Mendengar kata “menulis” membuat saya merinding. Teringat betapa sulitnya melakukan pekerjaan itu. Menulis ibarat melukis wajah seseorang yang belum dikenal atau menggali sumur di tanah berbatu hanya dengan menggunakan cangkul. Oh ... tidak! Itulah yang saya rasakan ketika diminta untuk menulis.
Tidak
ada ketertarikan sama sekali menggeluti dunia menulis ini awalnya. Sulitnya
mencari ide apalagi diksi dan merangkainya menjadi kalimat yang tertata indah
dan penuh makna menjadi penghambat besar di kala sekali-sekali ingin mencoba.
Membuka laptop, mengetik beberapa kalimat, akhirnya berhenti dan tak kembali.
Mengapa? Karena tidak tahu arah menulisnya ke mana.
3
tahun yang lalu, seorang teman guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia akan
mengakhiri masa kerjanya di sekolah kami. Beliau meminta saya untuk membaca
puisi pada acara purnabakti. Suatu tantangan yang sangat berat bagi saya karena
saya tipe orang yang tidak suka tampil di muka umum. Demi memenuhi permintaan sahabat
sejati sekaligus mentor dan motivator saya dalam menjalankan tugas sebagai guru
di sekolah yang terkadang membuat saya menjadi lemah, saya pun menerima
tantangan itu.
Masalah
muncul di saat saya hendak berlatih membaca puisi. Belum ada puisi yang tersedia.
Mulailah saya mencari puisi dari berbagai sumber di internet. Berhari-hari saya
mencari puisi yang dapat mewakili perasaan dan pikiran saya kepada guru
tercinta. Tak satu pun yang mengena di hati. Akhirnya, dengan sekuat tenaga dan
pikiran saya mencoba menulisnya sendiri. Alhamdulillah, dua hari menjelang
acara purnabakti, puisi itu pun selesai ditulis. Berlatih membaca puisi karya
sendiri tidak perlu berlama-lama karena di saat menulis pun saya sudah
menyertakan perasaan yang terdalam.
Tibalah
saatnya acara purnabakti dua orang guru sekaligus, guru Bahasa Indonesia dan
guru BK. Hadir di acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan atau yang mewakilinya,
para alumni guru dan keluarga, kepala-kepala sekolah dari sekolah lain yang
diundang, guru yang sedang purnabakti dan keluarga, dan guru-guru beserta staf
TU di sekolah kami yang jumlahnya 120-an orang. Dengan jantung berdebar, saya
naik panggung dan mulai membaca puisi ciptaan saya. Di saat judul puisi saya
baca dengan menyebutkan nama pengarangnya, aula sekolah yang dingin ber-AC
terasa hangat lantaran disambut tepuk tangan hadirin. Entah perasaan apa yang
menyelimuti saya kala itu.
Perasaan
berbeda kembali muncul dalam diri saya. Salah satu guru sempat menyampaikan
perasaannya saat mendengar puisi yang saya bacakan. Merinding, katanya. Beberapa
yang lainnya mengatakan bahwa saya mempunyai bakat terpendam. Sejak saat itu,
saya bertanya pada diri sendiri, benarkah saya bisa menulis? Ah… itu cuma
kebetulan karena terdesak kebutuhan. Itulah kesimpulan saya lantaran masih tak
yakin bahwa saya mampu menulis.
Pandemi
Covid-19 mulai melanda bangsa ini. Pada bulan Mei 2020 yang lalu, saya
mengikuti kegiatan workshop dan webinar berseri yang diselenggrakan oleh PBPGRI
bekerja sama dengan Mahir Academi. “Self Driving for Teacher Guru Daring
Milenial Indonesia” selama 98 jam pelajaran. Lantaran sulitnya melaksanakan
pembelajaran daring yang mendadak terjadi, saya bertekad mengikuti kegiatan
webinar tersebut dengan serius. Kegiatan berlangsung dari pukul 07.00 sampai
21.00. Pembukaan dan seterusnya materi inti yang silih berganti. Sedapat mungkin kegiatan saya ikuti melalui zoom di siang hari dan live streaming di malam hari. Saya tak
hendak tertinggal informasi dari narasumber hebat di negeri ini. Dari kegiatan
itulah saya tahu ternyata PGRI adalah organisasi luar biasa, memperjuangkan
nasib guru Indonesia sekaligus pendidikan di seluruh pelosok negeri.
Bapak
Wijaya Kusumah, M.Pd. yang biasa disapa Om Jay merupakan salah satu narasumber
pada kegiatan webinar tersebut. Pada saat itu, 8 Mei 2020, beliau memaparkan
materi dengan tema “Menjadi Blogger Ternama Blogger Guru Indonesia”. Beliau
bercerita tentang prestasi yang diraih berkat menulis; antara lain diundang
Bapak Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Pergi naik metro mini dan pulang
naik taksi lantaran khawatir hadiah uang tunai Rp. 20.000.000 melayang.
Jalan-jalan ke luar negeri tanpa biaya pribadi juga menjadi kenangan
tersendiri. Banyak lagi prestasi lain yang diceritakan beliau berkenaan dengan
menulis. Sejumlah bonus berupa hadiah sampai ketenaran hingga diundang sebagai
narasumber di berbagai webinar.
Menyimak
cerita Om Jay pada webinar PGRI saat itu membuat diri ini merasa semakin kecil.
Belum ada apapun yang dipesembahkan untuk diri sendiri apalagi untuk orang
lain. Belum ada karya yang dapat dibanggakan apalagi untuk berbagi sebagai
bakti pada ibu pertiwi. Tawaran Om Jay untuk mengikuti kegiatan belajar menulis
bersama Om Jay di akhir materi webinar PGRI sangat memikat hati saya yang
berniat untuk berbagi. Segera saya simpan nomor ponsel Om Jay di gawai saya
dengan rencana untuk segera ditidaklanjuti.
Keinginan
yang kuat untuk bergabung di kelas belajar Om Jay mengalami pasang surut
tatkala berhadapan dengan tugas utama sebagai guru di masa awal pandemi Covid
19. Perang batin sempat terjadi. Ingin segera mendaftar atau menunda.
Perjuangan mengajar dalam jaringan tanpa didampingi ahlinya secara langsung
menyebabkan saya bingung. Belum lagi perangkat lunak yang bersemayam cantik di
kepala dengan kapasitas lambat menangkap dan cepat lupa ini menyebakan saya
lelah. Indra penglihatan yang sering tak kuat berlama-lama di hadapan gawai
ataupun laptop juga dirasakan sangat menghambat. Akhirnya, keinginan menjadi
salah satu peserta dalam kegiatan belajar menulis bersama Om Jay tertunda.
Cukup
lama saya melupakan cerita tentang belajar menulis bersama Om Jay. Teringat
kembali setelah membaca postingan seorang teman di grup Whatsapp pada 18 Juni
2021. Ibu Okmi Astuti, M.Pd., rekan sesama anggota MGMP membagikan video tentang kenangan indahnya di gelombang 18 Belajar Menulis
PGRI. Membaca judulnya, saya langsung tercenung. “Belajar Menulis Gelombang
18”, artinya sudah begitu banyak saya melewatkan kesempatan untuk belajar
menulis.
Saya
buka dan cermati isi video yang dikirim Ibu Okmi. Slide pertama dihiasi oleh
wajah manis Om Jay, guru blogger, motivator, dan penulis buku. Disusul oleh
wajah keibuan dengan senyum manis nan menawan Bu Kanjeng, pegiat literasi,
motivator dan penulis buku. Di slide ketiga dihiasi oleh tampang ganteng Pak
Raimundus Brian Prasteyawan, admin tim Om Jay. Selanjutnya, wajah chubby nan
manis Ibu Aam Nurhasanah, moderator. Berikutnya adalah wajah-wajah peserta
belajar menulis gelombang 18. Terakhir, Flyer yang berisi wajah para narasumber
secara bergiliran. Gambar jempol pun langsung diklik dengan jempol.
Berkali-kali saya putar tayangan youtube tersebut sambil bertanya. Inikah
saatnya?
Tak
hendak melewati kesempatan lagi, saya segera mengambil gawai dan mencari nomor
cantik milik Om Jay. Saya langsung menyapa dan menyampaikan niat saya untuk
bergabung dalam kegiatan belajar menulis. Tak berlama-lama, Om Jay memasukkan
saya di Whatsapp Group Belajar Menulis Gelombang 19.
Saya
merasa senang telah bergabung di grup belajar menulis sejak 22 Juni 2021 karena
saya berpikir belajar segera dimulai. Dengan demikian saya bisa fokus untuk
belajar karena bertepatan dengan waktu liburan. Ternyata perkiraan saya salah
total. Kegiatan belajar menulis dimulai pada 12 Juli 2021 dengan acara
pembukaan pada 10 Juli 2021. Artinya,
bertepatan dengan awal masuk sekolah yang tentunya sejumlah kesibukan sebagai
guru harus disandingkan secara harmonis dengan kegiatan belajar menulis. Keraguan mulai menerpa mengingat kondisi saya
yang gampang lelah. Satu pertanyaan pamungkas, kuatkah saya menjalaninya?
Mengisi
tenggat waktu menuju materi inti, Om Jay dan beberapa anggota tim mulai
memberikan beraneka ragam menu terkait persiapan belajar. Form pendaftaran,
link blog yang membuat penasaran untuk dikunjugi sebagai bahan referensi, flyer
dan informasi tentang webinar yang relevan, tata tertib kegiatan belajar, buku-buku
terbitan terbaru tim belajar menulis, sampai tantangan menulis sederhana dari
Om Jay. Semangat menulis bertambah lagi.
Tangal
28 Juni 2021, ada postingan dari Admin grup bahwa pendaftaran pada google form
sebelumnya harus diulang karena ada tambahan data, yaitu link alamat blog. Dug!
Ada yang bergemuruh di dada. Bagaimana ini? Dengan bantuan anak sulung saya,
akhirnya saya mempunyai blog meskipun terpaksa.
Sudah
beberapa hari blog dibuat tapi halamannya masih kosong. Dengan bantuan Pak Wahyu,
seorang pengajar di Program Keahlian Teknik Informatika di sekolah saya, tampilan
blog saya berubah cantik karena ada foto pemilik bertengger di sana. Tak kalah
indahnya ketika halaman blog sudah terisi dengan salin-tempel tulisan yang saya
buat beberapa hari sebelumya.
Tak
sabar untuk dikomentari oleh pembaca, link blog pertama lagsung dibagikan ke
WAG sekolah, dilanjutkan dengan tulisan kedua. Menerima komentar dari teman-teman
membuat hati berbunga-bunga dan mulailah muncul rasa percaya diri. Dengan
sedikit keberanian, link tulisan
ketiga saya bagikan ke Whatsapp Group (WAG) belajar menulis, dan langsung
disambut manis oleh Ibu Ditta Widya Utami yang ternyata juga adalah tim Om Jay
dalam kegiatan belajar menulis. Kebahagiaan dan semangat mengisi blog pun
semakin meningkat sejak saat itu.
Pertemuan
pertama dengan Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau akrab disapa dengan Bu Kanjeng pada
kegiatan belajar menulis memberikan kesan mendalam pada diri saya. Melalui tema
“Menjadikan Menulis sebagai Passion” yang disajikan beliau membuat saya paham
dengan tujuan atau orientasi menulis yang bersifat filosofis dan berhubungan
dengan nilai, visi dan misi kehidupan kita di dunia. Semakin kuat keyakinan
saya bahwa tujuan menulis hendaknya sejajar dengan tujuan kehidupan kita
sendiri yaitu untuk mengabdi kepada-Nya.
Tujuan
menulis merupakan pondasi untuk berkarya, menjadikan menulis sebagai passion
adalah dinding-dindingnya, dan ilmu tentang menulis merupakan atapnya.
Motto
hidup Bu Kanjeng “bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silaturrahmi”
menjadi pemantik semangat saya untuk menjadikan menulis sebagai passion.
Menulis apa saja yang disuka. Ide dapat diperoleh dari mana saja. Menjadikan
menulis sebagai passion untuk dapat menulis sebanyak-banyaknya. Jangan takut
salah. Seiring berjalannya waktu, ilmu tentang menulis sedikit demi sedikit
mulai diterapkan. Tulisan yang dibuat di blog mulai direvisi. Selanjutnya, agar
tulisan dapat menjadi karya nyata, target waktu harus ditetapkan; kedisiplinan,
kenyamanan, dan mood booster harus dijaga; dan fasilitas menulis harus dalam
kondisi prima.
Begitu
banyak yang saya dapatkan dari kegiatan belajar menulis PGRI ini. “Menulislah
setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” dari Om Jay telah dapat saya
nikmati. Tujuan menulis dan “menjadikan menulis sebagai passion” dan
pernak-pernik terkait kepenulisan yang dihadiahi Bu Kanjeng sepertinya sudah
mulai menyatu dengan diri ini.
Baru
seperempat waktu dari keseluruhan jadwal belajar menulis yang ditentukan
berjalan, tulisan di blog sudah dapat dirasakan manfaatnya. Pembelajaran di
seokolah saya tak lagi dengan tatap muka terbatas seperti semester sebelumnya sejak
Senin, 26 Juli 2021. Saya memanfaatkan tulisan di blog tersebut sebagai bahan
literasi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Hanya dengan membagikan link tulisan di halaman blog ke WAG
kelas atau forum di google classroom, peserta didik sudah dapat menikmati
tulisan saya dan mengambil hikmah dari isinya.
“Fabi
ayyi aalaa'i Rabbikumaa tukazzibaan” (Q.S. Ar-Rahman 17)
“Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat
Al-Quran inilah yang pantas menjadi pengingat diri. Pengalaman belajar menulis
PGRI bersama Om Jay patut saya syukuri. Menulis yang dirasakan begitu sulit
kini menjadi passion saya dengan manfaat yang benar-benar nyata. Tak ada kata
yang pantas dipersembahkan kepada para penulis hebat, guru-guru pada kegiatan
belajar menulis ini, selain ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Berharap
keteladanan yang diberikan dengan selalu ikhlas berbagi di kegiatan belajar
menulis PGRI dapat melahirkan penulis-penulis yang ikhlas berbagi pula. Semoga
dengan terbitnya buku karya penulis pemula menjadi jalan untuk berbagi yang
diridai.
Pangkalpinang,
28 Juli 2021
Rosminiyati
*) Cerita ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul "Writing is My Passion 1" terbitan Agustus 2021
No comments:
Post a Comment