Thursday, December 16, 2021

SATUGURU - Solusi Permasalahan Guru

Peran Guru dalam peradaban

Menjadi guru bukanlah pilihan pekerjaan berdasarkan pertimbangan besarnya imbalan atau penghasilan. Pilihan profesi ini juga bukan berdasarkan perhitungan untung dan rugi seperti halnya jual beli. Profesi guru dipilih sesuai dengan hati nurani karena ingin mengabdi untuk negeri.

Profesi guru bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena guru merupakan garda terdepan bagi keberlangsungan peradaban bangsa. Di tangan guru, wajah masa depan bangsa akan tercipta, karena guru merupakan model utama bagi murid-murid setelah orang tua. Oleh karena itu, guru harus memperlengkapi diri dengan seperangkat kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan profesi ini.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat menyebabkan peran guru semakin berat. Segala informasi baik dan buruk tersaji secara terbuka dan menarik dalam berbagai bentuk dengan tanpa batas waktu dan ruang. Itu semua akan berpengaruh besar terhadap wujud masa depan bangsa ini. Jika konten baik yang terserap, maka masa depan bangsa akan aman. Sebaliknya, jika informasi buruk yang dikonsumsi, akan hancurlah peradaban. 

Guru bukanlah manusia sempurna. Guru hanyalah manusia biasa yang sarat kekurangan. Oleh karena itu, tak heran jika kelengkapan kompetensi yang harus dimiliki guru – pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial - tidak terpenuhi dengan sempurna. Namun, Keterbatasan guru tidak serta merta dipandang sebagai kekurangan atau aib yang memalukan, melainkan dapat diminimalisir dengan cara yang cerdas, yaitu melalui proses belajar.

 

Refleksi Guru Tahun 2021

Saya, seorang guru yang memiliki banyak sekali kekurangan, khususnya penguasaan keterampilan menulis dan pemanfaatan aplikasi digital dalam kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, saya seorang pembelajar yang selalu ingin membenahi dan mematutkan diri agar pantas disebut guru.

Menyadari minimnya kemampuan yang diperlukan pada pembelajaran abad 21 ini, saya pun bergabung di kelas Pelatihan Belajar Menulis PGRI pada Juli 2021, dan lulus pada Oktober 2021. Dalam waktu yang singkat, perubahan secara drastis terjadi pada diri saya.

Capaian sejak bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI menjadi capaian puncak saya pada tahun 2021. Terhitung sejak Juli 2021, saya telah menulis 3 buku antologi, 1 buku solo, artikel dalam Jurnal Pasuruan Inovasi dan Tendik, meraih juara 2 lomba blog pada peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, menjadi moderator pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22, menjadi moderator dan narasumber pada Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Angkatan Pertama, menjadi narasumber pada kegiatan MGMP kota Pangkalpinang dan pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog di SMK Negeri 2 Pangkalpinang, dan mendirikan komunitas Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang.

Narasumber pada kegiatan MGMP Kota Pangkalpinang

Narasumber pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog

Kegiatan membuat dan mengelola blog dengan pendampingan  

Bersama Laskar Literasi yang membantu pelaksanaan workshop

Terbitnya buku solo dan jurnal yang difasilitasi oleh PGRI, telah pula mengantarkan saya kepada pengusulan kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang selama 13 tahun tak pernah digubris nasibnya lantaran syarat tidak lengkap meskipun jumlah nilai sudah jauh terlampaui. Berkat pengusulan tersebut, kawan-kawan guru yang sudah lama di posisi IV a, dan kawan-kawan yang masih muda pun ikut termotivasi.

Alhamdulillah, semangat berbagi tanpa pamrih, berkolaborasi, saling menghargai, menginspirasi, memotivasi, dan tetap rendah hati di saat telah sukses yang diajarkan oleh Tim Belajar PGRI, telah berimbas pula pada diri saya untuk melakukan hal yang sama pada orang-orang di lingkungan saya. Mengajar pun menjadi lebih percaya diri dan menyenangkan dibandingkan sebelumnya.


SATUGURU sebagai Solusi

Berdasarkan pengalaman saya dengan kesulitan dan solusinya, saya dapat menyimpulkan bahwa SATUGURU merupakan solusi bagi perbaikan dan peningkatan kompetensi guru. Berikut alasan-alasan yang dapat saya paparkan.

SATUGURU berarti guru adalah satu-satunya profesi utama yang dimiliki. Sebuah profesi yang dipilih tanpa tujuan apa pun selain untuk mengabdi pada negeri. Jika demikian, apa pun kendala yang dihadapi di lapangan, seorang guru akan tetap fokus dan nyaman menjalani profesi ini. Guru akan dengan ringan melangkahkan kakinya menuju sekolah maupun ruangan kelas. Guru akan tampil secara prima sebagai pribadi istimewa dalam perannya sebagai motivator, fasilitator, kreator, dan inspirator dengan hati yang gembira di hadapan murid-muridnya.

SATUGURU berarti guru harus menyatukan fisik dan psikisnya saat berhadapan dengan murid-murid di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Guru hendaklah benar-benar memandang muridnya sebagai sosok anak yang dia ridukan dan merindukannya. Mendidik dari hati, bukan hanya sekedar melepaskan kewajiban terkait jam pelajaran. Bukan pula sekedar menyampaikan materi dan memberikan nilai. Yang lebih penting, adalah bagaimana mempersiapkan mereka menuju masa depan dengan akhlak mulia.

SATUGURU mengandung makna bahwa guru-guru harus bersatu, berkolaborasi, bahu membahu dalam proses mencerdaskan murid-murid. Guru-guru harus mempunyai visi dan misi yang sama dalam menggiring calon penerus bangsa dalam meraih masa depannya. Dengan kebersamaan, proses belajar mengajar dan bimbingan di sekolah akan dengan mudah diterapkan, sehinga tujuan pun akan mudah dicapai.

Suasana kebersamaan juga akan membuat guru-guru merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan profesinya. Dengan kebersamaan, yang berat akan terasa ringan. Para guru akan saling menguatkan dalam segala hal, khususnya terkait kompetensi yang harus dimilikinya. Kelemahan ditutup dengan kelebihan melalui proses saling mengajarkan, dan kelebihan menjadi modal untuk berbagi. Akhirnya, meningkatlah kepercayaan diri, dan mengajar pun menjadi semakin menyenangkan.

SATUGURU diartikan semua guru di negeri ini harus bersatu. Guru bersatu dalam organisasi profesi, baik di sekolah maupun di wilayah, bahkan di seluruh Indonesia. Tak diragukan, organisasi profesi guru adalah organisasi yang benar-benar dibentuk untuk kepentingan kemajuan pendidikan. Di dalam organisasi ini, berbagai permasalah tekait kegiatan belajar dan mengajar khususnya, dan pendidikan pada umumnya, dapat dibahas dan diselesaikan.


Resolusi Tahun 2022

Kekurangan pada waktu yang lalu harus dibenahi, dan kelebihan perlu dikembangkan dan disebarkan. Itulah yang harus dilakukan seorang guru yang menyadari esensinya di dunia pendidikan. Kualitas diri tidak diukur seberapa banyak menghasilkan sesuatu, melainkan seberapa banyak menebarkan kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.

Besar harapan saya, pada tahun 2022 saya memiliki kemampuan digital yang memadai, dapat menerbitkan buku antologi dan buku solo di kalangan siswa dan guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang dan MGMP Kota Pangkalpinang, dan dapat terus berbagi kepada siapa pun dengan ikhlas sesuai kemampuan. 

Semoga saya menjadi hamba yang senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan dengan menjadi orang yang rendah hati dan terus memperbaiki diri, serta senantiasa berbagi kebaikan. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada guru-guru hebat yang telah mengajarkan saya  banyak hal.


Pangkalpinang, 16 Desember 2021

Rosminiyati, S.Pd.

Guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang


#SATUGURU - Mengajar itu menyenangkan


1 comment:

Menulis, Menulis, Menulis!