Tuesday, October 12, 2021

Public Speaking for Teacher - 1st Meeting

 


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke       :    1

Gelombang       :    4

Tanggal             :    12 Oktober 2021

Tema                 :    Berbicara Efektif di Dunia Digital

Narasumber      :    Indra Charismiadji

 

Pertemuan pertama Public Speaking PGRI yang diprakarsai Bapak Wijaya Kusumah alias om Jay dilakukan melalui zoom meeting. Materi dengan tema “Berbicara Efektif di Dunia Digital” disajikan oleh narasumber Bapak Indra Charismiadji dan didampingi moderator andal Ibu Rifatun.  

Pak Indra Charismiadji lahir di Bandung, 9 Maret 1976. Beliau adalah Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS). Beliau senantiasa berinovasi untuk melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan.

Pak Indra merupakan alumnus the University of Toledo, negara bagian Ohio, Amerika Serikat. Setelah mendapatkan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu dari universitas tersebut, beliau melanjutkan studi di Dana University, Ottawa Lake, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.

Setelah mempunyai pengalaman bekerja di beberapa perusahaan tingkat dunia di Amerika Serikat seperti Merril Lynch, Omnicare, dan Dana Corporation, pada tahun 2002, akhirnya Pak Indra kembali ke tanah air dan berperan aktif dalam mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia. Itulah sedikit profil seorang praktisi Pendidikan yang berperan sebagai pemateri pada acara Public Speaking malam ini.

Acara berjalan lancar meskipun Bapak Indra memberikan materi di dalam kegelapan malam karena sedang dalam perjalanan dari kota Padang Panjang menuju Padang, Sumatra Barat. Kegiatan lebih banyak dilakukan dengan tanya jawab.

Berbicara efektif di dunia digital terdapat perbedaan dengan berbicara secara langsung. Perbedaan yang terbesar adalah kita tidak dapat memastikan apakah orang tertarik dengan materi kita karena kita tidak dapat melihat raut wajah dan ekspresi orang yang diajak berbicara. 

Sebelum memulai penyajian materi, kita harus memvisualisasi diri kita sendiri. Atinya, kita uji coba presentasi kita dengan cara merekamnya dan kemudian menempatkan diri kita sebagai pendengar. Jika kita sendiri tidak tertarik dengan cara penyajian kita, secara otomatis orang juga tidak akan tertarik. 

Selanjutnya, kita harus menyajikan materi sesuai dengan kebermanfaatannya. Oleh karena itu, materi yang akan disajikan harus disesuaikan dengan kebutuhan audience kita. 

Beberapa poin penting yang sempat saya rekam dalam pemaparan materi dan hasil tanya jawab terkait kegiatan pembelajaran di sekolah sebagai berikut:

  • Belajar dalam jaringan (daring) tidak efektif karena tidak menampilkan ekspresi/mimik maksimal dari masing-masing personil, baik guru maupun siswa.
  • Murid cenderung mematikan kamera dengan berbagai alasan.
  • Murid menggantikan video background dengan foto diri dengan tampilan seakan-akan mereka hadir dalam kegiatan pembelajaran jarak jauh tersebut.
Dibahas pula tentang pilar pendidikan menurut UNESCO: 

  • Learning to know;
  • Learning to do;
  • Learning to be;
  • learning to live together.

Peran guru saat ini tidak lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai fasilitator dan motivator. Murid sebagai subjek pembelajaran dibimbing untuk mencari tahu tentang berbagai hal, Oleh karena itu, guru berbicara atau memberikan informasi cukup 15 menit saja, selebihnya muridlah yang aktif dalam kegiatan belajar.

Guru harus mengajar tentang cara mencari tahu. Guru mengajar tentang cara belajar. Guru harus mencari cara menjadikan murid mau belajar. Sesuai prinsip belajar Ki Hajar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, maka guru sebagai pemberi contoh. Oleh karena itu, guru harus rajin belajar terlebih dahulu agar murid dapat mencontoh gurunya yang rajin belajar.

Jangan pernah menyuruh murid untuk belajar karena sesuai teori Newton dimana ada aksi, maka akan muncul reaksi. Jika disuruh belajar, maka murid justru semakin tidak mau belajar. Untuk itu, guru harus melakukan kiat-kiat, antara lain: menggunakan model yang berbeda, belajar dengan praktik, dan menggunakan game online.

Guru dituntut untuk dapat membuat game online sendiri. Hal ini dapat dilakukan melalui proses belajar. Guru harus selalu belajar dan belajar tentang berbagai hal, karena itulah hakikat belajar sepanjang hayat.

Selanjutnya, dalam mendidik karakter peserta didik, guru harus  berkolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan kolaborasi, maka kebiasaan yang kurang baik dapat dikomukasikan dan diatasi bersama-sama. Terkait pemberian contoh bagi murid, harus pula dilakukan secara bersama-sama. Antara guru yang satu dengan lainnya harus mempunyai pola yang sama. Akan sia-sia jika hanya segelintir saja guru yang memberikan contoh yang baik, sementara yang lainnya tidak melakukan apa-apa.

Guru tidak hanya memberikan contoh yang baik bagi murid-murid, melainkan juga harus mengajak mereka bersama-sama melakukannya. Misalnya, masalah membuang sampah pada tempatnya. Sesekali guru mengajak murid bersama-sama mengerjakannya. Maka, rasa bahagia akan dirasakan pula oleh mereka.

Terkait Pendidikan karakter tanpa tatap muka, kita dapat menggunakan video-video terkait sesuai dengan jenis karakter mana yang ingin dikembangkan. Kita dapat memilihnya sesuai dengan kebutuhan.

Diharapkan guru tidak hanya menjadi contoh dan menggerakkan murid-muridnya, melainkan juga menjadi inspirasi bagi guru-guru lainnya.

Demikianlah isi diskusi dengan narasumber dalam acara Public Speaking pada malam hari ini yang dapat saya rekam. Semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

 

Pangkapinang, 12 Oktober 2021

Rosminiyati


1 comment:

  1. Sangat memberikan inspirasi.... Teruskan untuk berbagi ilmu, pengetahuan dan wawasan. Salam sukses dan tetaplah semangat. 👍👍👍

    ReplyDelete

Menulis, Menulis, Menulis!