Judul : Pelatihan Belajar Menulis PGRI
Resume ke : 1
Gelombang : 19
Tanggal : 12 Juli 2021
Tema : Menjadikan Menulis sebagai Passion
Kegiatan
Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 Pertemuan 1 terjadwal pada hari Senin,
tanggal 12 Juli 2021 via WA (WhatsApp). Pukul 17.32. Pak Brian Prasetyawan
sebagai salah satu pengurus membagikan flyer terkait kegiatan ini disertai
dengan chat “Siap-siap. Pertemuan perdana nanti malam,” sebagai pengingat agar
peserta tidak lupa. Dug! Dada saya langsung berdebar laksana mau bertemu dengan
calon mertua untuk pertama kalinya. Berbagai perasaan beradu. Senang, karena kesempatan yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. Gugup dan
bingung karena belum mengerti cara belajar melaui WA.
Saya perhatikan tema yang tertera pada flyer, “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Saya langsung menerka-nerka arah materi yang akan disajikan narasumber. Agar tidak terjadi kesalahpahaman mengartikan kata passion dalam bahasa Indonesia, saya pun segera mencari makna kata itu di KBBI online. Di sana dijelaskan bahwa kata passion adalah kosakata bahasa Inggris yang berarti gairah, sedangkan gairah sendiri mempunyai arti keinginan atau hasrat yang kuat. Wah… sepertinya menulis akan menjadi kegiatan yang menyenangkan jika sesuai dengan keinginan, dan semoga kegiatan belajar malam ini akan menjadi hal yang menyenangkan juga. Gugup saya pun sedikit mereda.
Komentar “duet maut” Om Jay di WAG untuk Ibu Aam Nurhasanah sebagai moderator dan Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. sebagai narasumber yang terpampang di flyer menambah cairnya suasana hati saya yang semula agak galau. Benar, tanda-tanda menyenangkan mulai datang. Saya mulai menikmati kegiatan belajar malam ini. Melanjutkan candaan Om Jay tentang duet maut, beliau juga mengingatkan kehadiran peserta pada kegiatan penting ini, sekaligus memberikan link daftar hadir untuk diisi sebagai bukti kehadiran. Agar peserta mudah dalam menyimak perkuliahan dan menulis resume di blog masing-masing, maka WAG pun ditutup untuk sementara. Hal ini dilakukan agar konten materi yang akan disajikan tidak tertutup oleh chat peserta. Oh, begini rupanya cara belajar via WA.
Acara dibuka oleh Bpk. Wijaya Kusumah (Om Jay), guru blogger Indonesia dengan begitu banyak prestasi, sebagai pemrakarsa kegiatan belajar menulis PGRI ini. Sambutan dimulai dengan mengucapkan salam yang hanya bisa saya jawab sendiri tanpa Om Jay bisa mendengar jawaban saya karena WA diatur hanya satu arah. Tak lupa Om Jay mendoakan agar para peserta dalam keadaan sehat walafiat. Demikian juga doa saya terhadap Om Jay. Untuk memotivasi para peserta, Om Jay menyampaikan bahwa penerbit Andi Yogyakarta akan memberikan hadiah kejutan bagi peserta yang paling cepat mengumpulkan resumenya. Wow… keren! Akhirnya, perkuliahan diserahkan kepada Ibu Aam sebagai moderator dan Ibu Sri Sugiastuti, yang biasa disapa dengan Bu Kanjeng sebagai narasumber.
Sang moderator andal pun memulai aksinya dengan mengucapkan salam dan memberikan sedikit paparan. Tak lupa, sebagai umat beragama, bu Aam mengajak berdoa dengan membacakan Al-Fatihah. Aamiin. Semoga doa kita dikabulkan. Selanjutnya dijelaskan tentang tahap-tahap kegiatan yang akan dilalui: pembuka, materi inti, tanya jawab dan penutup. Kesempatan bertanya dibuka selebar-lebarnya melalui chat di WAG dengan format yang telah ditentukan.
Kegiatan puncak yang dinanti-nanti oleh seluruh peserta dimulai. Penulis hebat, Ibu Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng) sebagai narasumber mulai mengisi kolom chat WAG. Saya mulai menyimak dengan seksama, perlahan namun pasti agar tak terlewat sedikitpun informasi. Berharap ilmu yang disajikan oleh sosok seorang guru pegiat literasi nusantara, penulis 21 buku, editor sejak tahun 2019, pengurus PGRI Surakarta Jawa Tengah, motivator, blogger yang mempunyai hobi silaturrahmi, traveling, dan membaca ini dapat menjadi bekal saya dalam merintis jalan menghasilkan sebuah karya. Motto hidup beliau “Bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silaturrahmi” menjadi pemantik api bagi saya dalam mengikuti jalannya acara ini. Semoga Allah meridhoi.
Mengusung tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”, Bu Kanjeng mengawali materi inti dengan memotivasi seluruh peserta untuk mensyukuri nikmat sehat, nikmat sempat, dan nikmat berbagi dan belajar meningkatkan kualitas diri dalam kelas Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay ini. Semoga kita bisa menjadi hamba yang bersyukur agar Allah menambahkan nikmat-Nya.
Tak kurang-kurangnya motivasi untuk menyemangati peserta terkait kegiatan menulis, bu Aam menayangkan beberapa buku hasil karya bu Kanjeng dalam bentuk video. Diiringi lagu yang menggembirakan, buku-buku karya Ibu Sri Sugiastuti yang sudah diterbitkan oleh Penerbit Mayor, PT.Erlangga, dan PT. Andi Offset Yogyakarta, tampil memukau, antara lain: Masuk Surga karena Anak (Tips Parenting Islami), The Power of mother’s Prayer, Catatan Hati Menuju Baitullah, Ready to English, The Stories of Wonder Women, Wow English is so Easy Kids. Wah, ternyata karya-karya hebat itu merupakan perwujudan dari telah dijadikannya menulis sebagai passion. Jadi, kalau ingin menghasilkan karya seperti nara sumber inspiratif ini, kita juga harus menjadikan menulis sabagai passion. Semoga.
Sesuai tema yang diusung, Narasumber memaparkan alasan pentingnya menulis menjadi passion yang menjanjikan. Pertama, karena profesi menulis merupakan salah satu pekerjaan yang mulia, sangat dihormati dan dihargai secara sosial. Kedua, karena kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Keren kan kalau menulis sudah menjadi passion kita. Kalau menulis sudah menjadi passion kita, maka kendala-kendala, seperti merasa tidak berbakat menulis, tidak memiliki waktu, tidak memilki ide, tidak suka menulis, dan tidak berani menerima kritik dapat hilang dengan sendirinya. Selanjutnya semangat menulis harus diikat dengan komitmen dan kesungguhan hati untuk menggali potensi diri agar cita-cita menjadi penulis dapat terwujud. Wah… semakin semangat nih untuk menulis. Nah, kalau memang sudah semangat, mulailah! Menunggu apa lagi?
Untuk menjadi seorang penulis, kita harus mengetahui 2 hal, yaitu tujuan/alasan kita menulis dan cara menulis itu sendiri. Berbicara tentang tujuan menulis, hal ini bersifat filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi kehidupan kita di dunia; sementara cara menulis lebih bersifat teknis dan cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Yuk kita bahas satu-persatu.
Alasan Menulis
Alasan
seseorang menulis sangatlah beragam. Narasumber mengelompokkan alasan seseorang
menulis ke dalam 5 jenis.
1. Orientasi material. Dalam hal ini penulis mengejar uang, bisa
dalam bentuk royalty, fee sebagai pembicara, novel yang diangkat ke layar
lebar, dll.
2. Orientasi eksistensi, di mana penulis
mengejar popularitas dan pengakuan dari masyarakat.
3. Orientasi personal. Orientasi ini bersifat
lebih pribadi dengan tujuan untuk mencurahkan atau mengekspresikan perasaan,
pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.
4. Orientasi sosial. Di sini penulis ingin
mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.
5. Orientasi spiritual; tujuannya untuk beribadah
dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik.
Apapun orientasi seseorang dalam menulis, semuanya berpulang kepada diri masing-masing. Namun, akan jauh lebih baik jika kita menjadikan Hadis Nabi yang diangkat oleh Narasumber sebagai pengingat diri “Khoirunnas anfa’uhum linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mau kan menjadi orang yang bermafaat bagi orang lain? Mari kita belajar menulis kepada pakarnya.
Cara Menulis
Sebagai pemula yang baru belajar untuk menjadi penulis yang baik, mari kita cermati tahapan-tahapan yang disajikan oleh Ibu Sri Sugiarti berikut ini.
1. Menggali dan menemukan ide/dagasan;
Ide/gagasan dapat diperoleh melalui kegiatan-kegitan
berikut ini.
a. Membaca.
Untuk menjadi seorang penulis yang baik, tentunya kita harus banyak membaca
berbagai jenis buku, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat spesifik yang
sesuai dengan latar belakang pendidikan atau minat kita;
b. Diskusi.
Dengan banyak berdiskusi, membahas bahan-bahan bacaan dengan orang lain, maka
ide dan gagasan pun akan menjadi banyak pula.
c. Melihat
dan merasa. Ide dan gagasan bisa juga berasal dari apa yang kita alami secara
langsung atau melalui media yang kita lihat, seperti TV, radio, internet, media
sosial, dll.
d. Bersoasialisai.
Dengan bersosialisasi atau bermasyarakat, kita akan memperoleh pengalaman,
pengetahuan, dan kisah orang lain yang bisa menjadi sumber gagasan dan ide
menulis kita. Semakin banyak bersosialisai, maka semakin banyak pula ide
dan gagasan yang muncul yang bisa dikembangkan sebagai tulisan.
2. Menentukan tujuan, genre dan segmen pembaca
Genre tulisan disesuaikan dengan passion
kita: puisi, cerpen, novel ataupun yang lainnya. Tujuan menulis disesuaikan dengan
target/sasaran pembaca kita: anak-anak, remaja, orang tua, profesi tertentu,
dll.
3. Menentukan topik
Topik dipilih sesuai dengan
segmen pembaca atau penikmat tulisan kita. Jika sasrannya remaja, maka topiknya
disesuaikan dengan hal-hal yang sedang trend di kalangan remaja. Hal ini penting agar tulisan kita terfokus
pada satu pokok pembicaraan.
4. Membuat outline
Kegiatan ini bertujuan agar
tulisan kita tersusun secara berututan sesuai dengan alur yang ingin kita sampaikan.
5. Mengumpulkan bahan materi/buku sebagai
referensi. Kegiatan ini untuk membantu kita dalam mengembangkan materi tulisan
kita. Semakin banyak bahan/materi yang kita kumpulkan, semakin mudah kita menulis.
Setelah tahapan-tahapan persiapan menulis kita lakukan seperti yang diuraikan di atas, barulah kegiatan menulis dapat kita lakukan. Di sini, Bu Kanjeng memaparkan hal-hal yang harus kita lakukan agar tulisan kita menjadi layak untuk diterbitkan. Namun, dari semuanya, yang pertama dan utama dilakukan adalah START! Mulailah menulis. Tanpa memulainya, persiapan yang telah kita lakukan tidak akan bermakna sama sekali. Jangan pernah ada rasa takut atau ragu dalam menuangkan ide-ide kita dalam tulisan. Tulis saja sesuai kemampuan. Tulislah sebanyak yang kita bisa. Abaikan perkara kaidah-kaidah yang berlaku. Bisa? Siapa takut!
Jika kita telah mulai menulis, tiba-tiba muncul mood jelek atau malas, takut, dsb. yang menyebabkan terhentinya kita menulis, bangkitkan semangat kita kembali (mood booster) dengan cara membayangkan manfaat menulis baik bagi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Gampang, kan?
Selanjutnya, di dalam proses menulis, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini agar tulisan kita bisa menjadi karya nyata.
1. Target waktu
Target waktu disesuaikan dengan bentuk
karya yang ingin kita capai. Hal ini perlu dilakukan agar karya kita cepat
terealisasi.
2. Disiplin
Disiplin perlu diterapkan agar kita tidak
lalai yang menyebabkan target waktu yang telah direncanakan menjadi berantakan.
3. Kenyamanan
Dengan terciptanya kenyamanan, maka kita bisa berkonsentrasi dalam menulis, dan ide- ide yang ingin kita tulis dapat mengalir dengan lancar.
4. Fasilitas
Untuk mendukung kegiatan menulis,
diperlukan fasilitas yang baik. Jika fasilitas kurang baik, maka kegiatan
menulis kita menjadi terhambat.
5. Mood booster
Mood booster diperlukan agar kita bersemangat
terus dalam menulis. Jika mood booster terjaga, maka tulisan pun akan dapat
diselesaikan dengan baik sesuai target yang telah ditetapkan.
Berikut ini merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan setelah naskah tulisan selesai.
1. Editing/Penyuntingan
Pada tahap ini penulis perlu membaca
ulang naskah untuk memeriksa apakah terdapat penulisan yang tidak sesuai dengan
kaidah yang benar, meliputi ejaan, tanda baca, pilihan kata, atau kalimat. Jika
ada kesalahan, maka lakukan perbaikan.
2. Revisi
Pada tahap ini penulis perlu membaca ulang
tulisan untuk mencermati isi/konten naskah. Apabila dirasakan ada bagian yang
lebih, kurang, alur yang tidak berurutan, maka penulis harus melakukan
perbaikan.
3. Publishing/Penerbitan
Apabila naskah sudah dirasakan baik dan
benar, maka tulisan pun siap diterbitkan setelah melalui proses:
a. Pengiriman naskah
Penulis bisa memilih sendiri jalur
penerbitannya, melauli penerbit umum (major publishing) atau penerbit
independen (self-publishing).
b. Pracetak
Pada tahap ini penulis harus
membuat sinopsis terkait isi buku yang ditulis agar penerbit dapat memahami
secara garis besar tentang isi buku tersebut dalam rangka pembuatan cover dan
layout. Pengurusan ISBN juga perlu dilakukan, dengan cara meminta bantuan orang yang berkompeten.
c. Pencetakan
Pencetakan dilakukan apabila
seluruh kelengkapan yang diperlukan selesai. Buku dapat dicetak secara digital
atau bentuk buku kertas.
d. Promosi dan distribusi
Agar buku kita dapat didistribusikan kepada
pembaca, maka diperlukan promosi yang dapat dilakukan melalui media sosial atau
cetak.
Apabila seluruh tahap penulisan sudah dilalui dari awal sampai dicetak menjadi buku, maka bolehlah kita disebut sebagai penulis yang sebenarnya. Tinggal lagi, menjaga konsistensi agar karya tulisan kita dapat terus berkembang dan kita pun dapat terus berbagi kebaikan.
Demikianlah rangkaian paparan seputaran penulisan buku yang disajikan oleh guru kita, Bu Kanjeng, yang disampaikan secara lisan melalui rekaman suara yang lembut, chat, video, dan slide yang rapi dengan tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Semoga rekaman materi yang saya tulis ini dapat menjadi pedoman sekaligus menjadi penyemangat bagi saya khusunya, dan para pembaca pada umumnya dalam belajar menulis. Kepada Bu kanjeng, semoga ilmu yang dititipkan kepada kami ini dapat menjadi amal jariah, pahala yang mengalir abadi.
Kebersamaan dengan penulis hebat melalui kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 via WAG (WhatsApp Group) pun sudah di penghujung waktu. Antusias para peserta dalam menggali informasi dari bu Kanjeng tidak surut sekalipun hari semakin larut. Pertanyaan yang diajukan para peserta melalui chat secara silih berganti menghiasi layar gawai. Bu Kanjeng sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan dalam menjawab pertanyaan yang beragam, tampak dari nada bicara yang tetap lembut dan santai. Saya pun terus menyimak dengan baik setiap rangkaian pertanyaan dan jawaban. Tak ada pertanyaan yang saya ajukan, bukan karena tak perlu, melainkan karena terkesima dengan jalannya acara pada pertemuan pertama ini. Akhirnya, acara ditutup oleh Bu Kanjeng dengan ajakan “Ayo jadikan menulis sebagai passion.” Ya. Semoga saya dapat merintis karya dengan menjadikan menulis sebagai passion.
Pangkapinang,
13 Juli 2021
Rosminiyati
Belajarlah
kepada ahlinya

Terima kasih sudah mengerjakan tugasnya dengan baik
ReplyDeleteTerima kasih atas ilmu, bimbingan, dan supportnya, Pak.
ReplyDeleteKeren! lengkap!
ReplyDeleteTerima kasih.
DeleteResume yang memukau.. Luar biasa..
ReplyDeleteTerima kasih telah berkunjung. Jadi malu...
Delete