Kematian bukanlah akhir dari suatu perjalanan panjang melainkan perhentian sementara menuju keabadian. Kehidupan bukanlah taman bermain tempat bersenda gurau melainkan pengabdian yang dimintai pertanggungjawaban. Kehidupan tak pernah diminta. Kematian tak bisa ditunda. Kehidupan dan kematian mutlak menjadi urusan-Nya.
Pada sebuah postingan:
"Berita Duka
Telah meninggal Bpk Aryo Sasongko. Bakda magrib
...
Karena sakit bukan Covid.
...
Hasil lab almarhum sekeluarga negatif
covid19."
Innalillahi wa inna ilahi rojiun, ucapku spontan. Tidak kulanjutkan membaca chat di Whatsapp Group Belajar Menulis gelommbang 19 itu. Ada sesuatu yang sangat aneh menyerang gumpalan-gumpalan daging di dalam tubuhku. Terasa ada pukulan keras di jantungku, sayatan tajam di hatiku, dan goncangan dahsyat di otakku. Dan... ada titik-titik air bening yang tanpa sadar telah menutupi pandanganku. "sakit bukan covid". Ya, sepertinya frasa itu yang telah mengganggu ketenangan batinku.
Masih dalam pergulatan batin dan
fikiran, aku langsung duduk di atas sadel sepeda motorku. Starter kunyalakan
dan segera menjalankan kuda bermesin itu melaju membelah jalan raya. Sebelum
07.00 aku harus tiba di sekolah. Tidak boleh terlambat. Pukul 07.00 tepat pintu
gerbang sekolah akan ditutup. Tiba tepat waktu atau berdiri 1 jam menunggu di
luar sampai pintu dibuka kembali pukul 08.00. Oh, tidak! Tak pernah kualami
di sepanjang perjalanan profesiku di sekolah ini.
Di sepanjang perjalanan menuju
sekolah, aku masih belum bisa mendamaikan pergulatan yang terjadi dalam diri
ini. Lagi-lagi frasa "sakit bukan covid" menggangguku. Sepertinya tak
mau diajak berdamai. Ya Allah, ada apa ini? Tanyaku pada diri
sendiri. Aku mencoba menerka-nerka, apakah pernyataan itu hanya digunakan untuk
membedakan kematian yang disebabkan oleh covid dengan yang tidak covid? Tapi untuk apa? Seharusnya pertanyaan itu sudah terjawab dengan sendirinya, tapi entah mengapa,
sensitifitas terhadap kata "covid" mengalahkan kecerdasanku. Bulir-bulir bening dari mataku justru berubah
menjadi shower yang mengaburkan pandangan.
Sampai di parkiran sekolah, aku langsung mengeringkan sisa-sisa air mata dengan tisyu yang selalu tersedia di dalam tas ranselku. Tak ingin ada yang melihatnya, khawatir dikira berantem dengan suami. Aku langsung menuju kamera perekam barcode tanda kehadiran, dilanjutkan dengan pengukuran suhu tubuh dengan termo-gun yang berdiri tegak di dekat kamera pembaca barcode. Belum selesai, aku juga masih harus membersihkan tangan dengan cairan hand sanitizer untuk melengkapi protokol kesehatan. Selesai sudah. Sambil menebarkan senyum termanis dan menyapa mesra rekan-rekan terdekat tanda rindu setelah 2 minggu tak bersua, aku berjalan menuju meja kesayangan, meletakkan tas ransel di atasnya, duduk di kursi dan melanjutkan membaca berita tentang wafatnya pak Aryo.
Tatap muka terbatas dengan siswa belum
dimulai minggu ini. Belum juga terdengar dari pengeras suara lagu Indonesia
Raya yang dilanjutkan zikir pagi seperti biasanya. Rapat konsolidasi awal tahun
pelajaran masih 1 jam lagi dilaksanakan. Masih ada waktu. Aku pergi menuju
mushola yang terletak hanya beberapa langkah di belakang meja kerjaku. Tak
perlu berwudlu lagi karena wudlu yang dibawa dari rumah masih belum batal. Kutunaikan
sholat Duha 2 rokaat saja, dilanjutkan dengan zikir. Tak terasa, bulir-bulir
bening kembali membasahi netraku. Terkenang kembali pada berita tentang
wafatnya Pak Aryo, orang baik yang tak pernah kukenal. Segera aku panjatkan doa
untuk almarhum. Allaummaghfirlahu
warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.
Masih duduk menghadap kiblat. Air
bening masih belum kering. Pikiranku membayangkan sosok alm. Pak Aryo yang
meninggal "karena sakit bukan covid". Ada rasa sesak di dada. Kutarik
nafas dalam-dalam dan meghembuskannya secara perlahan. Agak lega. Pak Aryo dipanggil
Allah dengan cara sakit biasa, sementara ada begitu banyak yang lainnya menghadap Sang
Khalik dengan perantara sakit Covid.
Aku mulai berdialog dengan Robb
tentang covid ini. Tak berani bercerita kepada manusia. Semua akses berita
terkait covid selama ini kututup dengan rapat kecuali hal-hal yang terkait
aturan atau anjuran untuk dilakukan yang aku rekam dan laksanakan. Bukan karena
aku tidak suka apalagi benci, melainkan demi menjaga imun tubuhku agar bisa
bertahan di masa sulit ini. Mendengar atau membahas masalah covid hanyalah
menyebabkan seluruh persendianku menjadi lemas dan dicekam rasa takut yang tak
terkendali. Itulah salah satu caraku membentengi diri dari mahluk gaib ini.
Ya Allah, betapa banyak orang yang
sakit tanpa bisa diurus orang terdekat secara bergantian. Betapa banyak orang menghembuskan
nafas terakhir tanpa didampingi keluarga. Betapa banyak jenazah yang
dimandikan, dikafani, disholatkan, diantar bukan oleh orang-orang tercinta. Ya Allah ... (tenggorokan terasa tercekat) Ya Allah, hamba tahu
ini adalah kehendak-Mu. Tak ada yang bisa mendahului ataupun mengakhiri tanpa
izin-Mu. Engkau pun memberikan cobaan ini bukan tanpa maksud.
Masih duduk menghadap kiblat.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menyelinap dalam otakku. Aku mulai menerka.
Penyematan "sakit karena bukan covid" pada sebuah pengumuman tentang
wafatnya seseorang tentunya mempunyai makna yang dalam, yaitu untuk memberikan
kepastian keamanan dan ketenangan bagi sanak keluarga serta sahabat yang
ingin melayat ataupun memberikan penghormatan terakhir dari jarak dekat.
Cerdas, pikirku. Masyarakat di sekitar lingkungan alm. Pak Aryo sebegitu
detilnya mengambil langkah dalam menghadapi mahluk tak kasat mata ini.
Covid telah begitu mencekam lebih dari
1 tahun di negeri ini. Tak ada tanda-tanda mau undur diri. Memporakporandakan
segala sendi kehidupan; membatasi pergerakan, melemahkan perekonomian, menyekat
kebersamaan, mempersempit muatan pendidikan, dan banyak lagi. Banyak yang terabaikan kini. Sebagai hamba
Allah yang mempunyai akal tentunya bukanlah hal yang bijaksana jika hanya
berdiam diri saja. Perubahan di hampir seluruh aspek kehidupan harus bisa dicermati
dengan jeli. Adaptasi masal harus terus dilakukan agar tidak tergilas. Kita
harus berjuang bersama, saling rangkul dan menguatkan, serta cerdas dalam
mengambil hikmah di balik kejadian.
Berita wafatnya pak Aryo memberikan
hikmah tersendiri bagiku. Menjadi orang baik akan diceritakan tentang
kebaikannya, seperti cerita yang dipaparkan Om Jay kali ini. Perkara dengan
cara apa seseorang berpulang ke hadapan Sang Pencipta, itu adalah mutlak urusan-Nya.
Selamat jalan pak Aryo. Semoga engkau ditempatkan di tempat terbaik di
sisi-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan,
dan iman semakin tebal.
Pangkalpinang, 12 Juli 2021
Rosminiyati
Menjadilah orang baik, kini dan
selamanya.
Sungguh mengenai hati. Tetap semangat dalam berkarya, Bu! Ini sangat keren dan menyentuh. Saya sarankan, mungkin ketika mengetik beberapa kata berbasis bahasa lain, bisa dimiringkan.
ReplyDeletesetiap kejadian ada cerita, setiap cerita ada hikmah, setiap hikmah ada pengajaran.
ReplyDeleteterimakasih banyak bu, karena sudah menulis blog ini. semoga bisa menginspirasi banyak orang
Terimakasih buk atas inspirasinya.... semoga saja virus bisa secepatnya hilang dan musnah dri muka bumi kita ini...aamiin....🤲
ReplyDelete