Showing posts with label pentigraf. Show all posts
Showing posts with label pentigraf. Show all posts

Thursday, September 9, 2021

Budaya Antre

 



Sumber: dokumen pribadi

Pukul 6.00 pagi anak sulungku pergi ke puskesmas untuk mengantre dalam rangka mendapatkan vaksin Covid 19 ke-2. Pelaksanaaan vaksinansinya sendiri baru dimulai pukul 08.00. Anakku memegang nomor antreanku 8, sementara dia sendiri no. 9. Oleh karena itu, anakku memintaku untuk datang ke sana saat kegiatan vaksinasi dimulai agar tugasku sebagai abdi negara dapat juga ditunaikan.

Dibersamai cerahnya sinar matahari pagi yang menyinari bumi, aku berangkat ke Puskemas dengan hati ceria. Tiba di lokasi, ternyata antrean kegiatan vaksinasi sudah mencapai nomor urut 6. Artinya, tidak lama lagi giliranku akan tiba. Namun, tiba-tiba petugas kesehatan mengumandangkan pengumuman bahwa nomor selanjutnya ditunda begitu melihat beberapa orang lanjut usia menapaki tangga Puskesmas. Alasannya, mereka khawatir tensi darah para lansia tersebut naik menjelang siang. Aku tebarkan pandangan ke sekeliling, memperhatikan sorotan puluhan pasang mata para pengantre yang duduk di tempat masing-masing. Terlihat olehku netra mereka tetap teduh, tanpa ada pancaran kegelisahan apalagi kemarahan. 

Setelah vaksin ke-2 aku terima dan urusan administrasi kelar, aku pun beranjak pulang. Di rumah, aku ucapkan syukur yang sedalam-dalamnya dengan budaya antre yang memukau yang telah mewarnai perjalanan sejarah hidupku. Sebelumnya, mengantre selalu saja menjadi hal yang merisaukan. Di sana-sini sering terjadi keributan dengan berbagai alasan yang diusung masing-masing pengantre. Kini, ada hikmah besar di balik musibah Covid yang melanda negeri ini. Budaya antre tidak semata-mata menggambarkan tentang tingkat kedisiplinan, melainkan juga tentang kesabaran, pengertian, kepedulian, kasih sayang, dan penghormatan. Aku pun tersenyum manis kepada dunia karena aku juga memiliki rasa itu.  

 

Pangkalpinang, 9 September 2021

Rosminiyati

Guru Pembelajar

Wednesday, September 8, 2021

Bawang Oh Bawang

 


Ibu Irma memanggil Rini yang sedang duduk di depan meja belajar yang tak jauh dari tempat ibunya sedang memasak.  Rini masih asyik dengan gawainya, membaca cerpen di sebuah blog temannya. Kali ini, Rini menolak membantu ibunya karena dia tahu bahwa panggilan itu untuk mengupas bawang merah yang selalu membuat matanya berair laiknya orang yang sedang menangis. Itu pula yang menyebabkan ibunya menghindari pekerjaan mengupas bawang. 

Tidak biasa memaksa anaknya, akhirnya Ibu Irma mengupas bawang merah sendiri karena takmau terlambat menghidangkan makan malam buat keluarga kecilnya. Air matanya bercucuran sampai membasahi baju dan celemek yang dipakainya.  Setelah bawang merah terkupas semua, dengan sigap Bu Irma memasukkannya ke dalam blender bersama bumbu-bumbu lainnya yang sudah sejak tadi disiapkan. Suara blender pun terdengar sampai ke telinga Rini, putri tercinta semata wayang.

Suara blender yang meramaikan suasana hening di rumah itu menandakan situasi sudah aman bagi Rini. Dia pun bergegas mendekati ibunya dan meminta maaf karena merasa bersalah. Ia beralasan bahwa temannya akan datang sehingga tidak bisa menggantikan ibunya mengupas bawang seperti biasanya. Ibu Irma menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan kata sepatah pun sambil menyeka air matanya yang belum juga surut sejak mengupas bawang tadi.

 

Pangkalpinang. 8 September 2021

Rosminiyati

Menulis, Menulis, Menulis!