.00. Anakku memegang nomor antreanku 8, sementara dia sendiri no. 9. Oleh
karena itu, anakku memintaku untuk datang ke sana saat kegiatan vaksinasi
dimulai agar tugasku sebagai abdi negara dapat juga ditunaikan.
Dibersamai cerahnya sinar matahari pagi yang menyinari bumi, aku berangkat ke Puskemas dengan hati ceria. Tiba di lokasi, ternyata antrean kegiatan vaksinasi sudah mencapai nomor urut 6. Artinya, tidak lama lagi giliranku akan tiba. Namun, tiba-tiba petugas kesehatan mengumandangkan pengumuman bahwa nomor selanjutnya ditunda begitu melihat beberapa orang lanjut usia menapaki tangga Puskesmas. Alasannya, mereka khawatir tensi darah para lansia tersebut naik menjelang siang. Aku tebarkan pandangan ke sekeliling, memperhatikan sorotan puluhan pasang mata para pengantre yang duduk di tempat masing-masing. Terlihat olehku netra mereka tetap teduh, tanpa ada pancaran kegelisahan apalagi kemarahan.
Setelah
vaksin ke-2 aku terima dan urusan administrasi kelar, aku pun beranjak pulang. Di rumah, aku ucapkan syukur
yang sedalam-dalamnya dengan budaya antre yang memukau yang telah mewarnai
perjalanan sejarah hidupku. Sebelumnya, mengantre selalu saja menjadi
hal yang merisaukan. Di sana-sini sering terjadi keributan dengan berbagai
alasan yang diusung masing-masing pengantre. Kini, ada hikmah besar di balik
musibah Covid yang melanda negeri ini. Budaya antre tidak semata-mata menggambarkan tentang tingkat kedisiplinan, melainkan juga tentang kesabaran, pengertian, kepedulian,
kasih sayang, dan penghormatan. Aku pun tersenyum manis kepada dunia karena aku
juga memiliki rasa itu.
Pangkalpinang,
9 September 2021
Rosminiyati
Guru
Pembelajar


