Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Monday, January 3, 2022

Peran Guru Blogger dalam Memulihkan Pendidikan di Indonesia


Seorang blogger adalah juga seorang penulis, karena blog berisi tulisan. Menulis di blog memberikan banyak kemudahan karena sifat tulisan di blog dapat diedit kapan pun oleh penulisnya. Tak hanya itu, tulisan di blog juga dapat disisipkan dengan foto atau video yang dapat memperkaya isi tulisan yang disajikan. 

Sebagai penulis, seorang blogger tentu saja seorang pembelajar pula. Dia akan terus belajar untuk mencari dan mengembangkan ide-ide tulisan melalui kegiatan membaca, berdiskusi, dan lain-lain yang relevan. Dia tidak akan pernah lelah untuk melakukan semua itu karena dia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi pembacanya - tulisan yang memberikan manfaat, menginspirasi, dan memotivasi. Bentuk tulisan yang disajikan juga beragam – cerita, artikel, puisi, dan lain-lain.
 
Seorang guru yang menulis di blog disebut sebagai guru blogger. Guru blogger biasanya mengisi blognya dengan tulisan terkait dunia kerjanya, yaitu tentang pendidikan. Saat ini banyak sekali guru bloger di negeri ini, khususnya sejak masa pandemi Covid-19. Hal Ini tak lain terjadi karena guru terus berusaha mencari solusi dari permasalan yang dihadapi sekaligus meningkatkan kualitas diri sebagai dampak merebaknya Covid-19 di Indonesaia.
 
Sejak Covid-19 melanda negeri ini, perubahan besar-besaran terjadi pada hampir seluruh bidang kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Pembelajaran tatap muka tak dapat dilakukan. Suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, sistem pembelajaran beralih kepada Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui jaringan (online) harus dilakoni.
 
Guru yang awalnya bingung dengan kondisi ini, dengan terpaksa belajar menggunakan perangkat digital untuk menyampaikan materi. Akhirnya, dengan berbagai cara, penyampaian materi secara online pun berhasil dilaksanakan seadanya sambil melakukan penyempurnaan dengan terus belajar. Itu pun tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan. Keberhasilan guru dalam mengatasi masalah pembelajaran jarak jauh tidak terjadi secara merata. Untuk daerah-daerah tertentu, kendala jaringan tak dapat dielak, sehingga PJJ tidak dapat dilaksanakan sesuai yang harapan. Dari sinilah kesenjangan pendidikan di Indonesia bermula.
 
Kesenjangan pendidikan semakin dipertajam dengan adanya hambatan PJJ di kalangan peserta didik. Ada yang terkendala masalah fasilitas berupa gawai yang tidak tersedia dan jaringan internet yang tidak merata. Ada pula minimnya kontrol orang tua terhadap kegiatan belajar anak-anak mereka di rumah dengan berbagai alasan, sehingga pemanfaatan gawai lebih banyak untuk bermain game atau kegiatan lain dari pada untuk kegiatan belajar.
 
Kesenjangan pembelajaran tidak hanya terjadi pada masa PJJ, melainkan juga saat pembelajarn tatap muka terbatas seperti saat ini. Waktu pertemuan yang minim menyebabkan pembelajaran tatap muka tidak berjalan secara maksimal. Oleh karena itu, penggunaan sistem belajar online masih terus berlanjut (blended learning). Namun, hasil yang dicapai masih belum sesuai harapan, Kondisi inilah yang akhirnya memunculkan istilah learning loss – hilang/berkurangnya minat belajar, pengetahuan dan keterampilan di kalangan peserta didik.
 
Guru blogger mempunyai peran strategis dalam pemulihan kondisi pendidikan yang sempat tertinggal disebabkan pandemi ini. Banyak hal yang dilakukan oleh guru bloger dalam mengejar ketertinggalan pembelajaran yang sudah terlanjur terjadi.
 
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan guru bloger dalam pemulihan pendidikan di Indonesia:
 
1. Guru bloger memanfaatkan aplikasi blog sebagai sarana pembelajaran dan pendidikan. Blog diisi dengan materi ajar berupa paparan tertulis yang dapat disisipkan gambar dan video, dan seperangkat kegiatan yang menarik yang dapat dengan mudah diakses peserta didik tanpa batas waktu dan tempat. Desain blog yang menarik dapat meningkatkan minat peserta didik untuk belajar. Murid juga dapat mengumpulkan tugas-tugas mereka dengan menggunakan blog yang pengoperasiannya terbilang mudah dibandingkan aplikasi lainnya.
 
2. Guru bloger membagikan cerita tentang praktik baik yang dilakukan dirinya atau orang lain terkait pendidikan di blog. Dengan demikian, guru-guru atau peserta didik yang membacanya akan mendapatkan manfaat berupa pengetahuan, inpsirasi, dan motivasi dari tulisan yang dipublikasikan oleh guru bloger tersebut.
 
3. Guru bloger membagikan informasi yang bermanfaat tentang berbagai hal terkait kegiatan positif, seperti pelaksanaan lomba bagi guru dan siswa, kegiatan workshop, dan lain-lain. Dengan demikian, informasi tersebut dapat dengan cepat diketahui oleh guru dan siswa untuk dapat ditindaklanjuti.
 
4. Guru bloger dapat mengajak guru-guru dan peserta didik di sekolahnya untuk bersama-sama menulis di blog. Dengan demikian, guru dan murid akan menjadi rajin membaca untuk menggali informasi terkait ide tulisannya. Jika hal ini belangsung secara berkesinambungan, tidak hanya pengetahuan yang diperoleh, melainkan juga keterampilan menulis guru dan peserta didik pun menjadi semakin berkembang.
 
Jika kondisi tersebut di atas dapat direalisasikan oleh guru bloger yang jumlahnya banyak dan menyebar, maka dengan seizin Allah Azza wa Jalla, pendidikan di Indonesia dapat dipulihkan dalam waktu yang tidak begitu lama. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bangsa Indonesia menjadi bangsa dengan kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis yang dapat dibanggakan yang dibarengi dengan akhlak mulia.
 
 
Pangkalpinang, 3 Januari 2022
Rosminiyati



 

Thursday, December 16, 2021

SATUGURU - Solusi Permasalahan Guru

Peran Guru dalam peradaban

Menjadi guru bukanlah pilihan pekerjaan berdasarkan pertimbangan besarnya imbalan atau penghasilan. Pilihan profesi ini juga bukan berdasarkan perhitungan untung dan rugi seperti halnya jual beli. Profesi guru dipilih sesuai dengan hati nurani karena ingin mengabdi untuk negeri.

Profesi guru bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena guru merupakan garda terdepan bagi keberlangsungan peradaban bangsa. Di tangan guru, wajah masa depan bangsa akan tercipta, karena guru merupakan model utama bagi murid-murid setelah orang tua. Oleh karena itu, guru harus memperlengkapi diri dengan seperangkat kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan profesi ini.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat menyebabkan peran guru semakin berat. Segala informasi baik dan buruk tersaji secara terbuka dan menarik dalam berbagai bentuk dengan tanpa batas waktu dan ruang. Itu semua akan berpengaruh besar terhadap wujud masa depan bangsa ini. Jika konten baik yang terserap, maka masa depan bangsa akan aman. Sebaliknya, jika informasi buruk yang dikonsumsi, akan hancurlah peradaban. 

Guru bukanlah manusia sempurna. Guru hanyalah manusia biasa yang sarat kekurangan. Oleh karena itu, tak heran jika kelengkapan kompetensi yang harus dimiliki guru – pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial - tidak terpenuhi dengan sempurna. Namun, Keterbatasan guru tidak serta merta dipandang sebagai kekurangan atau aib yang memalukan, melainkan dapat diminimalisir dengan cara yang cerdas, yaitu melalui proses belajar.

 

Refleksi Guru Tahun 2021

Saya, seorang guru yang memiliki banyak sekali kekurangan, khususnya penguasaan keterampilan menulis dan pemanfaatan aplikasi digital dalam kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, saya seorang pembelajar yang selalu ingin membenahi dan mematutkan diri agar pantas disebut guru.

Menyadari minimnya kemampuan yang diperlukan pada pembelajaran abad 21 ini, saya pun bergabung di kelas Pelatihan Belajar Menulis PGRI pada Juli 2021, dan lulus pada Oktober 2021. Dalam waktu yang singkat, perubahan secara drastis terjadi pada diri saya.

Capaian sejak bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI menjadi capaian puncak saya pada tahun 2021. Terhitung sejak Juli 2021, saya telah menulis 3 buku antologi, 1 buku solo, artikel dalam Jurnal Pasuruan Inovasi dan Tendik, meraih juara 2 lomba blog pada peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, menjadi moderator pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22, menjadi moderator dan narasumber pada Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Angkatan Pertama, menjadi narasumber pada kegiatan MGMP kota Pangkalpinang dan pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog di SMK Negeri 2 Pangkalpinang, dan mendirikan komunitas Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang.

Narasumber pada kegiatan MGMP Kota Pangkalpinang

Narasumber pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog

Kegiatan membuat dan mengelola blog dengan pendampingan  

Bersama Laskar Literasi yang membantu pelaksanaan workshop

Terbitnya buku solo dan jurnal yang difasilitasi oleh PGRI, telah pula mengantarkan saya kepada pengusulan kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang selama 13 tahun tak pernah digubris nasibnya lantaran syarat tidak lengkap meskipun jumlah nilai sudah jauh terlampaui. Berkat pengusulan tersebut, kawan-kawan guru yang sudah lama di posisi IV a, dan kawan-kawan yang masih muda pun ikut termotivasi.

Alhamdulillah, semangat berbagi tanpa pamrih, berkolaborasi, saling menghargai, menginspirasi, memotivasi, dan tetap rendah hati di saat telah sukses yang diajarkan oleh Tim Belajar PGRI, telah berimbas pula pada diri saya untuk melakukan hal yang sama pada orang-orang di lingkungan saya. Mengajar pun menjadi lebih percaya diri dan menyenangkan dibandingkan sebelumnya.


SATUGURU sebagai Solusi

Berdasarkan pengalaman saya dengan kesulitan dan solusinya, saya dapat menyimpulkan bahwa SATUGURU merupakan solusi bagi perbaikan dan peningkatan kompetensi guru. Berikut alasan-alasan yang dapat saya paparkan.

SATUGURU berarti guru adalah satu-satunya profesi utama yang dimiliki. Sebuah profesi yang dipilih tanpa tujuan apa pun selain untuk mengabdi pada negeri. Jika demikian, apa pun kendala yang dihadapi di lapangan, seorang guru akan tetap fokus dan nyaman menjalani profesi ini. Guru akan dengan ringan melangkahkan kakinya menuju sekolah maupun ruangan kelas. Guru akan tampil secara prima sebagai pribadi istimewa dalam perannya sebagai motivator, fasilitator, kreator, dan inspirator dengan hati yang gembira di hadapan murid-muridnya.

SATUGURU berarti guru harus menyatukan fisik dan psikisnya saat berhadapan dengan murid-murid di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Guru hendaklah benar-benar memandang muridnya sebagai sosok anak yang dia ridukan dan merindukannya. Mendidik dari hati, bukan hanya sekedar melepaskan kewajiban terkait jam pelajaran. Bukan pula sekedar menyampaikan materi dan memberikan nilai. Yang lebih penting, adalah bagaimana mempersiapkan mereka menuju masa depan dengan akhlak mulia.

SATUGURU mengandung makna bahwa guru-guru harus bersatu, berkolaborasi, bahu membahu dalam proses mencerdaskan murid-murid. Guru-guru harus mempunyai visi dan misi yang sama dalam menggiring calon penerus bangsa dalam meraih masa depannya. Dengan kebersamaan, proses belajar mengajar dan bimbingan di sekolah akan dengan mudah diterapkan, sehinga tujuan pun akan mudah dicapai.

Suasana kebersamaan juga akan membuat guru-guru merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan profesinya. Dengan kebersamaan, yang berat akan terasa ringan. Para guru akan saling menguatkan dalam segala hal, khususnya terkait kompetensi yang harus dimilikinya. Kelemahan ditutup dengan kelebihan melalui proses saling mengajarkan, dan kelebihan menjadi modal untuk berbagi. Akhirnya, meningkatlah kepercayaan diri, dan mengajar pun menjadi semakin menyenangkan.

SATUGURU diartikan semua guru di negeri ini harus bersatu. Guru bersatu dalam organisasi profesi, baik di sekolah maupun di wilayah, bahkan di seluruh Indonesia. Tak diragukan, organisasi profesi guru adalah organisasi yang benar-benar dibentuk untuk kepentingan kemajuan pendidikan. Di dalam organisasi ini, berbagai permasalah tekait kegiatan belajar dan mengajar khususnya, dan pendidikan pada umumnya, dapat dibahas dan diselesaikan.


Resolusi Tahun 2022

Kekurangan pada waktu yang lalu harus dibenahi, dan kelebihan perlu dikembangkan dan disebarkan. Itulah yang harus dilakukan seorang guru yang menyadari esensinya di dunia pendidikan. Kualitas diri tidak diukur seberapa banyak menghasilkan sesuatu, melainkan seberapa banyak menebarkan kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.

Besar harapan saya, pada tahun 2022 saya memiliki kemampuan digital yang memadai, dapat menerbitkan buku antologi dan buku solo di kalangan siswa dan guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang dan MGMP Kota Pangkalpinang, dan dapat terus berbagi kepada siapa pun dengan ikhlas sesuai kemampuan. 

Semoga saya menjadi hamba yang senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan dengan menjadi orang yang rendah hati dan terus memperbaiki diri, serta senantiasa berbagi kebaikan. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada guru-guru hebat yang telah mengajarkan saya  banyak hal.


Pangkalpinang, 16 Desember 2021

Rosminiyati, S.Pd.

Guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang


#SATUGURU - Mengajar itu menyenangkan


Sunday, September 26, 2021

Menulis? Siapa Takut!

 


Tips Menulis bagi Pemula

Hampir setiap orang ingin menulis. Namun, keinginan tersebut diurungkan hanya karena banyak hal yang merintanginya, antara lain: tidak ada ide, tidak tahu memulainya dari mana, apa saja yang perlu ditulis, takut tulisannya jelek, dan sebagainya.

Ide menulis bisa datang dari mana saja. Dari sebuah objek yang dekat dengan kita atau bahkan dari diri kita sendiri. Sebuah gambar saja bisa menjadi ide untuk menulis. Tontonan, pembicaraan, dan bacaan bisa menjadi ide menulis yang sangat menarik juga.

Bentuk tulisan untuk menuangkan isi pikiran kita bisa beragam sesuai dengan selera dan kemampuan kita: puisi, cerpen, artikel, dan lain sebagainya. Tulisan pun bisa singkat atau panjang sesuai dengan keluasan paparan yang dibutuhkan.

Berikut ini dipaparkan sedikit langkah praktis dan mendasar untuk menulis bagi pemula.

👉Gunakan struktur kalimat: Subjek + Predikat + (Objek). Pastikan kalimat kita berisi minimal 1 Subjek dan 1 predikat.

👉Isi tulisan menjawab permasalahan/pertanyaan 5 W + 1 H.

  • What (apa);
  • Who (siapa);
  • Why (mengapa);
  • Where (di mana);
  • When (kapan);
  • How (bagaimana).
Jika tulisan kita sudah berisi jawaban atas pertanyaan tersebut, maka paparan kita sudah lengkap dan tulisan kita pun panjang. Jika setiap pembahasan ditulis dalam 1 paragraf saja, maka tulisan kita sekurang-kurangnya sudah berisi 6 paragraf. Jika ditambah dengan paragraf pembuka dan penutup masing-masing 1 paragraf, maka keseluruhannya menjadi 8 paragraf.

Jika bahasan dalam 1 paragraf dirasakan terlalu panjang, maka uraian selanjutnya bisa ditulis pada paragraf berikutnya. Misalnya, jika pembahasan tentang “how” luas, silakan ditulis dalam beberapa paragraf. Begitu juga dengan pembahasan yang lainnya.

👉Gunakan kalimat dan paragraf yang pendek-pendek saja agar pembaca mudah memahaminya.

👉Gunakan huruf besar di awal kalimat dan tanda (.), (!), dan (?) di akhir kalimat. (Ini yang sering lupa, bukan?)

Untuk tanda baca lainnya dibahas kemudian.

👉Mengutip tulisan dari sumber lain, tautan (link) sumbernya harus dicantumkan. Namun, sebaiknya mengutip kalimat asli penulis cukup untuk yang terakit definisi saja. Selebihnya, gunakan jurus ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Caranya? Parafrasa: menulis dengan kalimat sendiri tanpa mengubah maknanya, melalui:

  • Mengubah kalimat aktif menjadi pasif atau sebaliknya;
  • Gunakan sinonim atau kata yang artinya sama.
Langkah ini dilakukan untuk menghindri plagiarisme. Kita dapat menulis dengan cara membaca tulisan orang lain, kemudian menutupnya, selanjutnya menulis ala kita sendiri.

👉Menulislah sebanyak-banyaknya mumpung ide masih banyak di kepala. Jangan hiraukan tentang kesalahan.

👉Membaca ulang tulisan untuk memeriksa kesalahan pengetikan (typo), penggunaan huruf besar, tanda baca, pemilihan kata (diksi), struktur kalimat, dan lain-lain, dan mengeditnya.

👉Publish (terbitkan)!

Terakhir dan yang paling penting adalah MULAI! Sampai kapun pun kita tidak bisa menjadi penulis jika tidak pernah memulainya.

Demikian tips dasar menulis bagi pemula yang dapat saya sampaikan dalam rangka menggiatkan literasi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi.

 


"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis".

(Imam Al-Ghazali)

 

Pangkalpinang, 26 September 2021

Rosminiyati

 

Monday, September 6, 2021

Bloger atau Blogger?

 

Bahasa Indonesia memang rumit, khususnya dalam penulisan bahasa serapan dari bahasa Inggris. Hal inilah yang membuat saya bolak-balik mencari sumber jika ragu menuliskan sebuah kata.

Mengapa kita perlu mengetahui perbedaan ejaan antara bahasa serapan dengan bahasa aslinya? Jika kita menulis kata dengan bahasa aslinya, maka kata tersebut harus ditulis dengan cetak miring. Kaidah ini sering diabaikan oleh penulis.

Contoh yang sering saya temukan adalah kata blogger. Setelah saya periksa di KBBI V, penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia adalah bloger - ditulis dengan 1 g. Jadi, jika kita menulis sesuai dengan kaidah penulisan yang benar, blogger - dengan 2 g - ditulis dengan cetak miring.

Kecenderungan penulis untuk menggunakan bahasa Inggris dari pada bahasa Indonesia menyebabkan kurang populernya bahasa Indonesia. Bahkan, hal ini dapat menyebabkan ketidaktahuan orang Indonesia dengan bahasanya sendiri. Contoh, kata bullying. Orang lebih kenal bullying dari pada perundungan. Ketika ada yang menggunakan kata perundungan, si pembaca atau pendengar terlihat kebingungan.

Contoh lainnya, link. Penulis lebih banyak menggunakan kata link dari pada tautan. Bahkan, hanya sesekali ditemukan kata pranala. Keduanya itu merupakan terjemahan link.

Ada suatu kejadian di sekolah saya. Saat itu, ada pemberitahuan tentang pendataan nomor gawai peserta didik untuk mendapatkan bantuan kuota data internet. Pemberitahuan itu ditujukan kepada wali kelas. Seorang teman saya bertanya, “Gawai itu apa?”

Bahasa Indonesia memang rumit. Hal ini disebabkan kita jarang menggunakannya. Agar bahasa Indonesia menjadi mudah, sering-seringlah menggunakannya.

Bahasa Indonesia adalah bahasa kita. Kalau bukan kita, siapa lagi yang kita harapkan untuk menggunakannya?

Salah satu cara untuk memopulerkan bahasa Indonesia adalah lewat tulisan.  Oleh karena itu, jika kita menggunakan istilah-istilah serapan dari bahasa asing, tulislah kata-kata tersebut dalam ejaan Bahasa Indonesia, bukan ejaan bahasa aslinya. Bagaimana menurut Anda?

 

Pangkalpinang, 6 September 2021

Rosminiyati

Guru Pembelajar


Sunday, August 22, 2021

Blogwalking, Pentingkah?

Sumber gambar: Grup WA komunitas Lagerunal

Pentingkah blogwalking bagi seorang bloger? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita membahas sedikit tentang blog dan bloger.

Blog, jika diibaratkan dengan keseharian kita adalah buku tulis yang berfungsi sebagai tempat untuk menulis. Namun, ini bukan kertas biasa, melainkan aplikasi di internet yang isinya bisa dibaca oleh siapa saja. Sifat tulisan pada blog bisa ditambah, diperbaharui, bahkan dihapus kapan pun oleh penulisnya. Orang yang menulis di blog disebut bloger. Konten tulisannya beragam, sesuai dengan kemampuan penulis, kebutuhan atau tujuan yang ingin disampaikan kepada pembacanya.

Karena isi blog berupa tulisan, tentunya seorang bloger harus mempunyai kemampuan menulis agar blognya tidak kosong. Karena menulis di blog bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembacanya, tulisan yang dibuat haruslah berisi konten yang bermakna. Selanjutnya, agar pembaca tertarik untuk membaca tulisan kita, tulisan tersebut harus disajikan secara menarik pula.

Sebuah tulisan yang menarik jika terdapat banyak kesalahan pengetikan akan mengganggu saat membacanya. Demikian juga dengan struktur teks, unsur kebahasaan, huruf besar, dan tanda baca. Jika kurang tepat penggunaannya akan membingungkan dalam pemahaman isinya. Sebaliknya, tulisan yang sudah benar dan memenuhi kriteria penulisan tetapi tidak menarik dalam penyajiannya akan membosankan.

Bagi orang yang baru berkecimpung di dunia blog sekaligus kepenulisan, bukanlah hal yang mudah untuk menulis sesuai standar, apalagi menarik. Banyak hal yang harus dipelajari. KBBI dan PUEBI sebagai pedoman penulisan harus dikuasai. Pemilihan diksi harus pula sesuai. Mengawali tulisan dengan kalimat menarik dan isi yang sesuai dengan tema sekaligus mengena di hati pembaca merupakan kamampuan yang tak boleh disepelekan. Penutup yang bijak dan mengesankan tak kalah pentingnya. Banyak lagi hal lainnya yang perlu dikuasai oleh seorang bloger dan penulis.

Sebagai pendatang baru di dunia blog, kita tak perlu khawatir apalagi sampai mundur teratur.  Perasaan khawatir memang ada. Namun, tak separah yang pernah saya alami saat masuk ke area Rindam II Sriwijaya di Muara Enim, Sumatera Selatan untuk diklat prajabatan di akhir tahun 1996 selama 1 bulan. Pendidikan semi militer bagi CPNS sebagai syarat menjadi PNS.  Membaca tulisan pada sebuah tugu "Ragu-ragu Kembali" membuat saya termenung lama. Maju, berarti perjuangan berat dengan meninggalkan anak yang baru berusia 2 bulan. Kembali, berarti jabatan PNS harus dilepaskan.

Ilustrasi saya di atas sebagai bahan perbandingan bahwa perasaan sulitnya menulis di blog bukanlah apa-apa. Jika kita sudah berani masuk, teguhkan hati dan teruslah melangkah. Perkara belum sempurnanya tulisan dapat dibenahi sambil berjalan. Yang penting, teruslah belajar. Ingat! Konten di blog bisa direvisi kapanpun kita mau.

Selanjutnya, tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaiannya. Di sini saya ingin berbagi pengalaman tentang manfaat blogwalking yang langsung saya rasakan terkait hambatan dalam menulis.

Blogwalking merupakan kegiatan mengunjungi tulisan seseorang yang diposting pada sebuah blog. Kegiatan ini biasanya dilakukan seseorang untuk mencari informasi tertentu yang ingin diketahuinya. Dengan mengetik kata kunci, orang bisa langsung sampai ke blog yang dicari.

Dalam kegiatan menulis pada suatu komunitas, kegiatan blogwalking lebih mudah dilakukan karena alamat tautan blog tak perlu dicari. Sudah tersedia di kolom chat Whatsapp grup atau aplikasi lainnya. Bahkan, daftar tautan berbaris manis untuk dikunjungi pada 1 halaman.  Cukup mengeklik alamat tersebut, kita langsung sampai dan dapat menikmati tulisan yang ada di dalamnya dengan sesuka hati.

Mengapa blogwalking penting dilakukan? Berdasarkan pengalaman pribadi yang telah merasakan manfaatnyaberikut ini diuraikan alsan-alasannya.

Pertama, memperoleh informasi terkait teori menulis. Terkadang konten blog seseorang berisi infromasi tentang teori menulis yang dapat kita pelajari tanpa memiliki bukunya. Dengan cara ini, kita dapat belajar tanpa modal besar. 

Kedua, memperoleh pengetahuan tentang ragam tulisan. Dengan mengunjungi blog, kita menemukan jenis tulisan yang berbeda antara satu bloger dengan bloger lainnya. Biasanya, para bloger menulis sesuai dengan minat dan keahlian masing-masing. Misalnya, ada yang menulis puisi, cerpen, prosedur, narasi, atau bentuk lainnya. 

Ketiga, mendapatkan ide tulisan. Dengan membaca tulisan orang lain, kita bisa menggunakan ide tersebut untuk tulisan kita. Kita bisa menulis dengan topik yang sama namun dengan gaya atau versi berbeda. Misalnya, jika seserang menulis dalam bentuk narasi, kita menulis dalam bentuk puisi. Tak hanya itu, membaca tulisan orang bahkan dapat memunculkan ide baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Untuk membuktikannya, silakan dicoba.

Keempat, menjadi bahan koreksi terhadap tulisan kita. Dengan membaca tulisan orang lain tentunya kita mendapatkan informasi. Informasi yang kita dapatkan itu bisa dijadikan tambahan untuk melengkapi tulisan atau memperbaiki kesalahan dalam memaknai informasi jika tema yang kita bahas sama. Tapi ingat, bukan menyalin langsung alias plagiat, ya!

Kelima, memperbaiki diksi. Terkadang kita mengalami kendala dalam pemilihan kosakata yang tepat dalam mengkekspresikan isi pikiran kita. Hasilnya, kita menggunakan kata sekenanya saat menulis. Dengan membaca tulisan orang lain, kita memperoleh kata-kata baru atau kata-kata lama tapi terlupakan. Pungut saja dan selipkan ke tulisan kita pada bagian yang sesuai baik sebagai koreksi maupun untuk menulis berikutnya.

Keenam, memperbaiki struktur teks. Dengan membaca tulisan orang lain, kita bisa memahami tentang cara membuka, menguraikan isi, dan menutup sebuah tulisan. Semakin banyak membaca karya orang lain, semakin paham kita dengan bagian-bagian tulisan dan cara memaparkannya. 

Ketujuh, memahami unsur kebahasaan. Sebuah tulisan mengandung kalimat yang berisi kata-kata yang tersusun secara benar sesuai fungsinya. Cara menulis kata depan, kata sambung, awalan, akhiran, dan lain-lain, juga akan terlihat dengan jelas pada tulisan yang kita baca. Jika unsur-unsur itu kita pelajari secara teori tanpa ada contoh secara nyata, akan sulit bagi kita untuk memahami semuanya. Dengan membaca tulisan seorang bloger, ilmu tersebut dapat dirserap dengan sendirinya. Di saat diperlukan dapat langsung digunakan secara benar.

Terakhir, memperbaiki penggunaan huruf kapital, huruf miring, tanda baca, dan sejenisnya. Sepintas masalah ini terlihat mudah. Namun, pada bagian ini justru kesalahan sering dilakukan. Terkadang dalam penulisan judul saja kita sudah salah. Jika kita banyak membaca tulisan orang, kita akan semakin terampil dalam penggunaanya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika tulisan seorang bloger yang kita kunjungi ternyata tidak memenuhi standar penulisan? Apakah kita tidak perlu mengunjunginya lagi untuk selanjutnya? Jika kita sudah dapat menilai bahwa ada bagian dari sebuah tulisan itu salah, artinya kita sudah paham cara menulis yang benar. Setiap penulis pasti mempunyai kelebihan tersendiri. Banyak hal lain yang dapat kita pelajari dari tulisannya. 

Blogwalking yang tidak kalah pentingnya adalah mengunjungi blog sendiri. Mengapa demikian? Sebagai penulis, terkadang kita lupa dengan apa yang kita tulis. Karena itu, kita perlu kembali mengunjungi blog kita. Apakah itu hanya sekedar untuk menikmati karya kita sendiri, atau melakukan perbaikan di sana-sini. Seiring berjalannya waktu, tentu saja ilmu kita semakin bertambah. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa tulisan kita yang terdahulu masih terdapat kesalahan dan perlu direvisi agar orang lain yang membacanya merasa nyaman.

Sebagai penikmat tulisan bloger lain yang telah kita ambil manfaatnya, ada baiknya kita meninggalkan jejak dengan memberikan komentar pada blog yang kita kunjungi. Biasanya, komentar yang ditulis berupa hal-hal terkait isi tulisan itu sendiri atau sekedar kata-kata apresiasi atas tulisan tersebut. Apapun itu, meninggalkan jejak pada blog yang dikunjungi memberikan dampak positif bagi bloger sekaligus bagi diri kita sendiri.

Demikianlah alasan pentingnya melakukan blogwalking terkait kegiatan menulis. Begitu banyak manfaat yang dapat kita peroleh dengan cara mudah dan murah, hanya bermodalkan klik

 

Pangkalpinang, 22 Agustus 2021

Rosminiyati

Guru pembelajar

Menulis, Menulis, Menulis!