"Uak, sudah selesai belajarnya?" Tanya si kecil Aran, keponakanku yang berumur 3,5 tahun. Kutatap matanya yang penuh harap agar webinar Literasi Digital dengan tema "Strategi Menangkal Hoax" yang sedang aku ikuti segera berakhir.
"Tuh ... masih ada Om yang kemarin Adek lihat,
kan?" Jawabku sambil menunjuk ke arah layar laptop yang masih menguasai
ruang kerjaku. "Masih lama gak, Uak?" Tanyanya lagi untuk memastikan.
Kegelisahan terlihat jelas dari sorot matanya yang polos. "Hmm ... seperti
kemarin, setelah Adek main rumah-rumahan, selesai kan?"
Kemarin, si kecil pintarku itu sengaja kuajak ke rumah untuk
menemaniku. Berharap rasa pusing di kepalaku berkurang dengan hiburan yang
selalu disuguhkannya kepadaku. Sepusing atau seletih apapun kondisiku, dengan
kehadirannya membuat semuanya menjadi baik.
Semalam, Aran menginap di rumahku. Ada rengekan minta
diantar pulang sebetulnya. Namun, melihat aku yang masih asyik bergulat dengan
mesin pintar pujaan hatiku, dia pun mampu menahan dirinya. Diam, dan terus
menunggu sambil bermain bersama suamiku hingga terlelap tanpa komando di atas
sofa di ruang keluarga.
Tanpa menjawab pertanyaanku, Aran balik kanan menuju ruang
keluarga kembali. Tanda dia paham. Dia memang anak yang luar biasa. Tak pernah
memaksa. Tak menemukan suamiku di sana, diapun pergi ke luar rumah.
"Uak ... Uak!" Sayup-sayup kudengar suara lirihnya memanggil suamiku.
Setelah itu, tak kudengar apapun lagi dari luar sana.
Aku terus terbenam dalam dunia maya yang kian tak berbatas. Sang guru bloger Indonesia dan kawan-kawan menyajikan materi silih berganti. Tiba-tiba Aran kembali mendekatiku dengan sebuah 2 buah piring plastik kecil masing-masing berisi beberapa cabe kecil dan pare di dalamnya.
"Uak, ini untuk Uak Yos." Serunya dengan mimik
wajah lucu yang menggemaskan. "Wow ... Adek dapet dari mana?" Tanyaku
basa-basi. "Tadi Adek sama Uak Agus metik di kebun kita." Jawabnya
sambil menggoyangkan sedikit kepalanya, memainkan mata bulatnya yang genit, dan
mengarahkan telunjuknya ke arah sebelah rumah.
Rupanya tanaman di sebelah rumah sudah bisa dipetik
hasilnya. Bibit pare yang diperoleh dari kakak ipar ditanam sekenanya oleh
suamiku. Pohon cabe cuma ditanam dari biji cabe busuk yang disemai
sendiri. Tak ada perawatan khusus.
Paling cuma disiram dengan air cucian beras atau ikan.
Benarlah adanya. Jika kita menanam, maka kita akan menuai.
Menanam pare akan menghasilkan pare. Menanam cabe, akan menghasilkan cabe. Seterusnya, jika yang kita kebaikan, akan membuahkan kebaikan pula. Teruslah menjadi orang baik
agar kebaikan dapat dinikmati selamanya.
Pangkalpinang, 14 Agustus 2021
Rosminiyati
Guru Pembelajar

luar biasa
ReplyDeleteYeeima kasih, Om Jay.
DeleteSalam buat ponakan Aran...
ReplyDeleteSalamnya sudah disampakin, Ibu. Barusan bangun bobok siang.
Deletehttps://rosminiyatiberbagi.blogspot.com/2021/08/apa-yang-ditanam-itulah-yang-dipanen.html
ReplyDeleteSelamat mendapatkan hadiah kejutan dari omjay berupa pulsa Rp. 50.000, mohon segera kirimkan nomor ponsel yang akan diisi pulsanya, https://rosminiyatiberbagi.blogspot.com/2021/08/apa-yang-ditanam-itulah-yang-dipanen.html
ReplyDeleteTerima kasih atas hadiahnya, Om Jay.
DeleteMantap. Bagus ceritanya 👍
ReplyDeleteTerima kasih, Ibu. Baru mencoba-coba materi Pak Momo.
DeleteMantap Bunda Ros...keren sekali. Salam buat keponakan tercinta
ReplyDelete