Diterbitnya buku
merupakan bukti seorang penulis telah sampai di ujung perjalanan dalam
menghasilkan suatu karya. Ide-ide dan informasi yang dituang di dalam tulisan
sudah dapat dinikmati oleh para pembaca yang menjadi target penulisan. Agar
tulisan kita sampai kepada sasarannya, yaitu pembaca, kita harus berkolaborasi
dengan penerbit buku untuk mencetak naskah buku yang kita buat.
Ada 2 jenis penerbit
buku yang kita kenal, penerbit mayor dan penerbit indie. Kedua penerbit ini
mempunyai ciri khas masing-masing. Mengenal karakteristik penerbit, memudahkan
kita merancang jenis tulisan maupun kriteria yang harus dipenuhi sesuai dengan
karakter penerbit yang bersangkutan. Dengan demikian, sejak awal kita perlu
memasang ancang-ancang ke penerbit mana naskah buku hasil perjuangan panjang kita
hendak berlabuh.
Pada beberapa pertemuan
sebelumnya peserta sudah diperkenalkan dengan 3 penerbit indie, yaitu Penerbit
Kamila Press Lamongan, Penerbit Gemala, dan YPTD. Ketiga penerbit tersebut pada
dasarnya mempunyai karakter yang sama, yaitu sama-sama membantu kepengurusan
ISBN, berbayar, dan proses penerbitan terhitung cepat. Sedikit perbedaan, pada
jumlah halaman per naskah dan kriteria pengetikan.
Pada pertemuan 10,
peserta sudah diperkenalkan dengan penerbit mayor, Andi Offset. Berbeda halnya
dengan penerbit indie, penerbitan buku di penerbit ini tidak berbayar namun
harus melalui seleksi yang sangat ketat. Pada pertemuan tersebut, narasumbernya
adalah Pak Agus Subardana yang telah
membahas tentang pemasaran buku.
Malam ini Ibu Sri
Sugiastuti, M.Pd. atau biasa disapa Bu Kanjeng membersamai narasumber Bpk.
Edy S. Mulyana, S.Si, M.T. dalam “Menguak Dapur
Penerbit Mayor”. Tepat pukul 7.00 Bu Kanjeng menyapa para peserta belajar
menulis dengan mengucapkan salam serta pujian kepada Allah atas limpahan rahmat
sehat dan sempat dalam mengikuti kegiatan belajar malam ini.
Selanjtunya, Bu
kanjeng memperkenalkan narasumber dengan memberikan pranala tentang biodata
beliau. Bpk. Edi S. Mulyanta S.Si, M.T. lahir di Jogjakarta pada 24 Mei 1969,
dan berprofesi sebagai publishing consultant Andi Publisher sejak tahun 2020.
Beliau juga seorang penulis yang telah menerbitkan
sebanyak 11 judul buku sejak tahun 2003.
Mengawali kuliah malam
ini, seperti halnya Bu Kanjeng, beliau menyapa peserta dengan salam, dilanjutkan mendoakan kesehatan para peserta
pada masa pandemi ini.
Pak Edy telah
berkecimpung di dunia produksi buku selama 20 tahun, tepatnya mulai tahun 2001.
Sebelum masa itu, beliau adalah seorang penulis profesioanl, penulis yang
menyandang hidupnya dari menulis. Luar biasa. Beliau mampu membuktikan bahwa
menjadi penulis dapat menghidupi diri dan keluarga.
Awal materi yang
menarik. Pak Edi memberi aba-aba tentang pentingnya memahami UU no 3 tahun 2017
yang disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah no 75 tahun 2019. Dalam PP ini
diatur proses pembuatan naskah sampai penyebarluasannya. Dengan PP ini pula
proses penerbitan buku menjadi lebih cepat.
Sebuah pencerahan
baru tentang penerbitan. Beliau menjelaskan bahwa pembagian penerbit mayor dan
minor (indie) bukanlah pernyataan yang termaktub di dalam UU no. 3. Perbedaan
tersebut terjadi dengan sendirinya karena jumlah produksi penerbit mayor
terbilang tinggi, hingga ribuan, sementara penerbit minor hanya ratusan. Karena
perbedaan tersebut, Perpustakaan Nasional menggolongkannya berdasarkan jumlah penerbitan
dalam pembagian ISBN yang dikeluarkan.
Pembagian mayor dan
indie selanjutnya ditinjau dari segi pemasarannya. Dalam pemasarn, penerbit
mayor menjangkau tidak hanya regional tetapi juga nasional. Pembagian ini juga
dipertajam oleh persyaratan yang diberikan oleh lembaga pendidikan tinggi
Indonesia (DIKTI) bahwa buku harus berskala nasional pendistribusiannya.
Persyaratan yang
diberikan oleh DIKTI tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi penerbit mayor
karena mereka memang telah memilki standar itu. Outlet buku yang dimilki
oleh penerbit mayor menjadikan pemasaran buku mereka cukup efektif, seperti
yang telah dijelaskan oleh Pak Agus Subardana pada pertemuan sebelumnya.
Mempertegas pemaparan
Pak Agus Subardana, Pak Edy kembali menjelaskan tentang dampak pandemi covid 19
terhadap perubahan pola pendistribusian buku yang cukup berarti. Saluran outlet
yang sebelumnya menjadi jalur sentral, kini menjadi tertutup karena adanya pembatasan
aktivitas di pusat perbelanjaan. Hal ini otomatis memperlambat proses
penerbitan yang menyesuaikan penjualan buku. Dengan adanya kondisi ini,
Penerbit Andi mengambil kebijakan dengan melakukan kerja sama dengan
outlet-outlet baru.
Jika ditinjau dari
sisi penerbit, pembatasan tersebut tidak berpengaruh sama sekali karena dengan
adanya WFH justru penulis mempunyai banyak waktu untuk menghasilkan karya. Pertumbuhan
naskah baru tetap terjamin dengan adanya tuntutan kepada guru dan dosen untuk
terus berkarya. Permasalahannya justru pada proses edit, perwajahan dan
cover buku hingga siap dicetak.
Kekacauan yang
terjadi pada masa pandemi menyebabkan Penerbit Andi mengambil langkah dengan
melakukan identifikasi tema buku yang akan diterbitkan. Tema tentang virus
corona yang sudah ditawarkan kepada penulis meyebabkan penerbit ini mendapatkan tema
yang update dengan cepat. Tidak hanya itu, Penerbit Andi juga melakukan identifikasi
kualitas penulis sehingga permintaan terhadap referensi tentang masalah update
pun tak menjadi kendala.
Berkaitan dengan update-nya
sebuah tulisan, kualitas dan kesiapan penulis dalam menyesuaikan diri dengan pangsa
pasar mutlak diperlukan agar karyanya dapat ditawarkan kepada penerbit untuk
diterbitkan.
Terkait kondisi
sekarang ini, Penerbit Andi hanya melakukan pencetakan terbatas sesuai dengan
kondisi pasar yang fluktuatif. Hal ini memberikan peluang kepada peserta
belajar menulis untuk mencoba peruntungan dalam menulis yang disesuaikan dengan
pangsa pasar sekaligus komunitas penulis buku itu sendiri. Di samping itu,
Penerbit Andi juga melakukan penjualan secara online, juga mencetak buku
secara digital dengan bekerjasama dengan Google Books agar kesempatan buku
tersebut untuk terbit menjadi lebih luas.
Penulis pemula
berharap agar bukunya dapat diterbitkan di penerbit mayor, khususnya Penerbit
Andi. Untuk itu, peserta belajar sebagai penulis pemula harus mengiktui standar
yang ditetapkan di dalam PP no. 75.

 |
contoh karya belajar menulis yang diterbitkan oleh Penerbit Andi
|
Perkuliahan malam ini
sangat hangat dengan dihiasai oleh banyaknya pertanyaan dari peserta. Hal ini
menunjukkan bahwa para penulis pemula yang tergabung di dalam grup belajar
menulis ini sudah tak sabar ingin karyanya diterbitkan.
Ada beberapa poin
penting dari pertanyaan peserta yang perlu saya catat di sini sebagai
berikut. Untuk persyaratan utama agar naskah dapat diterima di Penerbit Andi
adalah baik dan menarik terkait pemilihan tema, juga memiliki nilai kebaruan
atau up to date. Di samping itu, struktur yang baik memudahkan penerbit dalam
mengolah naskah yang disampaikan. Trik yang tidak kalah pentingnya adalah
dengan menggandeng penulis senior sebagai mitra. Bentuknya bisa sebagai penulis
Kata Pengantar atau komentar yang dapat ditampilkan di halaman depan.
Satu hal yang harus
diperhatikan bagi penulis yang mengirimkan naskah ke penerbit ini, yaitu harus
bersabar karena banyak sekali buku yang sudah mengantri untuk diterbitkan.
Tawaran yang menarik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencari pangsa
pasar sendiri dan menyampaikannya kepada mereka. Penerbit ini mempunyai target
naskah 30-60 per bulan atau 500 buku per tahun. Penulis merevisi sendiri
tulisannya.
Untuk genre tulisan berbentuk
novel yang masih menarik dan stabil penjualannya adalah roman percintaan, happy
ending, dan horor. Khusus untuk novel, sebaiknya ada dialog langsung di
dalamnya untuk memperkuat emosi pembaca.
Buku-buku terkait
Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, HOTS masih menarik untuk dibahas. Yang
penting, penyajiannya harus dikemas semenarik mungkin, apalagi jika digandeng
dengan media-media lainnya. Di dalam tulisan sebaiknya penulis sering
memberikan definisi, pengertian, dan penjelasan yang dapat dipakai sebagai
rujukan bagi penulis lain. Buku jenis ini banyak dicari karena penulis lain membutuhkan
sumber rujukan dalam tulisannya.
Untuk ketentuan
penulisan terkait jumlah halaman 75 – 150 dengan ukuran kertas A4, spasi 1,5,
dan huruf Times New Roman. Buku yang tebal akan memudahkan toko buku untuk
memajang buku tersebut sekaligus dapat diberikan penanda judul buku di punggungnya.
Apabila buku kita siap diterbitkan, Penerbit Andi akan memberikan Surat Perjanjian sebelum
dicetak masal. Selanjutnya, penulis akan menerima sampel buku yang telah
diproduksi. Buku yang diminati oleh pembaca akan masuk ke dalam rak di toko buku,
dan toko buku akan melaporkan hal tersebut ke penerbit.
Terkait royalti, penulis
akan menerima royalti sejumlah 10% dari harga buku yang dikeluarkan penerbit. Pembayaran
royalti kepada penulis dilakukan 6 bulan setelah tanggal diterbitkan dan
selanjutnya sampai buku habis dijual. Semakin banyak buku yang terjual, semakin
banyak pula royalti yang akan diterima oleh penulis.
Hal menarik dari Penerbit
Andi, penulis tidak pernah di-black list meskipun bukunya tidak atau kurang
laku. Hal ini sudah menjadi resiko penerbit. Penerbit Andi juga mempunyai sarana promosi berupa channel YouTube, TV Andi dengan Andi Academy sebagai Production House-nya. Acara-acaranya antara lain bedah buku, podcast, webinar, kuliah umum, yang semua itu bermanfaat sebagai sarana promosi.
Informasi penting
tentang ketersediaan buku di pasaran sangat menarik perhatian. Buku berupa bahan ajar arsitektur hingga kini tidak tersedia. Jika ada yang berminat menulis buku
jenis ini, maka bukunya langsung diterbitkan tanpa seleksi.
Mengakhiri kuliah malam
ini, Pak Edi mengingatkan kepada peserta belajar bahwa penerbit hanyalah
perantara. Keseluruhan isi buku tergantung kepada penulis sendiri. Sebagai
penulis pemula kepercayaan diri harus dipupuk agar dapat menghasilkan karya
terbaik.
Terima kasih Bu
Kanjeng dan Pak Edy atas kebersamaan dan ilmu yang sangat bermanfaat ini.
Informasi penting terkait penerbitan dan ketersediaan buku, serta kriteria buku
yang menarik dapat menjadi acuan kami dalam menulis.
Pangkalpinang, 4
Agustus 2021
Rosminiyati, S,Pd.