Wednesday, July 21, 2021

Mengenal Penerbit Indie

Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke      :    5

Gelombang     :    19

Tanggal           :    21 Juli 2021

Tema               :    Mengenal Penerbit Indie

Narasumber    :    Mukminin, S.Pd., M.Pd.    


Kegiatan menulis tak bisa dipisahkan dari penerbitan. Tentu saja karena konten tulisan merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada para pembaca. Agar pesan sampai kepada sasarannya, hasil karya tulisan pun haruslah diterbitkan.

Diterbitkannya buku merupakan impian setiap penulis. Namun kenyataannya, penerbitan buku tak semudah membalikkan telapak tangan. Di samping mutu tulisan yang benar-benar berkualitas, juga penerbitnya sendiri haruslah kita kenal terlebih dahulu. Selanjutnya kita akan paham apa yang harus dipersiapkan agar tulisan kita masuk daftar nominasi.

Membaca tema kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 Pertemuan 5 membuat hati berbunga-bunga sekaligus harap-harap cemas. “Mengenal Penerbit Indie” dengan narasumber Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd. didampingi moderator andal Bapak Bambamg Purwanto alias Mr.Bams atau Mario Teduh memunculkan sejuta tanya dan harapan. Inikah saatnya takdir membuka tabirnya untuk menoreh nasib yang harus diperjuangkan oleh peserta?

“Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd., Narasumber” yang tertera pada flyer membuat saya terkesima. Mengapa? Sedang asyik-asyiknya menyimak materi Pertemuan 3 pada Jumat, 16 Juli 2021 pukul 20.38 tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi isyarat ada panggilan. Saya angkat dengan perasaan bingung, ada apa? Sayangnya, suara di seberang sana tak menyapa. Terputus. Cak Inin, begitu beliau disapa, yang sempat saya simpan nomor telponnya karena admin di grup belajar ini sekaligus tulisan-tulisan di blog yang sering saya baca, tiba-tiba menelpon saya. Tak pelak lagi, saya pun segera menelpon balik. Sempat ngobrol sedikit. Eh… ternyata beliau “kepencet” nomor saya. Tak mengapa. Sedikit pesan yang disampaikan dengan logat Jawa yang medok sempat terekam dalam ingatan saya bahwa beliau akan menjadi narasumber pada kegiatan belajar ini.

Saatnya pun tiba. Ternyata Pertemuan 5 adalah jadwalnya Cak Inin menyampaikan materi. Saya pun kembali bertanya, mengapa secepat ini peserta diperkenalkan dengan penerbit Indie? Aha… mungkin 4 pertemuan sebelumnya dianggap sudah cukup berpengalaman dalam menulis. Setidaknya berani menulis. Langkah selanjutnya, sambil terus mencari-cari identitas diri atas warna tulisan yang dihasilkan, perkenalan dengan Penerbit Indie dapat menjadikan dasar perbaikan tulisan yang sesuai dengan harapan.

Om Jay membuka acara dengan menyampaikan pesan bahwa kegiatan Belajar Pertemuan 5 ini berpusat pada Gelombang 20 agar mereka juga merasakan sensasi yang sama dengan kami yang dari gelombang 19. Tak mengapa. Sama-sama belajar adanya.

Bapak Mukminin, S.Pd.,M.Pd alias Cak Inin, seorang guru yang lahir di Jombang pada 6 Juli 1965, menjalani karirnya sebagai guru di SMP I Kedungpring Lamongan sejak 1989 sampai sekarang. Beliau juga menjalani profesi yang sangat mulia sebagai konsultan dan haji plus PT. Arminareka Perdana cabang Lamongan.Tak hanya itu, beliau juga menekuni karir terkait dunia menulis sejak usia 55 tahun bermula dari kegiatan belajar menulis gelombang 8. Memulai belajar pada usia yang tidak muda lagi, namun buku yang dihasilkan sudah sangat banyak dan bermutu.

Cak Inin yang mempunyai hobi membaca dan menulis ini telah menerbitkan 2 buku solo dan 12 buku antologi. Salah satu buku solo yang merupakan kenangan beliau dari kegiatan belajar menulis PGRI asuhan Om Jay yang sekarang tetap laris manis berjudul “Jurus Jitu Menjadi Penulis Andal.”

Tak hanya sibuk dengan profesi berlipat ganda itu, beliau masih menyibukkan diri dengan kegiatan tambahan sebagai narasumber pada kegiatan belajar menulis  PGRI bersama Om Jay via WA grup dan Pelatihan menulis buku ber-ISBN bersama tim. Yang lebih menakjubkan lagi, beliau juga ternyata seorang penerbit buku Kamila Press Lamongan.

Suatu keberuntungan yang patut disyukuri bertemu dengan Narasumber pada kegiatan belajar menulis yang seorang penulis sekaligus penerbit buku. Tentu saja peluang besar bagi para peserta untuk menggali ilmu yang sedalam-dalamnya agar kiat-kiat menulis dan rahasia menerbitkan buku dapat dikuasai yang pada akhirnya mimpi menjadi penulis yang bukunya dinikmati oleh orang lain dapat tercapai.

Mengawali kuliah pada pertemuan ini, Cak Inin memberikan motivasi dengan meluncurkan pernyataan di luar dugaan saya bahwa menulis dan menerbitkan buku itu mudah. Sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya rasakan. Semudah apa? Jadi semakin penasaran.

Menurut beliau, seorang guru pastilah bisa menulis baik karya ilmiah maupun fiksi karena guru mempunyai banyak kisah inspiratif. Sayang kalau kisah-kisah tersebut tidak dibukukan. Berikutnya, semangat besar, tekad yang kuat, dan ketekunan yang harus dijaga saat menjalani prosesnya. Beliau menggunakan kata-kata mutiara sebagai motivasi yang tentunya dapat juga kita ikuti.

Sebagai penulis yang telah sukses, Cak Inin memberikan tips tentang cara menulis dan menerbitkan buku. Langkah-langkah tersebut adalah prewriting (persiapan), drafting (penulisan), revisi, penyuntinagn, dan publikasi (penerbitan). Untuk uraian rincinya, silakan milki buku berikut ini.

Terkait penerbitan buku setelah melalui tahap-tahap penulisan di atas, kita perlu mengenal penerbit. Cak Inin memaparkan 2 jenis penerbit yang harus kita ketahui, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang perbedaan mendasar dari kedua jenis penerbit tersebut, yaitu jumlah cetakan, pemilihan naskah yang diterbitkan, profesionalitas, waktu penerbitan, royalty, dan biaya penerbitan.

Penerbit mayor mencetak buku dengan jumlah yang banyak, 1.000 – 3.000 buku dan dijual di toko-toko buku, sementara penerbit indie mencetak buku dengan jumlah sesuai pemintaan penulis karena pemasarannya dilakukan hanya melalui media sosial.

Penerbit mayor sangat selektif memilih buku yang akan diterbitkan, yaitu buku-buku yang sesuai dengan selera pasar, karena itu proses penerbitannya juga akan lama, sampai 3 bulan bahkan bertahun-tahun karena melalui proses yang sangat panjang. Penerbit indie akan menerbitkan semua buku selama memenuhi persyaratan terkait ketentuan hukum yang berlaku dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 bulan.

Dalam hal royalti, mayoritas penerbit mayor memberikan royalty kepada penulis maksimal 10% dari total penjualan yang dibayarkan setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan buku tersebut terjual. Penerbit indie biasanya memberikan royalti sebesar 15-20% dari harga buku.

Dihubungkan dengan masalah pembiayaan, penerbit mayor tidak meminta bayaran kepada penulis karena mereka memiliki permodalan yang kuat; sementara pada penerbit indie, biaya dibebankan kepada penulis yang besarnya tergantung pada penerbit masing-masing.

Setelah mengenal perbedaan dari kedua penerbit tersebut, kembali kepada penulis, penerbit mana yang menjadi target untuk menerbitkan hasil karya yang sudah dibuat dengan penuh perjuangan. Namun, sebagai penulis pemula tentunya kita tak sabar menunggu buku kita diterbitkan. Untuk itu, Cak Inin, memberikan angin segar bagi peserta kegiatan belajar menulis ini dengan memperkenalkan penerbit indie yang ada di dalam grup ini: Oase, Gemala, YPTD, dan Kamila Press Lamongan.

Sebagai pemilik penerbitan buku Kamila Press Lamongan, Cak Inin memperkenalkan seluk-beluk penerbitan buku sekaligus menawarkan penerbitannya di penerbit ini. Penerbit kamila Lamongan adalah sebuah perusahaan yang melayani pencetakan buku sekaligus dengan jasa ISBN, editing, lay out, dan design cover buku dengan harga terjangkau. Yang terpenting kita bisa memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan melalui tahapan-tahapan:

1. Pengiriman naskah berupa judul, kata pengantar, daftar isi, naskah lengkap sesuai urutan daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis disertai foto dan sinopsis oleh penulis.

2. Naskah diketik  pada kertas A5 dengan spasi 1,15 , huruf Arial, Calibri atau Cambrina11 dan margin keliling 2 cm, yang dimasukkan ke dalam 1 file dan dikirim ke WA atau email penerbit.

Sebagai penerbit yang loyal kepada penulis, Penerbit Kamila Press Lamongan memberikan fasilitas pembuatan cover sesuai selera penulis, layout, edit dan ISBN, sekaligus promosi buku dengan harganya. Tak kalah menarik, penulis juga mendapatkan sertifikat dari Penerbit ini.

Contoh terbitan buku oleh Penerbit Kamila Press seperti berikut ini. 


Selanjutnya Cak Inin memaparkan harga cetak buku sesuai dengan karakteristik buku masing-masing sekaligus besarnya royalty yang menjanjikan bagi penulis. Nah, tunggu apa lagi? Pembaca sudah siap untuk menyantap ide-ide kita. Membiarkan tulisan hanya berserakan di blog atau segera mengemasnya menjadi buku untuk diterbitkan oleh Penerbit Kamila Press Lamongan? Mari kita bergegas. Menulislah, menulislah. Terbitkan, terbitkan. 

Terima kasih Cak Inin atas materi dengan paparan yang detil ini. Semoga lelah dan sakitnya merangkai kata demi kata akan tersembuhkan dengan terapi sakti oleh Penerbit Kamila Press Lamongan.


 

Pangkapinang, 21 Juli 2021

Rosminiyati

Nasib harus diperjuangkan, sementara takdir menjadi urusan-Nya.

 






 

Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah

 

Takbir menggema di mana-mana

Pujian terhadap kebesaran Sang Pencipta

Bergetar hati sampai ke hulu sanubari

Membangunkan kesadaran akan kecilnya diri

 

Tahlil berkumandang di mana-mana

Serukan ketauhidan yang tak mendua

Mengalirkan keyakinan di setiap detak nadi

Menegur jiwa yang kerap tak menepati janji

 

Tasbih terdengar di mana-mana

Melantunkan pujian atas kesucian-Nya

Mengiris bongkahan kalbu yang sering alpa

Menyadarkan diri yang bergelimang dosa

 

Idul Adha hari raya umat Islam sedunia

Memperingati Nabi Ibrahim yang mengurbankan anaknya

Sebagai wujud kepasrahan dan ketaatan pada perintah-Nya

Ismail diganti Allah dengan domba

 

Kini saatnya kita mengambil hikmah nyata

Rahasia besar dibalik hari raya

Berkurban menjadi perintah bagi kita

Umat muslim yang mampu melaksanakannya

 

Ibadah kurban bersanding manis dengan sholat Id-nya

Sholat 2 rokaat dahulu baru kurbannya

Dengarkan khotib memberikan khutbahnya

Patuhi perintah dan jauhi larangan-Nya

 

Berkurban bukanlah sekedar penumpahan darah semata

Mempersembahkan hewan terbaik semampunya

Boleh unta, sapi, kambing ataupun domba

Sebagai wujud syukur atas rezeki yang telah diterima

 

Idul Adha 10 Zulhijjah hari raya kita

Umat Islam di seluruh dunia

Takbir, tahlil dan tasbih menghiasinya

Mari kita bersuka cita

 

Idul Adha 1442 Hijriah sangatlah berbeda

Sholat Id di masjid ada dan di rumah pun ada

Bersebab Covid yang masih terus melanda

Ambil hikmah di balik semua perkara

 

Idul Adha 1442 Hijriah hari raya yang berbeda

Covid masih saja betah belum mau sirna

Jaga diri dan keluarga kita dengan prokes yang ada

Agar covid lenyap dengan sendirinya

 

Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar

Laa illaa haillallaahuwaallaahuakbar

Allaahu akbar walillaahil hamd

 

Pangkalpinang, 20 Juli 2021

10 Zulhijjah 1442 H

Taqobballallahuminna waminkum.

Monday, July 19, 2021

Kiat Mengubah Karya Tulis Ilmiah Menjadi Buku


 



Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke      :    4

Gelombang     :    19

Tanggal           :    19 Juli 2021

Tema               :    Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Narasumber    :    Noralia Purwa Yunita, M.Pd.    


Karya ilmiah tidak asing lagi di telinga kita, terutama yang bergelut di bidang penelitian dan pendidikan. Bentuk-bentuknya pun beragam, bisa berupa artikel, makalah, Penelitian Tindakan Kelas, skripsi, tesis, dan lain-lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karya ilmiah merupakan karya tulis yang dibuat dengan prinsip ilmiah, menurut data dan fakta (observasi, eksperimen, kajian pustaka).

Yang menjadi ciri khas dari karya tulis ilmiah adalah konten tulisan itu sendiri, yaitu berisi kajian yang mendalam terhadap suatu masalah tertentu secara ilmiah dan memberikan solusi yang dapat dibuktikan secara ilmiah pula.  Bahasa yang digunakan juga menjadi ciri khasnya, yaitu bahasa Indonesia yang baku sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), dan disusun secara efektif, tidak bertele-tele agar mudah dipahami oleh pembaca.

Mencermati tema “Menulis Buku dari Karya Ilmiah” yang diusung oleh Narasumber, Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd. dengan moderator andal, Ibu Aam Nurhasanah, pada kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 bersama Om Jay pertemuan 4 menggelitik rasa ingin tahu saya. Bagaimana mungkin sebuah karya ilmiah yang sudah dibuat/ditulis dapat dijadikan buku?

Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd. yang lahir di Kudus, 12 Juni 1989 ini adalah guru di SMP Negeri 8 Semarang. Beliau merupakan salah satu dari alumni kegiatan Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay Gelombang 8 yang aktif dalam Komunitas Sejuta Guru Ngeblog. Sebagai wujud kekompakan  sesama alumni di Gelombang 8, baru-baru ini mereka menghasilkan karya bersama berupa buku antologi  yang mana beliau juga berperan sebagai editor naskah. Inilah buku antologi tersebut.

  

Lulusan S2 Univeritas Negeri Semarang ini juga aktif sebagai anggota Komunitas Koordinator Virtual Indonesia (KKVI), anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Prakarya dan IPA. Tak hanya itu, beliau juga mengambil peran sebagai pembimbimng ekstrakurikuler KIR SMP.  Di tengah kesibukan yang begitu banyak, beliau tetap bisa menghasilkan tulisan yang sudah diterbitkan.

Buku-buku karya Ibu Nora, begitu biasanya beliau dipanggil, yang sudah bisa dinikmati para pembaca antara lain "Bahan Ajar Kimia SMA", buku antolgi "Kisah Inspiratif Sang Guru", "Prahara di Tengah Pandemi", "Aku dan Corona", 1 buku seri ekoji academy, dan 1 buku solo yang telah berhasil diubah dari tesis dengan judul "Kiat Praktis Menulis dari Tesis Menjadi Buku". Buku ini pulalah yang dapat menjadikan bukti atas keberhasilan Narasumber dalam pembahasan tema yang diusung pada pertemuan 4 ini. 

Pada pembahasan tentang Karya Tulis Ilmiah (KTI), Ibu Norolita yakin bahwa para peserta  sudah pernah membuat karya ilmiah. Contoh karya yang ditunjukkan oleh beliau adalah skripsi untuk jenjang pendidikan S1, tesis untuk jenjang S2, dan PTK bagi guru-guru. Skripsi dan tesis dibuat hanya untuk syarat kelususan agar mendapatkan gelar. Sementara PTK bagi guru hanya utntuk perhitungan angka kredit yang sekaligus menjadi syarat kenaikan pangkat. Selanjutnya karya-karya ilmiah tersebut tidak dihiraukan oleh penulisnya, paling bagus hanyalah menjadi koleksi perpustakaan.

KTI yang berisi informasi penting berupa data dan temuan-temuan bagi pemecahan persoalan faktual yang sedang dihadapi masyarakat akan menjadi tidak bermanfaat jika hanya berada di perpustakaan, sementara dalam penulisannya begitu sulit, penuh dengan pengorbanan lahir dan batin.

Berpijak pada pemikiran di atas, maka akan jauh lebih berguna jika KTI tersebut diubah menjadi buku. Adapun manfaat karya ilmiah yang dibuat dalam bentuk buku dapat dirinci sebagai berikut:

1. Dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

2. Dapat diperjualbelikan sehingga memperoleh keuntungan material  bagi penulis.

3. Dapat dijadikan publikasi ilmiah bagi ASN sebagai poin angka kredit. Jadi para guru akan mendapatkan poin angka kredit ganda dari laporan PTK sekaligus dari buku.

4. Dapat mendatangkan keuntungan lebih jika buku yang ditulis diminati oleh banyak orang.

5. Akan mengalir amal jariah karena kita telah membagikan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak.

 Langkah-langkah mangubah KTI atau PTK menjadi buku:

1. Ubah judul KTI atau PTK kita menjadi judul popular dengan menambahkan kata kiat, jurus, strategi, cara sukses, dan lain-lain.


Judul KTI versi buku hanya berfokus pada objek penelitian saja sehingga materi, subjek, tempat penelitian tidak perlu ditulis.

Sebagai contoh, judul tesis “Pengembangan Modul Berbasis Riset pada Materi Reaksi Redoks untuk Meningkatkan Keterampilan Generik Sains Siswa Kelas X SMA” jika diubah menjadi buku akan menjadi “Kiat Menulis Modul Berbasis Riset”.

 2. Ubah bab I (pendahuluan) pada KTI menjadi bab I buku

Kita dapat mengisi bab I ini dengan memasukan permasalahan pembelajaran secara umum, alasan menggunakan metode/media/model pada pembelajaran, atau materi pelajaran yang kita teliti. Dalam hal ini: rumusan masalah, definisi operasional, dan manfaat penelitian  tidak perlu ditulis lagi.

3. Bab II dan seterusnya pada KTI versi buku dapat diambil secara langsung dari pengembangan kajian teori pada bab II KTI tanpa perubahan. 

Sebagai contoh bab II KTI yang merupakan landasan teori berisi sub-bab:

2.1. hasil belajar

2.2. media pembelajaran

2.3. Modul

2.4. metode pembelajaran

2.5 pembelajaran berbasis riset

Sub-sub bab tersebut ketika menjadi buku dapat dibuat menjadi beberapa bab yaitu

Sub bab 2.1. hasil belajar menjadi bab 2 buku.

 

Bab II TEORI BELAJAR

2.1. belajar

2.2. permasalahan dalam pembelajaran

2.3. Hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

Sub bab 2.2. media pembelajaran menjadi bab 3 buku

 

Bab III MEDIA PEMBELAJARAN

3.1. Pengertian media

3.2. jenis media

3.3. manfaat media

Sub bab 2.3. modul menjadi bab 4 buku

Bab IV Mengenal Modul

4.1. Pengertian Modul

4.2. Karakteristik Modul

4.3. Sistematika Modul

4.4. Kelebihan Modul

Dan seterusnya hingga sub bab dalam bab 2 selesai dibahas.

Dengan demikian hanya dari bab 2 KTI saja, kita sudah dapat menuliskan/mengubahnya menjadi beberapa bab dalam buku.

 4. Bab V buku diambil dari hasil penelitian dan pembahasan pada KTI

Dalam penulisan bab V ini, kita perlu memperhatikan hai-hal sebagai berikut:

A. Dapat diawali dengan kata pengantar "Pada bab ini merupakan uraian dari hasil penelitian....”

B. Kata Penelitian/laporan PTK, laporan skripsi dan lainnya yang biasanya ada di karya ilmiah tidak dicantumkan lagi pada pada buku.

C. Jika ingin menampilkan grafik, cukup  yang penting saja. Selebihnya grafik-grafik tersebut dideskripsikan dalam bentuk kalimat.

5. Bahasa dan tampilan di dalam buku tidak terikat, disesuaikan dengan gaya penulis dan selera pembaca. Yang terpenting adalah pembaca menangkap pesan yang ingin disampaikan.

6. Ulasan mengenai kelebihan dan kelemahan penelitian yang kita lakukan perlu disajikan agar pembaca yakin bahwa tulisan tersebut benar-benar hasil penelitian, bukan rekayasa.

7. Daftar pustaka boleh menggunakan blog dengan domain resmi, seperti Kemendikbud.go.id, bukan blog pribadi seperti blogspot, wordpress, dll. Juga boleh jurnal ilmiah, e-book, atau karya ilmiah lainnya.

8. Jumlah halaman pada buku minimal 70 halaman format A5 dengan ukuran huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan dengan aturan penerbit.

Dengan adanya perubahan struktur, isi dan bahasa pada buku, akan menjadikan buku yang ditulis jauh dari unsur plagiarisme. Selanjutnya, buku yang kita tulis dapat memiliki ISBN yang dapat diperhitungkan sebagai poin kredit, memberikan manfaat yang lebih bagi para guru khususnya dan khalayak ramai pada umumnya sebagai amal jariah. Dengan demikian, mari kita mengubah karya tulis ilmiah menjadi buku agar keuntungan berlipat ganda dapat segera kita rasakan. 

   

Pangkapinang, 19 Juli 2021

Rosminiyati

Kemungkinan selalu ada selama kita jeli mencari peluang

 

 

 

 

 










Friday, July 16, 2021

Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku


Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke      :    3

Gelombang     :    19

Tanggal           :    16 Juli 2021

Tema               :     Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku

Narasumber    :    Rita Wati, S.Kom.    


Terwujudnya cita-cita merupakan mimpi setiap orang, namun tidak semua mulus dalam perjalanannya. Aral melintang menghadang silih berganti. Ada yang mundur teratur karena merasa lelah. Ada yang terus berjuang sampai berdarah-darah.

Keberhasilan bukan slogan pada sebuah banner yang terpampang gagah di pinggir jalan. Bukan pula hadiah karena faktor keberuntungan. Juga bukan harta karun sebagai barang temuan. Keberhasilan merupakan kolaborasi yang rapi antara ilmu, usaha dan doa yang selalu terjaga.

Menjadi seorang penulis bukanlah sekedar mimpi indah penghias tidur yang pulas, melainkan harapan besar yang sangat pantas untuk diwujudkan. Melalui tulisan kita dapat berbagi tanpa batas waktu dan jarak, juga sebagai pengikat ilmu dan rasa agar tak pergi tanpa jejak.

Seberapa kuatnya pun keinginan untuk menjadi penulis yang bukunya dapat diterbitkan tak akan terwujud tanpa adanya ilmu. Tema kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 “Membongkar Rahasia Menulis Hingga Menerbitkan Buku” dengan Moderator Bapak Bambang Purwanto dan Narasumber Ibu Rita Wati, S.Kom. sepertinya menjadi angin segar bagi para peserta belajar untuk dapat mewujudkan impian menjadi penulis.

Serius ingin menjadi penulis? Mari kita simak rahasia menulis yang telah dibuktikan sukses oleh narasumber, Ibu Rita Wati, S.Kom. dengan telah diterbitkannya 4 buku solo, 1 buku duet bersama Prof. Richardus Eko Indrajit, 9 buku antologi ini, agar kita pun dapat menyusul kesuksesan beliau.

Guru SMP Negeri 2 Mendoyo Kabupaten Jembrana Provinsi Bali ini memulai karir menulisnya dari keikutsertaan beliau dalam Belajar Menulis Gelombang 10. Bermula dari rasa tidak percaya diri yang sudah dipendam selama 20-an tahun, akhirnya bisa menjadi penulis, operator, kurator, moderator dan blogger. Semangat menulis beliau disalurkan di dalam 4 blog yang berbeda: guraru, wordpress, blogspot, dan kompasiana. Kunci utama yang membabat habis rasa ketidakpercayaan diri beliau adalah apresiasi yang ditorehkan oleh para guru dan komentar yang diukir oleh para peserta di kegiatan Belajar Menulis PGRI ini. Menakjubkan.

Agar kita dapat menjadi penulis, maka kita harus menetapkan tujuan yang matang: hanya sekedar ingin belajar, terpaksa karena untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat, menyalurkan hobi, atau untuk tambahan penghasilan. Semua itu berpulang kepada diri masing-masing. Apapun pilihan kita, tak ada yang salah tentunya.

Tak kalah penting, agar keinginan menjadi penulis dapat tercapai, kita juga harus tahu persis manfaat menulis agar motivasi dalam diri kita dapat terpelihara. Manfaat menulis yang perlu kita ketahui, antara lain bisa mengurangi tekanan dalam diri, menyelesaikan problem yang ada, mencurahkan isi hati di tempat yang benar,  meningkatkan kecerdasan, mengembangkan daya inisiatif dan kreativitas, menumbuhkan keberanian, mendorong kemauan dan kemampuan, dan mengumpulkan informasi yang berserakan. Jika motivasi sudah bersarang pada diri kita, maka kegiatan menulis dapat dilakukan secara berkesinambungan.

Jika tujuan kita menulis sudah mantap ditetapkan dan manfaat menulis pun sudah tertanam sebagai motivasi diri, tinggal proses yang harus dijalankan. Agar kegiatan menulis dapat berjalan dengan lancar dalam prosesnya, maka kita perlu mengetahui rahasia menulis berikut ini.

1. Kendalikan diri agar tetap konsisten, misalnya dengan terus mengingat tujuan dan manfaat menulis.

2. Perbanyak sumber tulisan dengan cara membaca buku-buku penulis hebat.

3. Tuang semua ide yang ada dalam bentuk tulisan tanpa takut melakukan kesalahan.

4. Jadikan menulis sebagai kebiasaan dengan cara berlatih menulis setiap hari. Mulailah dari sedikit dan tingkatkan jumlah kata setiap harinya.

5. Buatlah alur tulisan secara garis besar agar tulisan kita terarah.

6. Berani menulis gagasan-gagasan baru.

7. Bergabunglah dalam komunitas menulis yang tepat agar kita dapat belajar lebih banyak. 

Dengan mencermati dan menerapkan rahasia menulis di atas, maka masalah penulis pemula yang kita rasakan selama ini berupa kekurangan ide, minim kosa kata, kurang semangat, takut salah, kurang percaya diri, khawatir dibully, dan lain-lain, dapat diatasi. Selanjutnya seorang penulis pemula, membutuhkan sarana sebagai tempat mengumpulkan tulisan hariannya. Untuk ini, blog dapat menjadi solusi terbaik. Mengapa demikian?  Tulisan di blog yang ditulis setiap hari dapat dihimpun menjadi buku untuk selanjutnya dapat diterbitkan. Keren, bukan?

Diterbitkannya buku akan menjadi indikator bahwa kegiatan belajar menulis telah berhasil. Pilihan ada  pada diri kita masing-masing. Ingin segera berbagi atau hanya untuk konsumsi sendiri. Ingin segera mewujudkan impian atau nanti sajalah, kapan-kapan di kemudian hari. Yang jelas, siapa yang berjuang, dia akan menjadi pemenang. 

 

Pangkapinang, 16 Juli 2021

Rosminiyati

Cita-cita tak akan terwujud tanpa bergerak untuk mewujudkannya.

 





 

Wednesday, July 14, 2021

Melirik Trik Cepat Menulis Resume di Blog

 


Judul                :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke      :    2

Gelombang     :    19

Tanggal            :    14 Juli 2021

Tema                :    Tips Cepat Menulis Resume di Blog

Narasumber     :    Maesaroh, M.Pd.    


Perubahan adalah suatu keniscayaan yang tak bisa dielakkan. Waktu tak pernah menunggu manusia untuk berubah. Maka, bergeraklah agar kita tak tertinggal oleh perubahan. Semoga “Trik Cepat Menulis Resume di Blog” malam ini dapat memberikan perubahan besar dalam diri saya.

 “Trik Cepat Menulis Resume di Blog” sebuah tema yang sangat menarik untuk dibahas karena sangat sesuai dengan kebutuhan peserta belajar menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 saat ini. Mempunyai keinginan yang kuat untuk bisa menulis dengan baik namun waktu sangat terbatas.

Mengawali kegiatan belajar sekaligus sebagai motivasi, Ibu Maesaroh, M.Pd. menceritakan pengalaman beliau dalam kegiatan belajar menulis. Beliau adalah salah satu peserta Belajar Menulis Gelombang 18 dengan kecepatan menulis yang sangat menakjubkan. Selalu mengumpulkan hasil resume kegiatan belajar di urutan pertama sehingga menarik perhatian para panitia dan mendapatkan pengunjung blok yang selalu ramai. Pada hari ke-22 pelatihan, beliau sudah dipercaya menjadi moderator dan dalam waktu 23 hari saja beliau sudah lulus dari pelatihan, yang tentunya sudah menerbitkan buku solo yang dipersyaratkan. Kuncinya ternyata adalah menjaga konsitensi dalam mengikuti kegiatan.

Keberhasilan Ibu Maesaroh juga sudah ditunjukkan sejak lama. Pada saat menjadi mahasiswa Program S2, tepatnya pada tahun 2020, beliau dapat menyelasikannya dalam waktu yang sangat singkat. Itu pun tak terlepas dari konsistensinya dalam menggali ilmu di samping cerdas, cepat, tekun, dan religious.

Ibu Maesaroh, M.Pd. seorang  guru SMP 1 Lebakgedong, kabupaten Lebak Banten ini tidak hanya seorang yang konsisten, cerdas, tekun, cepat dan cermat, tetapi juga ringan tangan. Hal ini dapat dibuktikan dengan seringnya beliau mengulurkan tangan,  membantu kawan-kawan beliau dalam menulis tesis. Demikian juga halnya ketika Om Jay dan Tim meminta beliau untuk menjadi moderator dan narasumber dalam kegiatan pelatihan, beliau melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.

Karena terbiasa menyelesaikan hal rumit dan masalah sulit, menulis resume sederhana menjadi mudah bagi beliau. Itulah sebabnya beliau dapat menulis resume hanya dalam hitungan menit.

Kepiawaian, kelihaian, semangat dan konsistensi beliau dalam menulis resume patut diancungi jempol. Tidak hanya itu, prestasi beliau dalam menulis telah dibuktikan dalam beberapa karyanya yang hebat dan inspiratif. Selama 6 bulan, dari Januari sampai Juni beliau berhasil menjadi mentor penulisan 6 tesis,  4 buku antologi, 1 buku duo dan 1 buku solo. Menakjubkan!

Ibu Maesaroh, seorang blogger milenial, merupakan sosok yang suka berbagi sebagai wujud syukurnya atas kelebihan yang diberikan Tuhan padanya. Mari simak materi Ibu Maesaroh dalam berbagi malam ini.

Untuk dapat menulis resume dengan cepat di blog, kita harus melakukan hal-hal berikut ini. Pertama, gunakan 2 alat: gawai untuk menyimak dan laptop untuk menulis resume di blog yang dipakai secara bersamaan. Kedua, kita harus mempersiapkan diri lebih awal dengan perangkat belajar kita sebelum materi dimulai.  

Untuk menjadi penulis andal, kita harus mengatur pola pikir. Tips yang dipaparkan oleh Narasumber berikut ini dapat menjadi acuan agar blog kita banyak dikunjungi orang:

1.   Kita harus menjadi orang pertama dalam mengumpulkan resume dan tulisan yang kita buat dapat memikat hati orang yang membacanya. Untuk itu, tulisan kita harus mempunyai karakter yang kuat agar orang akan terus menerus ingin membacanya. Salah satu caranya dengan menyisipkan kutipan di setiap tulisan.

2.   Memulai tulisan dengan paragraf pembuka yang dibuat semenarik mungkin, serta menutup tulisan dengan kalimat yang dapat memotivasi pembaca.

3.   Menulis resume dengan paragraf singkat agar pembaca dapat dengan mudah memahmainya.

4.    Menulis pernyataan narasumber dengan cara parafrasa agar terhindar dari plagiarisme.

Ibu Maesaroh tak pernah berhenti memberikan motivasi kepada para peserta dengan menyampaikan 7 buah buku yang sudah didapatkan secara gratis karena prestasi dan konsistensi beliau dalam menulis. Panitia kegiatan Belajar Menulis PGRI memang luar biasa.

Sebagai penulis yang sudah terbukti prestasinya, beliau memberikan tips agar peserta dapat menjadi penulis andal:

1.    Harus percaya diri

2.    Terbuka terhadap kritikan

3.    Berani tampil beda

4.    Membuat banyak blog untuk jenis tulisan yang berbeda.

Jika kita dapat menerapkan tips yang sudah dipaparkan oleh Narasumber hebat dan inspiratif ini, yaitu menjadi orang yang cerdas, siap untuk berubah, konsisten, dan mempunyai target, maka kesibukan atau kesulitan apapun tak akan menjadi hambatan.  Ambil hikmah dari kejadian yang buruk sekalipun, syukuri dan jalani apa yang ada, dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, maka semuanya akan menjadi bisa.

 

 

Pangkapinang, 14 Juli 2021

Rosminiyati

Siap melakukan perubahan agar tak menjadi orang yang tertinggal

 

Sakit Bukan Covid

Kematian bukanlah akhir dari suatu perjalanan panjang melainkan perhentian sementara menuju keabadian. Kehidupan bukanlah  taman bermain tempat bersenda gurau melainkan pengabdian yang dimintai pertanggungjawaban. Kehidupan tak pernah diminta. Kematian tak bisa ditunda. Kehidupan dan kematian mutlak menjadi urusan-Nya. 

Pada sebuah postingan:

"Berita Duka

Telah meninggal Bpk Aryo Sasongko. Bakda magrib

...

Karena sakit bukan Covid.

...

Hasil lab almarhum sekeluarga negatif covid19."

Innalillahi wa inna ilahi rojiun, ucapku spontan. Tidak kulanjutkan membaca chat di Whatsapp Group Belajar Menulis gelommbang 19 itu. Ada sesuatu yang sangat aneh menyerang gumpalan-gumpalan daging di dalam tubuhku. Terasa ada pukulan keras di jantungku, sayatan tajam di hatiku, dan goncangan dahsyat di otakku. Dan... ada titik-titik air bening yang tanpa sadar telah menutupi pandanganku. "sakit bukan covid". Ya, sepertinya frasa itu yang telah mengganggu ketenangan batinku.

Masih dalam pergulatan batin dan fikiran, aku langsung duduk di atas sadel sepeda motorku. Starter kunyalakan dan segera menjalankan kuda bermesin itu melaju membelah jalan raya. Sebelum 07.00 aku harus tiba di sekolah. Tidak boleh terlambat. Pukul 07.00 tepat pintu gerbang sekolah akan ditutup. Tiba tepat waktu atau berdiri 1 jam menunggu di luar sampai pintu dibuka kembali pukul 08.00. Oh, tidak! Tak pernah  kualami di sepanjang perjalanan profesiku di sekolah ini.

Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku masih belum bisa mendamaikan pergulatan yang terjadi dalam diri ini. Lagi-lagi frasa "sakit bukan covid" menggangguku. Sepertinya tak mau diajak berdamai. Ya Allah, ada apa ini? Tanyaku pada diri sendiri. Aku mencoba menerka-nerka, apakah pernyataan itu hanya digunakan untuk membedakan kematian yang disebabkan oleh covid dengan yang tidak covid? Tapi untuk apa? Seharusnya pertanyaan itu sudah terjawab dengan sendirinya, tapi entah mengapa, sensitifitas terhadap kata "covid" mengalahkan kecerdasanku.  Bulir-bulir bening dari mataku justru berubah menjadi shower yang mengaburkan pandangan.

Sampai di parkiran sekolah, aku langsung mengeringkan sisa-sisa air mata dengan tisyu yang selalu tersedia di dalam tas ranselku. Tak ingin ada yang melihatnya, khawatir dikira berantem dengan suami. Aku langsung menuju kamera perekam barcode tanda kehadiran, dilanjutkan dengan pengukuran suhu tubuh dengan termo-gun yang berdiri tegak di dekat kamera pembaca barcode. Belum selesai, aku juga masih harus membersihkan tangan dengan cairan hand sanitizer untuk melengkapi protokol kesehatan. Selesai sudah. Sambil menebarkan senyum termanis dan menyapa mesra rekan-rekan terdekat tanda rindu setelah 2 minggu tak bersua, aku berjalan menuju meja kesayangan, meletakkan tas ransel di atasnya, duduk di kursi dan melanjutkan membaca berita tentang wafatnya pak Aryo.

Tatap muka terbatas dengan siswa belum dimulai minggu ini. Belum juga terdengar dari pengeras suara lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan zikir pagi seperti biasanya. Rapat konsolidasi awal tahun pelajaran masih 1 jam lagi dilaksanakan. Masih ada waktu. Aku pergi menuju mushola yang terletak hanya beberapa langkah di belakang meja kerjaku. Tak perlu berwudlu lagi karena wudlu yang dibawa dari rumah masih belum batal. Kutunaikan sholat Duha 2 rokaat saja, dilanjutkan dengan zikir. Tak terasa, bulir-bulir bening kembali membasahi netraku. Terkenang kembali pada berita tentang wafatnya Pak Aryo, orang baik yang tak pernah kukenal. Segera aku panjatkan doa untuk almarhum.  Allaummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu.

Masih duduk menghadap kiblat. Air bening masih belum kering. Pikiranku membayangkan sosok alm. Pak Aryo yang meninggal "karena sakit bukan covid". Ada rasa sesak di dada. Kutarik nafas dalam-dalam dan meghembuskannya secara perlahan. Agak lega. Pak Aryo dipanggil Allah dengan cara sakit biasa, sementara ada begitu banyak yang lainnya menghadap Sang Khalik dengan perantara sakit Covid.

Aku mulai berdialog dengan Robb tentang covid ini. Tak berani bercerita kepada manusia. Semua akses berita terkait covid selama ini kututup dengan rapat kecuali hal-hal yang terkait aturan atau anjuran untuk dilakukan yang aku rekam dan laksanakan. Bukan karena aku tidak suka apalagi benci, melainkan demi menjaga imun tubuhku agar bisa bertahan di masa sulit ini. Mendengar atau membahas masalah covid hanyalah menyebabkan seluruh persendianku menjadi lemas dan dicekam rasa takut yang tak terkendali. Itulah salah satu caraku membentengi diri dari mahluk gaib ini.

Ya Allah, betapa banyak orang yang sakit tanpa bisa diurus orang terdekat secara bergantian. Betapa banyak orang menghembuskan nafas terakhir tanpa didampingi keluarga. Betapa banyak jenazah yang dimandikan, dikafani, disholatkan, diantar bukan oleh orang-orang tercinta. Ya Allah ... (tenggorokan terasa tercekat) Ya Allah, hamba tahu ini adalah kehendak-Mu. Tak ada yang bisa mendahului ataupun mengakhiri tanpa izin-Mu. Engkau pun memberikan cobaan ini bukan tanpa maksud.

Masih duduk menghadap kiblat. Tiba-tiba ada sesuatu yang menyelinap dalam otakku. Aku mulai menerka. Penyematan "sakit karena bukan covid" pada sebuah pengumuman tentang wafatnya seseorang tentunya mempunyai makna yang dalam, yaitu untuk memberikan kepastian keamanan dan ketenangan bagi sanak keluarga serta sahabat yang ingin melayat ataupun memberikan penghormatan terakhir dari jarak dekat. Cerdas, pikirku. Masyarakat di sekitar lingkungan alm. Pak Aryo sebegitu detilnya mengambil langkah dalam menghadapi mahluk tak kasat mata ini.

Covid telah begitu mencekam lebih dari 1 tahun di negeri ini. Tak ada tanda-tanda mau undur diri. Memporakporandakan segala sendi kehidupan; membatasi pergerakan, melemahkan perekonomian, menyekat kebersamaan, mempersempit muatan pendidikan, dan banyak lagi.  Banyak yang terabaikan kini. Sebagai hamba Allah yang mempunyai akal tentunya bukanlah hal yang bijaksana jika hanya berdiam diri saja. Perubahan di hampir seluruh aspek kehidupan harus bisa dicermati dengan jeli. Adaptasi masal harus terus dilakukan agar tidak tergilas. Kita harus berjuang bersama, saling rangkul dan menguatkan, serta cerdas dalam mengambil hikmah di balik kejadian.

Berita wafatnya pak Aryo memberikan hikmah tersendiri bagiku. Menjadi orang baik akan diceritakan tentang kebaikannya, seperti cerita yang dipaparkan Om Jay kali ini. Perkara dengan cara apa seseorang berpulang ke hadapan Sang Pencipta, itu adalah mutlak urusan-Nya. Selamat jalan pak Aryo. Semoga engkau ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan iman semakin tebal.

 

Pangkalpinang, 12 Juli 2021

Rosminiyati

Menjadilah orang baik, kini dan selamanya.

Tuesday, July 13, 2021

Merintis Karya dengan Menjadikan Menulis sebagai Passion

 


Judul                :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke      :    1

Gelombang      :   19

Tanggal            :   12 Juli 2021

Tema                :   Menjadikan Menulis sebagai Passion

Narasumber     :   Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd.   


Kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 Pertemuan 1 terjadwal pada hari Senin, tanggal 12 Juli 2021 via WA (WhatsApp). Pukul 17.32. Pak Brian Prasetyawan sebagai salah satu pengurus membagikan flyer terkait kegiatan ini disertai dengan chat “Siap-siap. Pertemuan perdana nanti malam,” sebagai pengingat agar peserta tidak lupa. Dug! Dada saya langsung berdebar laksana mau bertemu dengan calon mertua untuk pertama kalinya. Berbagai perasaan beradu. Senang, karena kesempatan yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. Gugup dan bingung karena belum mengerti cara belajar melaui WA.

Saya perhatikan tema yang tertera pada flyer, “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Saya langsung menerka-nerka arah materi yang akan disajikan narasumber. Agar tidak terjadi kesalahpahaman mengartikan kata passion dalam bahasa Indonesia, saya pun segera mencari makna kata itu di KBBI online. Di sana dijelaskan bahwa kata passion adalah kosakata bahasa Inggris yang berarti gairah, sedangkan gairah sendiri mempunyai arti keinginan atau hasrat yang kuat. Wah… sepertinya menulis akan menjadi kegiatan yang menyenangkan jika sesuai dengan keinginan, dan semoga kegiatan belajar malam ini akan menjadi hal yang menyenangkan juga.  Gugup saya pun sedikit mereda.

Komentar “duet maut” Om Jay di WAG untuk Ibu Aam Nurhasanah sebagai moderator dan Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. sebagai narasumber yang terpampang di flyer menambah cairnya suasana hati saya yang semula agak galau. Benar, tanda-tanda menyenangkan mulai datang. Saya mulai menikmati kegiatan belajar malam ini. Melanjutkan candaan Om Jay tentang duet maut, beliau juga mengingatkan kehadiran peserta pada kegiatan penting ini, sekaligus memberikan link daftar hadir untuk diisi sebagai bukti kehadiran. Agar peserta mudah dalam menyimak perkuliahan dan menulis resume di blog masing-masing, maka WAG pun ditutup untuk sementara. Hal ini dilakukan agar konten materi yang akan disajikan tidak tertutup oleh chat peserta. Oh, begini rupanya cara belajar via WA.

Acara dibuka oleh Bpk. Wijaya Kusumah (Om Jay), guru blogger Indonesia dengan begitu banyak prestasi, sebagai pemrakarsa kegiatan belajar menulis PGRI ini. Sambutan dimulai dengan mengucapkan salam yang hanya bisa saya jawab sendiri tanpa Om Jay bisa mendengar jawaban saya karena WA diatur hanya satu arah. Tak lupa Om Jay mendoakan agar para peserta dalam keadaan sehat walafiat. Demikian juga doa saya terhadap Om Jay. Untuk memotivasi para peserta, Om Jay menyampaikan bahwa penerbit Andi Yogyakarta akan memberikan hadiah kejutan bagi peserta yang paling cepat mengumpulkan resumenya. Wow… keren! Akhirnya, perkuliahan diserahkan kepada Ibu Aam sebagai moderator dan Ibu Sri Sugiastuti, yang biasa disapa dengan Bu Kanjeng sebagai narasumber.

Sang moderator andal pun memulai aksinya dengan mengucapkan salam dan memberikan sedikit paparan. Tak lupa, sebagai umat beragama, bu Aam mengajak berdoa dengan membacakan Al-Fatihah. Aamiin. Semoga doa kita dikabulkan. Selanjutnya dijelaskan tentang tahap-tahap kegiatan yang akan dilalui: pembuka, materi inti, tanya jawab dan penutup. Kesempatan bertanya dibuka selebar-lebarnya melalui chat di WAG dengan format yang telah ditentukan.

Kegiatan puncak yang dinanti-nanti oleh seluruh peserta dimulai. Penulis hebat, Ibu Sri Sugiastuti (Ibu Kanjeng) sebagai narasumber mulai mengisi kolom chat WAG. Saya mulai menyimak dengan seksama, perlahan namun pasti agar tak terlewat sedikitpun informasi. Berharap ilmu yang disajikan oleh sosok seorang guru pegiat literasi nusantara, penulis 21 buku, editor sejak tahun 2019, pengurus PGRI Surakarta Jawa Tengah, motivator, blogger yang mempunyai hobi silaturrahmi, traveling, dan membaca ini dapat menjadi bekal saya dalam merintis jalan menghasilkan sebuah karya. Motto hidup beliau “Bersemangat menggapai ridha Allah dengan berbagi dan silaturrahmi” menjadi pemantik api bagi saya dalam mengikuti jalannya acara ini. Semoga Allah meridhoi.

Mengusung tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”, Bu Kanjeng mengawali materi inti dengan memotivasi seluruh peserta untuk mensyukuri nikmat sehat, nikmat sempat, dan nikmat berbagi dan belajar meningkatkan kualitas diri dalam kelas Belajar Menulis PGRI bersama Om Jay ini. Semoga kita bisa menjadi hamba yang bersyukur agar Allah menambahkan nikmat-Nya.  

Tak kurang-kurangnya motivasi untuk menyemangati peserta terkait kegiatan menulis, bu Aam menayangkan beberapa buku hasil karya bu Kanjeng dalam bentuk video. Diiringi lagu yang menggembirakan, buku-buku karya Ibu Sri Sugiastuti yang sudah diterbitkan oleh Penerbit Mayor, PT.Erlangga, dan PT. Andi Offset Yogyakarta, tampil memukau, antara lain: Masuk Surga karena Anak (Tips Parenting Islami), The Power of mother’s Prayer, Catatan Hati Menuju Baitullah, Ready to English, The Stories of Wonder Women, Wow English is so Easy Kids. Wah, ternyata karya-karya hebat itu merupakan perwujudan dari telah dijadikannya menulis sebagai passion. Jadi, kalau ingin menghasilkan karya seperti nara sumber inspiratif ini, kita juga harus menjadikan menulis sabagai passion. Semoga.

Sesuai tema yang diusung, Narasumber memaparkan alasan pentingnya menulis menjadi passion yang menjanjikan. Pertama, karena profesi menulis merupakan salah satu pekerjaan yang mulia, sangat dihormati dan dihargai secara sosial. Kedua, karena kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir. Keren kan kalau menulis sudah menjadi passion kita. Kalau menulis sudah menjadi passion kita, maka kendala-kendala, seperti merasa tidak berbakat menulis, tidak memiliki waktu, tidak memilki ide, tidak suka menulis, dan tidak berani menerima kritik dapat hilang dengan sendirinya. Selanjutnya semangat menulis harus diikat dengan komitmen dan kesungguhan hati untuk menggali potensi diri agar cita-cita menjadi penulis dapat terwujud. Wah… semakin semangat nih untuk menulis. Nah, kalau memang sudah semangat, mulailah! Menunggu apa lagi?

Untuk menjadi seorang penulis, kita harus mengetahui 2 hal, yaitu tujuan/alasan kita menulis dan cara menulis itu sendiri. Berbicara tentang tujuan menulis, hal ini bersifat filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi kehidupan kita di dunia; sementara cara menulis lebih bersifat teknis dan cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Yuk kita bahas satu-persatu.

Alasan Menulis

Alasan seseorang menulis sangatlah beragam. Narasumber mengelompokkan alasan seseorang menulis ke dalam 5 jenis.

1.   Orientasi material.  Dalam hal ini penulis mengejar uang, bisa dalam bentuk royalty, fee sebagai pembicara, novel yang diangkat ke layar lebar, dll.

2.    Orientasi eksistensi, di mana penulis mengejar popularitas dan pengakuan dari masyarakat.

3.  Orientasi personal. Orientasi ini bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.

4.    Orientasi sosial. Di sini penulis ingin mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban.

5.    Orientasi spiritual; tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik. 

Apapun orientasi seseorang dalam menulis, semuanya berpulang kepada diri masing-masing. Namun, akan jauh lebih baik jika kita menjadikan Hadis Nabi yang diangkat oleh Narasumber sebagai pengingat diri  “Khoirunnas anfa’uhum linnas” yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mau kan menjadi orang yang bermafaat bagi orang lain? Mari kita belajar menulis kepada pakarnya.

Cara Menulis

Sebagai pemula yang baru belajar untuk menjadi penulis yang baik, mari kita cermati tahapan-tahapan yang disajikan oleh Ibu Sri Sugiarti berikut ini.

1.    Menggali dan menemukan ide/dagasan;

       Ide/gagasan dapat diperoleh melalui kegiatan-kegitan berikut ini.

a.  Membaca. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, tentunya kita harus banyak membaca berbagai jenis buku, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat spesifik yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau minat kita;

b.    Diskusi. Dengan banyak berdiskusi, membahas bahan-bahan bacaan dengan orang lain, maka ide dan gagasan pun akan menjadi banyak pula.

c.   Melihat dan merasa. Ide dan gagasan bisa juga berasal dari apa yang kita alami secara langsung atau melalui media yang kita lihat, seperti TV, radio, internet, media sosial, dll.

d.  Bersoasialisai. Dengan bersosialisasi atau bermasyarakat, kita akan memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan kisah orang lain yang bisa menjadi sumber gagasan dan ide menulis kita. Semakin banyak bersosialisai, maka semakin banyak pula ide dan gagasan yang muncul yang bisa dikembangkan sebagai tulisan.

2.   Menentukan tujuan, genre dan segmen pembaca

     Genre tulisan disesuaikan dengan passion kita: puisi, cerpen, novel ataupun yang lainnya. Tujuan menulis disesuaikan dengan target/sasaran pembaca kita: anak-anak, remaja, orang tua, profesi tertentu, dll.

3.    Menentukan topik

       Topik dipilih sesuai dengan segmen pembaca atau penikmat tulisan kita. Jika sasrannya remaja, maka topiknya disesuaikan dengan hal-hal yang sedang trend di kalangan remaja.  Hal ini penting agar tulisan kita terfokus pada satu pokok pembicaraan.

4.    Membuat outline

       Kegiatan ini bertujuan agar tulisan kita tersusun secara berututan sesuai dengan alur yang ingin kita sampaikan.

5.  Mengumpulkan bahan materi/buku sebagai referensi. Kegiatan ini untuk membantu kita dalam mengembangkan materi tulisan kita. Semakin banyak bahan/materi yang kita kumpulkan, semakin mudah kita menulis.

Setelah tahapan-tahapan persiapan menulis kita lakukan seperti yang diuraikan di atas, barulah kegiatan menulis dapat kita lakukan. Di sini, Bu Kanjeng memaparkan hal-hal yang harus kita lakukan agar tulisan kita menjadi layak untuk diterbitkan. Namun, dari semuanya, yang pertama dan utama dilakukan adalah START! Mulailah menulis. Tanpa memulainya, persiapan yang telah kita lakukan tidak akan bermakna sama sekali. Jangan pernah ada rasa takut atau ragu dalam menuangkan ide-ide kita dalam tulisan. Tulis saja sesuai kemampuan. Tulislah sebanyak yang kita bisa. Abaikan perkara kaidah-kaidah yang berlaku. Bisa? Siapa takut!

Jika kita telah mulai menulis, tiba-tiba muncul mood jelek atau malas, takut, dsb. yang menyebabkan terhentinya kita menulis, bangkitkan semangat kita kembali (mood booster) dengan cara membayangkan manfaat menulis baik bagi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Gampang, kan?

Selanjutnya, di dalam proses menulis, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut ini agar tulisan kita bisa menjadi karya nyata.  

1.    Target waktu

       Target waktu disesuaikan dengan bentuk karya yang ingin kita capai. Hal ini perlu dilakukan agar karya kita cepat terealisasi.

2.    Disiplin

     Disiplin perlu diterapkan agar kita tidak lalai yang menyebabkan target waktu yang telah direncanakan menjadi berantakan.

3.    Kenyamanan

      Dengan terciptanya kenyamanan, maka kita bisa berkonsentrasi dalam menulis, dan ide-  ide yang ingin kita tulis dapat mengalir dengan lancar. 

4.    Fasilitas

     Untuk mendukung kegiatan menulis, diperlukan fasilitas yang baik. Jika fasilitas kurang baik, maka kegiatan menulis kita menjadi terhambat.

5.    Mood booster

     Mood booster diperlukan agar kita bersemangat terus dalam menulis. Jika mood booster terjaga, maka tulisan pun akan dapat diselesaikan dengan baik sesuai target yang telah ditetapkan.

 

Berikut ini merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan setelah naskah tulisan selesai.

1.    Editing/Penyuntingan

     Pada tahap ini penulis perlu membaca ulang naskah untuk memeriksa apakah terdapat penulisan yang tidak sesuai dengan kaidah yang benar, meliputi ejaan, tanda baca, pilihan kata, atau kalimat. Jika ada kesalahan, maka lakukan perbaikan.

2.    Revisi

     Pada tahap ini penulis perlu membaca ulang tulisan untuk mencermati isi/konten naskah. Apabila dirasakan ada bagian yang lebih, kurang, alur yang tidak berurutan, maka penulis harus melakukan perbaikan.

3.    Publishing/Penerbitan

      Apabila naskah sudah dirasakan baik dan benar, maka tulisan pun siap diterbitkan setelah melalui proses:

a.   Pengiriman naskah

   Penulis bisa memilih sendiri jalur penerbitannya, melauli penerbit umum (major publishing) atau penerbit independen (self-publishing).

       b.  Pracetak

            Pada tahap ini penulis harus membuat sinopsis terkait isi buku yang ditulis agar penerbit dapat memahami secara garis besar tentang isi buku tersebut dalam rangka pembuatan cover dan layout. Pengurusan ISBN juga perlu dilakukan, dengan cara meminta bantuan orang yang berkompeten. 

       c.   Pencetakan

             Pencetakan dilakukan apabila seluruh kelengkapan yang diperlukan selesai. Buku dapat dicetak secara digital atau bentuk buku kertas.

d.   Promosi dan distribusi

      Agar buku kita dapat didistribusikan kepada pembaca, maka diperlukan promosi yang dapat dilakukan melalui media sosial atau cetak.

Apabila seluruh tahap penulisan sudah dilalui dari awal sampai dicetak menjadi buku, maka bolehlah kita disebut sebagai penulis yang sebenarnya. Tinggal lagi, menjaga konsistensi agar karya tulisan kita dapat terus berkembang dan kita pun dapat terus berbagi kebaikan.

Demikianlah rangkaian paparan seputaran penulisan buku yang disajikan oleh guru kita, Bu Kanjeng, yang disampaikan secara lisan melalui rekaman suara yang lembut, chat, video, dan slide yang rapi dengan tema “Menjadikan Menulis sebagai Passion”. Semoga rekaman materi yang saya tulis ini dapat menjadi pedoman sekaligus menjadi penyemangat bagi saya khusunya, dan para pembaca pada umumnya dalam belajar menulis. Kepada Bu kanjeng, semoga ilmu yang dititipkan kepada kami ini dapat menjadi amal jariah, pahala yang mengalir abadi.

Kebersamaan dengan penulis hebat melalui kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 via WAG (WhatsApp Group) pun sudah di penghujung waktu. Antusias para peserta dalam menggali informasi dari bu Kanjeng tidak surut sekalipun hari semakin larut. Pertanyaan yang diajukan para peserta melalui chat secara silih berganti menghiasi layar gawai. Bu Kanjeng sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan dalam menjawab pertanyaan yang beragam, tampak dari nada bicara yang tetap lembut dan santai. Saya pun terus menyimak dengan baik setiap rangkaian pertanyaan dan jawaban. Tak ada pertanyaan yang saya ajukan, bukan karena tak perlu, melainkan karena terkesima dengan jalannya acara pada pertemuan pertama ini. Akhirnya, acara ditutup oleh Bu Kanjeng dengan ajakan “Ayo jadikan menulis sebagai passion.” Ya. Semoga saya  dapat merintis karya dengan menjadikan menulis sebagai passion. 

  

Pangkapinang, 13 Juli 2021

Rosminiyati

Belajarlah kepada ahlinya

 


Menulis, Menulis, Menulis!