Sunday, September 5, 2021

Oleh-Oleh dari Om Jay

Sumber: Dokumen pribadi om Jay dari chat WA belajar menulis gel.19

 "Asyik ... Wak Yos pulang!" teriak Aran kegirangan begitu melihat aku sudah berada di depan pintu. Ditinggalkannya mainan yang berserakan di lantai dan langsung memelukku. "Halo, Sayang. Sedang apa?" tanyaku berbasa-basi. "Main mobil-mobilan." jawabnya sambil menunjukkan ke arah mainan yang masih tergeletak di lantai.

Sumber: Dokumen pribadi










"Wak bawa apa?" tanya Aran sambil memegang bungkusan yang aku tenteng. Kuletakkan 3 kantong plastik yang aku bawa di lantai dan langsung memeluk si kecil kesayanganku. "Hmm ...  apa ya?" Aku sengaja menunda jawaban karena Aran suka main tebakan-tebakan. 

"Ayo, Wak ... dibuka!" rengeknya tidak sabar. "OK deh ..., tapi baca bismillah dulu, ya!" "Bismillahirrohmanirrohim," ucapnya bersemangat. Aku pun segera membuka sebuah kantong plastik demi menepati janji. "Tara ... inilah dianya!" "Wow, banyak sekali! teriak Aran kegirangan. "Asyik ... pisang!" teriaknya semakin tinggi.

“Kalau yang ini apa, Wak?” tanyanya ingin tahu isi kantong yang kedua. “Apa ya?” Sengaja aku menunda lagi jawabannya. “Ayo, Wak, buka … cepatlah!” pinta Aran memelas. “Nggak ah …!” jawabku mempermainkannya. “He eh … buka, Wak, please …!” Aran selalu mengucapkan kata ‘please’ sambil merapatkan kedua telapak tangan dan meletakkannya tepat di depan dada. Itulah yang dia lakukan jika betul-betul memohon. Aku pun segera membukanya demi menghindari kekecewaan permata hatiku ini. “Yuk, baca bismillah lagi ….”

"Wow ... ada 'bijur' (baca: ubi jalar) juga!” ucapnya sambil membelalakkan netranya yang polos. “Kalau yang itu apa, Wak?” tanyanya masih ingin tahu sambil menyentuh kantong terakhir. “Mau dibuka juga?” tanyaku memancing. “Mau dong!” balasnya cepat. “Nggak ah!” Ini bukan makanan anak-anak. Aran pasti nggak suka." jelasku padanya. “Buka dulu dong, Wak!” pintanya memaksa. “Buka saja sendir!” jawabku sekenanya.

Aran berjuang membuka kantong plastik yang ketiga. Kubiarkan dia melakukannya sendiri. Jari-jari mungilnya menari-nari di atas simpulan gagang kantong plastik itu. Dia gagal membukanya dengan cara itu. Akhirnya, disobeknya permukaan plastik yang sedikit terbuka. Kali ini usahanya berhasil, dan satu per satu buah labu siam pun keluar dari sarangnya.

“Wak! Ini apa namanya?” tanyanya. “Labu siam, Nak,” jawabku singkat. “Ibu sering masak ini, masak sayur asam,” jelasnya. “Tapi Adek nggak suka makannya. Nggak enak.” jelas Aran dengan mengerutkan dahi sambil menyipitkan matanya. “Tuh, kan ... Wak juga bilang apa? Ini bukan makanan anak-anak, karena Uwak tahu Adek nggak suka. Makanya tadi Uwak Nggak mau membukanya.” Jelasku panjang lebar sambil menunjukkan ekspresi menang.

“Nah, sekarang gimana? Buah labunya berserakan. Kantongnya sudah rusak.” keluhku pada Aran agar dia bertanggung jawab. “Sebentar, Wak. Adek ambilkan baskom dulu, ya.” Jawabnya yang tak kusangka-sangka sambil pergi menuju ke dapur. Benarlah, dia kembali dengan membawa sebuah baskom kecil. Dengan lincah dimasukkannya buah labu siam satu per satu hingga habis ke dalam baskom. Masya Allah, si kecilku benar-benar cerdas. “Alhamdulillah, ya Allah, Engkau telah memberikanku seorang keponakan yang luar biasa.” syukurku dalam hati.

“Wak, kita goreng yuk pisang dan bijurnya!” ajaknya. “Kali ini kita rebus saja ya, Sayang.” Aku menawar karena baru kemarin pagi menggoreng pisang dan ubi jalar. “Boleh, Wak. Direbus juga enak, kok. Ibu juga sering merebus pisang sama bijur untuk katering.” Jelasnya luar biasa. “Ayo, Wak. Cepatlah. Adek sudah nggak sabar nih!” ajaknya langsung berjalan ke dapur. Aku pun mengikuti langkah kecilnya menuju dapur.

Singkat cerita, aku sudah selesai merebus ketiga bahan makanan mentah itu dan menyajikannya di sebuah piring. Hal yang tak kuduga, Aran ternyata masih bertanya, “Wak, beli di mana tadi makanan ini?” Aku pun menjelaskan, “Ini tidak beli, Nak. Semuanya dikasih Om Jay, tetangga sebelah. Tadi, sewaktu Uwak pulang dari membayar uang arisan, Om Jay baru pulang dari liburan, dan membawa oleh-oleh makanan ini untuk kita.”

“Oh, gitu … Om Jay baik ya, Wak.” Jelasnya sambil melihat ke arahku yang sedang mengupas kulit ubi jalar. “Ya, Nak. Om Jay sangat baik, tapi sayangnya, Om Jay tidak sempat mengajak kita jalan-jalan.” Lanjutku iseng-iseng menyampaikan kekecewaanku karena tidak ikut jalan-jalan menikmati sejuknya daerah pegunungan. “Emangnya kenapa, Wak?’ Si Bawel bertanya lagi. “Om Jay perginya buru-buru. Sedang kerja, tiba-tiba diajak Tante dan Ayuk-ayuk (baca: kakak-kakak perempuan) pergi ke rumah saudaranya.”

“Nggak apa-apa deh, Wak. Yang penting oleh-oleh dapet … deh!” Dengan ekspresi lucu sambil menggigit ubi jalar rebus, kata-kata itu keluar dari bibir mungilnya. “Ya, Nak. Kita juga harus mengucapkan Alhamdulillah karena Om Jay dan keluarga kembali ke rumah dengan selamat.”

Menikmati hari-hari tua dengan ceria bersama si kecil pun memberikan hikmah yang luar biasa. Banyak hal tak terduga didapatkan. Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah membawa kita kepada kebahagiaan sejati. Menjaga hubungan baik dengan tetangga menjadi ikatan yang luar biasa. Kebahagiaan tetangga menjadi kebahagiaan kita juga.

 

Pangkalpinang, 5 Agustus 2021

Rosminiyati




24 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasih Om jay, sudah memberikan inspirasi.

      Delete
  2. Cerita nya bagus bu meski tidak banyak tapi memiliki makna yang dalam tentang indahnya berbagi

    ReplyDelete
  3. ceritanya sangat bermanfaat dan menginspirasi.

    ReplyDelete
  4. Keren buk ceritanya

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum warohmatullahhi wabarakatuh,,,bagus ceritanya buk

    ReplyDelete
  6. Bagus banget ceritanya bu

    ReplyDelete
  7. Cerita nya keren buk karena dari membaca artikel dari ibu saya bisa terhibur

    ReplyDelete
  8. Ceritanya luar biasa, Bu. Walau sederhana, tapi memberikan pencerahan untuk menjalin hubungan yang baik kepada orang lain. Sedikit saran dari saya, ada beberapa dialog tag yang kurang tepat, sekian. Terima kasih, Bu!

    ReplyDelete
  9. Mantap buk, cerita yang di buat ibu sangat menginspirasi...

    ReplyDelete
  10. Bagus buk. Cerita yang sangat menginspirasi bagi para pembaca nya

    ReplyDelete
  11. Keren buk, cerita yang ibuk buat dapat menginspirasikan saya

    ReplyDelete
  12. Ceritanya menarik, dan terdapat makna yang baik.

    ReplyDelete
  13. Ceritanya sangat menarik dan menginspirasi

    ReplyDelete
  14. Ceritanya bagus dan mengandung makna yang baik

    ReplyDelete
  15. Ceritanya bagus bu senang banget baca nya

    ReplyDelete

Menulis, Menulis, Menulis!