Keberuntungan tak terjadi setiap saat. Tak pula kepada
semua orang. Perjalanan yang baru beberapa tapak menuju mahkota penulis terasa
sangat jauh. Menjadikan menulis sebagai passion tak selalu berjalan mulus. Kampanye
“menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi” terkadang dirasakan sangat
berat. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena ide yang sulit didapat. Namun, benar adanya. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan tak terduga.
Pagi ini, pukul 07.30 saya kedatangan tamu istimewa membawa kabar istimewa. Pak H. Baharudin bin H. Ishak namanya. Beliau adalah tentangga orang tua saya (saya juga waktu masih tinggal bersama orang tua). Kami memanggil beliau dengan sebutan Mang Bahar (mang=paman). Sekarang Mang Bahar tinggal di desa Puding Besar Kabupaten Bangka. Rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman orang tua saya ditinggali oleh anaknya. Rumah beliau di desa Puding Besar berjarak kira-kira 29 kilometer dari rumah saya, kota Pangkalpinang, atau perjalanan sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Bersyukur saya ada di rumah karena hari ini giliran bekerja dari rumah, sehingga bisa meyambut kedatangan beliau.
Mang Bahar adalah seorang pemuka agama di desa Puding Besar.
Kedatangan beliau kali ini merupakan kedatangan kedua kalinya ke rumah kami.
Pertama, sekitar 3 tahun yang lalu pada saat beliau berniat merenovasi sebuah
masjid tua yang bersejarah di desanya. Kedatangan beliau bukannya tidak
beralasan. Itu semua karena suami saya berprofesi sebagai wartawan di media
Bangka Pos, group Kompas-Gramedia. Beliau meminta suami saya untuk mengabarkan
tentang masjid bersejarah itu.
Kedatangan Mang Bahar kali ini membawa sebuah durian
istimewa. Tidak seperti biasanya, durian ini berukuran sangat kecil, kurang
lebih sama dengan besarnya daging durian yang masih utuh dengan bijinya. Bertekstur
keras dan mempunyai warna seperti daging buah durian. Aromanya pun istimewa, kurang
lebih sama persis dengan durian biasa.
![]() |
| H. Baharudin dan durian unik |
Terdorong rasa ingin tahu yang besar, saya dan suami menanyakan asal-usul durian istimewa tersebut. Berkisahlah beliau pada kami. Semalam, beliau dengan temannya yang bernama Pak Hasanusi makan durian di rumah beliau. Durian tersebut dibawa oleh Pak Hasanusi dari “kelekak” (hutan kecil yang dirawat, biasanya ditanami pohon tahunan yang diwariskan secara turun temurun) durian milik pak Hasanusi. Jumlahnya 3 buah. Buah pertama dan kedua dikupas dan dinikmati bersama. Normal-normal saja. Di buah ketiga muncullah keunikan. Di salah satu “lundang” (ruang/rongga kulit) durian, menempel sebuah durian istimewa tersebut. Posisinya tepat menempati ruang/rongga kulit durian. Masya Allah. Hanya itu yang dapat saya ucapkan.
Penasaran dengan detil cerita Mang Bahar tentang posisi durian unik tersebut, saya pun meminta suami untuk membeli durian di pinggir jalan di dekat rumah (modus ingin makan durian juga). Mang Bahar segera membelah kulit durian dan meletakkan durian istimewa yang dibawanya ke dalam “lundang”. Kira-kira seperti inilah kondisi ditemukannya durian unik di dalam durian tersebut.
![]() |
| Posisi si durian unik |
Aneh tapi nyata. Itu sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Bukan hoax. Ingin segera berbagi dengan yang lainnya, suami pun menelpon rekan kerjanya sesama personil di Bangka Pos. Wawan, cameraman dan Edy Yusmanto, PIC (Person in Charge) atau koordinator video Bangka Pos pun segera meluncur ke kediaman kami. Setelah berbincang sejenak, mereka berdua melakukan siaran langsung video, berbincang dengan Mang Bahar di teras rumah. Berikut ini link-nya.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=190350319805539&id=177892288911274
Menjelang siang, buah durian istimewa (biji durian
berduri) itu mulai merekah laiknya durian yang dalam proses dibelah. Sebetulnya
saya penasaran dengan bagian dalamnya, tapi sudahlah. Yang terpenting kita
semua dapat mengambil hikmah dari keanehan ini. Tidak ada yang tidak mungkin
jika Allah berkehendak. Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.
![]() |
| kulit durian unik merekah |
Sekitar pukul 10.30 Mang Bahar meninggalkan rumah kami dengan membawa pulang durian unik itu bersamanya.
Tak lama kemudian, Mas Wawan dan Edy Yusmanto pamit pulang setelah diminta
berfoto oleh suami untuk dokumentasi saya. Terima kasih Mang Bahar yang telah
jauh-jauh datang sekaligus menjadi sumber inspirasi saya pagi ini. Terima kasih
juga buat Mas Wawan dan Edy yang telah mengizinkan fotonya menghiasi tulisan saya ini.
![]() |
| Mas Wawan dan Mas Edy |
Entah berapa lama durian di dalam durian itu bisa
bertahan. Membusuk atau mengering nantinya. Itu tak penting. Segala sesuatu di
dunia ini tidak ada yang abadi. Saya bersyukur pagi-pagi mendapat rezeki, bisa
menjadi saksi mata keunikan durian di dalam durian secara langsung. Bersyukur
juga ditakdirkan Allah bergabung di dalam kelas belajar menulis bersama PGRI dan
Om Jay (Bpk. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru bloger Indonesia, motivator, penulis buku) sehingga saya dapat
mengabadikan keunikan ini di dalam tulisan saya. Semoga Allah merahmati dan memberkahi
kita semua.
Pangkalpinang, 3 Agustus 2021
Rosminiyati





Sungguh luar biasa hasil ciptaan Allah
ReplyDeleteDuren ajaib...yang penting makan durian 😘
ReplyDeleteKeajaiban karunia Allah,
ReplyDeleteKeistimewaan ibu , hingga bisa menepis Writer's Block dan mampu merangkai kalimat menjadi berita yang menarik , Alhamdulillah...