Sabtu, 10 Juli 2021 pukul 19.00. Detik-detik
yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aba-aba tentang acara Pembukaan Kegiatan Belajar
Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 sebetulnya sudah dikabarkan sejak lama di WAG,
namun undangan resmi dipost kembali pada hari Sabtu oleh Bapak Wijaya Kusuma
(Om Jay), sang Guru Blogger Indonesia, pemrakarsa kegiatan dahsyat ini,
motivator andal, dan begitu banyak gelar yang tidak dapat aku tuliskan satu
persatu. Syukurlah undangan dipost ulang. Lebih mudah membacanya ketimbang
harus scroll lagi yang sudah jauh sekali dari pandangan mata karena yang
sebelumnya sudah tertutup chat yang selalu ramai setiap harinya. Ada saja yang
diperbincangkan, yang semuanya tak boleh dilewatkan karena berisi informasi
penting dan inspiratif.
Dari pagi aku sudah merancang jadwal
kegiatan yang intinya pukul 19.00 – 21.00 aku sudah harus siap di depan layar
laptopku. Aku tidak boleh tertinggal acara penting ini. Ini adalah sejarah
besar bagiku, peletakan batu pertama pertanda bangunan siap didirikan. Ya,
langkah awal mengukir cintaku di ujung waktu. https://rosbelajarmenulis.blogspot.com/2021/07/cinta-di-ujung-waktu.html
Malam Ahad yang biasanya aku isi
dengan bermain dengan si kecilku, keponakanku yang berumur 3,5 tahun, pelipur
lara, penghilang kepenatan dan kejenuhan. Demi persiapan acara pembukaan
kegiatan belajar menulis, ba’da Ashar, sekitar pukul 16.00 aku bersama suami
bergegas menjemputnya, jalan-jalan sebentar ke rumah kakak, terus pulang
kembali ke rumah kami. Si kecil pun ‘kepo’, “Wak, kenapa pulangnya cepat
sekali?” tanyanya cerdas, karena biasanya kami pulang ba’da Maghrib atau Isya. “Wak
ada acara meeting,” jelasku, sambil menebak-nebak apakah dia mengerti atau
tidak. Dia pun melanjutkan pertanyaannya dengan gayanya yang menggemaskan, “Di
mana?” Waduh! Aku khawatir dia tidak paham dengan penjelasanku. Dengan ragu aku
menjawab, “Zoom,” lanjutku singkat. “Oh…OK..!” balasnya sambil mengangkat
jempol kanannya tanda mengerti. Di luar dugaanku. Sambil mengingat-ingat apa
yang menyebabkan dia mengerti. Tentu saja dia paham, gumamku dalam hati, karena
sepanjang tahun masa pandemi Covid ini, pemandangan di rumahnya adalah kegiatan
zoom meeting ayahnya, ibunya, dan ketiga kakaknya. Aku lega, si kecilku
mengerti dan tanpa protes. Aku bisa menikmati malam Mingguku via Zoom tanpa
kehilangan kebersamaanku dengannya.
Opening Ceremony Belajar Menulis PGRI
Bersama Om Jay Gelombang 19 dan 20 pun akhirnya dimulai. Acara yang dipandu oleh
Ibu Aam Nurhasanah, salah satu alumni gelombang 12, mengalir dengan lancar
selancar tutur kata sang pemandu acara. Sambil menyimak, batin ini mulai
bertanya, “Apakah pandai menulis akan otomatis pandai berbicara?” Aku semakin
bersemangat mengikuti acara inspiratif ini.
Acara diawali dengan perkenalan dengan
pengurus, narasumber, dan tim share yang pada umumnya adalah alumni kegiatan belajar
menulis dari gelombang-gelombang sebelumnya. Tentu saja yang sudah membuktikan
keberhasilan produk kegiatan ini. Aku takjub! Begitu hebatnya kemasan kegiatan yang
diprakarsai om Jay ini. Aku pun mulai
asyik menyimak paparan narasumber sambil membuat catatan penting terkait kegiatan
belajar sampai penerbitan buku.
Tengah asyiknya menyimak, sesekali si
kecilku mendekat, duduk di sampingku dan ikut memperhatikan layar monitor
laptopku sambil bertanya, “Wak, belum selesai ya zoomnya?” tanyanya hanya ingin
tahu. Tak ada tanda-tanda gelisah dalam pertanyaan itu. “Belum, Sayang. Tuh…
masih ada Om dan Tante di situ, kan?” jawabku sambil menunjuk ke arah layar monitor. “Okay deh… Adek main lagi ya…,” celotehnya seraya pergi menemui suamiku
lagi di ruang keluarga. Syukurlah… dia belum jenuh dengan situasi malam ini.
Aku melanjutkan kembali menikmati
malam Minggu yang spesial ini dengan suasana santai yang diciptakan oleh host,
narasumber, dan pengurus. Om Jay saja pakai kaos….he…he..he… Aku suka sekali.
Suasana seperti ini dapat menciptakan keakraban di antara seluruh personil yang
terlibat di dalamnya, yang otomatis membuat peserta baru tidak canggung untuk
mengutarakan permasalahan yang dialaminya. Bergulirlah beberapa pertanyaan
menarik terkait kegiatan menulis yang akan datang. Partanyaan pun dijawab
dengan gaya santai tapi sampai ke titik sasaran.
Oh, ya… agar tidak lupa, aku harus
mengabadikan hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan Belajar Menulis ini. Pertama, peserta harus mempunyai blog sebagai tempat menulis resume hasil
perkuliahan via WA. Tenang… aku sudah punya. Kedua, peserta wajib mengumpulkan
20 resume dari 30 pertemuan. Pengumpulannya juga tidak harus berurutan, boleh bolong-bolong. Yang terpenting setiap pengumpulan resume harus mengisi form yang disediakan
oleh panita, dan penulisan nama peserta harus seragam untuk setiap kali
pengumpulannya. In syaa Allah aku bisa.
Tolong dibantu ya…Semoga Allah mempermudah urusan kita semua. Ketiga dan
merupakan titik puncak alias target besar kita, peserta harus menerbitkan buku
solo untuk mendapatkan sertifikat dari kegiatan ini. Lumayan, bisa menambah
angka kredit untuk kenaikan pangkat ya, kawan-kawan. Tapi…bisakah aku? Tidak
usah pakai “tapi” kalau mau sukses. Semangat!
Nah…panitia telah mempermudah terkait
urusan penerbitan buku. Kata Pak Brian, peserta tidak harus menerbitkan karya
berupa resume. Resume ini hanya disarankan karena cepat dan mudah. Kita bisa menerbitkan
buku dengan tema bebas, seperti karya puisi, cerpen, atau apa saja. Yang
penting karya yang diterbitkan tersebut merupakan karya yang dimulai bulan Juli
tahun ini. Kita juga tidak diburu-buru harus menerbitkan buku segera.
Semampunya saja. Yang penting belajar menulis saja dulu yang benar, jalin hubungan
baik dengan narasumber dan seluruh panitia, sesama peserta belajar, dan
berkenalan dengan penerbit. Sudah ada nama-nama penerbit yang menjadi rujukan:
Penerbit Mayor, Andi, Indie dan beberapa yang lainnya. Menarik, bukan?
Pukul 21.00. Lewat malah. Tanpa
terasa. Host pun mulai memberi aba-aba bahwa acara Pembukaan Belajar Menulis
PGRI Gelombang 19 dan 20 bersama Om Jay segera ditutup. Ada yang hilang, yaitu
kebersamaan dengan penulis hebat di malam Minggu ceria via Zoom. Banyak juga yang kudapat, yaitu perkenalan
menakjubkan yang sarat dengan modal awal untuk menjadi penulis yang tak boleh
dilupakan. Sambil berharap aku dapat mengikuti kegiatan belajar menulis ini
dengan baik dan menghasilkan karya yang baik pula, laptop pun kututup.
Segera kutemui si kecilku di ruang
keluarga. Masih asyik bermain dengan suamiku, aku pun menyapanya. “Adek…”
panggilku tanpa melanjutkan dengan kata-kata lainnya. Dia pun menoleh ke arahku dan bertanya, “Wak,
sudah selesai ya acaranya?” “Sudah, Nak,” jawabku singkat. Dengan mata berbinar
cerah, dia segera turun dari sofa dan minta diantar pulang. Aku pun
setuju. “OK. Kita pulang!” Lanjutku. Kutawarkan segelas susu padanya antisipasi
tertidur di perjalanan pulang. Dia mau. Kami pun mengantarnya pulang.
Sampai di rumah kembali, hari hujan.
Lumayan lebat. Allahumma shoyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah kepada kami
hujan yang bermanfaat). Aku segera naik ke tempat tidur demi memenuhi hak sang netra yang telah menemaniku sepanjang hari ini. Hujan menyelimuti tidurku yang
pulas di malam Minggu. Menyirami mimpi besarku untuk menghasilkan sebuah karya di usia yang tak
lagi belia.
Pangkalpinang, 11 Juli 2021
Rosminiyati
Berbagilah
selagi bisa

Saya suka sya suka, mantaf Bu. Benar² excited banget.
ReplyDeleteTerima kasih, Pak. Belajar menulis di usia tak lagi belia butuh perjuangan ekstra. Jadi harus banyak latihan. Mudah-mudahan bisa meskipun lambat.
DeleteIbu Ros, bagus sekali tulisan dan ceritanya, sangat mengalir dan saya yakin segera menjadi penulis hebat. Saya ibu Nani lulusan group 8 dengan Bu Aam,. di hari pertama ibu sudah mampu menulis begitu banyak paragraf,. Keren dan lanjutkan. Ada beberapa penulisan kata pun jadi pus,
ReplyDeletemenoleh ditulis rmenoleh,. tapi esensi tulisan masih ok banget
Bagus sekali bu tulisannya. Salam kenal bu.
ReplyDeleteEnak dibaca, ringan, merangkumi pertemuan semalam...
ReplyDeleteBu Ros hebat...bisa menguraikan dg sangat runtut dan enak dibaca
ReplyDeleteBunda Ros, bagus sekali tulisannya dan sangat menginspirasi. Enak dibaca dan mudah dipahami
ReplyDeleteTerima kasih atas kunjungannya Ibu-ibu hebat semuanya. Jawabannya borongan saja, ya. he...he...he... Terima kasih atas support kawan-kawan semua. Terima kasih atas koreksinya, Ibu Nani. Mohon bantuan selalu dari penulis-penulis hebat dan kawan-kawan seperjuangan di sini. Semoga Allah memudahkan dan melancarkan urusan kita.
ReplyDeleteBagus bu....mau banget belajar menulis yg mengalir bagai aiarπππ
ReplyDeleteKeren Bu...tulisannya. Salam kenal.
ReplyDeleteTerima kasin ibu-ibu atas kunjungam dan supportnya. Bersama kita bisa. In syaa Allah. Semoga kita bisa menjadi sahabat selamanya.
ReplyDeleteKeren bu Ros...
ReplyDeleteSuper sekali Bu.. Ulasan tulisannya lengkap
ReplyDelete