Peran Guru dalam peradaban
Menjadi guru bukanlah pilihan pekerjaan
berdasarkan pertimbangan besarnya imbalan atau penghasilan. Pilihan profesi ini
juga bukan berdasarkan perhitungan untung dan rugi seperti halnya jual beli.
Profesi guru dipilih sesuai dengan hati nurani karena ingin mengabdi untuk
negeri.
Profesi guru bukanlah suatu pekerjaan
yang ringan, karena guru merupakan garda terdepan bagi keberlangsungan
peradaban bangsa. Di tangan guru, wajah masa depan bangsa akan tercipta, karena
guru merupakan model utama bagi murid-murid setelah orang tua. Oleh karena itu,
guru harus memperlengkapi diri dengan seperangkat kompetensi yang dibutuhkan
dalam menjalankan profesi ini.
Kemajuan teknologi informasi yang begitu
pesat menyebabkan peran guru semakin berat. Segala informasi baik dan buruk
tersaji secara terbuka dan menarik dalam berbagai bentuk dengan tanpa batas
waktu dan ruang. Itu semua akan berpengaruh besar terhadap wujud masa depan
bangsa ini. Jika konten baik yang terserap, maka masa depan bangsa akan aman.
Sebaliknya, jika informasi buruk yang dikonsumsi, akan hancurlah
peradaban.
Guru bukanlah manusia sempurna. Guru
hanyalah manusia biasa yang sarat kekurangan. Oleh karena itu, tak heran jika
kelengkapan kompetensi yang harus dimiliki guru – pedagogik, kepribadian,
profesional, dan sosial - tidak terpenuhi dengan sempurna. Namun, Keterbatasan
guru tidak serta merta dipandang sebagai kekurangan atau aib yang memalukan,
melainkan dapat diminimalisir dengan cara yang cerdas, yaitu melalui proses
belajar.
Refleksi Guru Tahun 2021
Saya, seorang guru yang memiliki banyak
sekali kekurangan, khususnya penguasaan keterampilan menulis dan pemanfaatan
aplikasi digital dalam kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, saya seorang
pembelajar yang selalu ingin membenahi dan mematutkan diri agar pantas disebut
guru.
Menyadari minimnya kemampuan yang
diperlukan pada pembelajaran abad 21 ini, saya pun bergabung di kelas Pelatihan
Belajar Menulis PGRI pada Juli 2021, dan lulus pada Oktober 2021. Dalam waktu
yang singkat, perubahan secara drastis terjadi pada diri saya.
Capaian sejak bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI menjadi capaian puncak saya pada tahun 2021. Terhitung sejak Juli 2021, saya telah menulis 3 buku antologi, 1 buku solo, artikel dalam Jurnal Pasuruan Inovasi dan Tendik, meraih juara 2 lomba blog pada peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, menjadi moderator pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22, menjadi moderator dan narasumber pada Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Angkatan Pertama, menjadi narasumber pada kegiatan MGMP kota Pangkalpinang dan pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog di SMK Negeri 2 Pangkalpinang, dan mendirikan komunitas Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang.
| Narasumber pada kegiatan MGMP Kota Pangkalpinang |
| Narasumber pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog |
| Kegiatan membuat dan mengelola blog dengan pendampingan |
| Bersama Laskar Literasi yang membantu pelaksanaan workshop |
Terbitnya buku solo dan jurnal yang difasilitasi oleh PGRI, telah pula mengantarkan saya kepada pengusulan kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang selama 13 tahun tak pernah digubris nasibnya lantaran syarat tidak lengkap meskipun jumlah nilai sudah jauh terlampaui. Berkat pengusulan tersebut, kawan-kawan guru yang sudah lama di posisi IV a, dan kawan-kawan yang masih muda pun ikut termotivasi.
Alhamdulillah, semangat berbagi tanpa
pamrih, berkolaborasi, saling menghargai, menginspirasi, memotivasi, dan tetap rendah hati di
saat telah sukses yang diajarkan oleh Tim Belajar PGRI, telah berimbas pula
pada diri saya untuk melakukan hal yang sama pada orang-orang di lingkungan
saya. Mengajar pun menjadi lebih percaya diri dan menyenangkan dibandingkan
sebelumnya.
SATUGURU sebagai Solusi
Berdasarkan pengalaman saya dengan
kesulitan dan solusinya, saya dapat menyimpulkan bahwa SATUGURU merupakan
solusi bagi perbaikan dan peningkatan kompetensi guru. Berikut alasan-alasan
yang dapat saya paparkan.
SATUGURU berarti guru adalah
satu-satunya profesi utama yang dimiliki. Sebuah profesi yang dipilih tanpa
tujuan apa pun selain untuk mengabdi pada negeri. Jika demikian, apa pun
kendala yang dihadapi di lapangan, seorang guru akan tetap fokus dan nyaman
menjalani profesi ini. Guru akan dengan ringan melangkahkan kakinya menuju
sekolah maupun ruangan kelas. Guru akan tampil secara prima sebagai pribadi
istimewa dalam perannya sebagai motivator, fasilitator, kreator, dan inspirator
dengan hati yang gembira di hadapan murid-muridnya.
SATUGURU berarti guru harus menyatukan
fisik dan psikisnya saat berhadapan dengan murid-murid di dalam kelas atau di
lingkungan sekolah. Guru hendaklah benar-benar memandang muridnya sebagai sosok
anak yang dia ridukan dan merindukannya. Mendidik dari hati, bukan hanya sekedar
melepaskan kewajiban terkait jam pelajaran. Bukan pula sekedar menyampaikan
materi dan memberikan nilai. Yang lebih penting, adalah bagaimana mempersiapkan
mereka menuju masa depan dengan akhlak mulia.
SATUGURU mengandung makna bahwa
guru-guru harus bersatu, berkolaborasi, bahu membahu dalam proses mencerdaskan
murid-murid. Guru-guru harus mempunyai visi dan misi yang sama dalam menggiring
calon penerus bangsa dalam meraih masa depannya. Dengan kebersamaan, proses
belajar mengajar dan bimbingan di sekolah akan dengan mudah diterapkan, sehinga
tujuan pun akan mudah dicapai.
Suasana kebersamaan juga akan membuat
guru-guru merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan profesinya. Dengan
kebersamaan, yang berat akan terasa ringan. Para guru akan saling menguatkan
dalam segala hal, khususnya terkait kompetensi yang harus dimilikinya. Kelemahan
ditutup dengan kelebihan melalui proses saling mengajarkan, dan kelebihan
menjadi modal untuk berbagi. Akhirnya, meningkatlah kepercayaan diri, dan
mengajar pun menjadi semakin menyenangkan.
SATUGURU diartikan semua
guru di negeri ini harus bersatu. Guru bersatu dalam organisasi profesi, baik di
sekolah maupun di wilayah, bahkan di seluruh Indonesia. Tak diragukan,
organisasi profesi guru adalah organisasi yang benar-benar dibentuk untuk
kepentingan kemajuan pendidikan. Di dalam organisasi ini, berbagai permasalah
tekait kegiatan belajar dan mengajar khususnya, dan pendidikan pada umumnya,
dapat dibahas dan diselesaikan.
Resolusi Tahun 2022
Kekurangan pada waktu yang lalu harus
dibenahi, dan kelebihan perlu dikembangkan dan disebarkan. Itulah yang harus
dilakukan seorang guru yang menyadari esensinya di dunia pendidikan. Kualitas
diri tidak diukur seberapa banyak menghasilkan sesuatu, melainkan seberapa
banyak menebarkan kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.
Besar harapan saya, pada tahun 2022 saya
memiliki kemampuan digital yang memadai, dapat menerbitkan buku antologi dan buku solo
di kalangan siswa dan guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang dan MGMP Kota
Pangkalpinang, dan dapat terus berbagi kepada siapa pun dengan ikhlas sesuai kemampuan.
Semoga saya menjadi hamba yang
senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan dengan menjadi orang
yang rendah hati dan terus memperbaiki diri, serta senantiasa berbagi kebaikan.
Semoga Allah memberikan kebaikan kepada guru-guru hebat yang telah mengajarkan
saya banyak hal.
Pangkalpinang, 16 Desember 2021
Rosminiyati, S.Pd.
Guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang
#SATUGURU - Mengajar itu menyenangkan
terima aksih
ReplyDelete