Perjalanan hidup memang tak dapat
ditebak. Namun, tak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Semua sudah
tertulis di Laul Mahfudz yang kita belum tahu apa sebenarnya. Tugas kita
hanyalah menjalani ikhtiar secara maksimal demi menjemput takdir yang sudah
direncanakan Allah Azza wa Jalla.
Sejak bergabung di dalam kelas belajar
menulis gelombang 19, keajaiban terjadi silih berganti. Banyak hal yang saya
tidak mengerti dan menimbulkan banyak pertanyaan yang saya sendiri tak dapat
menjawabnya. Entah apa rahasia Allah pada saya, tapi tentunya pastilah indah
menurut-Nya. Oleh karena itu, tugas saya hanyalah berusaha menjalankannya dengan
sebaik-baiknya.
Ahad, 10 Oktober 2021 pukul 16.42, ada
chat WA dari Ms. Phia, salah satu Tim Solid Om Jay - Tim belajar menulis PGRI.
Beliau menanyakan kesanggupan saya untuk menjadi moderator pada minggu kedua
kegiatan belajar menulis gelombang 21 dan 22. Tanpa berpikir panjang, saya pun
menjawab bahwa saya bisa. Setelah itu, saya berpikir, apakah benar saya bisa?
Beberapa hari sebelumnya, saya memang
sudah digabungkan Ibu Aam di dalam WA grup Tim solid Om Jay. Namun, sejauh itu,
saya tidak tahu apa peran saya, karena memang saya belum mengerti apa-apa. Oh,
ternyata di sini tempat saya belajar menjadi moderator. Ya, “moderator magang”
saya menyebutnya.
Sambil meraba-raba apa yang harus saya
lakukan sebagai pemandu acara belajar via chat WA, saya pun menggencarkan gerakan usaha. Meminta
arahan dari Ibu Maesaroh, selanjutnya minta izin kepada Om Jay. Rambu-rambu dari Pak Dail juga saya jadikan
pedoman. Buku “Kunci Sukses Menjadi Moderator Online” milik Bu Aam pun tak
luput menjadi sasaran.
Chat WA pada saat belajar saya buka kembali untuk melihat-lihat
gaya masing-masing moderator membersamai narasumber. Wah, sepertinya
berat-berat semua yang saya tak mungkin mengikutinya. Mereka adalah para
moderator andal yang tak terkalahkan. Saya hanya mampu mengikuti bagian yang
ringan-ringannya saja dengan harapan tidak mengurangi esensi peran moderator
itu sendiri.
Pukul 17.20 saya mengirim pesan kepada
Ibu Nora, bahwa saya meminta waktu untuk memulai dengan penyampaian sedikit
motivasi yang saya perkirakan tidak sampai 10 menit. Penyampaian ini saya maksudkan
agar Bu Nora tidak menunggu terlalu lama. Namun, jawaban Bu Nora di luar dugaan
saya. Beliau baru saja mau menyampaikan bahwa beliau terlambat 15 menit karena
sedang mengikuti pelatihan di luar jaringan (luring).
Tepat pukul 19.00 saya minta izin
mengunci grup kepada guru hebat peserta belajar menulis gelombang 21 dan 22. Mulailah
saya beraksi ala moderator sejati (ha … ha …). Atas izin Om Jay, saya
memberanikan diri memberikan motivasi kepada seluruh peserta belajar agar
mereka bersemangat mengikuti dan menyelesaikan kuliah malam sampai tuntas. Hal
ini saya lakukan berangkat dari keprihatinan saya tentang sedikitnya yang
mengumpulkan resume padahal jumlah pasukan di masing-masing gelombang 200-an.
Sampai di sini, perjalanan memandu kelas
aman-aman saja. Setelah menayangkan video pembacaan puisi tentang semangat
literasi milik saya sendiri, saya mengintip kesiapan Ibu Nora di seberang sana
khawatir beliau menunggu lama. Pukul 19.19 WIB saya mengirimkan chat,
“Sudah siap, Bu?” Chat pun berbalas, “Sebentar, Bu. Baru sampai rumah. 5
menit lagi nggih,” balas beliau dengan sisipan bahasa Jawa yang belakangan ini
sering saya simak di kolom chat.
Setelah membaca pesan tersebut, saya
merasakan ada sesuatu yang mengalir dalam sanubari saya. Ada juga tamparan pada
mental saya yang tak bisa saya elak. Ternyata, orang-orang yang tergabung dalam
Tim Solid Om Jay benar-benar orang yang tangguh, pejuang sejati, tulus, tanpa
pamrih. Mereka juga seperti mempunyai 1.000 nyawa untuk melakukan 1 kegiatan ke
kegiatan lainnya. Lalu, saya ini siapa? "Ya Allah … saya bukanlah siapa-siapa …," begitu lirih suara nurani saya berbisik. Di sini, saya mendapatkan pelajaran
yang utama.
Pukul 19.20 masuk pesan lagi dari Bu
Nora yang menyatakan bahwa beliau belum dijadikan admin. Akhirnya, sambil
menunggu beliau mempersiapkan diri, saya membagikan profil Bu Nora kepada para
peserta. Saya juga segera menjadikan Bu Nora sebagai admin di gelombang 22 dan
memasukkan sekaligus menjadikan beliau admin di gelombang 21. Bagian ini
benar-benar di luar pengetahuan saya. Ternyata, memeriksa kondisi tentang
keberadaan narasumber di dalam grup WA kelas belajar sebelum kegiatan dimulai,
harus pula menjadi perhatian. Ini merupakan pelajaran kedua yang saya
dapatkan.
Pukul 19.28, Ibu Nora memasuki kelas.
Alhamdulillah, saya lega. Akhirnya Ibu Nora sudah siap dan dapat meluncur ke WA
grup gelombang 22. Saya menunggu Ibu Nora meneruskan pesan pertamanya ke
gelombang 21. Ternyata, sudah agak lama tidak kunjung ada. Lalu, saya berpikir
cepat. Oh, ternyata, itu merupakan tugas moderator juga. Dengan sigap saya
teruskan pesan demi pesan dari Bu Nora ke grup sebelah meskipun ada beberapa yang selip (he ... he ...) Ini
pelajaran ketiga.
Saya mulai menikmati acara yang sedang
berjalan. Beberapa pesan sponsor memberikan dukungan datang dari WA pribadi
maupun grup. Ya Allah … saya terharu. Ternyata, begitu banyak orang yang peduli
dan mendoakan keberlangsungan saya dalam dunia literasi ini. Begitu indah jalan
yang Allah berikan kepada saya.
Acara penyampaian materi oleh Bu Nora
berjalan lancar hingga sesi pertanyaan. Kelincahan tangan saya dalam meneruskan
pesan pun mulai datang. Ada kebingungan terjadi pada pemberian label pertanyaan
peserta. Tak terpikir bertanya tentang hal tersebut membuat saya harus
mencoba-coba tentang caranya. Alhamdulillah, akhirnya saya temukan juga caranya
dengan bermodalkan kecerdasan yang diberikan Allah yang masih sedikit tersisa di masa
tua.
Sampai pada pertanyaan ke-9, semuanya
masih berjalan aman. Pukul 20.58 WIB
listrik padam, sementara pertanyaan belum selesai. Tidak ada orang lain di
rumah. Suami dan anak saya kebetulan sedang ada keperluan di luar. Dalam
kegelapan, hanya bermodalkan cahaya dari gawai, saya mencari lampu senter.
Alhamdulillah, pertanyaan nomor 10 masih bisa diteruskan dengan pengalihan koneksi
dari Indihome ke hotspot data seluler.
Menjelang pertanyaan ke-11, kuota data
ternyata juga habis. Hal ini diketahui pada saat pesan itu tidak terkirim ke
tujuannya. Ya Allah … saya terpaku sejenak. Hal tak biasa terjadi pada diri saya. Biasanya, apabila ada masalah, saya panik. Kali ini saya
bisa tenang dengan setenang-tenangnya. Ada terbersit untuk menghubungi Tim Solid
agar bisa mengambil alih, tapi tidak mungkin, karena masalahnya pada kuota data
internet. Akhirnya, dengan menggunakan jalur telepon biasa, saya menghubungi
adik saya untuk mengisi kuota internet saya. Alhamdulillah, respon adik saya
sangat cepat. Pertolongan Allah tiba pada saat yang tepat. Akhirnya, acara
dapat diselesaikan meskipun dengan perasaan sedikit terburu-buru karena khawatir
baterai juga akan habis.
Ada pembelajaran keempat yang saya
dapatkan dari peristiwa terakhir.
Kuota data internet harus cukup tersedia, sehingga harus pula diperkisa sebelum
memulai acara. Tak ketinggalan, baterai HP dan laptop juga harus dalam keadaan
prima sebagai antisipasi pemadaman listrik terjadi.
Setelah melalui serangkaian peran
sebagai moderator magang, kini saya semakin kagum dengan para moderator andal yang
selama ini sudah memandu kami belajar. Betapa sigap, cerdas, dan cermatnya mereka
memerankan diri sebagai pemandu acara hingga tak ada pesan yang tertinggal.
Apa pun keadaan yang sudah terjadi,
pengalaman menjadi moderator magang dengan segala kendalanya merupakan
pengalaman yang tak terlupakan. Rasa syukur tiada henti atas kesempatan yang telah
diberikan oleh Om Jay dan Tim. Bersyukur pula telah dipertemukan dengan
orang-orang baik yang ada di sekeliling saya yang tak pernah lelah berbagi, menginspirasi, dan memberikan dukungan.
Hikmah besar di balik peristiwa, yaitu
harus meningkatkan ketelitian, senantiasa bersyukur atas setiap keadaan, dan teruslah
berbagi kebaikan. Tak kalah pentingnya, mulailah setiap perbuatan baik dengan ucapan
basmalah, maka kemudahan akan senantiasa menyertai.
Pangklapinang, 12 Oktober 2021
Rosminiyati