Saturday, October 30, 2021

Opening Ceremony_GMLD

 


Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI telah membuka 3 kelas belajar yang telah berjalan dan terbukti hasilnya:

1. Kelas belajar menulis (sudah sampai 22 gelombang)
2. Kelas Belajar berbicara (4 gelombang)
3. Kelas Bedah Soal PPPK.

Kelas-kelas belajar tersebut diprakarsai oleh Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. dan dibantu oleh alumni kelas belajar menulis dan berbicara dari gelombang sebelumnya. Semuanya tidak berbayar alias gratis. Tujuan diadakannya kelas menulis adalah agar guru di Indonesia semakin banyak yang menulis dan menerbitkan buku.

Untuk kelas belajar berbicara, tujuannya agar para guru dapat berbicara dengan baik dan lancar di depan umum, sehingga nantinya dapat menjadi narasumber pada berbagai acara; sedangkan kelas Bedah Soal PPPK bertujuan agar guru-guru yang masih berstatus honorer dapat lulus dalam ujian PPPK dan dapat lebih baik penghasilannya.

Beberapa alumni Belajar Menulis gelombang 19 dan 20 sendiri bekolaborasi dalam sebuah kelas Guru Motivator Lirerasi Digital yang merupakan program yang diprakarsai oleh Om Jay tahap berikutnya. Kegiatan ini diilhami oleh semakin banyaknya guru yang lulus dari kelas Belajar Menulis, kelas Belajar Berbicara, dan yang lulus tes PPPK tahap pertama. Tak terlepas pula keprihatinan atas nasib para guru honorer yang dibayar di bawah standar UMR.

Dari hasil beberapa kali pembahasan via zoom dan diskusi melalui WhatsApp grup, disepakati hal-hal terkait persiapan pelaksanaan kelas Guru Motvator Literasi Digital ini. Salah satu poin terpenting adalah pelaksanaan acara pembukaan (opening ceremony) yang diluncurkan malam ini, Sabtu 30 Oktober 2021 pukul 19.30 – 21.30 WIB.


Sesuai harapan, peserta yang hadir cukup banyak dan antusias peserta terhadap kegiatan ini kentara sekali dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada panitia.








Pada acara Opening Ceremony ini, dijelaskan hal-hal terkait kurikulum dan tata tertib yang harus dipenuhi peserta yang ingin lulus dan mendapatkan sertifikat 40 jam.



SYARAT LULUS KELAS GURU MOTIVATOR LITERASI DIGITAL 32 JAM
  1. Minimal mengikuti 16 materi dari 20 materi yang diberikan di kelas Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) yang dibuktikan dengan daftar hadir yang tersedia di deskripsi grup WA GMLD.
  2. Menulis resume di blog pribadi minimal 16 resume materi yang diberikan narasumber dari 20 materi yang dibuktikan dengan mengisi form pengumpulan resume.
  3. Menulis minimal 1buku antologi yang dibuktikan dengan namanya tercantum pada daftar penulis buku tersebut (peserta akan mendapatkan sertifikat penulis dari penerbit).
Diharapkan, dari kelas Guru Motivator Literasi Digital ini, guru-guru tdak ada lagi yang dibayar murah karena sudah terampil berliterasi digital.

Keterampilan literasi digital yang harus dikuasai:
1. Cakap atau terampil digital;
2. Wawasan tentang etika digtal;
3. Keamanan digital;
4. Paham dan mensosialisikan literasi digital.

Demikianlah paparan yang dapat direkam pada acara Opening Ceremony GMLD. Semoga bermanfaat bagi kita semua sebagai pedoman dan penyemangat untuk terus memanfaatkan media digital secara positif.



Pangkalpinang, 30 Oktober 2021

Rosminiyati












Tantangan Menulis Minggu ke-6


Setiap orang pasti mempunyai cerita sendiri di dalam hidupnya. Suka dan duka pasti dialami oleh siapa saja. Ingatan tentang perjalanan hidup ada yang masih terekam, namun ada pula yang sudah dilupakan. Semuanya memberikan warna bagi kehidupan selanjutnya.

Perjalanan hidup dengan berbagai cerita di dalamnya tak mungkin bisa kita ulang. Waktu tak pernah mundur untuk menggiring kita kembali ke masa lalu di saat kita merindukan saat-saat itu. Sementara, keterbatasan daya ingat kita tak mampu menampung kisah perjalanan yang panjang. Oleh karena itu, menulis cerita yang perlu diabadikan merupakan keniscayaan.

Calon bloger terkenal dan penulis hebat Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang, berikut tantangan menulis minggu ini:
  1. Tulislah cerita yang pernah kalian alami dengan tema dan panjang tulisan bebas.
  2. Pedoman penulisan sesuai dengan tata tertib yang masih berlaku.
https://rosminiyatiberbagi.blogspot.com/2021/10/tata-tertib-laskar-literasi-smk-negeri.html

Selamat berkarya sambil menikmati akhir pekan yang menyenangkan.


“Niatkan berbuat apa pun untuk kebaikan, dan lakukan dengan sepenuh hati,
maka akan ada banyak keajaiban yang menanti.”
(Rosminiyati)



Pangkalpinang, 30 Oktober 2021

Rosminiyati

Tuesday, October 26, 2021

Writer's Block- Puisi Versi Telelet



WRITER'S BLOCK

Oleh: Rosminiyati



Diam dalam kelam

Dengan gawai tergenggam

Tak meninggalkan jejak kalam.



Begitu banyak ide yang datang

Tanpa mampu untuk dihadang

Terus pergi dan menghilang

Hati pun terasa lengang.



Rangkaian kata bermakna

Cerita tentang luasnya buana

Area pengembara berkelana

Tanpa goresan adiwarna

Tanpa tinta pena.



Berusaha untuk fokus

Agar ide bisa dibungkus

Namun sayang jiwa tandus

Merangkai kata tak bisa mulus

Bagaikan disekat makhluk halus

Dipenjarakan secara misterius.



Semua jalan dirasakan buntu

Tak dapat diurai satu per satu

Tak ada yang bisa membantu

Tak guna juga menggerutu

Pasrahkan pada waktu.



Pergilah dengan aman

Carilah suatu kesenangan

Lupakan sejuta kemalangan

Hingga beroleh ketenangan.



Writer's block bukan tragedi

Pernah terjadi pada setiap pribadi

Tetaplah menjadi penulis trendi.



Pangkalpinang, 26 Oktober 2021

Sunday, October 24, 2021

2 Jam bersama sang Founder Kelas Belajar Menulis

 


Sebuah perjalanan tanpa rencana tak selamanya membawa kesesatan yang kelam. Seperti halnya saya, sekarang dalam keadaan tersesat di tempat yang benar. Berawal dari keinginan yang kuat untuk keluar dari zona nyaman, kini berada di zona yang sangat nyaman. Itulah yang disebutkan takdir baik.

Patut disyukuri, karena tak semua orang mendapatkan kesempatan emas ini. Hanya berniat ingin belajar menulis agar bisa berbagi, ternyata merambat ke dunia lain yang lebih menantang. Tentu saja sama-sama memberikan manfaat bagi sesama. Itulah dunia pemandu acara.

Kagum dengan peran moderator pada kegiatan belajar menulis gelombang 19 via WA yang saya sebagai pesertanya, saya pun membayangkan bagaimana rasanya menjadi moderator. Ternyata, bisikan hati saya didengar malaikat dan diteruskan kepada Pemilik takdir.

Jumat barokah. 15 Robiul Awal, bertepatan dengan 22 Oktober 2021, saya diberikan kesempatan mendampingi Narasumber dalam kegiatan belajar menulis gratis PGRI gelombang 21 dan 22. Tak tanggung-tanggung, saya membersamai Founder kegiatan belajar menulis ini. Berjuta rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata tentunya.

Demi lancarnya acara, sejak siang saya sudah mempersiapkan diri. Kebetulan tidak ada acara balik lagi ke sekolah lantaran peringatan Maulid Nabi dibagi menjadi 2 sesi, tidur siang pun dilakoni.  Makan malam diganti makan sore. Selanjutnya, memeriksa kondisi HP dan laptop agar dalam kondisi prima. Doa pun dipanjatkan agar tidak terjadi listrik padam seperti saat pertama kali menjadi moderator pada pertemuan ke-4.

Tepat pukul 19.00 acara dimulai. Dengan lafal basmalah, saya mulai memandu acara. Berbeda dengan saat membersamai Narasumber Ibu Noralia, saat ini saya merasakan jantung saya berjalan tidak normal. Tangan saya agak gemetar. Sepertinya ada sesuatu yang menyebabkan ini semua. Betapa tidak! Saya, murid yang baru kemarin diajar menulis oleh Tokoh besar, founder kegiatan belajar ini dan tim yang luar biasa, tiba-tiba mendampingi sang "mahaguru" memberikan materi di gelombang yang baru. Ada perasaan tidak layak untuk dilakukan. Tapi, karena beliau sendiri begitu luar biasanya memberikan amunisi berupa motivasi dan pencerahan tanpa lelah pada saya untuk terus berkembang, akhirnya saya pun memberanikan diri.

Alhamdulillah, sambil tak henti-hentinya berdoa agar diberikan ketenangan, beberapa saat kemudian semuanya terkendali. Saya sudah tenang, dan dapat membersamai Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. atau Om Jay sampai acara berakhir. Sempat terjadi pemadaman listrik selama sekitar 10 menit, tetapi tidak mempengaruhi jalannya acara.

Tak ada ucapan yang pantas saya persembahkan kepada gurunda Om Jay dan Tim Solid-nya atas kesempatan besar yang diberikan kepada saya. Teriring doa, semoga beliau diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan Pendidikan S3-nya. Tak lupa pula puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya.

 

Pangklapinang, 24 Oktober 2021

Rosminiyati


Saturday, October 23, 2021

Yuk Belajar Menulis Pantun!

 

Tantangan Menulis Minggu ke-5

Bagi orang Indonesia, pantun bukanlah hal yang baru. Bahkan, tetua menyampaikan pesan dalam kehidupan sehari-hari sering menggunakan pantun. Tradisi berpantun sering pula kita temui dalam acara adat pernikahan.

Sebagai budaya asli bangsa Indonesia, kita berkewajiban untuk melestarikan pantun agar tidak hilang dari peradaban. Untuk itu, mari kita pelajari seluk beluk pantun, dan selanjutnya kita praktikkan untuk membuatnya.

Materi tentang pantun, dapat dipelajari dari buku digital berikut.

https://anyflip.com/wiirj/akny/

Selanjutnya, tantangan menulis kita pekan ini sebagai berikut:

Tulislah 3 buah pantun perkenalan diri berdasarkan syarat-syarat penulisan pantun yang terdapat pada buku digital tersebut di atas. Selanjutnya, seperti biasa, silakan salin tautan blog kalian, dan kumpulkan di grup Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang.

Berikut 3 contoh pantun perkenalan:

https://rosminiyatiberbagi.blogspot.com/2021/08/pantun-perkenalan.html

Selamat berkarya di akhir pekan.

 

Membeli pita berbahan katun,

Jahit kebaya model draperi,

Mari kita belajar berpantun,

Lestarikan budaya asli negeri.


Pangkalpinang, 23 Oktober 2021

Rosminiyati

 

 

Thursday, October 21, 2021

Bulutangkis-Puisi


Bulutangkis

Oleh: Rosminiyati


Bulutangkis olah raga praktis

Hanya dua orang saja bisa eksis

Empat orang menjadi keren habis

Terkena shuttlecock hanya meringis.

 

Bulutangkis permainan sederhana

Olah raga yang banyak peminatnya

Dari anak-anak sampai orang tua

Dari kota sampai pelosok desa.

 

Bulutangkis olah raga bergengsi

Jika sungguh-sunguh ditekuni

Harumkan nama Ibu Pertiwi

Buktikan cinta pada Negeri.

 

Tim bulutangkis Indonesia berjaya

19 tahun penantian tak sia-sia

Piala Thomas kembali diterima

Sebagai kemenangan berlaga.

 

Kemenangan bukan hasil sesaat

Latihan dilakukan sangatlah berat

Disiplin waktu yang sangat ketat

Demi meraih sebuah martabat.

 

Martabat bangsa di tangan kita

Di bidang olah raga dan lainnya

Tangan kekar torehkan karya

Hasilkan cipta yang nyata.


Pangkalpinang, 21 Oktober 2021

Thursday, October 14, 2021

Hanca pada Bulan September - Puisi


 

Hanca pada Bulan September

Oleh: Rosminiyati

 


Ketika hidup mulai tertata

Tak ada lagi cerita yang hampa

Apalagi kisah waktu yang terjeda

Semua terukir dalam daftar rencana

 

Bulan September deretan kegiatan terukir

Tersusun sesuai prioritas waktu untuk digulir

Satu per satu rencana yang dibuat mulai mengalir

Hingga batas waktu yang ditargetkan pun berakhir

 

Berbagai usaha telah digencarkan secara maksimal

Dengan perangkat diri dan doa yang terus diamal

Gairah literasi disandingkan dengan tawakal

Sebuah hanca tak kuat untuk disangkal

 

Hadiah buku dari sahabat Lage tak selesai dibaca

“Menembus Batas Mimpi” bukan sekedar cerita sederhana

Pejuang agama bertarung mewujudkan mimpi leluhurnya

Memoar suci dilukiskan begitu apik oleh penulisnya

 

Pertarungan dalam keterbatasan terus kulakoni

Kedaifan dipatutkan lewat usaha yang diridai

Maafkan daku duhai sahabat yang telah memberi

Hanca yang terjadi bukanlah karena aku tak sudi

 

Lembar demi lembar cerita dalam bukumu kusantap

Keinginan hati melahap seluruhnya dalam sekejap

Apa daya keterbatasan waktu dan daya serap

Mahkota tulisanmu hanya mampu kudekap.

 

Pangkalpinang, 14 Oktober 2021

Tuesday, October 12, 2021

Public Speaking for Teacher - 1st Meeting

 


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke       :    1

Gelombang       :    4

Tanggal             :    12 Oktober 2021

Tema                 :    Berbicara Efektif di Dunia Digital

Narasumber      :    Indra Charismiadji

 

Pertemuan pertama Public Speaking PGRI yang diprakarsai Bapak Wijaya Kusumah alias om Jay dilakukan melalui zoom meeting. Materi dengan tema “Berbicara Efektif di Dunia Digital” disajikan oleh narasumber Bapak Indra Charismiadji dan didampingi moderator andal Ibu Rifatun.  

Pak Indra Charismiadji lahir di Bandung, 9 Maret 1976. Beliau adalah Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS). Beliau senantiasa berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan.

Pak Indra merupakan alumnus the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu dari universitas tersebut, beliau melanjutkan studi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Setelah mempunyai pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat seperti Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, pada tahun 2002, akhirnya Pak Indra kembali ke tanah air dan berperan aktif dalam mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia. Itulah sedikit profil seorang praktisi Pendidikan yang berperan sebagai pemateri pada acara Public Speaking malam ini.

Acara berjalan lancar meskipun Bapak Indra memberikan materi di dalam kegelapan malam karena sedang dalam perjalanan dari kota Padang Panjang menuju Padang, Sumatra Barat. Kegiatan lebih banyak dilakukan dengan tanya jawab.

Berbicara efektif di dunia digital terdapat perbedaan dengan berbicara secara langsung. Perbedaan yang terbesar adalah kita tidak dapat memastikan apakah orang tertarik dengan materi kita karena kita tidak dapat melihat raut wajah dan ekspresi orang yang diajak berbicara. 

Sebelum memulai penyajian materi, kita harus memvisualisasi diri kita sendiri. Atinya, kita uji coba presentasi kita dengan cara merekamnya dan kemudian menempatkan diri kita sebagai pendengar. Jika kita sendiri tidak tertarik dengan cara penyajian kita, secara otomatis orang juga tidak akan tertarik. 

Selanjutnya, kita harus menyajikan materi sesuai dengan kebermanfaatannya. Oleh karena itu, materi yang akan disajikan harus disesuaikan dengan kebutuhan audience kita. 

Beberapa poin penting yang sempat saya rekam dalam pemaparan materi dan hasil tanya jawab terkait kegiatan pembelajaran di sekolah sebagai berikut:

  • Belajar dalam jaringan (daring) tidak efektif karena tidak menampilkan ekspresi/mimik maksimal dari masing-masing personil, baik guru maupun siswa.
  • Murid cenderung mematikan kamera dengan berbagai alasan.
  • Murid menggantikan video background dengan foto diri dengan tampilan seakan-akan mereka hadir dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh tersebut.
Dibahas pula tentang pilar pendidikan menurut UNESCO: 

  • Learning to know;
  • Learning to do;
  • Learning to be;
  • learning to live together.

Peran guru saat ini tidak lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai fasilitator dan motivator. Murid sebagai subjek pembelajaran dibimbing untuk mencari tahu tentang berbagai hal, Oleh karena itu, guru berbicara atau memberikan informasi cukup 15 menit saja, selebihnya muridlah yang aktif dalam kegiatan belajar.

Guru harus mengajar tentang cara mencari tahu. Guru mengajar tentang cara belajar. Guru harus mencari cara menjadikan murid mau belajar. Sesuai prinsip belajar Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, maka guru sebagai pemberi contoh. Oleh karena itu, guru harus rajin belajar terlebih dahulu agar murid dapat mencontoh gurunya yang rajin belajar.

Jangan pernah menyuruh murid untuk belajar karena sesuai teori Newton dimana ada aksi, maka akan muncul reaksi. Jika disuruh belajar, maka murid justru semakin tidak mau belajar. Untuk itu, guru harus melakukan kiat-kiat, antara lain: menggunakan model yang berbeda, belajar dengan praktik, dan menggunakan game online.

Guru dituntut untuk dapat membuat game online sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui proses belajar. Guru harus selalu belajar dan belajar tentang berbagai hal, karena itulah hakikat belajar sepanjang hayat.

Selanjutnya, dalam mendidik karakter peserta didik, guru harus  berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan kolaborasi, maka kebiasaan yang kurang baik dapat dikomukasikan dan diatasi bersama-sama. Terkait pemberian contoh bagi murid, harus pula dilakukan secara bersama-sama. Antara guru yang satu dengan lainnya harus mempunyai pola yang sama. Akan sia-sia jika hanya segelintir saja guru yang memberikan contoh yang baik, sementara yang lainnya tidak melakukan apa-apa.

Guru tidak hanya memberikan contoh yang baik bagi murid-murid, melainkan juga harus mengajak mereka bersama-sama melakukannya. Misalnya, masalah membuang sampah pada tempatnya. Sesekali guru mengajak murid bersama-sama mengerjakannya. Maka, rasa bahagia akan dirasakan pula oleh mereka.

Terkait Pendidikan karakter tanpa tatap muka, kita dapat menggunakan video-video terkait sesuai dengan jenis karakter mana yang ingin dikembangkan. Kita dapat memilihnya sesuai dengan kebutuhan.

Diharapkan guru tidak hanya menjadi contoh dan menggerakkan murid-muridnya, melainkan juga menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya.

Demikianlah isi diskusi dengan narasumber dalam acara Public Speaking pada malam hari ini yang dapat saya rekam. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

 

Pangkapinang, 12 Oktober 2021

Rosminiyati


Kisah Moderator Magang dan Listrik Padam

 


Perjalanan hidup memang tak dapat ditebak. Namun, tak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semua sudah tertulis di Laul Mahfudz yang kita belum tahu apa sebenarnya. Tugas kita hanyalah menjalani ikhtiar secara maksimal demi menjemput takdir yang sudah direncanakan Allah Azza wa Jalla.

Sejak bergabung di dalam kelas belajar menulis gelombang 19, keajaiban terjadi silih berganti. Banyak hal yang saya tidak mengerti dan menimbulkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tak dapat menjawabnya. Entah apa rahasia Allah pada saya, tapi tentunya pastilah indah menurut-Nya. Oleh karena itu, tugas saya hanyalah berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Ahad, 10 Oktober 2021 pukul 16.42, ada chat WA dari Ms. Phia, salah satu Tim Solid Om Jay - Tim belajar menulis PGRI. Beliau menanyakan kesanggupan saya untuk menjadi moderator pada minggu kedua kegiatan belajar menulis gelombang 21 dan 22. Tanpa berpikir panjang, saya pun menjawab bahwa saya bisa. Setelah itu, saya berpikir, apakah benar saya bisa?

Beberapa hari sebelumnya, saya memang sudah digabungkan Ibu Aam di dalam WA grup Tim solid Om Jay. Namun, sejauh itu, saya tidak tahu apa peran saya, karena memang saya belum mengerti apa-apa. Oh, ternyata di sini tempat saya belajar menjadi moderator. Ya, “moderator magang” saya menyebutnya.

Sambil meraba-raba apa yang harus saya lakukan sebagai pemandu acara belajar via chat WA, saya pun menggencarkan gerakan usaha. Meminta arahan dari Ibu Maesaroh, selanjutnya minta izin kepada Om Jay.  Rambu-rambu dari Pak Dail juga saya jadikan pedoman. Buku “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online” milik Bu Aam pun tak luput menjadi sasaran.

Chat WA pada saat belajar saya buka kembali untuk melihat-lihat gaya masing-masing moderator membersamai narasumber. Wah, sepertinya berat-berat semua yang saya tak mungkin mengikutinya. Mereka adalah para moderator andal yang tak terkalahkan. Saya hanya mampu mengikuti bagian yang ringan-ringannya saja dengan harapan tidak mengurangi esensi peran moderator itu sendiri.

Pukul 17.20 saya mengirim pesan kepada Ibu Nora, bahwa saya meminta waktu untuk memulai dengan penyampaian sedikit motivasi yang saya perkirakan tidak sampai 10 menit. Penyampaian ini saya maksudkan agar Bu Nora tidak menunggu terlalu lama. Namun, jawaban Bu Nora di luar dugaan saya. Beliau baru saja mau menyampaikan bahwa beliau terlambat 15 menit karena sedang mengikuti pelatihan di luar jaringan (luring). 

Tepat pukul 19.00 saya minta izin mengunci grup kepada guru hebat peserta belajar menulis gelombang 21 dan 22. Mulailah saya beraksi ala moderator sejati (ha … ha …). Atas izin Om Jay, saya memberanikan diri memberikan motivasi kepada seluruh peserta belajar agar mereka bersemangat mengikuti dan menyelesaikan kuliah malam sampai tuntas. Hal ini saya lakukan berangkat dari keprihatinan saya tentang sedikitnya yang mengumpulkan resume padahal jumlah pasukan di masing-masing gelombang 200-an.

Sampai di sini, perjalanan memandu kelas aman-aman saja. Setelah menayangkan video pembacaan puisi tentang semangat literasi milik saya sendiri, saya mengintip kesiapan Ibu Nora di seberang sana khawatir beliau menunggu lama. Pukul 19.19 WIB saya mengirimkan chat, “Sudah siap, Bu?” Chat pun berbalas, “Sebentar, Bu. Baru sampai rumah. 5 menit lagi nggih,” balas beliau dengan sisipan bahasa Jawa yang belakangan ini sering saya simak di kolom chat.

Setelah membaca pesan tersebut, saya merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam sanubari saya. Ada juga tamparan pada mental saya yang tak bisa saya elak. Ternyata, orang-orang yang tergabung dalam Tim Solid Om Jay benar-benar orang yang tangguh, pejuang sejati, tulus, tanpa pamrih. Mereka juga seperti mempunyai 1.000 nyawa untuk melakukan 1 kegiatan ke kegiatan lainnya. Lalu, saya ini siapa? "Ya Allah … saya bukanlah siapa-siapa …," begitu lirih suara nurani saya berbisik. Di sini, saya mendapatkan pelajaran yang utama.

Pukul 19.20 masuk pesan lagi dari Bu Nora yang menyatakan bahwa beliau belum dijadikan admin. Akhirnya, sambil menunggu beliau mempersiapkan diri, saya membagikan profil Bu Nora kepada para peserta. Saya juga segera menjadikan Bu Nora sebagai admin di gelombang 22 dan memasukkan sekaligus menjadikan beliau admin di gelombang 21. Bagian ini benar-benar di luar pengetahuan saya. Ternyata, memeriksa kondisi tentang keberadaan narasumber di dalam grup WA kelas belajar sebelum kegiatan dimulai, harus pula menjadi perhatian. Ini merupakan pelajaran kedua yang saya dapatkan.

Pukul 19.28, Ibu Nora memasuki kelas. Alhamdulillah, saya lega. Akhirnya Ibu Nora sudah siap dan dapat meluncur ke WA grup gelombang 22. Saya menunggu Ibu Nora meneruskan pesan pertamanya ke gelombang 21. Ternyata, sudah agak lama tidak kunjung ada. Lalu, saya berpikir cepat. Oh, ternyata, itu merupakan tugas moderator juga. Dengan sigap saya teruskan pesan demi pesan dari Bu Nora ke grup sebelah meskipun ada beberapa yang selip (he ... he ...) Ini pelajaran ketiga.

Saya mulai menikmati acara yang sedang berjalan. Beberapa pesan sponsor memberikan dukungan datang dari WA pribadi maupun grup. Ya Allah … saya terharu. Ternyata, begitu banyak orang yang peduli dan mendoakan keberlangsungan saya dalam dunia literasi ini. Begitu indah jalan yang Allah berikan kepada saya.

Acara penyampaian materi oleh Bu Nora berjalan lancar hingga sesi pertanyaan. Kelincahan tangan saya dalam meneruskan pesan pun mulai datang. Ada kebingungan terjadi pada pemberian label pertanyaan peserta. Tak terpikir bertanya tentang hal tersebut membuat saya harus mencoba-coba tentang caranya. Alhamdulillah, akhirnya saya temukan juga caranya dengan bermodalkan kecerdasan yang diberikan Allah yang masih sedikit tersisa di masa tua.

Sampai pada pertanyaan ke-9, semuanya masih berjalan aman.  Pukul 20.58 WIB listrik padam, sementara pertanyaan belum selesai. Tidak ada orang lain di rumah. Suami dan anak saya kebetulan sedang ada keperluan di luar. Dalam kegelapan, hanya bermodalkan cahaya dari gawai, saya mencari lampu senter. Alhamdulillah, pertanyaan nomor 10 masih bisa diteruskan dengan pengalihan koneksi dari Indihome ke hotspot data seluler.

Menjelang pertanyaan ke-11, kuota data ternyata juga habis. Hal ini diketahui pada saat pesan itu tidak terkirim ke tujuannya. Ya Allah … saya terpaku sejenak. Hal tak biasa terjadi pada diri saya. Biasanya, apabila ada masalah, saya panik. Kali ini saya bisa tenang dengan setenang-tenangnya. Ada terbersit untuk menghubungi Tim Solid agar bisa mengambil alih, tapi tidak mungkin, karena masalahnya pada kuota data internet. Akhirnya, dengan menggunakan jalur telepon biasa, saya menghubungi adik saya untuk mengisi kuota internet saya. Alhamdulillah, respon adik saya sangat cepat. Pertolongan Allah tiba pada saat yang tepat. Akhirnya, acara dapat diselesaikan meskipun dengan perasaan sedikit terburu-buru karena khawatir baterai juga akan habis.

Ada pembelajaran keempat yang saya dapatkan dari peristiwa terakhir. Kuota data internet harus cukup tersedia, sehingga harus pula diperkisa sebelum memulai acara. Tak ketinggalan, baterai HP dan laptop juga harus dalam keadaan prima sebagai antisipasi pemadaman listrik terjadi.

Setelah melalui serangkaian peran sebagai moderator magang, kini saya semakin kagum dengan para moderator andal yang selama ini sudah memandu kami belajar. Betapa sigap, cerdas, dan cermatnya mereka memerankan diri sebagai pemandu acara hingga tak ada pesan yang tertinggal. 

Apa pun keadaan yang sudah terjadi, pengalaman menjadi moderator magang dengan segala kendalanya merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Rasa syukur tiada henti atas kesempatan yang telah diberikan oleh Om Jay dan Tim. Bersyukur pula telah dipertemukan dengan orang-orang baik yang ada di sekeliling saya yang tak pernah lelah berbagi, menginspirasi, dan memberikan dukungan.

Hikmah besar di balik peristiwa, yaitu harus meningkatkan ketelitian, senantiasa bersyukur atas setiap keadaan, dan teruslah berbagi kebaikan. Tak kalah pentingnya, mulailah setiap perbuatan baik dengan ucapan basmalah, maka kemudahan akan senantiasa menyertai.

 

Pangklapinang, 12 Oktober 2021

Rosminiyati

 


Sunday, October 10, 2021

Jendela Literasi dengan Takdirnya


 


Oleh: Rosminiyati

 

Semilir angin petang perlahan menyapa

Semburat sang surya masih setia bertahta

Nyanyian burung tentang alam ikut bersama

Bisikkan pesan kepada raga yang mulai renta

 

Cerita petang menyeruak di balik gawai

Siluet cinta di ujung waktu mulai terurai

Sebuah lukisan sampul asmara menari gemulai

Kudekap erat dalam pelukan rindu yang aduhai

 

Kisah di suatu petang datang dari seberang

Menyibak jejak perjuangan tanpa kepalang

Terikat rapi dalam untaian aksara yang terpajang

Menggoda insan untuk segera bertandang

 

Mahkota yang dirindukan sampai jua pada takdirnya

Pelukis alam mewarnainya dengan kesempurnaan paripurna

Tak ada celah untuk sebuah guratan kealpaan apa lagi cela 

Tunduk patuh dalam setiap goresan pena tanpa tanya

 

Rangkaian kisah tentang pelukis aksara terhampar di sana

Mukaddimah sang pemrakarsa terukir indah di singgasana

Tak ada kisah takdir sebelum nasib diperjuangkannya

Tak ada pula waktu menunggu jiwa menggapainya

 

Inilah sebuah kisah yang sempurna

Petualangan cinta membara di hari tua

Tak ada kata terlambat untuk mengukir cerita

Sebelum nama diukir oleh keabadain yang tak mendua.

 

Di balik awan kemilau cahaya bintang telah bersembunyi

Dengan kelam malam cahaya petang pun telah berganti

Ukirlah kisah diri sebelum sang mentari pagi ingkar janji

Tak ada lagi yang peduli dengan cerita yang dibagi.

 

Pangkalpinang, 10 Oktober 2021



Thursday, October 7, 2021

VAKSIN - Puisi Versi Telelet

 



VAKSIN

Oleh: Rosminiyati

 

Istilah vaksin menjadi popular

Saat pandemi Covid 19 menjalar

Sebuah upaya agar tidak tertular.

 

Vaksinasi untuk semua kalangan

Dilaksanakan tanpa diminta bayaran

Hanya bersabar menunggu antrian

Karena semua butuh pelayanan.

 

Vaksinasi umumnya diterima dua kali

Untuk semua kalangan tanpa kecuali

Masyarakat awam sampai para ahli

Semuanya harus saling peduli

Karena vaksin tak perlu dibeli.

 

Ada masyarakat yang takut divaksin

Khawatir obatnya mengandung toksin

Ada pula yang masih perang batin

Ada ketakutan mengganggu janin

Ada pula yang sudah lama ingin

Berharap kesehatannya terjamin.

 

Vaksinasi diatur sesuai regulasi

Tak sembarangan melakukan aksi

Wewenang dipegang oleh instansi

Setelah melalui proses birokrasi

Oleh Lembaga terakreditasi.

 

Vaksinani sangat bermanfaat

Mencegah gejala Covid yang berat

Pertahanan Kesehatan menjadi kuat

Pengembalian ekonomi yang sehat.

 

Setelah divaksin jangan pernah lalai

Terhadap prokes jangan pula abai

Agar hidup kita kembali damai.

 

 Pangkalpinang, 7 September 2021

 

Menulis, Menulis, Menulis!