Wednesday, November 17, 2021

Bicara secara Virtual yang Menarik


Judul                 :    Pelatihan Belajar Berbicara PGRI

Resume ke        :    11

Gelombang       :    4

Tanggal             :    16 November 2021

Tema                 :    Bicara secara Virtual yang Menarik

Narasumber      :    Prof. Richardus Eko Indrajid




Belajar pada masa belum sepenuhnya normal, menuntut guru untuk terus kreatif dalam mengelola kelas virtual. Untuk itu, berbagai aplikasi dan strategi digunakan. Aplikasi yang sering digunakan adalah zoom dan google meet. Namun, kenyataannya keluhan muncul di sana-sini. Mulai dari murid yang tidak aktif memperhatikan, sampai tugas yang tidak dikerjakan.

Sejauh ini, permasalahan-permasalahan yang muncul belum dapat diatasi secara maksimal. Hal ini disebabkan belum terampilnya guru dalam mengelola kelas virtual tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan yang dapat mengantarkan guru kepada pengelolaan kelas virtual yang baik.

Prof. Richardus Eko Indrajid, pemilik 1 Gelar S1, 5 Gelar S2, dan 4 Gelar S3,  seorang akademisi, tokoh Pendidikan, dan pakar teknologi informatika ini sangatlah memahami permasalahan yang dihadapi oleh para guru. Oleh sebab itu, dalam pelatihan Belajar Bicara PGRI pada pertemuan ke-11 yang dilaksanakan pada Rabu, 16 November 2021 ini, beliau membahas tema “Bicara secara Virtual yang Menarik”, dengan moderator Ibu Rifatun.

Pada pembahasan pertama, Prof. Eko mengemukakan bahwa agar kelas virtual dapat berjalan dengan baik, guru harus dapat mengelola kelas virtual dengan menarik. Namun, ada 3 tantangan yang dihadapi, yaitu: (1) psikologis, (2) teknologi yang bermacam-macam, dan (3) perhatian yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru perlu melakukan pendekatan yang berbeda-beda pula.

Ada 10 prinsip/kiat yang dapat dilakukan guru agar kelas virtual menjadi menarik dan peserta didik dapat terlibat aktif di dalamnya. Berikut prinsip-prinsip tersebut:

1. Kita bukan berbicara dengan mesin, tetapi berkomunikasi dengan kumpulan manusia. Oleh karena itu, guru harus berempati dengan peserta didik. Ajak mereka berkomunikasi dengan menyapa mereka secara bergantian, sewaktu-waktu memberikan pertanyaan, dan lain-lain, sehingga kelas terasa hidup.

2. Tetapkan tujuan kita berkomunikasi, dan pastikan kita dapat mengetahui cara mengukur keberhasilannya. Pastikan tujuan yang kita tetapkan berpusat pada 1 pencapaian saja sehingga materi kita jelas dan mudah mengukurnya. Untuk mengukur ketercapaian ini, sekali-kali peserta didik ditanya secara langsung tentang apa yang sudah disampaikan sebelum melanjutkan ke uraian materi berikutnya.

3.   Kenalilah pendengar kita dengan kondisi teknologi yang digunakan dan situasi dan kondisi keberagaman Indonesia. Kita perlu memahami apabila di antara peserta didik kita ada yang tidak mengaktifkan kamera, mungkin karena kondisi kuota data internet uang minim, keluar masuk ruang zoom karena sinyal tidak lancar, dan lain-lain.

4.   Pakailah bahasa yang mudah dimengerti semua orang agar target komunikasi dapat dicapai dengan baik. Bahasa yang digunakan guru hendaknya sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan peserta didik, sehingga materi yang disampaikan dapat dengan mudah mereka pahami;

5.  Pemilihan intonasi suara dan model interaksi akan sangat menentukan keberhasilan kita berkomunikasi virtual. Ketika kita berada dalam kelas maya, kita tidak boleh terlalu percaya diri bahwa kita adalah satu-satunya orang yang dihadapi oleh peserta didik. Kita tidak tahu apa yang ada di belakang layar peserta didik kita. Mungkin chat WA, isntragram, facebook, teman, TV, dan lain-lain. Oleh karena itu, kita harus mampu memenangkan persaingan ini. Caranya, dengan mengatur intonasi suara, bisa dengan intonasi tinggi, menggunakan mikrofon, dan lain-lain. Model interaksi harus pula beragam. Misalnya, dengan memberikan pertanyaan yang dijawab dengan suara, menulis di kolom komentar, dan lain-lain.

6. Kuasai sungguh-sungguh aplikasi yang digunakan sebagai media komunikasi beserta segenap fitur interaksinya. Penggunaan fitur yang tersedia di dalam aplikasi zoom dapat memberikan variasi kegiatan yang menarik untuk menghindari kebosanan. Misalnya, menggunakan fitur aksesori yang lucu-lucu untuk saat tertentu, kemudian aksesori lainnya pada saat berikutnya. Agar fitur tersebut tersedia pada laptop kita, kita harus sering-sering melakukan update.

7.  Jangan monoton menggunakan satu modus komunikasi, berganti-gantilah setiap saat agar pendengar tidak bosan. Monoton bisa menyebabkan peserta didik kita bosan, mengantuk, hingga tertidur. Oleh karena itu, variasai dalam komunikasi sangatlah penting

8.  Hindari menggunakan slot waktu yang terlampau panjang untuk menyampaikan pesan, perbanyak interaksi tanya jawab. Anak didik kita adalah generasi Z yang cepat menangkap informasi, namun tidak bertahan lama dalam menyimak materi. Oleh karena itu, penyampaian materi jangan lebih dari 15 menit.

9.    Powerpoint adalah alat bantu berkomunikasi, bukan untuk dibaca oleh narasumber. Peserta didik dapat membaca sendiri powerpoint yang kita buat. Oleh karena itu, guru tidak perlu membacanya. Tugas kita adalah menambahkan penjelasan terhadap materi inti yang terdapat pada Powerpoint tersebut.

10. Sering-sering melatih diri berkomunikasi via internet dan belajar dari YouTuber yang hebat-hebat. Kita belajar bagaimana mereka bisa menarik, kita bisa bisa ketagihan menyaksikan sajian konten mereka, dan lain-lain.  

Kesepuluh prinsip yang dipaparkan oleh Prof. Eko di atas, semuanya telah dipraktikkan secara langsung kepada kami sebagai peserta. Benarlah adanya, begitu menarik dan interaktif. Saya yang belum beristirahat sama sekali sejak pukul 2.30 dini hari pun tak merasakan kantuk dan lelah sama sekali. Demikianlah seyogianya kita sebagai guru mengelola kelas virtual, agar peserta didik kita senang dalam belajar, dan tujuan yang kita tentukan dapat tercapai.

Prof. Eko mempraktikkan penggunaan fitur zoom agar tidak monoton

Berikut tautan video rekaman tentang keseruan belajar bicara secara virtual yang menarik bersama Prof. Richardus Eko Indrajit. 

https://www.youtube.com/watch?v=5E4mNZv23bg


Pangkalpinang, 17 November 2021

Rosminiyati

2 comments:

Menulis, Menulis, Menulis!