Saturday, December 25, 2021

Perjalanan yang Tak Pernah Sampai



Setiap perjalanan selalu membawa warna cerita tersendiri bagi setiap pelakunya. Ada yang menyenangkan, ada juga yang dirasakan melelahkan. Semuanya berpulang kepada yang bersangkutan.

Jika seseorang menganggap perjalanan adalah beban, maka setiap langkahnya menjadi berat. Sebaliknya, jika seseorang memandang perjalanan sebagai kesenangan, maka setiap tapaknya menjadi ringan meskipun jalan terjal dan berliku terus ditemuinya.

Aku sendiri sangat merindukan perjalanan ini, meskipun sempat tertinggal jauh karena kelalaian. Beruntung, masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan. Perlahan namun pasti, kuikuti saja arah dari sebuah aplikasi. Semoga, dengan cara ini aku akan sampai di tujuan yang didamba meskipun terlambat.

Pelatihan Belajar Menulis PGRI merupakan perjalanan yang harus kutempuh dengan susah payah. Seberapa pun beratnya tak akan kulepas. Terbayang bagaimana sulitnya aku berperang dengan diriku sendiri pada saat memutuskan bahwa aku harus ikut dalam pelatihan ini.

Ingin belajar tapi takut taksanggup. Raga yang termakan usia menjadi sumber kekhawatiran. Banyak lagi hal yang harus dipertimbangkan saat itu. Akhirnya, dengan menyebut nama Allah, dan atas izin-Nya pula aku pun terdampar di tempat yang menyenangkan.

Kegiatan belajar menulis PGRI yang diprakarsai Om Jay telah mengubah nasibku. Menulis yang awalnya hanya khayalan, kini menjadi passion-ku. Ada saja yang bisa dijadikan ide untuk menulis. Apa yang kulihat, kurasa, kudengar, kualami, dan lain-lain bisa ditulis dengan begitu lancar. Bahkan, seperti keajaiban, aku juga bisa menulis berbagai genre tulisan. Tak Percaya? Aku juga begitu awalnya. Tapi, semua itu nyata adanya.

Om Jay, sebagai pemrakarsa kegiatan belajar menulis PGRI telah banyak berkiprah dalam proses metamorfosa hidupku. Bukan hanya aku, melainkan juga seluruh peserta belajar dari gelombang 1 sampai 18. Aku sendiri berada di gelombang 19. Saat itu ada 2 gelombang kegiatan belajar - gelombang 19 dan 20 - dengan jadwal belajar yang sama.

Belajar dimulai pada tanggal 12 Juli 2021 dan berakhir pada 17 September 2021. Kegiatan belajar dilakukan via WhatsApp (WA) grup belajar sebanyak 3 kali dalam 1 pekan: Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 19.00 – 21.00.

Acara pembukaan pada tanggal 10 Juli 2021 pukul 19.00 via zoom meeting sangat menggetarkan jiwa. Pada saat itulah pintu kepenulisan dibuka oleh penulis-penulis hebat yang tak pernah aku temukan sebelumnya. Serasa bermimpi terbang ke awan, aku ikuti acara pembukaan dengan tak hendak kehilangan sekecil apa pun informasi yang terkandung di dalamnya.

Belajar di grup menulis di kelas Om Jay dirasakan aneh bagi sebagian orang. Betapa tidak! Belajar hanya dengan menggunakan Whatsapp bisa menelurkan penulis-penulis andal. Bukan hanya penulis, gelar sebagai bloger juga langsung disandang di hari pertama kegiatan belajar. Bagaimana ini bisa terjadi?

Syarat mengikuti kegiatan menulis harus mempunyai blog. Yang belum punya harus membuatnya. Sulitkah? Tentu saja ‘ya’ untuk seorang guru jadul seperti aku. Namun, Om Jay sangat paham dengan permasalahan yang terjadi. Beliau dan tim memberikan cara membuat blog.

Ternyata, membuat blog mudah sekali setelah aku didampingi oleh anak sulungku untuk membuatnya. Juga, ketika aku meminta murid-muridku untuk membuat blog, mereka bisa melakukannya hanya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit. He … he …, aku memang termasuk golongan pengecut dalam urusan terkait dunia digital. Tak mengapa, yang penting aku sudah menjadi seorang bloger. Keren, bukan?

Sebelum jadwal belajar dimulai, Om Jay sering sekali memberikan pancingan-pancingan agar peserta belajar mau menulis. Ada-ada saja yang dibagi di kolom chat WA grup belajar. Misalnya, gambar pohon mangga dengan buah yang lebat. Di saat yang lain, Om Jay mengepos gambar pisang, soto, dan lain-lain. Kami diminta untuk menulis tentang gambar tersebut.

Tulisan para peserta belajar beragam. Semuanya dibagikan di kolom chat WA. Ada yang menulis artikel, cerpen, pantun, sementara aku sendiri lebih memilih menulis puisi. Pokoknya suka-suka kamilah mau menulis apa. Kalau aku mengingat saat itu, lucu sekali. Intinya, tulisanku saat itu tidak ada bagus-bagusnya. Tapi, beberapa tulisan kami bisa bermigrasi ke blog guru penggerak. Hal yang sangat tidak terduga.

Terkait kegiatan belajar menulis kepada Om Jay, ada juga kegiatan yang cukup seru. Pada siang menjelang sore hari, Om Jay melakukan bedah buku penulis dari gelombang sebelumnya melalui livestreaming YouTube. Di salah satu siaran langsung YouTube tersebut, Om Jay membacakan nama pemenang tantangan menulis di blog berdasarkan objek yang diberikan. Ada hadiah pulsa bagi pemenangnya. Aku pernah memenangkan tantangan itu. Ternyata, begitu cara Om Jay memotivasi peserta belajar untuk menulis.

Hari pertama belajar, narasumbernya cantik, lembut dan bersahaja. Namanya Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. yang biasa disapa Bu Kanjeng. Beliau memberikan materi dengan tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Aku tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, tapi kedekatan batin terasa sekali. Hal ini disebabkan karena materi yang disajkan mengena di hati.

Bu Kanjeng memberikan materi lebih banyak dengan rekaman suara. Oleh karena itu, aku tahu beliau orangnya lembut. Gairah berbagi ilmu tidak menampakkan usianya yang tidak muda lagi. Saking terpesonanya dengan sajian materi beliau, aku tidak bisa menyelesaikan resume pertamaku dalam waktu semalam. Akibatnya, keesokan malamnya barulah resume itu dikumpulkan.

Tak mengapa resume terlambat dikumpulkan, karena memang tak ada aturan resume harus ditulis tepat pada saat materi disajikan. Karena itulah, belajar dilakukan melalui WA agar peserta belajar dapat menyesuaikan waktu dengan kondisi masing-masing. Lagi pula, dari 30 kali pertemuan, peserta belajar hanya wajib mengumpulkan 20 resume saja.

Aku memperhatikan materi Bu Kanjeng dengan seksama. Tak ingin ada sedikitpun yang tertinggal. Motivasi besar terlahir dari materi pertama ini. Kata “passion” telah membiusku untuk bertekad menjadikan menulis sebagai passion-ku juga. Tak hanya itu, orientasi menulis yang diajarkan Bu Kanjeng sebagai sarana mencari rida Allah telah pula memantapkan diriku untuk terus berada di grup belajar ini. Aku ingin mendapatkan amal jariah melalui tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.

Tak sebatas pertemuan pertama, Bu kanjeng juga mengajak kami menulis buku antologi – buku karya bersama. akupun terseret menuju ke grup baru, “Antologi Menulis gelombang 19 dan 20”. Dari kegiatan ini lahirlah buku antologi perdanaku dengan judul “Writing is My Passion – Jilid 1”. Bersyukur aku bisa menjadi bagian dari buku ini. Hal yang tak pernah kuduga sebelumnya.

Tak hanya antologi cerita, Bu kanjeng juga mengajak kami bergabung dalam grup “Belajar Puisi Telelet”. Nah, apa itu puisi telelet? Jika mau tahu, silakan bergabung di grup belajar menulis. Puisi ini super sulit menurutku. Namun, karena penasaran, aku terus berjuang untuk menulisnya. Akhirnya, aku mampu menulis beberapa puisi jenis ini. Selanjutnya, kami juga membuat karya bersama puisi ini. Jika semua peserta sudah mengumpulkan karyanya, buku ini pun segera diterbitkan.

Satu hal yang sangat mengejutkanku, ketika Bu Kanjeng chat ke WA-ku. Beliau mengabarkan bahwa resume perdanaku masuk majalah bulanan Edupos, no. 16, Tahun II, Agustus 2021. Perasaan bingung dan gembira bertaut menjadi satu. Kok bisa?

Ternyata pada saat Bu Kanjeng memberikan materi pada webinar Public Speaking PGRI dengan tema yang sama, redaksi majalah tersebut meminang Bu Kanjeng untuk mengisi majalah mereka. Akhirnya, qadarullah, Bu Kanjeng menjadikan resume perdanaku menjadi referensinya.

Tak ada yang istimewa dari tulisanku. Aku hanya menulis resume apa adanya. Itu pun dengan perjuangan berlumuran kebingunan dan ketidaktahuan. Namun, dengan bismillah dan dengan hati yang ikhlas dan penuh cinta, aku ketik satu per satu huruf yang ada di keyboard laptop dengan “11” jari. Jadilah untaian kata ala kadarnya. Begitulah kalau Allah berkehendak. Ibu Kanjeng tergerak hatinya untuk mencomot karya sederhanaku itu.

Keberanian mencoba berbagai genre tulisan telah pula membawaku terdampar di grup Pantun Bersuka Ria. Di grup ini ada Mas Miftah sang juara pantun yang membimbing kami menulis pantun. Akhirnya, aku pun ikut mengambil bagian dalam buku antologi “Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri” dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI. Menyenangkan, bukan? Jujur, sebelumnya aku paling tidak mengerti tentang pantun.

Begitu indah rahasia Allah membersamai perjalananku menuju dunia baruku ini. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa memotivasi, membimbing, dan mendoakan. Suami tercinta yang merestui, ananda terkasih ikut membantu, keponakan kecilku yang menginspirasi, keluarga besar, murid-murid, dan kawan turut membantu, menyemangati, dan mengapresiasi.

Tak kalah penting, yang membuat aku bertahan dan terus berjuang menulis adalah suasana yang nyaman yang diciptakan para guru hebat dan kawan-kawan di kelas belajar menulis ini. Semuanya seperti kompak menjadi lampu yang terus menyala memberikan cahaya yang menerangi dunia literasiku.

Ilmu baru tentang kepenulisan satu per satu memenuhi ruang otakku. Setiap pertemuan kegiatan belajar memberikan warna yang berbeda. Dari pertemuan pertama sampai pertemuan ke-30, aku ikuti kegiatan belajar tanpa jeda. Resume pun tak pernah aku tinggalkan. Hingga kegiatan belajar yang terjadwal berakhir, aku telah menulis 30 resume yang semuanya dipublikasikan di blog pribadiku. Ini penting bagiku, sebagai jejak bahwa aku serius belajar sekaligus sebagai pedoman penulisan pada saat dibutuhkan.

Dari keseluruhan materi yang tersaji, dapat aku kelompokkan menjadi: mental penulis; ide menulis; ilmu dasar menulis; strategi menulis resume dengan cepat di blog; komitmen dan konsistensi menulis; menulis karya ilmiah dan fiksi; swasunting/proofreading; pemanfaatan blog sebagai sarana pembelajaran; langkah-langkah menulis buku; menerbitkan buku, dan memasarkan buku; mengelola taman bacaan; dan manfaat menulis bagi PNS.

Seluruh narasumber menempatkan motivasi di bagian terbesar dari materi inti. Hal ini penting, karena motivasi menulis menjadi dasar dari kesuluruhan kegiatan menulis. Dengan adanya motivasi, seseorang akan mampu melahirkan karya.

Terkait motivasi dan teori dasar menulis, tak putus-putusnya aku dapatkan dari grup belajar menulis ini. Om Jay dan tim, juga kawan-kawan seperjuangan sepertinya tak kehabisan akal menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar dan berkarya. Kegiatan blogwalking dengan meninggalkan jejak positif pada kolom komentar menjadi salah satu cara memotivsi peserta dalam menulis.

Mengunjungi blog kawan-kawan dan tim belajar menulis menjadi sumber inspirasi dan ilmu pengetahuan yang tak terhingga. Konten yang beragam dengan berbagai hiasan berupa gambar dan video, gaya penulisan, penggunaan diksi dan tata bahasa membuat aku seakan berada di sebuah cakrawala. Begitu luas ilmu yang tersaji di sana untuk dinikmati sebagai bekal mempercantik diri dalam berkarya.

Kejutan demi kejutan aku rasakan. Hadiah buku dari Penerbit Andi pernah aku terima sebagai peserta pertama yang mengumpulkan remuse saat Bapak Joko Irawan Mumpuni - Direktur Penerbitan Penerbit Andi - menjadi narasumber materi belajar pada pertemuan ke-12, 6 Agustus 2021. Rasa bahagia yang luar biasa aku rasakan saat itu. Begitu mulus perjalanan meraih ilmu yang dibentangkan Allah pada hamba-Nya yang fakir ini.

Semakin bergairahnya aku bergelut dalam dunia literasi ini, aku pun iseng-iseng merekam pembacaan puisi yang aku tulis sendiri. Suara rekaman aku bagikan di kolom obrolan WA grup belajar menulis. Tak lama, Pak D. Susanto, salah satu narasumber yang fokus terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, mengisi kolom chat dengan komentar yang lucu. Hal ini menandakan bahwa beliau telah meyimak bacaan puisiku. Rasanya, wow …!

Tak sampai di situ. Pak D Susanto juga mengundangku untuk bergabung di komunitas Cakrawala Bloger Guru Nasional (Lagerunal) dengan memberikan tautan bergabung di grup. Dalam hitungan menit, aku pun resmi menjadi anggota baru di grup ini. Di grup ini lebih banyak lagi ilmu yang menanti untuk mengisi ruang kosong di otak kiri dan otak kananku.

Aturan yag harus dipatuhi di Lagerunal membuat aku sangat terkesan dan nyaman. Tak boleh ada iklan di dalam kolom obrolan WA, termasuk informasi penting terkait webinar. Semua yang ingin disampaikan harus ditulis di blog dulu, barulah tautan blognya yang dibagikan di kolom obrolan. Ada lagi acara Senin Bogwalking, Selasa Berbagi, dan Kamis Menulis. Ada pembahasan tentang konten tulisan juga terkait penggunaan bahasa, teknik menulis, dan lain-lain. Ada juga tentang cara mengelola blog agar para bloger lebih terampil dengan blognya.

Menuju di titik akhir perjalanan kegiatan Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay, peserta gelombang 19 dan 20 berkolaborasi untuk merayakan acara penutupan. Aku menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Terbentuklah grup WA panitia untuk membahas pelaksanaan acara tersebut agar bisa berlangsung meriah dan mengesankan. Dari hasil berembuk, akhirnya disepakati rangkaian acara yang harus ditampilkan oleh panitia, sekaligus terbentuklah komunitas baru dengan nama “Laskar Literasi 1920”.

Dalam rangka menyemarakkan acara penutupan itu, aku ikut menyumbang acara pembacaan puisi. Untuk itu, aku berjuang menulis puisi secepat kilat karena aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk guru-guru hebat. Meskipun darurat, aku mencoba untuk menghasilkan karya seadanya namun berharap bermakna sebagai hasil belajar selama 2 bulanan.

Lantaran khawatir kendala terjadi saat petemuan dengan zoom, pembacaan puisi pun aku rekam saja, kemudian dibuatkan menjadi video dan diunggah di YouTube. Alhamdulillah, acara yang diselenggrakan pada malam Ahad, 18 September 2021 berjalan dengan lancar. Puisiku pun ditayangkan pada acara tersebut. Berbagai rasa yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata hadir bersama berjalannya acara.

Sejak acara penutupan, perasaanku terasa gamang. Biasanya, pada hari Senin, Rabu, dan Jumat aku sudah menyiapkan energi super untuk menyambut kelas malam belajar menulis. Semua itu sudah lewat. Artinya, tak ada lagi yang memeriahkan malam penantianku. Tak ada lagi pertarungan sengit, kebut-kebutan berlomba mengumpulkan resume duluan seperti ketika belajar bersama kawan-kawan. Duh … rindunya suasana itu.

Kerinduanku terobati dengan cara menggarap buku solo setelah kegiatan belajar selesai. Cerita tentang perjalanan belajar selama 30 kali pertemuan dan segala sesuatu yang terkait di dalamnya dengan apik aku ceritakan juga. Lahirlah mahkota penulis perdanaku dengan judul “Jendela Literasi – Kumpulan Artikel Dunia Menulis dan Menerbitkan Buku”.

Menambah indahnya perjalananku, saat aku dinobatkan sebagai peraih juara kedua dalam “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggarakan oleh Guru Blogger Indonesia Bekerjasama dengan Ikatan Guru TIK PGRI pada Bulan Oktober 2021.

Suatu hal yang paling tidak pernah kuduga. Bagiku, dapat menaklukkan blog gurupenggerakindonesia.com, tempat tulisan yang dilombakan dipublikasikan, sudah menjadi keberhasilan yang luar biasa, mengingat blog tersebut baru dan rumit dibandingkan blog pribadiku. Jika ternyata aku mendapatkan lebih, itu adalah bonus dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Kini, aku sudah melewati serangkaian perjalanan belajar menulis yang sampai kapan pun tak akan pernah sampai, karena sejatinya hakikat belajar adalah sepanjang hayat. Yang aku rasakan setelah mengikuti kegiatan belajar menulis kepada Om Jay dan tim adalah semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula yang belum aku ketahui.

Teriring doa, semoga guru-guru hebat yang telah memberikan rambu-rambu untuk mengantarkan perjalananku berikutnya, senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah subhanahu wataala.



Pangkalpinang, 25 Desember 2021

Rosminiyati



* Tulisan ini telah terbit dalam buku antologi "Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan - Kumpulan Pengalaman Belajar Menulis Gelombang 19"




 

Thursday, December 23, 2021

Aku Rindu Ibu - Puisi

 




Aku Rindu Ibu

Ibu,
Engkau selalu ada dalam diriku
Setiap tarikan nafasku adalah nafasmu
Setiap detak jantungku adalah jantungmu
Setiap aliran darahku adalah juga darahmu

Ibu,
Tanpa gawai engkau mengajarkanku tentang dunia
Tanpa aksara engkau mengajarkanku membaca
Tanpa lisan engkau mendidikku berkahlak mulia
Tanpa dana engkau mengajarkanku menjadi kaya.

Ibu,
Sebaris cerita yang engkau kisahkan
Akan terus kusimpan sebagai kenangan
Tentang arti ketegaran tanpa perlawanan
Tentang ketulusan tanpa polesan.

Ibu,
Selama nadiku masih berdenyut
Besar harapanku masih bergelayut
Aku ingin terus hanyut
Dalam belaianmu yang lembut.

Ibu,
Sekalipun engkau telah tiada
Aku masih tetap menjadi anak manja
Aku masih berharap kasihmu yang mulia
Di sisimu tanpa jeda, di surga.

Ibu,
Kini aku melanjutkan warisanmu,
Mengukir jalan dengan keluarga kecilku
Tak seindah lukisan tanganmu
Tapi itulah yang aku mampu.

Ibu,
Aku hanyalah setetas embun pagi
Memberikan sedikit kesejukan kemudian pergi
Tak seperti engkau yang menjadi hujan di siang hari
Mampu membasahi seluruh isi bumi

Ibu,
Aku hanya mampu melantunkan sedikit doa
Yang hanya sampai di rongga dada
Tak seperti doamu yang membahana
Yang mampu menggetarkan isi dunia.

Ibu,
Aku rindu padamu.



Pangkalpinang, 23 Desember 2021

Saturday, December 18, 2021

Penunjukan Ketua Laskar Literasi

 



Setelah sekian lama terbentuknya Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang, saya masih belum menemukan formula yang pas untuk meningkatkan minat menulis di kalangan siswa. Setiap hari Sabtu, saya memberikan tantangan menulis melalui tautan blog agar siswa dapat menulis sesuai dengan tantangan tersebut. 

Di awal terbentuknya komunitas ini, lumayan banyak siswa yang menulis di blog. Sayangnya, tulisan tersebut umumnya berupa salin-tempel tlisan yang ada di internet. Oleh karena itu, seanjutnya saya memberikan tantangan menulis berupa hal-hal yang dekat dengaan mereka. Ternyata, hanya sedikit yang mengerjakannya.

Awalnya saya berpikir, hal ini disebabkan siswa belum paham cara menulis. Untuk membimbing mereka menulis, saya pun memberikan tautan materi tentang menulis berikut tantangan menulisnya.  Namun, hanya sedikit yang membaca dan mengerjakannya.

Berikutnya, saya memberikan tantangan melalui WA grup saja agar semuanya bisa membacanya secara langsung, tetapi hasilnya sama saja, hanya beberapa saja yang merespon. Tak kurang usaha, saya juga memberikan tantangan untuk menulis bebas dengan hanya melalui pesan di chat WA. Masih sama, sangat kurang respon. 

Kegiatan menulis langsung di WA bersama guru-guru dengan genre pantun pun sudah dilakukan. Guru-guru lumayan ramai, namun siswa masih sepi. Terima kasih yang tak terhingga kepada guru-guru yang sudah berpartisipasi. Saya terus berpikir, bahkan berdiskusi dengan guru-guru, namun belum sempat membahas secara serius. Mudah-mudahan ke depannya akan ada waktu khusus untuk itu.

Hari ini, dengan aksi coba-coba, saya menunjuk siswa yang saya perhatikan selalu konsisten menulis sejak bergabung di komunitas Laskar Literasi sebagai ketua. Siswa ini bukan dari kelas yang saya ajarkan, melainkan dari kelas lain yang bergabungnya saja di saat setengah jalan. Siswa ini bernama Gusti Rinaldy dari kelas 10 DPIB. Siswa ini terlihat unik dan gigih. Semangatnya untuk menulis luar biasa, dan santun pula. Setiap minggu dia selalu menulis sesuai tantangan. Bahkan, kegiatan-kegiatan terkait sekolah ditulisnya juga tanpa diminta.

Hari ini, selain menunjuknya sebagai ketua, saya juga memintanya untuk memberikan tantangan menulis kepada kawan-kawannya dengan tema dari dia sendiri. Sambutan luar biasa dari siswa tersebut yang langsung melakukan aksinya. Sebuah tema yang tidak saya sangka-sangka tertulis manis pada sebuah blog yang tautannya dibagikan di grup WA. Bahkan, di tengah hari ini, dia sudah membagikan tautan tulisannya sendiri tentang tema tersebut. Ada sebuah harapan besar dari bakat dan semangat anak ini. Semoga suatu saat nanti berbuah manis menjadi karya besar dari tangannya dengan polesan bimbingan ke depannya. Berikut tautannya.

https://gustirinaldy.blogspot.com/2021/12/tantangan-menulis-hari-ini.html

https://gustirinaldy.blogspot.com/2021/12/hp-mengubah-segalanya.html.

Saya juga berharap, ada kesempatan untuk membahas secara serius tentang keberlangsungan komunitas ini bersama-sama guru-guru yang peduli. Sayang sekali, kalau api yang mulai dinyalakan harus padam karena kurang adanya bahan bakar untuk membuatnya menjadi besar. Literasi ini menjadi harapan agar siswa-siswa menjadi lebih cerdas dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana pembelajaran sekaligus mengembangkan potensi diri yang belum tergali.

 

Pangkalpinang, 18 Desember 2021

Rosminiyati


Thursday, December 16, 2021

Antikorupsi - Puisi

 



Antikorupsi

Oleh Rosminiyati 


Korupsi sama dengan mencuri

Bukan perbuatan yang terpuji

Bukan pula jalan mencari rezeki

Itulah jalan yang dibenci.


Demi kehidupan yang mewah

Tapi tak mau kerja lelah

Korupsi menjadi solusi termudah

Sekalipun rezekinya tak berkah.


Kehidupan mewah boleh dimilki

Dengan kegigihan usaha dilakoni

Kesederhanaan jauh lebih terpuji

Dengan kepedulian berbagi.


Dengan korupsi hidup tak tenang

Penyakit silih berganti menyerang

Harga diri pun menjadi hilang

Kenikmatan hidup ikut melayang.


Korupsi bisa dihindari

Kuatkan iman di hati

Disiplin dalam mengabdi

Kejujuran terus dipatri.


Ayo galakkan sikap antikorupsi

Jadikan agama sebagai pondasi

Kerja sama untuk mengawasi

Kedisiplinan harus dimilki.


Jadikan antikorupsi budaya bangsa

Sejak dini kepada seluruh jiwa

Korupsi perbuatan yang tercela

Gapailah hidup yang mulia.


Pangkalpinang, 16 Desember 2021

SATUGURU - Solusi Permasalahan Guru

Peran Guru dalam peradaban

Menjadi guru bukanlah pilihan pekerjaan berdasarkan pertimbangan besarnya imbalan atau penghasilan. Pilihan profesi ini juga bukan berdasarkan perhitungan untung dan rugi seperti halnya jual beli. Profesi guru dipilih sesuai dengan hati nurani karena ingin mengabdi untuk negeri.

Profesi guru bukanlah suatu pekerjaan yang ringan, karena guru merupakan garda terdepan bagi keberlangsungan peradaban bangsa. Di tangan guru, wajah masa depan bangsa akan tercipta, karena guru merupakan model utama bagi murid-murid setelah orang tua. Oleh karena itu, guru harus memperlengkapi diri dengan seperangkat kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan profesi ini.

Kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat menyebabkan peran guru semakin berat. Segala informasi baik dan buruk tersaji secara terbuka dan menarik dalam berbagai bentuk dengan tanpa batas waktu dan ruang. Itu semua akan berpengaruh besar terhadap wujud masa depan bangsa ini. Jika konten baik yang terserap, maka masa depan bangsa akan aman. Sebaliknya, jika informasi buruk yang dikonsumsi, akan hancurlah peradaban. 

Guru bukanlah manusia sempurna. Guru hanyalah manusia biasa yang sarat kekurangan. Oleh karena itu, tak heran jika kelengkapan kompetensi yang harus dimiliki guru – pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial - tidak terpenuhi dengan sempurna. Namun, Keterbatasan guru tidak serta merta dipandang sebagai kekurangan atau aib yang memalukan, melainkan dapat diminimalisir dengan cara yang cerdas, yaitu melalui proses belajar.

 

Refleksi Guru Tahun 2021

Saya, seorang guru yang memiliki banyak sekali kekurangan, khususnya penguasaan keterampilan menulis dan pemanfaatan aplikasi digital dalam kegiatan pembelajaran. Di sisi lain, saya seorang pembelajar yang selalu ingin membenahi dan mematutkan diri agar pantas disebut guru.

Menyadari minimnya kemampuan yang diperlukan pada pembelajaran abad 21 ini, saya pun bergabung di kelas Pelatihan Belajar Menulis PGRI pada Juli 2021, dan lulus pada Oktober 2021. Dalam waktu yang singkat, perubahan secara drastis terjadi pada diri saya.

Capaian sejak bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI menjadi capaian puncak saya pada tahun 2021. Terhitung sejak Juli 2021, saya telah menulis 3 buku antologi, 1 buku solo, artikel dalam Jurnal Pasuruan Inovasi dan Tendik, meraih juara 2 lomba blog pada peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda, menjadi moderator pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22, menjadi moderator dan narasumber pada Pelatihan Guru Motivator Literasi Digital (GMLD) Angkatan Pertama, menjadi narasumber pada kegiatan MGMP kota Pangkalpinang dan pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog di SMK Negeri 2 Pangkalpinang, dan mendirikan komunitas Laskar Literasi SMK Negeri 2 Pangkalpinang.

Narasumber pada kegiatan MGMP Kota Pangkalpinang

Narasumber pada Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog

Kegiatan membuat dan mengelola blog dengan pendampingan  

Bersama Laskar Literasi yang membantu pelaksanaan workshop

Terbitnya buku solo dan jurnal yang difasilitasi oleh PGRI, telah pula mengantarkan saya kepada pengusulan kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang selama 13 tahun tak pernah digubris nasibnya lantaran syarat tidak lengkap meskipun jumlah nilai sudah jauh terlampaui. Berkat pengusulan tersebut, kawan-kawan guru yang sudah lama di posisi IV a, dan kawan-kawan yang masih muda pun ikut termotivasi.

Alhamdulillah, semangat berbagi tanpa pamrih, berkolaborasi, saling menghargai, menginspirasi, memotivasi, dan tetap rendah hati di saat telah sukses yang diajarkan oleh Tim Belajar PGRI, telah berimbas pula pada diri saya untuk melakukan hal yang sama pada orang-orang di lingkungan saya. Mengajar pun menjadi lebih percaya diri dan menyenangkan dibandingkan sebelumnya.


SATUGURU sebagai Solusi

Berdasarkan pengalaman saya dengan kesulitan dan solusinya, saya dapat menyimpulkan bahwa SATUGURU merupakan solusi bagi perbaikan dan peningkatan kompetensi guru. Berikut alasan-alasan yang dapat saya paparkan.

SATUGURU berarti guru adalah satu-satunya profesi utama yang dimiliki. Sebuah profesi yang dipilih tanpa tujuan apa pun selain untuk mengabdi pada negeri. Jika demikian, apa pun kendala yang dihadapi di lapangan, seorang guru akan tetap fokus dan nyaman menjalani profesi ini. Guru akan dengan ringan melangkahkan kakinya menuju sekolah maupun ruangan kelas. Guru akan tampil secara prima sebagai pribadi istimewa dalam perannya sebagai motivator, fasilitator, kreator, dan inspirator dengan hati yang gembira di hadapan murid-muridnya.

SATUGURU berarti guru harus menyatukan fisik dan psikisnya saat berhadapan dengan murid-murid di dalam kelas atau di lingkungan sekolah. Guru hendaklah benar-benar memandang muridnya sebagai sosok anak yang dia ridukan dan merindukannya. Mendidik dari hati, bukan hanya sekedar melepaskan kewajiban terkait jam pelajaran. Bukan pula sekedar menyampaikan materi dan memberikan nilai. Yang lebih penting, adalah bagaimana mempersiapkan mereka menuju masa depan dengan akhlak mulia.

SATUGURU mengandung makna bahwa guru-guru harus bersatu, berkolaborasi, bahu membahu dalam proses mencerdaskan murid-murid. Guru-guru harus mempunyai visi dan misi yang sama dalam menggiring calon penerus bangsa dalam meraih masa depannya. Dengan kebersamaan, proses belajar mengajar dan bimbingan di sekolah akan dengan mudah diterapkan, sehinga tujuan pun akan mudah dicapai.

Suasana kebersamaan juga akan membuat guru-guru merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan profesinya. Dengan kebersamaan, yang berat akan terasa ringan. Para guru akan saling menguatkan dalam segala hal, khususnya terkait kompetensi yang harus dimilikinya. Kelemahan ditutup dengan kelebihan melalui proses saling mengajarkan, dan kelebihan menjadi modal untuk berbagi. Akhirnya, meningkatlah kepercayaan diri, dan mengajar pun menjadi semakin menyenangkan.

SATUGURU diartikan semua guru di negeri ini harus bersatu. Guru bersatu dalam organisasi profesi, baik di sekolah maupun di wilayah, bahkan di seluruh Indonesia. Tak diragukan, organisasi profesi guru adalah organisasi yang benar-benar dibentuk untuk kepentingan kemajuan pendidikan. Di dalam organisasi ini, berbagai permasalah tekait kegiatan belajar dan mengajar khususnya, dan pendidikan pada umumnya, dapat dibahas dan diselesaikan.


Resolusi Tahun 2022

Kekurangan pada waktu yang lalu harus dibenahi, dan kelebihan perlu dikembangkan dan disebarkan. Itulah yang harus dilakukan seorang guru yang menyadari esensinya di dunia pendidikan. Kualitas diri tidak diukur seberapa banyak menghasilkan sesuatu, melainkan seberapa banyak menebarkan kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.

Besar harapan saya, pada tahun 2022 saya memiliki kemampuan digital yang memadai, dapat menerbitkan buku antologi dan buku solo di kalangan siswa dan guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang dan MGMP Kota Pangkalpinang, dan dapat terus berbagi kepada siapa pun dengan ikhlas sesuai kemampuan. 

Semoga saya menjadi hamba yang senantiasa bersyukur terhadap apa yang telah saya dapatkan dengan menjadi orang yang rendah hati dan terus memperbaiki diri, serta senantiasa berbagi kebaikan. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada guru-guru hebat yang telah mengajarkan saya  banyak hal.


Pangkalpinang, 16 Desember 2021

Rosminiyati, S.Pd.

Guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang


#SATUGURU - Mengajar itu menyenangkan


Wednesday, December 15, 2021

Pantun Refleksi Diri 2021 Menuju Resolusi 2022




Lama tak bersua dengan menantu,

Di hari petang ke rumah mertua,

Selamat tinggal dua puluh satu,

Selamat datang dua puluh dua.


Tangan menggaruk sambil makan bolu,

Duduk di dipan si baju merah,

Tinggalkan hal buruk di masa lalu,

Sambut masa depan yang lebih cerah.


Buruan berlari dari depan mata,

Laras senapan jangan dipancang,

Refleksi diri perlu sekali ditata,

Resolusi ke depan perlu dirancang.


Berseragam biru duduk berjajar,

Duduk berjajar di atas pelaminan,

Seorang guru harus rajin belajar,

Agar mengajar semakin nyaman.


Berbaju biru senyum merekah,

 Gerai rambut tanpa dikepang,

Tahun baru mambawa berkah,

Jika disambut dengan hati lapang.


Meniup suling sambil menjual ikan,

Ikan di peti takbisa berenang,

Indahnya saling memaafkan,

Dosa hilang hati pun senang. 

 

Monday, December 13, 2021

Pembelajar “Sejati”



Sabtu siang yang cerah. Waktu masih belum genap di pertengahan hari. Matahari dengan garangnya memancarkan sinarnya tanpa basa-basi. Berada di dalam rumah pun terasa begitu gerah. Peluh yang singgah di sekujur tubuhku membuat bajuku sedikit basah. Rasa kantuk yang mulai menyerangku tak membuatku bisa memejamkan netra yang lelah. Padahal, sudah hampir setengah jam aku merebahkan tubuh yang beratnya jauh di bawah 1 karung lada putih yang menjadi ciri khas pertanian masyarakat Bangka.

Akhir-akhir ini, aku memang tidak bisa lagi berlama-lama menikmati dunia mimpi, baik pada siang maupun malam hari. Kebiasaan baru ini dimulai sejak aku bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI yang diprakarsai oleh Om Jay. Betapa tidak! Jadwal belajar menulis selama 3 kali dalam 1 minggu pukul 19.00 – 21.00 harus aku lakoni untuk menyimak materi inti yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab via WhatsApp grup. Selanjutnya, menulis resume di blog pribadi tentang materi yang telah dibahas terkadang tidak tuntas hingga berkahirnya kegiatan belajar. Untuk itu, terpaksa dilanjutkan hingga larut malam. Kegiatan blogwalking menjadi rutinitas pula, karena terdorong rasa penasaran ingin membaca tulisan kawan sesama peserta sekaligus untuk saling memberikan dukungan.

Rutinitas baru yang sudah berlangsung selama 2 bulan tentulah sangat berpengaruh terhadap pola tidurku. Tidak hanya itu, kegiatan menulis yang sudah menjadi passion menuntut waktu dan tenaga ekstra pula. Sementara, persiapan mengajar yang prima tetap menjadi prioritas utama. Akibatnya, pemangkasan jam tidur benar-benar dilakukan dengan sempurna.

Dek, jadi nggak ke rumah Aran?” Pertanyaan itu cukup membuatku terkejut dan membuyarkan ingatanku tentang capaian yang sudah aku peroleh selama hampir 3 bulan ini. Kuarahkan pandangan menuju sumber suara. Laki-laki yang telah menemani perjalanan hidupku selama seperempat abad telah berdiri di ambang pintu. Kupandang pemilik wajah tampan dengan hidung mancung dan mahkota yang mulai memutih itu tanpa menjawab pertanyaannya.

Suamiku melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kamar. Posisi duduk di tepi dipan menjadi pilihan cerdas untuk memulai percakapan. Pertanyaan yang belum aku jawab diulangnya kembali. Aku pun menjawab dengan nada yang kurang bersemangat, “Sebentar lagi, ya, Kak. Masih capek nih.” Jawaban yang tak biasa aku berikan untuk ajakan bertemu Aran, si kecil keponakan tercinta yang selalu menyenangkan hati dalam berbagai suasana.

Sambil menatapku dengan sorotan yang teduh seperti biasanya, suamiku melanjutkan pertanyaannya, “Oh, ya … Dek, naskah buku Adek sudah selesai diedit?” Entah mengapa, tiba-tiba suamiku bertanya tentang hal ini. “Barusan selesai, dan sudah Adek kirim lagi ke Bu Kanjeng,” jelasku dengan antusias. “Hah …? Cepat sekali!” lanjutnya setengah tidak percaya. “He eh …,” balasku sambil mengangguk dan memberikan senyuman termanisku.

Suamiku ikut mengangguk perlahan. Sepasang bibir merahnya yang tak pernah tersentuh gulungan kertas putih berisi tembakau mendarat di keningku. Tangan kokohnya tak mau kalah beraksi, menggiring telapak tangannya menyapu kepalaku yang lunglai. “Kalo gitu, istirahatlah dulu. Ntar, kalo capeknya sudah hilang, baru kita ke rumah Aran,” petuah suamiku sebelum berlalu meninggalkanku seorang diri di kamar.

Aku kembali melanjutkan perjalanan kisah petualangan guru pembelajar yang baru mendapatkan jalan terang pada usia menjelang senja. Senyuman yang terlanjur aku persembahkan kepada belahan jiwaku tak dapat kutarik kembali. Istirahat dalam arti memejamkan mata untuk mengarungi mimpi versi suamiku tentunya semakin jauh untuk direalisasi.

Bayangan mahkota penulis yang sebentar lagi akan diterbitkan semakin manari-nari di panggung jiwaku. Naskah buku solo yang baru saja dituntaskan swasuntingnya sudah kukirim kembali kepada Ibu Kanjeng untuk segera diterbitkan. Pengerjaannya yang berlangsung 2 hari dan sangat menguras energi, sebenarnya cukup menjadi alasanku untuk bisa memejamkan mata yang sudah begitu lelah. Namun, aku tetap tak bisa melakukannya. Malah senyumanku yang semakin lebar, selebar sungai Rangkui yang membelah kota Pangkalpinang.

Kembali aku melanjutkan pengembaraan ingatanku tentang kejadian-kejadian yang mewarnai kisahku dalam kegiatan belajar menulis. Para narasumber tak hanya memberikan materi pada jam terjadwal, melainkan juga terus menghembuskan mantera-mantera ke dalam lorong pikiran dan hatiku. Aku mulai terseret ke dalam grup menulis antologi. Ada cerita, puisi, dan pantun. Tak hanya itu, ada pula grup menulis karya ilmiah dan bloger guru. Hasilnya, luar biasa. Aku yang semula tak mengerti apa-apa tentang kepenulisan, ternyata bisa menghasilkan karya buku antologi cerita hanya dalam waktu 1 bulan saja, dan antologi pantun pada bulan berikutnya.

Senyumanku masih bertahan pada posisi semula. Sudah dipastikan, sepasang bola penghias wajah dan pembaca isi buana semakin terbuka lebar. Jauh dari meredup, apalagi tertutup. Pikiranku kembali berselancar dalam kenangan yang tak dapat dilupakan. Ia begitu melekat dalam jiwa bagaikan darah dan daging yang menyatu dalam raga. Sampailah pada perjalanan yang semakin seru.

Sebuah pesan masuk ke kolom chat WA grup kelas belajar. Om Jay - pelopor guru penggerak - memberikan sebuah pengumuman tentang lomba blog untuk memeriahkan Hari Sumpah Pemuda. Artikel tentang guru penggerak dengan panjang tulisan 500 – 750 kata menjadi syarat yang harus dipenuhi. 100% unik menjadi syarat mutlak jika ingin menjadi juara di samping kriteria umumnya yang dipersyaratkan pada sebuah lomba menulis.

Merasa bukan guru penggerak, dan tidak mengerti sama sekali tentang guru penggerak, aku abaikan saja pesan chat tersebut. Cukup lama kejadian itu berlangsung. Hingga akhirnya, Om Jay yang tak pernah bosan memotivasi dan menginspirasi, memberikan sebuah gambaran tentang definisi guru penggerak. Tak hanya itu, beliau juga memberikan gambaran tentang guru penggerak tanpa Surat Keputusan, yaitu guru penggerak yang terpilih bukan dari hasil seleksi Kemdikbud, melainkan seleksi alam.

Cukup lama aku merenung tentang lomba blog itu. Bukan hanya sekedar tentang artikel yang harus ditulis, melainkan juga tentang blog tempat tulisan itu dipublikasikan. Syarat yang sangat berat bagiku yang baru berstatus sebagai penulis dan bloger pemula. Tidak main-main. Ini sebuah lomba tingkat nasional. Pesertanya tentu saja penulis yang sudah berpengalaman dan bloger terkenal. Akhirnya, aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tidak mungkin bisa ikut ambil bagian dalam lomba tersebut.

Flyer tentang lomba terus-menerus singgah di kolom chat WA grup. Rasa penasaran menggelitik hati dan jiwa pembelajarku. Bayangan lomba yang menantang ikut bersemayam dalam ingatanku. Dari pada menyimpan kegalauan sendirian, kisah tentang lomba ini akhirnya kuceritakan kepada suami tercinta. Beliaulah yang tak pernah bosan mendengar kisah apa pun yang kubawa. Akhirnya, sebagai wujud kesepakatan bersama, aku memberanikan diri mengambil bagian dalam ajang bergengsi ini. Terlepas dari apa pun hasilnya, setidaknya aku sudah ikut meramaikan blog gurupenggerakindonesia.com dengan artikel yang ditulis dengan tanganku sendiri.

Penulisan artikel untuk lomba Hari Sumpah Pemuda kulakukan dengan kerja keras. Pencarian referensi di YouTube dan “wawancara” pun kulakukan demi menggali informasi agar tak salah menulis. Demi sebuah keunikan, suamiku ikut merepotkan dirinya, tanpa kuminta. “Dek, Kakak ke pusat kota sebentar, ya,” ucap suamiku sesaat setelah dia mengitip tulisanku dari layar laptop yang sedang aku kerjakan. “Ada apa, Kak?” tanyaku tak mengerti. Setahuku, tak ada urusan apa pun yang akan dikerjakannya di sana. “Nggak … cuma mau ngambil foto,” jawabnya singkat sambil berlalu tanpa aku sempat berkata-kata apa pun lagi.

Masih bergelut dengan artikel lomba, tiba-tiba ada pesan masuk di kolom chat WA dari suamiku. Sebuah foto bertengger cantik di sana. “Hmm … ini ternyata!” gumamku sambil tersenyum semanis-manisnya. Ternyata, suamiku benar-benar mendukung keikutsertaanku dalam lomba ini. Segera aku ganti foto sebelumnya dengan foto baru yang dikirim suamiku karena kualitasnya lebih bagus.

Perjuangan belum selesai. Bertemu dengan jenis blog baru, cukup membuat aku galau. Sudah ada dua kali presentasi melalui zoom meeting tentang cara mengunggah naskah tulisan di blog gurupenggerak. Namun, bagi pemilik paket kecerdasan terbatas berbalut usia beranjak tua, hal itu bukan perkara mudah. Sasaran selanjutnya adalah sahabat guru yang jago terkait dunia digital. Akhirnya, berkat bimbingan beliau, naskah pun sukses diunggah.

Hasil publikasi naskah di blog ternyata jauh berbeda dengan tampilan yang ada di draf. Tampilan gambar dan video terlalu besar, sehingga tidak indah dipandang mata. Artinya, perjuangan harus dilanjutkan. Kudekati suamiku yang sedang asyik menonton TV. “Kak, ba’da Isya kita ke rumah Sonie, ya,” ajakku padanya. “Tumben … akhir-akhir ini kan sering nggak sempet kalo diajak pergi,” ledek suamiku sambil tersenyum. Suamiku tahu persis kalau aku yang mengajak pergi, pastilah ada sesuatu yang penting. “Ya, Kak. Minta diajari cara mengatur tampilan gambar dan video sama Sonie,” jelasku padanya.

Setelah berkutat cukup lama dengan pengaturan gambar dan video di bawah bimbingan adikku, akhirnya aku bisa mengerjakannya sendiri ketika di rumah kurasakan tampilannya masih kurang pas. Ilmu baru kudapatkan lagi. Tak hanya sekedar tentang tulisan, tetapi juga tentang pengelolaan blog baru yang sudah menjadi dunia baruku kini.

Urusan lomba kelar. Aku tak menghiraukan lagi kelanjutannya. Kesanggupan melewati tantangan bagiku sudah menjadi prestasi yang luar biasa dan menakjubkan. Betapa tidak! Selama ini, aku terlelap di dalam sangkar emas. Tak penah terbang mengarungi luasnya alam semesta. Kini aku mulai kerja keras demi sebuah perubahan. Keluar dari zona nyaman menuju zona yang ternyata sangat nyaman – dunia menulis.

Jiwa pembelajarku masih terus dipacu oleh keadaan yang diciptakan oleh para pakar di kelas belajar PGRI. Tantangan menulis resume selama 2 bulan dan satu buku solo sebagai bukti telah lulusnya belajar yang dapat ditukar dengan sertifikat senilai 40 jam sudah dilewati dengan mulus. Ternyata, itu semua masih belum dirasakan cukup. Ruang belajar lain pun dibuka untukku yang selalu ingin bergerak. Peran menjadi moderator di kelas belajar menulis angkatan yang baru menjadi sasaran juga.

Ingatanku semakin jauh mengembara. Di suatu sore saat aku sedang santai, tiba-tiba ada notifikasi aku tergabug dalam sebuah grup WA “Tim Solid Om Jay”. “Grup apa lagi ini?” tanyaku dalam hati. Aku buka deskripsi grup. Kuperhatikan satu per satu anggota yang tertera di sana. “Oh, ternyata para narasumber dan moderator yang tergabung di dalam tim Belajar Menulis PGRI,” gumamku tanpa memikirkan lagi kelanjutannya.

Aku tidak mengerti mengapa aku digabungkan di dalam grup ini. Rasa-rasanya tak ada yang istimewa pada diriku dibandingkan dengan 400-an peserta belajar lainnya. Dua orang teman belajarku memang pantas masuk dalam tim ini. Keduanya memang luar biasa prestasinya. Tak ada yang bisa kulakukan di dalam grup baru ini selain mengucapkan syukur kepada Allah dan terima kasih atas telah digabungkannya aku di dalam grup hebat ini.

Kebingunganku terjawab saat satu dari Tim Solid Om Jay menghubungiku. “Assalamualaikum Ibu yang baik hati. Izin konfirmasi. Untuk minggu depan, bersediakah menjadi moderator di kelas BM 21 dan 22?” Ups … ada detak yang tak normal terjadi dalam gumpalan daging di dalam dadaku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam agar ia kembali berjalan normal.

Tak menunggu lama, chat itu pun kubalas “Ya, siap!” Jawaban tanpa basa-basi. Ya, aku memang bersedia menjadi moderator di grup belajar menulis bagi peserta baru. “Ini kesempatanku untuk belajar,” bisik batinku yang terus bersemangat untuk belajar. Perkara apa yang harus aku persiapkan, itu urusan nanti. Masih ada waktu satu hari untuk belajar. Kabar baik yang cukup menggetarkan jiwaku yang haus akan ilmu dan keterampilan baru ini memintaku untuk memperjuangkan takdir baiknya. Maka, aku tidak boleh melewatinya.

Akhirnya, lakon sebagai moderator aku jalani dengan cukup baik. Waktu 2 jam memandu kegiatan belajar para guru hebat se-Indonesia via WA terlewati. Keterlambatan narasumber hampir setengah jam karena ada pelatihan tatap muka, tak membuat aku bingung. Momen itu aku isi dengan memberikan motivasi. Tak ada yang tahu bahwa listrik padam dan kehabisan kuota data internet terjadi pada diriku. Karena ketenangan yang datang menghampiriku dengan tiba-tiba, membuatku bisa mengatasi semuanya dengan mulus. Begitulah, jika Allah menghendaki. Tak ada kesulitan yang tak dapat diselesaikan jika diawali dengan niat baik dan menyertakan Allah dalam setiap langkah.

Diriku bagaikan minum air laut. Semakin diteguk, semakin haus rasanya. Ruang kosong di otakku terus menggoda untuk diiisi dengan ilmu yang baru. Sambil melakoni peran moderator di kelas Belajar Menulis, aku pun ikut serta di kelas Belajar Berbicara. Masih sama, paket ini juga merupakan agenda PGRI yang diprakarsai Om Jay. Bedanya, belajar menulis sudah sampai 22 angkatan, sedangkan belajar berbicara baru angkatan ke-4. Belajar menulis dilakukan melaui WA, sedangkan belajar berbicara melalui zoom meeting.

Kelas belajar berbicara sudah kujalani dua kali pertemuan. Aku menikmati acara presentasi via zoom dengan gembira. Pertanyaan pun aku lontarkan di dua pertemuan tersebut sebagai praktik awal berbicara. Kali ini pertemuan ketiga. Sejak pagi sudah ada flyer yang dibagikan di WA grup; kegiatan dimulai pukul 19.00. Ada keanehan yang aku rasakan. Dua pertemuan sebelumnya dimulai pukul 19.30. Namun, karena ruang zoom dan aksesori lainnya masih sama seperti biasanya, aku pun tidak menghiraukannya. Berarti aku harus membuka zoom sebelum pukul 19.00. “Hmm … malam ini beraksi lagi,” gumamku bersemangat.

Udara panas semakin aku rasakan. Tanpa pendingin ruangan, peluhku semakin bertambah. Sepasang bola mataku tak mau juga mengantarkan aku berkelana dalam dunia mimpi yang indah di siang hari. Entah berapa lama aku sudah menerawang ke saat-saat yang belum lama ini terjadi. Akhirnya, aku berangkat dari rebahanku.

“Ayo Kak, kita pergi,” ajakku pada suamiku yang masih setia menunggu sambil menonton acara TV. “Nggak jadi tidur?” tanyanya heran. “Nggak … mana bisa tidur, cuaca panas kayak gini,” lanjutku beralasan. Akhirnya, kami pun pergi ke rumah adikku, menemui Aran yang selalu aku rindukan. Panas terik sinar matahari menjelang Zuhur tak kurasakan sama sekali. Itulah salah satu contoh energi positif yang memacu semangatku untuk segera bertemu dengan sang cintaku.

Dari ba’da sholat Zuhur sampai menjelang Maghrib, kami habiskan waktu bertiga untuk jalan-jalan, silaturrahmi ke rumah saudara, dan bermain bersama. Setengah hari kami lewati dengan penuh ceria, seperti biasanya. Menjelang Maghrib, Aran minta diantar pulang. Aku dan suami pun segera memenuhi permintaannya.

“Kak, pulang yuk!” ajakku pada suami setelah aku sholat Maghrib di rumah adikku. “Nantilah, sebentar lagi. Aran ngajak main kartu, nih,” jelas suamiku yang belum mau pulang. “Ada zoom belajar berbicara,” jelasku pada suami. “Nge-zoom lagi?” tanya suamiku ragu. “Ya, makanya cepet pulang,” rengekku padanya.

Sesampainya di rumah, aku mulai mempersiapkan diri dengan membuka aplikasi zoom dengan mengeklik alamat tautan yang diberikan. Hujan deras tiba-tiba datang diiringi dengan suara petir yang sempat membuatku khawatir. “Ternyata, ini yang menyebabkan panas yang luar biasa tadi siang ya, Kak,” ucapku pada suamiku yang duduk tepat di depan meja laptopku. “Ya, mudah-mudahan hujannya tidak lama. Biasanya kalau langsung deras, hujannya cuma sebentar,” jawab suamiku lengkap dengan penjelasan. “Charger laptop tidak usah dicolok, nanti bahaya!” lanjutnya mengingatkan. “Ya, Kak,” jawabku patuh.

Di layar monitor laptop, moderator mulai beraksi. Tibalah waktunya narasumber memulai acara inti. Aku menyimak pembahasan yang disuguhkan narasumber dengan serius meskipun muncul rasa curiga yang memperkuat kecurigaanku pagi tadi. Tak ingin berlama-lama dihantui rasa penasaran, aku segera bertanya kepada Om Jay untuk memastikan kebenaran acara yang aku ikuti ini.

“Om, bedah soal PPPK ini termasuk kelas berbicara, bukan?” tanyaku pada Om Jay via chat WA. “Bukan,” jawab Om Jay. “Om, kan belajar berbicara Selasa, Kamis, dan Sabtu?” tanyaku lagi dengan percaya diri karena menyelaraskan dengan waktu jam belajar menulis pada Senin, Rabu, dan Jumat. Om Jay pun lanjut menjawab, “Kelas bicara belajar Selasa dan Kamis.” Ada bintang-bintang di langit yang mulai mengintip celah kesadaranku. Ada pula cacing mungil yang merayap perlahan dan menggelitik hatiku. “Oh, Cuma 2 kali seminggu. Dikira 3 kali,” balasku dengan emoji ketawa. “Terima kasih, Om atas informasinya,” lanjutku dengan rasa malu yang luar biasa.

Setelah menerima penjelasan Om jay, aku pun cepat-cepat keluar dari ruang zoom “Pembahasan Soal-Soal Calon ASN PPPK”. Sebenarnya, aku juga butuh ilmu itu, namun, dengan pertimbangan memberikan kesempatan kepada yang lebih membutuhkan untuk menggunakan ruang zoom, aku tak boleh berlama-lama di sana.

Suamiku yang menyaksikan kejadian ini bertanya, “Loh, kok laptopnya ditutup?” “Ya, Kak, ternyata salah kamar,” jawabku tak bersemangat. “Terus, belajar bicaranya gimana?” lanjutnya pula. “Ternyata cuma dua kali seminggu,” jelasku sambil menatap lurus ke arah sepasang mata yang selalu kudamba.

“Tuh, kan … tadi buru-buru ngajak pulang, padahal Aran masih mau main,” protes suamiku. Aku tak menjawab. Hanya mata yang aku kerjap-kerjapkan sambil memonyongkan bibir ke arahnya. “Salah jadwal nih ye …,” ledeknya padaku sambil tertawa. “Adek kan pembelajar sejati …,” jawabku membela diri. “Pembelajar sejati sih pembelajar sejati … tapi nggak segitunya kaleee …!” ledeknya masih tertawa dengan volume suara yang semakin tinggi. Aku pun tak dapat menahan geli. Akhirnya, tawaku pun pecah menyusul tawa suamiku. Acara pun dilanjutkan dengan menonton sinetron yang sudah lama tidak kami lakukan berdua di Sabtu malam yang ceria.

Tuesday, December 7, 2021

Learning English with Music and Song

 


Workshop :    English for Teachers with PGRI (EFT)

Date         :    Tuesday, December 7th, 2021

Resume   :    3rd

Topic        :    Learning English with Music and Song

Speaker   :    Urip Hifayat, S. Pd.

Moderator     :  Poppy Meka, M. Pd.

"Experience is the best teacher." It is a very popular saying to express how important experience is to us, especially to remind us not to repeat mistakes in the same conditions. Therefore, today's third meeting, I must write my resume as soon as possible eventhough I haven't written the second one. Ha…  ha ….

The third meeting was a special one for me because it was very interesting and inspiring. It's about how to teach English using music and songs. Here, I think not only an English teacher but also other subject teachers should teach using songs. Why? Singing songs makes students happy, so the material presented by the teacher can be easily understood by students.

In this meeting, Pak Urip did brain storming by asking if we liked singing, if we had ever sung together with students in the classroom, how we attracted our students' attention, and how we taught English with songs.

Then, Pak Urip explained the strategies of teaching English with songs, gave the examples of children’s songs that he composed by himself, followed by singing them. For me, he is a skilled teacher in teaching English to elementary students. I can imagine how happy his students were learning English with him.

In planning the use of songs in teaching English in the classroom, Pak Urip conveyed several tips. First, we must think carefully about the purpose of the lesson. It has to do with the parts of the language – vocabulary, structure, grammar, pronunciation, or a specific topic, etc. Next, think about the language level and age of our students. This is important in order to be able to choose songs that are suitable for students.

We should also think about specific cultural issues. In this case, we should consider whether the song is acceptable to the students in relation to their cultural background. Last, but not least, we should know types of media we can use to teach with songs. Maybe we can use MP3, CD, YouTube channel, etc.

There are some advantages of teaching English with songs. First, singing songs brings fun to students in learning English. Second, singing songs can activate students' brains and develop their behavior. The last, songs can also be used to teach parts of language – vocabulary, grammar, etc.

Pak Urip showed the strategy of teaching English without songs by asking some questions related to English grammar. Of course, that was not interesting. Then, participants were asked to sing their own song, and it’s very interesting. So, it's better for a teacher to teach English with song.

In giving songs to students, a teacher can find them from various sources, composed by the teacher himself, or by changing the lyrics of existing Indonesian songs that are familiar to our students into English. Then, it can be created as completing missing words, practicing pronouncing certain expressions, memorizing vocabularies, and some others. 

In short, learning English with songs can be used for mastering listening, speaking, reading  and writing altogether. 

Thank you Pak Urip for the great meeting and material. Hopefully, not only English teachers but also other subject teachers can apply this good experience in teaching their students.

 

Pangkalpinang, 7 Desember 2021

Rosminiyati

 


 

Profil

Rosminiyati, S.Pd. lahir di Pangkalpinang pada 5 April 1970, berprofesi sebagai guru di SMK Negeri 2 Pangkalpinang dari tahun 1994 hingga sekarang.

Sejak mengikuti Pelatihan Belajar Menulis PGRI yang diprakarsai Om Jay (Juli - September  2021), kemudahan dalam menulis sangat dirasakan.

 Karya tulis:

  1. Artikel “Writing is My Passion” pada Majalah Pendidikan, Kreativitas, dan Inovasi EDUPOS No.16 Tahun II, Agustus 2021.
  2. Buku antologi ber-ISBN “Writing is My Passion – Jilid 1” (Agustus 2021);
  3. Artikel ber-ISSN “Peningkatan Kemampuan Menulis Surat Bisnis dalam Bahasa Inggris melalui Penerapan Metode Pembelajaran Bervariasi Siswa Kelas XII TKR SMK Negeri 2 Pangkalpinang” dalam Jurnal Pasuruan inovasi Guru dan Tendik (Oktober 2021)
  4. Buku antologi ber-ISBN "Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri” (September 2021);
  5. Buku solo ber-ISBN “Jendela Literasi – Kumpulan Artikel Dunia Menulis dan Menerbitkan Buku” (Oktober 2021).
  6. Buku antologi ber-ISBN "Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan - Kumpulan Pengalaman Belajar Menulis Gelombang 19" (Desember 2021),
  7. Buku antologi ber-ISBN “Mengukir Keabadian dalam Kebersamaan – Kumpulan Pengalaman Belajar Menulis Gelombang-19.
  8. Buku antologi ber-ISBN “Pesona Telelet – Antologi Puisi Problematika kehidupan dan Solusi” (Januari 2022)

  9.  Buku antologi ber-ISBN “Kisah Para pendaki Mimpi” (Februari 2022)

  10.  Buku antologi “Romantika Keluarga SMK negeri 2 Pangkalpinang” (Februari 2022).

  11.  Buku antologi “Guru Hebat Inspiratif” (Mei 2022)

  12.  Buku antologi “Manuskrip Rasa – Bunga Rampai tantangan Kamis Menulis Lagerunal” (Mei 2022)

  13.  Buku antologi "Asa dan Cita - Antologi Praktik Mneulis Kleas 12 KRO 2 SMKN 2 Pangkalpinang Tahun 2022" (Mei 2022)

Prestasi dalam Bidang Literasi:

Juara 2 dalam “Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Memperingati Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda” yang diselenggrakan oleh Guru Blogger Indonesia berkerja sama dengan Ikatan Guru TIK PGRI (Oktober 2021)

Pengalaman dalam Bidang Literasi:

👉Moderator online via WA pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 21 dan 22 (Oktober - Desember 2021);


👉Moderator online via WA pada Pelatihan Motivator Guru Literasi Digital (GMLD) PGRI Angkatan Pertama (Oktober - Desember 2021);


👉Narasumber online via WA pada Pelatihan Motivator Guru Literasi Digital (GMLD) PGRI Angkatan Pertama (Oktober - Desember 2021);


👉Narasumber “Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog” pada kagiatan MGMP Bahasa Inggris Kota Pangkalpinang (4 Desember 2021);


👉Narasumber pada "Workshop Literasi Digital
dengan Menggunakan Platform Blog”
di SMK negeri 2 Pangkalpinang (6 – 7 Desember 2021);


👉Moderator pada Pelatihan Belajar Menulis PGRI Gelombang 23 dan 23 (Januari – Maret 2022 )

Untuk memotivasi dan mengembangkan diri dalam kegiatan menulis dan nge-blog, Penulis bergabung pada komunitas Lagerunal (Cakrawala Guru Blogger Nasional); WIMP PMA; Pantun Bersuka Ria, PMA; Belajar Puisi Telelet; dan Pucuk Diksi.

Moto: Belajar dan berbagi selalu di hati, keberhasilan bukan seberapa banyak karya, melainkan seberapa banyak bisa mengajak orang berkarya. 

Penulis dapat dihubungi melalui email rosminiyati@gmail.comsitus blog https://rosminiyatiberbagi.blogspot.com/, dan Facebook https://www.facebook.com/ros.agus.7

 



Menulis, Menulis, Menulis!