Judul : Pelatihan Belajar Menulis PGRI
Resume ke : 26
Gelombang : 19
Tanggal : 8 September 2021
Tema : Menulis Itu Mudah
Narasumber : Dr. Ngainun Naim
Tulisan adalah jembatan kenangan dan komunikasi paling hangat yang
tidak akan diputus oleh waktu. Menulislah seperti embun
yang ketika jatuh ke bumi membawa pengetahuan, dan ketika melangit ke Arsy
menjadi keabadian.
(Maydelry)
Begitu menyejukkan membaca quotes seorang
penulis hebat jebolan kelas belajar menulis gelombang 18 ini, Ibu Maesaroh,
M.Pd. atau biasa disapa Ibu May. Semangat untuk menulis dengan selalu
mengingat keberadaan kita sebagai makhluk yang tunduk kepada kekuasaan-Nya
menjadikan kita meluruskan niat untuk menulis itu sendiri.
Malam ini Ibu May, sang bloger milenial bertindak sebagai moderator yang membersamai narasumber Bapak Dr. Ngainun Naim yang mengusung tema “Menulis Itu Mudah”. Semudah apakah menulis menurut Bapak Naginun Naim, seorang dosen IAIN Tulung Agung yang telah menerbitkan 40 buku, 90 antologi, dan 30 kata pengantar, 50 artikel jurnal, dan ribuan esai motivator, serta pegiat literasi ini?
![]() |
| Sumber: Chat WA belajar menulis gelombang 19 dan 20 |
Pesan suara Bapak Dr. Naginun Naim mengawali kuliah dengan ucapan alhamdulillah atas kebahagiaan dapat berjumpa dan memperoleh kesempatan berbagi materi dengan peserta belajar gelombang 19 dan 20.
Menurut beliau, selama ini kesannya menulis itu sulit. Hal ini disebabkan karena cara berfikir kita sendiri yang menyebabkan menulis itu sulit.
Sebelum melanjutkan kegiatan belajar, beliau mengajak peserta mengunjungi 2 blog utama beliau.
https://www.spirit-literasi.id/2021/09/pangeran-diponegoro-proses-kreatif.html
Pada blog ini terdapat 434 artikel.
Saya hanya sempat membaca sedikit saja dari artikel pertamanya.
Selanjutnya, saya juga mengunjungi blog yang kedua yang di dalamnya terdapat 476 artikel. Tidak hanya itu, beliau juga menulis artikel di koran dan portal lainnya. Luar biasa, begitu produktif beliau ini dalam menulis.
https://ngainun-naim.blogspot.com/2021/07/adab.html
Pada blog kedua ini, saya sempat memberikan komentar untuk salah satu tulisannya, yaitu tentang adab di zaman sekarang yang sudah mulai menghilang. Terima kasih Pak Ngainun Naim telah mengingatkan. Semoga kita bisa menjadi orang yang beradab dan menjadi contoh agar orang lain bisa beradab pula.
Ada hal yang berbeda pada kuliah malam ini. Mulai penyajian blog kedua, peran moderator diganti oleh Ms. Phia, peserta belajar gelombang 20 yang luar biasa hebatnya. Salut kepada beliau. Semoga bisa menjadi contoh semangat belajar yang tinggi bagi peserta belajar lainnya.
Selanjutnya, masih melalui pesan suara, Bapak Ngainun Naim berpesan agar menulis itu mudah, kita harus melakukan hal-hal sebagai berikiut:
1. Mengubah mindset.
Pastikan diri kita menganggap bahwa
menulis itu mudah. Kalau yang ada di kepala kita susah, maka akan susah pula
bagi kita untuk menulis. Jika otak kita mengatakan mudah, maka akan mudah pula
bagi kita untuk melakukannya. Jadi, ubahlah mindset kita bahwa ‘menulis itu
mudah”.
2. Tekad yang kuat
Kita harus bersemangat dan tidak
mudah menyerah. Jika ada masalah, bersegeralah mengatasinya. Bayangan ketakukan
dengan banyaknya hambatan itu lahir dari diri kita sendiri yang sebenarnya
dapat diatasi dengan mudah setelah kita lalui.
3. Menulis dari yang diketahui
Menulis dari hal-hal yang mudah,
yang dekat dengan kita. Hal yang paling mudah yaitu menulis tentang kegiatan
sehari-hari. Yang terpenting adalah menjaga konsistensi dalam menulis.
4. Banyak mambaca
Membaca merupakan syarat wajib agar
menulis menjadi mudah. Dengan membaca kita akan memperoleh banyak hal yang
mempengaruhi tulisan kita. Misalnya, kosakata, gaya bahasa, dan lain-lain.
Bapak Ngainun Naim mengibaratkan membaca dan menulis sebagai 2 sisi mata uang yang saling melengkapi. Orang yang rajin membaca tetapi tidak menulis itu ibarat pohon tumbuh subur tapi tidak berbuah. Sebaliknya, orang yang rajin menulis namun tidak membaca, menulisnya tidak dapat bertahan lama karena tidak mempunyai bahan untuk ditulis.
5. Jam terbang
Praktik menulis yang
sebanyak-banyaknya akan menjadikan tulisan kita semakin baik dan kita juga akan
merasakan kemudahan. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan menulis di dalam
grup.
Bapak Dr. Naginun Naim merujuk kepada Prof. Dr. Kuntowijoyo yang pernah ditanya tentang cara menulis. Jawabannya adalah dengan 6 M: membaca, menulis, menulis, membaca, menulis, dan menulis.
Hal yang penting direnungkan bersama adalah bersyukur, karena tidak semua orang mau dan mampu untuk menulis. Cara bersyukur menurut beliau adalah dengan menulis.
6. Sabar menjalani proses menulis
Langkah
pertama akan menentukan langkah kita selanjutnya. Dengan sabar melakukan setiap
langkah berikutnya akan memberikan kemudahan bagi kita dalam menulis.
Kiat menghindari plagiasi ala bapak Ngainun Naim adalah dengan menulis bebas. Setelah selesai barulah menyelipkan referensi di antara tulisan kita.
Memulai sesuatu memang sulit di awalnya. Namun, jika kita menjalankan ke-6 kunci yang diberikan oleh Bapak Dr. Ngainun Naim, maka menulis akan dirasakan mudah.
Terima kasih Bapak Dr. Naginun Naim, Ibu Maesaroh, dan Ms. Phia atas kebersamaan dan ilmu yang diberikan pada malam ini. Semoga kemudahan menulis semakin bisa dirasakan setelah ini.


Mantab,
ReplyDeleteSelalu bersemangat
Selalu terpesona dengan tulisan Kak Ros. 😍😍
ReplyDeleteKak Ros ia the best 😍
ReplyDeleteLengkap dan jelas.
ReplyDeleteMantap Bu
Tulisan yang bagus. Mengalir lancar.
ReplyDeletesangat menarik bu.. sukses selalu
ReplyDeleteSampai dimana bukunya, Ayo semakin cepat semoga sukses ya Bu
ReplyDeletePadat berisi.. Tulisan yg menutrisi
ReplyDeleteLengkap dan mantap, Bu. Semangat yang membara 👍👍
ReplyDeletemenarik ..sukses ya bu
ReplyDeletepemaparannya cepet bu ros
ReplyDeleteInti materi tersaji dengan baik
ReplyDeleteterima kasih sdh mengerjakan tugasnya dengan baik
ReplyDeletemantapp
ReplyDelete