Judul : Pelatihan Belajar Menulis PGRI
Resume ke : 5
Gelombang : 19
Tanggal : 21 Juli 2021
Tema : Mengenal Penerbit Indie
Narasumber : Mukminin, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan
menulis tak bisa dipisahkan dari penerbitan. Tentu saja karena konten tulisan
merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada para pembaca. Agar pesan sampai
kepada sasarannya, hasil karya tulisan pun haruslah diterbitkan.
Diterbitkannya buku merupakan impian setiap penulis. Namun kenyataannya, penerbitan buku tak semudah membalikkan telapak tangan. Di samping mutu tulisan yang benar-benar berkualitas, juga penerbitnya sendiri haruslah kita kenal terlebih dahulu. Selanjutnya kita akan paham apa yang harus dipersiapkan agar tulisan kita masuk daftar nominasi.
Membaca tema kegiatan Belajar Menulis PGRI Gelombang 19 dan 20 Pertemuan 5 membuat hati berbunga-bunga sekaligus harap-harap cemas. “Mengenal Penerbit Indie” dengan narasumber Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd. didampingi moderator andal Bapak Bambamg Purwanto alias Mr.Bams atau Mario Teduh memunculkan sejuta tanya dan harapan. Inikah saatnya takdir membuka tabirnya untuk menoreh nasib yang harus diperjuangkan oleh peserta?
“Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd., Narasumber” yang tertera pada flyer membuat saya terkesima. Mengapa? Sedang asyik-asyiknya menyimak materi Pertemuan 3 pada Jumat, 16 Juli 2021 pukul 20.38 tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi isyarat ada panggilan. Saya angkat dengan perasaan bingung, ada apa? Sayangnya, suara di seberang sana tak menyapa. Terputus. Cak Inin, begitu beliau disapa, yang sempat saya simpan nomor telponnya karena admin di grup belajar ini sekaligus tulisan-tulisan di blog yang sering saya baca, tiba-tiba menelpon saya. Tak pelak lagi, saya pun segera menelpon balik. Sempat ngobrol sedikit. Eh… ternyata beliau “kepencet” nomor saya. Tak mengapa. Sedikit pesan yang disampaikan dengan logat Jawa yang medok sempat terekam dalam ingatan saya bahwa beliau akan menjadi narasumber pada kegiatan belajar ini.
Saatnya pun tiba. Ternyata Pertemuan 5 adalah jadwalnya Cak Inin menyampaikan materi. Saya pun kembali bertanya, mengapa secepat ini peserta diperkenalkan dengan penerbit Indie? Aha… mungkin 4 pertemuan sebelumnya dianggap sudah cukup berpengalaman dalam menulis. Setidaknya berani menulis. Langkah selanjutnya, sambil terus mencari-cari identitas diri atas warna tulisan yang dihasilkan, perkenalan dengan Penerbit Indie dapat menjadikan dasar perbaikan tulisan yang sesuai dengan harapan.
Om Jay membuka acara dengan menyampaikan pesan bahwa kegiatan Belajar Pertemuan 5 ini berpusat pada Gelombang 20 agar mereka juga merasakan sensasi yang sama dengan kami yang dari gelombang 19. Tak mengapa. Sama-sama belajar adanya.
Bapak Mukminin, S.Pd.,M.Pd alias Cak Inin, seorang guru yang lahir di Jombang pada 6 Juli 1965, menjalani karirnya sebagai guru di SMP I Kedungpring Lamongan sejak 1989 sampai sekarang. Beliau juga menjalani profesi yang sangat mulia sebagai konsultan dan haji plus PT. Arminareka Perdana cabang Lamongan.Tak hanya itu, beliau juga menekuni karir terkait dunia menulis sejak usia 55 tahun bermula dari kegiatan belajar menulis gelombang 8. Memulai belajar pada usia yang tidak muda lagi, namun buku yang dihasilkan sudah sangat banyak dan bermutu.
Cak Inin yang mempunyai hobi membaca dan menulis ini telah menerbitkan 2 buku solo dan 12 buku antologi. Salah satu buku solo yang merupakan kenangan beliau dari kegiatan belajar menulis PGRI asuhan Om Jay yang sekarang tetap laris manis berjudul “Jurus Jitu Menjadi Penulis Andal.”
Suatu keberuntungan yang patut disyukuri bertemu dengan Narasumber pada kegiatan belajar menulis yang seorang penulis sekaligus penerbit buku. Tentu saja peluang besar bagi para peserta untuk menggali ilmu yang sedalam-dalamnya agar kiat-kiat menulis dan rahasia menerbitkan buku dapat dikuasai yang pada akhirnya mimpi menjadi penulis yang bukunya dinikmati oleh orang lain dapat tercapai.
Mengawali kuliah pada pertemuan ini, Cak Inin memberikan motivasi dengan meluncurkan pernyataan di luar dugaan saya bahwa menulis dan menerbitkan buku itu mudah. Sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya rasakan. Semudah apa? Jadi semakin penasaran.
Menurut beliau, seorang guru pastilah bisa menulis baik karya ilmiah maupun fiksi karena guru mempunyai banyak kisah inspiratif. Sayang kalau kisah-kisah tersebut tidak dibukukan. Berikutnya, semangat besar, tekad yang kuat, dan ketekunan yang harus dijaga saat menjalani prosesnya. Beliau menggunakan kata-kata mutiara sebagai motivasi yang tentunya dapat juga kita ikuti.
Sebagai penulis yang telah sukses, Cak Inin memberikan tips tentang cara menulis dan menerbitkan buku. Langkah-langkah tersebut adalah prewriting (persiapan), drafting (penulisan), revisi, penyuntinagn, dan publikasi (penerbitan). Untuk uraian rincinya, silakan milki buku berikut ini.
Terkait penerbitan buku setelah melalui tahap-tahap penulisan di atas, kita perlu mengenal penerbit. Cak Inin memaparkan 2 jenis penerbit yang harus kita ketahui, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang perbedaan mendasar dari kedua jenis penerbit tersebut, yaitu jumlah cetakan, pemilihan naskah yang diterbitkan, profesionalitas, waktu penerbitan, royalty, dan biaya penerbitan.
Penerbit mayor mencetak buku dengan jumlah yang banyak, 1.000 – 3.000 buku dan dijual di toko-toko buku, sementara penerbit indie mencetak buku dengan jumlah sesuai pemintaan penulis karena pemasarannya dilakukan hanya melalui media sosial.
Penerbit mayor sangat selektif memilih buku yang akan diterbitkan, yaitu buku-buku yang sesuai dengan selera pasar, karena itu proses penerbitannya juga akan lama, sampai 3 bulan bahkan bertahun-tahun karena melalui proses yang sangat panjang. Penerbit indie akan menerbitkan semua buku selama memenuhi persyaratan terkait ketentuan hukum yang berlaku dan hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 bulan.
Dalam hal royalti, mayoritas penerbit mayor memberikan royalty kepada penulis maksimal 10% dari total penjualan yang dibayarkan setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan buku tersebut terjual. Penerbit indie biasanya memberikan royalti sebesar 15-20% dari harga buku.
Dihubungkan dengan masalah pembiayaan, penerbit mayor tidak meminta bayaran kepada penulis karena mereka memiliki permodalan yang kuat; sementara pada penerbit indie, biaya dibebankan kepada penulis yang besarnya tergantung pada penerbit masing-masing.
Setelah mengenal perbedaan dari kedua penerbit tersebut, kembali kepada penulis, penerbit mana yang menjadi target untuk menerbitkan hasil karya yang sudah dibuat dengan penuh perjuangan. Namun, sebagai penulis pemula tentunya kita tak sabar menunggu buku kita diterbitkan. Untuk itu, Cak Inin, memberikan angin segar bagi peserta kegiatan belajar menulis ini dengan memperkenalkan penerbit indie yang ada di dalam grup ini: Oase, Gemala, YPTD, dan Kamila Press Lamongan.
Sebagai pemilik penerbitan buku Kamila Press Lamongan, Cak Inin memperkenalkan seluk-beluk penerbitan buku sekaligus menawarkan penerbitannya di penerbit ini. Penerbit kamila Lamongan adalah sebuah perusahaan yang melayani pencetakan buku sekaligus dengan jasa ISBN, editing, lay out, dan design cover buku dengan harga terjangkau. Yang terpenting kita bisa memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan melalui tahapan-tahapan:
1.
Pengiriman naskah berupa judul, kata pengantar, daftar isi, naskah lengkap
sesuai urutan daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis disertai foto dan sinopsis
oleh penulis.
2. Naskah
diketik pada kertas A5 dengan spasi 1,15
, huruf Arial, Calibri atau Cambrina11 dan margin keliling 2 cm, yang dimasukkan ke dalam 1 file dan dikirim ke WA atau email penerbit.
Sebagai penerbit yang loyal kepada penulis, Penerbit Kamila Press Lamongan memberikan fasilitas pembuatan cover sesuai selera penulis, layout, edit dan ISBN, sekaligus promosi buku dengan harganya. Tak kalah menarik, penulis juga mendapatkan sertifikat dari Penerbit ini.
Contoh terbitan buku oleh Penerbit Kamila Press seperti berikut ini.
Selanjutnya Cak Inin memaparkan harga cetak buku sesuai dengan karakteristik buku masing-masing sekaligus besarnya royalty yang menjanjikan bagi penulis. Nah, tunggu apa lagi? Pembaca sudah siap untuk menyantap ide-ide kita. Membiarkan tulisan hanya berserakan di blog atau segera mengemasnya menjadi buku untuk diterbitkan oleh Penerbit Kamila Press Lamongan? Mari kita bergegas. Menulislah, menulislah. Terbitkan, terbitkan.
Terima kasih Cak Inin atas materi dengan paparan yang detil ini. Semoga lelah dan sakitnya merangkai kata demi kata akan tersembuhkan dengan terapi sakti oleh Penerbit Kamila Press Lamongan.
Pangkapinang,
21 Juli 2021
Rosminiyati
Nasib harus diperjuangkan, sementara
takdir menjadi urusan-Nya.













