Friday, July 9, 2021

Srikaya Syukuran




 Masih libur, aku pun melakukan kegiatan rumah dengan santai. Jarang sekali menikmati hari dengan tidak terburu-buru seperti ini. Hmm… aku senyum sendiri. Indahnya hari ini. Begitu santainya aku, hingga tak terasa perutku mulai bernyanyi. Ternyata hari sudah pukul 07.00. Pantas saja, celetuk batinku, karena aku belum sarapan pagi. Biasanya, sebelum sholat Subuh perut ini sudah diisi segelas air hangat. Setelah sholat Subuh dilanjutkan dengan makan buah, apapun itu, termasuk nanas dan durian. Kata orang-orang, itu tak boleh dilakukan, bisa sakit perut, tapi syukurnya buah apapun bersahabat baik padaku.  

Demi menjawab nyanyian sang belly, aku bergegas membuka pintu kulkas. Kulihat ada kotak bening berisi buah durian yang sudah dikupas. Ini pastilah produk kegaduhan anak sulungku malam tadi yang samar-samar kudengar dari kamar; aku tak tahu apa yang dikerjakannya karena aku sudah tak kuat menahan kantuk yang menyergap. Harumnya si lemak manis ini menantangku untuk segera memindahkannya ke tempat yang lebih layak. Dalam waktu sekejap sepuluh biji daging buah durian sudah kulahap dengan sukses. Alhamdulillah, aku masih dipertemukan dengan musim durian tahun ini.

Masih dengan santai, kubuka kembali pintu kulkas untuk mengembalikan kotak yang berisi buah durian yang sudah dikupas. Tak langsung kututup kembali, kupandangi isi kulkas untuk mendata kira-kira apa yang harus dibeli. Di rak kulkas bagian bawah terlihat beberapa jenis buah tergeletak di sana: semangka yang tinggal setengah,  mangga, jeruk, dan dua jenis apel. Lumayan banyak. Tumben…banyak buah, tidak seperti biasanya yang hanya satu atau 2 macam saja. Ya, kemarin ada saudara dan sahabat yang bertandang ke rumah dan membawa buah tangan. Sepertinya mereka tahu persis kalau aku ini penggemar buah-buahan sejati. “Rezeki macan” istilah orang-orang tua jika mendapatkan rezeki yang berlimpah di waktu yang sama.

Belum selesai melakukan observasi terhadap lemari dingin itu, kulirik bagian pintu. Amboi…ada sebuah srikaya sebesar bola tenis menghiasi rak pintunya. Ini pastilah "srikaya syukuran" hasil petikan suamiku dari pohonnya yang ada di pekarangan di sebelah rumah. Tak perlu berlama-lama, akupun dengan sigap mengambilnya dan menutup kembali pintu kulkas itu. Tak kuhiraukan lagi kulkas dan seisinya.

Kuelus sebentar gerigi kulit buah srikaya itu, dilanjutkan dengan gerakan cepat membelahnya. Dengan menekan sedikit bagian tengah, lalu menarik kedua sisinya ke kiri dan ke kanan, terbelah sudah. Tak perlu tenaga seperti mengupas durian yang harus dengan perjuangan, terkadang harus berdara-darah dulu, baru dapat menikmati isinya. Wah… harumnya menggoda selera. 

Mulailah aku menikmati daging buah ini dengan santai sambil menonton acara TV. Menikmati buah ini memang harus santai dan berhati-hati karena jumlah bijinya yang sangat banyak, hampir seimbang dengan jumlah daging buahnya. Teledor sedikit saja bisa menyebakan bijinya ikut tertelan. Gawat, bukan? Di situlah letak sensasinya makan buah ini. Tak terasa, buah yang selalu menggoda selera ini akhirnya habis dengan sempurna. Tinggal tangan dan mulut yang berlepotan laksana habis menyantap durian. Aku pun melanjutkan kegiatan di rumah ala mak-mak berdaster. 

Setiap habis membersihkan bahan makanan mentah: ikan, udang, cumi-cumi, ayam, sayur-sayuran, dll. aku membuang air dan bagian bahan yang tidak terpakai ke halaman di sebelah rumah. Untuk buangan hasil laut dan yang lainnya yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap, aku akan menguburkannya di bawah pohon-pohon yang ditanam di pekarangan di sebelah rumah. Manfaatnya bukan sekedar untuk mengamankan bau tidak sedap, melainkan juga berfungsi sebagai pupuk organik yang dapat menyuburkan tanaman.

Seperti biasa, pagi ini aku pun melakukan hal yang sama. Aku bawa baskom plastik yang sarat akan sisa buangan dan air cucian udang, ikan dan ayam ke pekarangan di sebelah rumah. Tak lupa aku pun membawa "kedik", alat untuk membersihkan rumput dan menggali lubang untuk ukuran kecil, untuk menggali tanah di sekitar pohon yang dituju. Kali ini aku memilih pohon pisang karena beberapa waktu yang lalu aku melihat sudah ada satu tandan buah pisang setengah tua menggelantung di pohon tersebut yang aku pikir lebih membutuhkan banyak zat makanan agar buahnya cepat matang. Aku segera berjongkok, menggenggam erat "kedik", mengayunkannya dengan lincah, membuat lubang dengan kedalaman yang cukup untuk menampung isi baskom yang aku bawa. Setelah siap, isi baskom pun segera aku tumpahkan, dan lubang pun aku tutup kembali dengan tumpukan tanah yang sudah digali.

Pekerjaan memupuk pohon pisang selesai, dan aku bangkit dari posisi jongkok. Berhubung saat ini aku sedang libur dan tidak terburu-buru, aku pun berdiri sambil mendongakkan kepala, melihat-lihat berbagai pohon yang ada di sekelilingku: belimbing, srikaya, sawo, jambu jamaika, dan beberapa yang lain. Ups... pandanganku berhenti pada salah satu pohon srikaya.  Di sana berjuntai buah yang lumayan banyak, tapi ada tiga buah yang warnanya berbeda, hijau kekuning-kuningan, pertanda siap dipetik dan diperam untuk mencapai kematangan.  Tidak menunggu masak di batang karena takut didahului tupai, dengan sigap tanganku memetiknya, dan segera balik kanan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai koki amatiran.

Entah mengapa, setiap memetik hasil tanaman sendiri, ada rasa yang tak biasa menyelinap di relung dada ini. Entah rasa apa namanya. Yang jelas sangat berbeda ketika buah-buahan itu didapat dengan cara membeli. Tidak ada perjuangan sulit di sana. Cukup tukarkan dengan duit, selesai. Berbeda halnya dengan tanaman yang didapat dari pekarangan sendiri. Hasil tanaman bisa dipetik setelah melalui proses yang sangat panjang: menanam, menyiram, membersihkan rumput di sekitarnya, dan menunggu sampai bertahun-tahun; setelah siap dipanen pun harus beradu cepat dengan tupai karena tak jarang aku hanya mendapatkan tangkai dan potongan buah yang terjatuh di tanah sebagai jejak eksekusi sang makhluk cekatan.

Memetik buah srikaya untuk kesekian kalinya dari pohon yang berbeda, selalu mengingatkan aku tentang asal usul bibit tanaman ini. Beberapa tahun yang lalu, aku menghadiri acara syukuran khitanan anak keponakanku. Duduk di atas karpet ruang tamu, aku menemukan beberapa biji buah srikaya berserakan. Mungkin pekerjaan anak-anak, pikirku. Akupun dengan sigap memungut biji-biji tersebut dan berniat untuk membuangnya ke tong sampah. Oh! Ini biji buah kesukaanku. Sudah lama aku tidak menikmati buah yang harum nan manis ini, dan tak pernah ditemukan ada orang yang menjualnya di kotaku, pikirku. Akhirnya, biji buah srikaya itu aku 'buang' ke dalam tas tanganku. Aman di tempatnya, akupun pulang setelah berpamitan; dan akupun melupakannya.

Entah berapa lama biji buah srikaya bersemayam dalam tas tanganku sampai pada suatu hari, ketika aku sedang mengambil amplop untuk dimasukkan ke dalam kotaknya di sebuah resepsi pernikahan, aku menemukan biji buah srikaya tersebut. Waduh! Jangan-jangan bijinya sudah lapuk dan membuat tasku jadi kotor, dugaanku saat itu. Ternyata tidak, biji-biji itu masih setia dengan eksistensinya yang super awet.

Aku ingin bergegas pulang demi segera menanam biji buah srikaya ini agar tidak terlupa lagi. Oh, tidak. Aku dan suami baru saja datang, hidangan yang bervariasi dan menggiurkan saja belum dicicipi. Belum lagi menjaga kesopanan, masak baru datang langsung pulang?

Demi menghindari lupa lagi, aku segera mengeluarkan biji buah srikaya yang terbungkus kertas tisyu dari dalam tasku begitu aku menaiki kendaraan yang membawaku pulang. Di sepanjang jalan aku pun memegang kertas tisyu tersebut dengan erat sambil mengingat bahwa di dalamnya ada barang berharga, bukan serbet lap yang dipakai menyeka keringat terus dibuang. Lucu, tapi inilah yang terjadi.

Tanpa mengganti pakaian lagi, aku bergegas menuju halaman rumah yang terdapat beberapa kantong plastik polibek yang berisi tanah tanpa tanaman, tepatnya tanamannya sudah mati. Saatnya aku ganti dengan biji buah srikaya. Tapi niat untuk menanam biji ini aku urungkan karena aku baru sadar bahwa biji yang telah tersimpan lama ini berwarna coklat muda, tentunya akan kurang bagus untuk dijadikan bibit, malah tidak akan tumbuh jika ditanam. Lantas, apakah biji ini harus kubuang? Ah... sudahlah. Terlanjur dibawa dan disimpan lama, dan bayangan daging buahnya yang putih seperti sirsak, harum semerbak baunya, lembut teksturnya, dan manis rasanya, tanam sajalah. Syukur-syukur kalau tumbuh, tidak pun tak mengapa, hanya biji hasil nemu. Akupun menabur biji buah srikaya muda di atas tanah di dalam kantong plastik polibek dengan mengucapkan basmalah. Waktu berlalu; aku sudah melupakan sang biji buah srikaya.

Di suatu pagi hari Sabtu, di saat aku menyirami tanaman, pandanganku tertuju pada sebuah kantong plastik polibek yang terletak paling ujung. Wow... beberapa pohon mungil berdiri dengan gagah di tempatnya. Biji yang aku semai telah tumbuh. Menunggu lebih besar lagi barulah pohon tersebut bisa dipindahkan.

Merasa cukup besar untuk dipindahkan, tiga pohon bibit srikaya pun berhasil bermigrasi ke halaman di sebelah rumah. Beberapa tahun lamanya, tanpa perawatan khusus, tanpa lahan yang gembur, tanpa ilmu bercocok tanam, sang biji buah srikaya berwarna coklat muda pun akhirnya berbuah, terus menerus, saling berlomba.

Saat pertama berbuah, aku sudah berani berkesimpulan bahwa srikaya adalah tanaman yang sangat mudah diregenerasikan, tanaman tanpa syarat, aku menyebutnya. Belum lagi biji buah dengan bentuk yang mirip biji buah sirsak ini jumlahnya sangatlah banyak per buahnya, bisa mencapai angka 40-an, sehingga dapatlah dikatakan bahwa buah ini sebetulnya bisa dibumidayakan secara masal sehingga tidak masuk akal jika tidak ada yang menjualnya di pasar atau di toko-toko buah. Mungkin hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan  orang tentang banyaknya khasiat buah ini bagi kesehatan, antara lain yang kubaca dari internet, meningkatkan imun dan menjaga gula darah. 

Apapun itu, yang terpenting di halaman rumahku sudah tumbuh pohon srikaya, si mungil nan kurus dengan ketinggian sedang; tumbuh subur tanpa perawatan khusus; memetik buahnya dengam cara menarik dahannya yang lentur; terus menerus berbuah tanpa menunggu musim seperti durian, cempedak, dan rambutan; daging buah berwarna putih, lembut, berbau sangat harum dan menggiurkan. Bukan cuma itu, karena biji buahnya yang sangat banyak, aku pun selalu menabur beberapa bijinya di kantong plastik polibek untuk regenerasi agar keberadaan tanaman ini tidak punah. Tak jarang aku tawarkan kepada siapapun yang berkeinginan untuk menanamnya di pekarangan rumah ataupun di kebun. Karena asal mula tanaman srikaya ini dari biji yang ditemukan di tempat acara syukuran khitanan, aku memberikannya nama "srikaya syukuran". 




Pangkalpinang, 9 Juli 2021

Rosminiyati

Menanamlah, maka kita akan menuai.


2 comments:

  1. Sebuah tulisan enak dikonsumsi, seenak isi buah srikaya. Pertanda bahwa sang penulis nya telah terbiasa merangkai kata demi kata hingga menjelma sebuah cerita. Manizzzz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih telah mencicipi hidangan sederhana ini. Orang yang pandai memuji adalah orang yang berisi.

      Delete

Menulis, Menulis, Menulis!