Saturday, July 31, 2021

Menulis untuk Berbagi

Mendengar kata “menulis” membuat saya merinding. Teringat betapa sulitnya melakukan pekerjaan itu.  Menulis ibarat melukis wajah seseorang yang belum dikenal atau menggali sumur di tanah berbatu hanya dengan menggunakan cangkul. Oh ... tidak! Itulah yang saya rasakan ketika diminta untuk menulis.

Tidak ada ketertarikan sama sekali menggeluti dunia menulis ini awalnya. Sulitnya mencari ide apalagi diksi dan merangkainya menjadi kalimat yang tertata indah dan penuh makna menjadi penghambat besar di kala sekali-sekali ingin mencoba. Membuka laptop, mengetik beberapa kalimat, akhirnya berhenti dan tak kembali. Mengapa? Karena tidak tahu arah menulisnya ke mana.

3 tahun yang lalu, seorang teman guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia akan mengakhiri masa kerjanya di sekolah kami. Beliau meminta saya untuk membaca puisi pada acara purnabakti. Suatu tantangan yang sangat berat bagi saya karena saya tipe orang yang tidak suka tampil di muka umum. Demi memenuhi permintaan sahabat sejati sekaligus mentor dan motivator saya dalam menjalankan tugas sebagai guru di sekolah yang terkadang membuat saya menjadi lemah, saya pun menerima tantangan itu.

Masalah muncul di saat saya hendak berlatih membaca puisi. Belum ada puisi yang tersedia. Mulailah saya mencari puisi dari berbagai sumber di internet. Berhari-hari saya mencari puisi yang dapat mewakili perasaan dan pikiran saya kepada guru tercinta. Tak satu pun yang mengena di hati. Akhirnya, dengan sekuat tenaga dan pikiran saya mencoba menulisnya sendiri. Alhamdulillah, dua hari menjelang acara purnabakti, puisi itu pun selesai ditulis. Berlatih membaca puisi karya sendiri tidak perlu berlama-lama karena di saat menulis pun saya sudah menyertakan perasaan yang terdalam.

Tibalah saatnya acara purnabakti dua orang guru sekaligus, guru Bahasa Indonesia dan guru BK. Hadir di acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan atau yang mewakilinya, para alumni guru dan keluarga, kepala-kepala sekolah dari sekolah lain yang diundang, guru yang sedang purnabakti dan keluarga, dan guru-guru beserta staf TU di sekolah kami yang jumlahnya 120-an orang. Dengan jantung berdebar, saya naik panggung dan mulai membaca puisi ciptaan saya. Di saat judul puisi saya baca dengan menyebutkan nama pengarangnya, aula sekolah yang dingin ber-AC terasa hangat lantaran disambut tepuk tangan hadirin. Entah perasaan apa yang menyelimuti saya kala itu.

Perasaan berbeda kembali muncul dalam diri saya. Salah satu guru sempat menyampaikan perasaannya saat mendengar puisi yang saya bacakan. Merinding, katanya. Beberapa yang lainnya mengatakan bahwa saya mempunyai bakat terpendam. Sejak saat itu, saya bertanya pada diri sendiri, benarkah saya bisa menulis? Ah… itu cuma kebetulan karena terdesak kebutuhan. Itulah kesimpulan saya lantaran masih tak yakin bahwa saya mampu menulis.

Pandemi Covid-19 mulai melanda bangsa ini. Pada bulan Mei 2020 yang lalu, saya mengikuti kegiatan workshop dan webinar berseri yang diselenggrakan oleh PBPGRI bekerja sama dengan Mahir Academi. “Self Driving for Teacher Guru Daring Milenial Indonesia” selama 98 jam pelajaran. Lantaran sulitnya melaksanakan pembelajaran daring yang mendadak terjadi, saya bertekad mengikuti kegiatan webinar tersebut dengan serius. Kegiatan berlangsung dari pukul 07.00 sampai 21.00. Pembukaan dan seterusnya materi inti yang silih berganti.  Sedapat mungkin kegiatan saya ikuti melalui zoom di siang hari dan live streaming di malam hari. Saya tak hendak tertinggal informasi dari narasumber hebat di negeri ini. Dari kegiatan itulah saya tahu ternyata PGRI adalah organisasi luar biasa, memperjuangkan nasib guru Indonesia sekaligus pendidikan di seluruh pelosok negeri.

Bapak Wijaya Kusumah, M.Pd. yang biasa disapa Om Jay merupakan salah satu narasumber pada kegiatan webinar tersebut. Pada saat itu, 8 Mei 2020, beliau memaparkan materi dengan tema “Menjadi Blogger Ternama Blogger Guru Indonesia”. Beliau bercerita tentang prestasi yang diraih berkat menulis; antara lain diundang Bapak Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Pergi naik metro mini dan pulang naik taksi lantaran khawatir hadiah uang tunai Rp. 20.000.000 melayang. Jalan-jalan ke luar negeri tanpa biaya pribadi juga menjadi kenangan tersendiri. Banyak lagi prestasi lain yang diceritakan beliau berkenaan dengan menulis. Sejumlah bonus berupa hadiah sampai ketenaran hingga diundang sebagai narasumber di berbagai webinar.

Menyimak cerita Om Jay pada webinar PGRI saat itu membuat diri ini merasa semakin kecil. Belum ada apapun yang dipesembahkan untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Belum ada karya yang dapat dibanggakan apalagi untuk berbagi sebagai bakti pada ibu pertiwi. Tawaran Om Jay untuk mengikuti kegiatan belajar menulis bersama Om Jay di akhir materi webinar PGRI sangat memikat hati saya yang berniat untuk berbagi. Segera saya simpan nomor ponsel Om Jay di gawai saya dengan rencana untuk segera ditidaklanjuti.

Keinginan yang kuat untuk bergabung di kelas belajar Om Jay mengalami pasang surut tatkala berhadapan dengan tugas utama sebagai guru di masa awal pandemi Covid 19. Perang batin sempat terjadi. Ingin segera mendaftar atau menunda. Perjuangan mengajar dalam jaringan tanpa didampingi ahlinya secara langsung menyebabkan saya bingung. Belum lagi perangkat lunak yang bersemayam cantik di kepala dengan kapasitas lambat menangkap dan cepat lupa ini menyebakan saya lelah. Indra penglihatan yang sering tak kuat berlama-lama di hadapan gawai ataupun laptop juga dirasakan sangat menghambat. Akhirnya, keinginan menjadi salah satu peserta dalam kegiatan belajar menulis bersama Om Jay tertunda.

Cukup lama saya melupakan cerita tentang belajar menulis bersama Om Jay. Teringat kembali setelah membaca postingan seorang teman di grup Whatsapp pada 18 Juni 2021. Ibu Okmi Astuti, M.Pd., rekan sesama anggota MGMP  membagikan video tentang kenangan  indahnya di gelombang 18 Belajar Menulis PGRI. Membaca judulnya, saya langsung tercenung. “Belajar Menulis Gelombang 18”, artinya sudah begitu banyak saya melewatkan kesempatan untuk belajar menulis.

Saya buka dan cermati isi video yang dikirim Ibu Okmi. Slide pertama dihiasi oleh wajah manis Om Jay, guru blogger, motivator, dan penulis buku. Disusul oleh wajah keibuan dengan senyum manis nan menawan Bu Kanjeng, pegiat literasi, motivator dan penulis buku. Di slide ketiga dihiasi oleh tampang ganteng Pak Raimundus Brian Prasteyawan, admin tim Om Jay. Selanjutnya, wajah chubby nan manis Ibu Aam Nurhasanah, moderator. Berikutnya adalah wajah-wajah peserta belajar menulis gelombang 18. Terakhir, Flyer yang berisi wajah para narasumber secara bergiliran. Gambar jempol pun langsung diklik dengan jempol. Berkali-kali saya putar tayangan youtube tersebut sambil bertanya. Inikah saatnya?

Tak hendak melewati kesempatan lagi, saya segera mengambil gawai dan mencari nomor cantik milik Om Jay. Saya langsung menyapa dan menyampaikan niat saya untuk bergabung dalam kegiatan belajar menulis. Tak berlama-lama, Om Jay memasukkan saya di Whatsapp Group Belajar Menulis Gelombang 19.

Saya merasa senang telah bergabung di grup belajar menulis sejak 22 Juni 2021 karena saya berpikir belajar segera dimulai. Dengan demikian saya bisa fokus untuk belajar karena bertepatan dengan waktu liburan. Ternyata perkiraan saya salah total. Kegiatan belajar menulis dimulai pada 12 Juli 2021 dengan acara pembukaan pada 10 Juli 2021.  Artinya, bertepatan dengan awal masuk sekolah yang tentunya sejumlah kesibukan sebagai guru harus disandingkan secara harmonis dengan kegiatan belajar menulis.  Keraguan mulai menerpa mengingat kondisi saya yang gampang lelah. Satu pertanyaan pamungkas, kuatkah saya menjalaninya?

Mengisi tenggat waktu menuju materi inti, Om Jay dan beberapa anggota tim mulai memberikan beraneka ragam menu terkait persiapan belajar. Form pendaftaran, link blog yang membuat penasaran untuk dikunjugi sebagai bahan referensi, flyer dan informasi tentang webinar yang relevan, tata tertib kegiatan belajar, buku-buku terbitan terbaru tim belajar menulis, sampai tantangan menulis sederhana dari Om Jay. Semangat menulis bertambah lagi.

Tangal 28 Juni 2021, ada postingan dari Admin grup bahwa pendaftaran pada google form sebelumnya harus diulang karena ada tambahan data, yaitu link alamat blog. Dug! Ada yang bergemuruh di dada. Bagaimana ini? Dengan bantuan anak sulung saya, akhirnya saya mempunyai blog meskipun terpaksa.

Sudah beberapa hari blog dibuat tapi halamannya masih kosong. Dengan bantuan Pak Wahyu, seorang pengajar di Program Keahlian Teknik Informatika di sekolah saya, tampilan blog saya berubah cantik karena ada foto pemilik bertengger di sana. Tak kalah indahnya ketika halaman blog sudah terisi dengan salin-tempel tulisan yang saya buat beberapa hari sebelumya.

Tak sabar untuk dikomentari oleh pembaca, link blog pertama lagsung dibagikan ke WAG sekolah, dilanjutkan dengan tulisan kedua. Menerima komentar dari teman-teman membuat hati berbunga-bunga dan mulailah muncul rasa percaya diri. Dengan sedikit keberanian, link tulisan ketiga saya bagikan ke Whatsapp Group (WAG) belajar menulis, dan langsung disambut manis oleh Ibu Ditta Widya Utami yang ternyata juga adalah tim Om Jay dalam kegiatan belajar menulis. Kebahagiaan dan semangat mengisi blog pun semakin meningkat sejak saat itu.

Pertemuan pertama dengan Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau akrab disapa dengan Bu Kanjeng pada kegiatan belajar menulis memberikan kesan mendalam pada diri saya. Melalui tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion” yang disajikan beliau membuat saya paham dengan tujuan atau orientasi menulis yang bersifat filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi kehidupan kita di dunia. Semakin kuat keyakinan saya bahwa tujuan menulis hendaknya sejajar dengan tujuan kehidupan kita sendiri yaitu untuk mengabdi kepada-Nya.

Tujuan menulis merupakan pondasi untuk berkarya, menjadikan menulis sebagai passion adalah dinding-dindingnya, dan ilmu tentang menulis merupakan atapnya.

Motto hidup Bu Kanjeng “bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silaturrahmi” menjadi pemantik semangat saya untuk menjadikan menulis sebagai passion. Menulis apa saja yang disuka. Ide dapat diperoleh dari mana saja. Menjadikan menulis sebagai passion untuk dapat menulis sebanyak-banyaknya. Jangan takut salah. Seiring berjalannya waktu, ilmu tentang menulis sedikit demi sedikit mulai diterapkan. Tulisan yang dibuat di blog mulai direvisi. Selanjutnya, agar tulisan dapat menjadi karya nyata, target waktu harus ditetapkan; kedisiplinan, kenyamanan, dan mood booster harus dijaga; dan fasilitas menulis harus dalam kondisi prima.

Begitu banyak yang saya dapatkan dari kegiatan belajar menulis PGRI ini. “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” dari Om Jay telah dapat saya nikmati. Tujuan menulis dan “menjadikan menulis sebagai passion” dan pernak-pernik terkait kepenulisan yang dihadiahi Bu Kanjeng sepertinya sudah mulai menyatu dengan diri ini.

Baru seperempat waktu dari keseluruhan jadwal belajar menulis yang ditentukan berjalan, tulisan di blog sudah dapat dirasakan manfaatnya. Pembelajaran di seokolah saya tak lagi dengan tatap muka terbatas seperti semester sebelumnya sejak Senin, 26 Juli 2021. Saya memanfaatkan tulisan di blog tersebut sebagai bahan literasi 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Hanya dengan membagikan link tulisan di halaman blog ke WAG kelas atau forum di google classroom, peserta didik sudah dapat menikmati tulisan saya dan mengambil hikmah dari isinya.

“Fabi ayyi aalaa'i Rabbikumaa tukazzibaan” (Q.S. Ar-Rahman 17)

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat Al-Quran inilah yang pantas menjadi pengingat diri. Pengalaman belajar menulis PGRI bersama Om Jay patut saya syukuri. Menulis yang dirasakan begitu sulit kini menjadi passion saya dengan manfaat yang benar-benar nyata. Tak ada kata yang pantas dipersembahkan kepada para penulis hebat, guru-guru pada kegiatan belajar menulis ini, selain ucapan terima kasih dan doa yang tulus. Berharap keteladanan yang diberikan dengan selalu ikhlas berbagi di kegiatan belajar menulis PGRI dapat melahirkan penulis-penulis yang ikhlas berbagi pula. Semoga dengan terbitnya buku karya penulis pemula menjadi jalan untuk berbagi yang diridai.

 

Pangkalpinang, 28 Juli 2021

Rosminiyati

*) Cerita ini sudah diterbitkan dalam buku berjudul "Writing is My Passion 1" terbitan Agustus 2021


No comments:

Post a Comment

Menulis, Menulis, Menulis!