Wednesday, July 14, 2021

Sakit Bukan Covid

Kematian bukanlah akhir dari suatu perjalanan panjang melainkan perhentian sementara menuju keabadian. Kehidupan bukanlah  taman bermain tempat bersenda gurau melainkan pengabdian yang dimintai pertanggungjawaban. Kehidupan tak pernah diminta. Kematian tak bisa ditunda. Kehidupan dan kematian mutlak menjadi urusan-Nya. 

Pada sebuah postingan:

"Berita Duka

Telah meninggal Bpk Aryo Sasongko. Bakda magrib

...

Karena sakit bukan Covid.

...

Hasil lab almarhum sekeluarga negatif covid19."

Innalillahi wa inna ilahi rojiun, ucapku spontan. Tidak kulanjutkan membaca chat di Whatsapp Group Belajar Menulis gelommbang 19 itu. Ada sesuatu yang sangat aneh menyerang gumpalan-gumpalan daging di dalam tubuhku. Terasa ada pukulan keras di jantungku, sayatan tajam di hatiku, dan goncangan dahsyat di otakku. Dan... ada titik-titik air bening yang tanpa sadar telah menutupi pandanganku. "sakit bukan covid". Ya, sepertinya frasa itu yang telah mengganggu ketenangan batinku.

Masih dalam pergulatan batin dan fikiran, aku langsung duduk di atas sadel sepeda motorku. Starter kunyalakan dan segera menjalankan kuda bermesin itu melaju membelah jalan raya. Sebelum 07.00 aku harus tiba di sekolah. Tidak boleh terlambat. Pukul 07.00 tepat pintu gerbang sekolah akan ditutup. Tiba tepat waktu atau berdiri 1 jam menunggu di luar sampai pintu dibuka kembali pukul 08.00. Oh, tidak! Tak pernah  kualami di sepanjang perjalanan profesiku di sekolah ini.

Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku masih belum bisa mendamaikan pergulatan yang terjadi dalam diri ini. Lagi-lagi frasa "sakit bukan covid" menggangguku. Sepertinya tak mau diajak berdamai. Ya Allah, ada apa ini? Tanyaku pada diri sendiri. Aku mencoba menerka-nerka, apakah pernyataan itu hanya digunakan untuk membedakan kematian yang disebabkan oleh covid dengan yang tidak covid? Tapi untuk apa? Seharusnya pertanyaan itu sudah terjawab dengan sendirinya, tapi entah mengapa, sensitifitas terhadap kata "covid" mengalahkan kecerdasanku.  Bulir-bulir bening dari mataku justru berubah menjadi shower yang mengaburkan pandangan.

Sampai di parkiran sekolah, aku langsung mengeringkan sisa-sisa air mata dengan tisyu yang selalu tersedia di dalam tas ranselku. Tak ingin ada yang melihatnya, khawatir dikira berantem dengan suami. Aku langsung menuju kamera perekam barcode tanda kehadiran, dilanjutkan dengan pengukuran suhu tubuh dengan termo-gun yang berdiri tegak di dekat kamera pembaca barcode. Belum selesai, aku juga masih harus membersihkan tangan dengan cairan hand sanitizer untuk melengkapi protokol kesehatan. Selesai sudah. Sambil menebarkan senyum termanis dan menyapa mesra rekan-rekan terdekat tanda rindu setelah 2 minggu tak bersua, aku berjalan menuju meja kesayangan, meletakkan tas ransel di atasnya, duduk di kursi dan melanjutkan membaca berita tentang wafatnya pak Aryo.

Tatap muka terbatas dengan siswa belum dimulai minggu ini. Belum juga terdengar dari pengeras suara lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan zikir pagi seperti biasanya. Rapat konsolidasi awal tahun pelajaran masih 1 jam lagi dilaksanakan. Masih ada waktu. Aku pergi menuju mushola yang terletak hanya beberapa langkah di belakang meja kerjaku. Tak perlu berwudlu lagi karena wudlu yang dibawa dari rumah masih belum batal. Kutunaikan sholat Duha 2 rokaat saja, dilanjutkan dengan zikir. Tak terasa, bulir-bulir bening kembali membasahi netraku. Terkenang kembali pada berita tentang wafatnya Pak Aryo, orang baik yang tak pernah kukenal. Segera aku panjatkan doa untuk almarhum.  Allaummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.

Masih duduk menghadap kiblat. Air bening masih belum kering. Pikiranku membayangkan sosok alm. Pak Aryo yang meninggal "karena sakit bukan covid". Ada rasa sesak di dada. Kutarik nafas dalam-dalam dan meghembuskannya secara perlahan. Agak lega. Pak Aryo dipanggil Allah dengan cara sakit biasa, sementara ada begitu banyak yang lainnya menghadap Sang Khalik dengan perantara sakit Covid.

Aku mulai berdialog dengan Robb tentang covid ini. Tak berani bercerita kepada manusia. Semua akses berita terkait covid selama ini kututup dengan rapat kecuali hal-hal yang terkait aturan atau anjuran untuk dilakukan yang aku rekam dan laksanakan. Bukan karena aku tidak suka apalagi benci, melainkan demi menjaga imun tubuhku agar bisa bertahan di masa sulit ini. Mendengar atau membahas masalah covid hanyalah menyebabkan seluruh persendianku menjadi lemas dan dicekam rasa takut yang tak terkendali. Itulah salah satu caraku membentengi diri dari mahluk gaib ini.

Ya Allah, betapa banyak orang yang sakit tanpa bisa diurus orang terdekat secara bergantian. Betapa banyak orang menghembuskan nafas terakhir tanpa didampingi keluarga. Betapa banyak jenazah yang dimandikan, dikafani, disholatkan, diantar bukan oleh orang-orang tercinta. Ya Allah ... (tenggorokan terasa tercekat) Ya Allah, hamba tahu ini adalah kehendak-Mu. Tak ada yang bisa mendahului ataupun mengakhiri tanpa izin-Mu. Engkau pun memberikan cobaan ini bukan tanpa maksud.

Masih duduk menghadap kiblat. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyelinap dalam otakku. Aku mulai menerka. Penyematan "sakit karena bukan covid" pada sebuah pengumuman tentang wafatnya seseorang tentunya mempunyai makna yang dalam, yaitu untuk memberikan kepastian keamanan dan ketenangan bagi sanak keluarga serta sahabat yang ingin melayat ataupun memberikan penghormatan terakhir dari jarak dekat. Cerdas, pikirku. Masyarakat di sekitar lingkungan alm. Pak Aryo sebegitu detilnya mengambil langkah dalam menghadapi mahluk tak kasat mata ini.

Covid telah begitu mencekam lebih dari 1 tahun di negeri ini. Tak ada tanda-tanda mau undur diri. Memporakporandakan segala sendi kehidupan; membatasi pergerakan, melemahkan perekonomian, menyekat kebersamaan, mempersempit muatan pendidikan, dan banyak lagi.  Banyak yang terabaikan kini. Sebagai hamba Allah yang mempunyai akal tentunya bukanlah hal yang bijaksana jika hanya berdiam diri saja. Perubahan di hampir seluruh aspek kehidupan harus bisa dicermati dengan jeli. Adaptasi masal harus terus dilakukan agar tidak tergilas. Kita harus berjuang bersama, saling rangkul dan menguatkan, serta cerdas dalam mengambil hikmah di balik kejadian.

Berita wafatnya pak Aryo memberikan hikmah tersendiri bagiku. Menjadi orang baik akan diceritakan tentang kebaikannya, seperti cerita yang dipaparkan Om Jay kali ini. Perkara dengan cara apa seseorang berpulang ke hadapan Sang Pencipta, itu adalah mutlak urusan-Nya. Selamat jalan pak Aryo. Semoga engkau ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan iman semakin tebal.

 

Pangkalpinang, 12 Juli 2021

Rosminiyati

Menjadilah orang baik, kini dan selamanya.

3 comments:

  1. Sungguh mengenai hati. Tetap semangat dalam berkarya, Bu! Ini sangat keren dan menyentuh. Saya sarankan, mungkin ketika mengetik beberapa kata berbasis bahasa lain, bisa dimiringkan.

    ReplyDelete
  2. setiap kejadian ada cerita, setiap cerita ada hikmah, setiap hikmah ada pengajaran.
    terimakasih banyak bu, karena sudah menulis blog ini. semoga bisa menginspirasi banyak orang

    ReplyDelete
  3. Terimakasih buk atas inspirasinya.... semoga saja virus bisa secepatnya hilang dan musnah dri muka bumi kita ini...aamiin....🤲

    ReplyDelete

Menulis, Menulis, Menulis!