Masih libur, aku pun melakukan kegiatan rumah dengan santai. Jarang sekali menikmati hari dengan tidak terburu-buru seperti ini. Hmm… aku senyum sendiri. Indahnya hari ini. Begitu santainya aku, hingga tak terasa perutku mulai bernyanyi. Ternyata hari sudah pukul 07.00. Pantas saja, celetuk batinku, karena aku belum sarapan pagi. Biasanya, sebelum sholat Subuh perut ini sudah diisi segelas air hangat. Setelah sholat Subuh dilanjutkan dengan makan buah, apapun itu, termasuk nanas dan durian. Kata orang-orang, itu tak boleh dilakukan, bisa sakit perut, tapi syukurnya buah apapun bersahabat baik padaku.
Demi menjawab nyanyian sang belly, aku bergegas membuka pintu
kulkas. Kulihat ada kotak bening berisi buah durian yang sudah dikupas. Ini pastilah produk kegaduhan anak sulungku malam tadi yang samar-samar kudengar dari kamar; aku tak tahu apa yang dikerjakannya karena aku sudah tak kuat menahan kantuk yang menyergap. Harumnya si lemak manis ini menantangku
untuk segera memindahkannya ke tempat yang lebih layak. Dalam waktu sekejap
sepuluh biji daging buah durian sudah kulahap dengan sukses. Alhamdulillah, aku
masih dipertemukan dengan musim durian tahun ini.
Masih dengan santai, kubuka kembali
pintu kulkas untuk mengembalikan kotak yang berisi buah durian yang sudah
dikupas. Tak langsung kututup kembali, kupandangi isi kulkas untuk mendata
kira-kira apa yang harus dibeli. Di rak kulkas bagian bawah terlihat beberapa jenis
buah tergeletak di sana: semangka yang tinggal setengah, mangga, jeruk, dan dua jenis apel. Lumayan banyak. Tumben…banyak
buah, tidak seperti biasanya yang hanya satu atau 2 macam saja. Ya, kemarin ada saudara dan sahabat yang bertandang ke rumah
dan membawa buah tangan. Sepertinya mereka tahu persis kalau aku ini penggemar buah-buahan sejati. “Rezeki macan” istilah orang-orang tua jika mendapatkan
rezeki yang berlimpah di waktu yang sama.
Belum selesai melakukan observasi
terhadap lemari dingin itu, kulirik bagian pintu. Amboi…ada sebuah srikaya
sebesar bola tenis menghiasi rak pintunya. Ini pastilah "srikaya syukuran" hasil petikan suamiku
dari pohonnya yang ada di pekarangan di sebelah rumah. Tak perlu berlama-lama,
akupun dengan sigap mengambilnya dan menutup kembali pintu kulkas itu. Tak kuhiraukan
lagi kulkas dan seisinya.
Seperti biasa, pagi ini aku pun
melakukan hal yang sama. Aku bawa baskom plastik yang sarat akan sisa buangan
dan air cucian udang, ikan dan ayam ke pekarangan di sebelah rumah. Tak lupa
aku pun membawa "kedik", alat untuk membersihkan rumput dan menggali
lubang untuk ukuran kecil, untuk menggali tanah di sekitar pohon yang dituju.
Kali ini aku memilih pohon pisang karena beberapa waktu yang lalu aku melihat
sudah ada satu tandan buah pisang setengah tua menggelantung di pohon tersebut
yang aku pikir lebih membutuhkan banyak zat makanan agar buahnya
cepat matang. Aku segera berjongkok, menggenggam erat "kedik", mengayunkannya
dengan lincah, membuat lubang dengan kedalaman yang cukup untuk menampung isi
baskom yang aku bawa. Setelah siap, isi baskom pun segera aku tumpahkan, dan
lubang pun aku tutup kembali dengan tumpukan tanah yang sudah digali.
Pekerjaan memupuk pohon pisang selesai, dan aku bangkit dari posisi jongkok. Berhubung saat ini aku sedang libur dan tidak terburu-buru, aku pun berdiri sambil mendongakkan kepala, melihat-lihat berbagai pohon yang ada di sekelilingku: belimbing, srikaya, sawo, jambu jamaika, dan beberapa yang lain. Ups... pandanganku berhenti pada salah satu pohon srikaya. Di sana berjuntai buah yang lumayan banyak, tapi ada tiga buah yang warnanya berbeda, hijau kekuning-kuningan, pertanda siap dipetik dan diperam untuk mencapai kematangan. Tidak menunggu masak di batang karena takut didahului tupai, dengan sigap tanganku memetiknya, dan segera balik kanan untuk melanjutkan pekerjaan sebagai koki amatiran.
Entah mengapa, setiap memetik hasil tanaman sendiri, ada rasa yang tak biasa menyelinap di relung dada ini. Entah rasa apa namanya. Yang jelas sangat berbeda ketika buah-buahan itu didapat dengan cara membeli. Tidak ada perjuangan sulit di sana. Cukup tukarkan dengan duit, selesai. Berbeda halnya dengan tanaman yang didapat dari pekarangan sendiri. Hasil tanaman bisa dipetik setelah melalui proses yang sangat panjang: menanam, menyiram, membersihkan rumput di sekitarnya, dan menunggu sampai bertahun-tahun; setelah siap dipanen pun harus beradu cepat dengan tupai karena tak jarang aku hanya mendapatkan tangkai dan potongan buah yang terjatuh di tanah sebagai jejak eksekusi sang makhluk cekatan.
Memetik buah srikaya untuk kesekian
kalinya dari pohon yang berbeda, selalu mengingatkan aku tentang asal usul
bibit tanaman ini. Beberapa tahun yang lalu, aku menghadiri acara syukuran
khitanan anak keponakanku. Duduk di atas karpet ruang tamu, aku menemukan
beberapa biji buah srikaya berserakan. Mungkin pekerjaan anak-anak, pikirku.
Akupun dengan sigap memungut biji-biji tersebut dan berniat untuk membuangnya
ke tong sampah. Oh! Ini biji buah kesukaanku. Sudah lama aku tidak menikmati
buah yang harum nan manis ini, dan tak pernah ditemukan ada orang yang
menjualnya di kotaku, pikirku. Akhirnya, biji buah srikaya itu aku 'buang' ke
dalam tas tanganku. Aman di tempatnya, akupun pulang setelah berpamitan; dan
akupun melupakannya.
Entah berapa lama biji buah srikaya
bersemayam dalam tas tanganku sampai pada suatu hari, ketika aku sedang
mengambil amplop untuk dimasukkan ke dalam kotaknya di sebuah resepsi
pernikahan, aku menemukan biji buah srikaya tersebut. Waduh! Jangan-jangan
bijinya sudah lapuk dan membuat tasku jadi kotor, dugaanku saat itu. Ternyata
tidak, biji-biji itu masih setia dengan eksistensinya yang super awet.
Aku ingin bergegas pulang demi segera
menanam biji buah srikaya ini agar tidak terlupa lagi. Oh, tidak. Aku dan suami
baru saja datang, hidangan yang bervariasi dan menggiurkan saja belum dicicipi.
Belum lagi menjaga kesopanan, masak baru datang langsung pulang?
Demi menghindari lupa lagi, aku segera
mengeluarkan biji buah srikaya yang terbungkus kertas tisyu dari dalam tasku
begitu aku menaiki kendaraan yang membawaku pulang. Di sepanjang jalan aku pun
memegang kertas tisyu tersebut dengan erat sambil mengingat bahwa di dalamnya
ada barang berharga, bukan serbet lap yang dipakai menyeka keringat terus
dibuang. Lucu, tapi inilah yang terjadi.
Tanpa mengganti pakaian lagi, aku
bergegas menuju halaman rumah yang terdapat beberapa kantong plastik polibek
yang berisi tanah tanpa tanaman, tepatnya tanamannya sudah mati. Saatnya aku
ganti dengan biji buah srikaya. Tapi niat untuk menanam biji ini aku urungkan
karena aku baru sadar bahwa biji yang telah tersimpan lama ini berwarna coklat
muda, tentunya akan kurang bagus untuk dijadikan bibit, malah tidak akan tumbuh
jika ditanam. Lantas, apakah biji ini harus kubuang? Ah... sudahlah. Terlanjur
dibawa dan disimpan lama, dan bayangan daging buahnya yang putih seperti sirsak,
harum semerbak baunya, lembut teksturnya, dan manis rasanya, tanam sajalah.
Syukur-syukur kalau tumbuh, tidak pun tak mengapa, hanya biji hasil nemu.
Akupun menabur biji buah srikaya muda di atas tanah di dalam kantong plastik
polibek dengan mengucapkan basmalah. Waktu berlalu; aku sudah melupakan sang
biji buah srikaya.
Merasa cukup besar untuk dipindahkan,
tiga pohon bibit srikaya pun berhasil bermigrasi ke halaman di sebelah rumah.
Beberapa tahun lamanya, tanpa perawatan khusus, tanpa lahan yang gembur, tanpa
ilmu bercocok tanam, sang biji buah srikaya berwarna coklat muda pun akhirnya
berbuah, terus menerus, saling berlomba.

Saat pertama berbuah, aku sudah berani
berkesimpulan bahwa srikaya adalah tanaman yang sangat mudah diregenerasikan,
tanaman tanpa syarat, aku menyebutnya. Belum lagi biji buah dengan bentuk yang mirip biji buah sirsak ini jumlahnya sangatlah banyak per buahnya, bisa
mencapai angka 40-an, sehingga dapatlah dikatakan bahwa buah ini sebetulnya
bisa dibumidayakan secara masal sehingga tidak masuk akal jika tidak ada yang
menjualnya di pasar atau di toko-toko buah. Mungkin hal ini disebabkan oleh
ketidaktahuan orang tentang banyaknya khasiat buah ini bagi kesehatan, antara
lain yang kubaca dari internet, meningkatkan imun dan menjaga gula darah.
Apapun itu, yang terpenting di halaman
rumahku sudah tumbuh pohon srikaya, si mungil nan kurus dengan ketinggian
sedang; tumbuh subur tanpa perawatan khusus; memetik buahnya dengam cara
menarik dahannya yang lentur; terus menerus berbuah tanpa menunggu musim
seperti durian, cempedak, dan rambutan; daging buah berwarna putih, lembut,
berbau sangat harum dan menggiurkan. Bukan cuma itu, karena biji buahnya yang
sangat banyak, aku pun selalu menabur beberapa bijinya di kantong plastik polibek
untuk regenerasi agar keberadaan tanaman ini tidak punah. Tak jarang aku
tawarkan kepada siapapun yang berkeinginan untuk menanamnya di pekarangan rumah
ataupun di kebun. Karena asal mula tanaman srikaya ini dari biji yang ditemukan
di tempat acara syukuran khitanan, aku memberikannya nama "srikaya
syukuran".
Pangkalpinang, 9 Juli 2021
Rosminiyati
Menanamlah, maka kita akan menuai.


Sebuah tulisan enak dikonsumsi, seenak isi buah srikaya. Pertanda bahwa sang penulis nya telah terbiasa merangkai kata demi kata hingga menjelma sebuah cerita. Manizzzz
ReplyDeleteTerima kasih telah mencicipi hidangan sederhana ini. Orang yang pandai memuji adalah orang yang berisi.
Delete