Thursday, August 5, 2021

Puisi telelet- Lukisan Rinduku

 

LUKISAN RINDUKU

 Oleh: Rosminiyati

 Aku yang begitu merindukan murid-muridku

Hampir setiap waktu diri merenung terpaku

Terkadang pula pikiran ini seperti membeku.

 

Terbayang aku pada indahnya tatapan mata

Riuhya kelas pada saat mereka diminta bercerita

Apalagi ketika berselisih paham sampai bersengketa

Rindu tak tertahan membuat aku sangat menderita.

 

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat pasti terlewatkan

Pada Sabtu dan Minggu tak pernah dipertemukan

Rindu telah menggunung ingin segera berpelukan

Harapan yang digenggam semakin berantakan

Jiwa yang rapuh kini terasa kian acak-acakan.

 

Rindu yang terpendam tak kuat ditahan

Gulana kini bersandingkan kelelahan

Jiwa berpacu melawan kegundahan

Harapan tersisa hanyalah serpihan

Tidur bertemankan kegelisahan

Pertemuan menjadi kebutuhan.

 

Tatap muka tak lagi dinanti

Kegiatan belajar sudah berganti

Melalui daring yang sudah disepakati

Harus dikerjakan dengan sepenuh hati

Sebagai bukti murid yang selalu berbakti.

 

Materi yang didapatkan terus digeluti

Rangkuman dibuat dengan teliti

Tugas dikerjakan sudah pasti

Tenggat waktu tak dilewati.

 

Itu semua cukup mengobati

Rasa rindu yang bagaikan cemeti

Terukir indah bagaikan sebuah prasasti.

 

Pangkalpinang, 5 Agustus 2021

Wednesday, August 4, 2021

Menguak Dapur Penerbit Mayor

 


Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI
Resume ke     :    11
Gelombang     :    19
Tanggal           :    4 Agustus 2021
Tema              :    Menguak Dapur Penerbit Mayor
Narasumber    :    Edy S. Mulyana


Diterbitnya buku merupakan bukti seorang penulis telah sampai di ujung perjalanan dalam menghasilkan suatu karya. Ide-ide dan informasi yang dituang di dalam tulisan sudah dapat dinikmati oleh para pembaca yang menjadi target penulisan. Agar tulisan kita sampai kepada sasarannya, yaitu pembaca, kita harus berkolaborasi dengan penerbit buku untuk mencetak naskah buku yang kita buat. 

Ada 2 jenis penerbit buku yang kita kenal, penerbit mayor dan penerbit indie. Kedua penerbit ini mempunyai ciri khas masing-masing. Mengenal karakteristik penerbit, memudahkan kita merancang jenis tulisan maupun kriteria yang harus dipenuhi sesuai dengan karakter penerbit yang bersangkutan. Dengan demikian, sejak awal kita perlu memasang ancang-ancang ke penerbit mana naskah buku hasil perjuangan panjang kita hendak berlabuh.

Pada beberapa pertemuan sebelumnya peserta sudah diperkenalkan dengan 3 penerbit indie, yaitu Penerbit Kamila Press Lamongan, Penerbit Gemala, dan YPTD. Ketiga penerbit tersebut pada dasarnya mempunyai karakter yang sama, yaitu sama-sama membantu kepengurusan ISBN, berbayar, dan proses penerbitan terhitung cepat. Sedikit perbedaan, pada jumlah halaman per naskah dan kriteria pengetikan.

Pada pertemuan 10, peserta sudah diperkenalkan dengan penerbit mayor, Andi Offset. Berbeda halnya dengan penerbit indie, penerbitan buku di penerbit ini tidak berbayar namun harus melalui seleksi yang sangat ketat. Pada pertemuan tersebut, narasumbernya adalah Pak Agus Subardana yang telah membahas tentang pemasaran buku.

Malam ini Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau biasa disapa Bu Kanjeng membersamai narasumber Bpk. Edy S. Mulyana, S.Si, M.T. dalam “Menguak Dapur Penerbit Mayor”. Tepat pukul 7.00 Bu Kanjeng menyapa para peserta belajar menulis dengan mengucapkan salam serta pujian kepada Allah atas limpahan rahmat sehat dan sempat dalam mengikuti kegiatan belajar malam ini.

Selanjtunya, Bu kanjeng memperkenalkan narasumber dengan memberikan pranala tentang biodata beliau. Bpk. Edi S. Mulyanta S.Si, M.T. lahir di Jogjakarta pada 24 Mei 1969, dan berprofesi sebagai publishing consultant Andi Publisher sejak tahun 2020. Beliau juga seorang penulis  yang telah menerbitkan sebanyak 11 judul buku sejak tahun 2003.

Mengawali kuliah malam ini, seperti halnya Bu Kanjeng, beliau menyapa peserta dengan salam,  dilanjutkan mendoakan kesehatan para peserta pada masa pandemi ini.  

Pak Edy telah berkecimpung di dunia produksi buku selama 20 tahun, tepatnya mulai tahun 2001. Sebelum masa itu, beliau adalah seorang penulis profesioanl, penulis yang menyandang hidupnya dari menulis. Luar biasa. Beliau mampu membuktikan bahwa menjadi penulis dapat menghidupi diri dan keluarga.

Awal materi yang menarik. Pak Edi memberi aba-aba tentang pentingnya memahami UU no 3 tahun 2017 yang disempurnakan oleh Peraturan Pemerintah no 75 tahun 2019. Dalam PP ini diatur proses pembuatan naskah sampai penyebarluasannya. Dengan PP ini pula proses penerbitan buku menjadi lebih cepat.

Sebuah pencerahan baru tentang penerbitan. Beliau menjelaskan bahwa pembagian penerbit mayor dan minor (indie) bukanlah pernyataan yang termaktub di dalam UU no. 3. Perbedaan tersebut terjadi dengan sendirinya karena jumlah produksi penerbit mayor terbilang tinggi, hingga ribuan, sementara penerbit minor hanya ratusan. Karena perbedaan tersebut, Perpustakaan Nasional menggolongkannya berdasarkan jumlah penerbitan dalam pembagian ISBN yang dikeluarkan.

Pembagian mayor dan indie selanjutnya ditinjau dari segi pemasarannya. Dalam pemasarn, penerbit mayor menjangkau tidak hanya regional tetapi juga nasional. Pembagian ini juga dipertajam oleh persyaratan yang diberikan oleh lembaga pendidikan tinggi Indonesia (DIKTI) bahwa buku harus berskala nasional pendistribusiannya.

Persyaratan yang diberikan oleh DIKTI tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi penerbit mayor karena mereka memang telah memilki standar itu. Outlet buku yang dimilki oleh penerbit mayor menjadikan pemasaran buku mereka cukup efektif, seperti yang telah dijelaskan oleh Pak Agus Subardana pada pertemuan sebelumnya.

Mempertegas pemaparan Pak Agus Subardana, Pak Edy kembali menjelaskan tentang dampak pandemi covid 19 terhadap perubahan pola pendistribusian buku yang cukup berarti. Saluran outlet yang sebelumnya menjadi jalur sentral, kini menjadi tertutup karena adanya pembatasan aktivitas di pusat perbelanjaan. Hal ini otomatis memperlambat proses penerbitan yang menyesuaikan penjualan buku. Dengan adanya kondisi ini, Penerbit Andi mengambil kebijakan dengan melakukan kerja sama dengan outlet-outlet baru.

Jika ditinjau dari sisi penerbit, pembatasan tersebut tidak berpengaruh sama sekali karena dengan adanya WFH justru penulis mempunyai banyak waktu untuk menghasilkan karya. Pertumbuhan naskah baru tetap terjamin dengan adanya tuntutan kepada guru dan dosen untuk terus berkarya. Permasalahannya justru pada proses edit, perwajahan dan cover buku hingga siap dicetak.

Kekacauan yang terjadi pada masa pandemi menyebabkan Penerbit Andi mengambil langkah dengan melakukan identifikasi tema buku yang akan diterbitkan. Tema tentang virus corona yang sudah ditawarkan kepada penulis meyebabkan penerbit ini mendapatkan tema yang update dengan cepat. Tidak hanya itu, Penerbit Andi juga melakukan identifikasi kualitas penulis sehingga permintaan terhadap referensi tentang masalah update pun tak menjadi kendala.

Berkaitan dengan update-nya sebuah tulisan, kualitas dan kesiapan penulis dalam menyesuaikan diri dengan pangsa pasar mutlak diperlukan agar karyanya dapat ditawarkan kepada penerbit untuk diterbitkan.

Terkait kondisi sekarang ini, Penerbit Andi hanya melakukan pencetakan terbatas sesuai dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Hal ini memberikan peluang kepada peserta belajar menulis untuk mencoba peruntungan dalam menulis yang disesuaikan dengan pangsa pasar sekaligus komunitas penulis buku itu sendiri. Di samping itu, Penerbit Andi juga melakukan penjualan secara online, juga mencetak buku secara digital dengan bekerjasama dengan Google Books agar kesempatan buku tersebut untuk terbit menjadi lebih luas.

Penulis pemula berharap agar bukunya dapat diterbitkan di penerbit mayor, khususnya Penerbit Andi. Untuk itu, peserta belajar sebagai penulis pemula harus mengiktui standar yang ditetapkan di dalam PP no. 75.

 



 










 








contoh karya belajar menulis yang diterbitkan oleh Penerbit Andi










Perkuliahan malam ini sangat hangat dengan dihiasai oleh banyaknya pertanyaan dari peserta. Hal ini menunjukkan bahwa para penulis pemula yang tergabung di dalam grup belajar menulis ini sudah tak sabar ingin karyanya diterbitkan.

Ada beberapa poin penting dari pertanyaan peserta yang perlu saya catat di sini sebagai berikut. Untuk persyaratan utama agar naskah dapat diterima di Penerbit Andi adalah baik dan menarik terkait pemilihan tema, juga memiliki nilai kebaruan atau up to date. Di samping itu, struktur yang baik memudahkan penerbit dalam mengolah naskah yang disampaikan. Trik yang tidak kalah pentingnya adalah dengan menggandeng penulis senior sebagai mitra. Bentuknya bisa sebagai penulis Kata Pengantar atau komentar yang dapat ditampilkan di halaman depan.

Satu hal yang harus diperhatikan bagi penulis yang mengirimkan naskah ke penerbit ini, yaitu harus bersabar karena banyak sekali buku yang sudah mengantri untuk diterbitkan. Tawaran yang menarik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencari pangsa pasar sendiri dan menyampaikannya kepada mereka. Penerbit ini mempunyai target naskah 30-60 per bulan atau 500 buku per tahun. Penulis merevisi sendiri tulisannya.

Untuk genre tulisan berbentuk novel yang masih menarik dan stabil penjualannya adalah roman percintaan, happy ending, dan horor. Khusus untuk novel, sebaiknya ada dialog langsung di dalamnya untuk memperkuat emosi pembaca.

Buku-buku terkait Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, HOTS masih menarik untuk dibahas. Yang penting, penyajiannya harus dikemas semenarik mungkin, apalagi jika digandeng dengan media-media lainnya. Di dalam tulisan sebaiknya penulis sering memberikan definisi, pengertian, dan penjelasan yang dapat dipakai sebagai rujukan bagi penulis lain. Buku jenis ini banyak dicari karena penulis lain membutuhkan sumber rujukan dalam tulisannya.

Untuk ketentuan penulisan terkait jumlah halaman 75 – 150 dengan ukuran kertas A4, spasi 1,5, dan huruf Times New Roman. Buku yang tebal akan memudahkan toko buku untuk memajang buku tersebut sekaligus dapat diberikan penanda judul buku di punggungnya. 

Apabila buku kita siap diterbitkan, Penerbit Andi akan memberikan Surat Perjanjian sebelum dicetak masal. Selanjutnya, penulis akan menerima sampel buku yang telah diproduksi. Buku yang diminati oleh pembaca akan masuk ke dalam rak di toko buku, dan toko buku akan melaporkan hal tersebut ke penerbit.

Terkait royalti, penulis akan menerima royalti sejumlah 10% dari harga buku yang dikeluarkan penerbit. Pembayaran royalti kepada penulis dilakukan 6 bulan setelah tanggal diterbitkan dan selanjutnya sampai buku habis dijual. Semakin banyak buku yang terjual, semakin banyak pula royalti yang akan diterima oleh penulis.

Hal menarik dari Penerbit Andi, penulis tidak pernah di-black list meskipun bukunya tidak atau kurang laku. Hal ini sudah menjadi resiko penerbit. Penerbit Andi juga mempunyai sarana promosi  berupa channel YouTube, TV Andi dengan Andi Academy sebagai Production House-nya. Acara-acaranya antara lain bedah buku, podcast, webinar, kuliah umum, yang semua itu bermanfaat sebagai sarana promosi. 

Informasi penting tentang ketersediaan buku di pasaran sangat menarik perhatian. Buku berupa  bahan ajar arsitektur hingga kini tidak tersedia. Jika ada yang berminat menulis buku jenis ini, maka bukunya langsung diterbitkan tanpa seleksi.

Mengakhiri kuliah malam ini, Pak Edi mengingatkan kepada peserta belajar bahwa penerbit hanyalah perantara. Keseluruhan isi buku tergantung kepada penulis sendiri. Sebagai penulis pemula kepercayaan diri harus dipupuk agar dapat menghasilkan karya terbaik.

Terima kasih Bu Kanjeng dan Pak Edy atas kebersamaan dan ilmu yang sangat bermanfaat ini. Informasi penting terkait penerbitan dan ketersediaan buku, serta kriteria buku yang menarik dapat menjadi acuan kami dalam menulis.

  

Pangkalpinang, 4 Agustus 2021

Rosminiyati, S,Pd.

 

 
















Puisi Telelet-Cinta Penulis Pemula

 

CINTA PENULIS PEMULA

 Oleh: Rosminiyati

 

Cinta telah tertambat

Yang datang berkelebat

Tanpa perlu berdebat.

 

Cahaya mulai menerangi kelam

Secercah harapan memberi salam

Menyusup perlahan ke relung hati terdalam

Menguakkan kerinduan yang sempat tenggelam.

 

Hasrat yang kuat mendorong diri untuk berbagi

Lenyapkan keangkuhan dan perasaan gerogi

Menerbangkan gairah ke puncak tertinggi

Menggapai asa mengumpulkan energi

Lahirkan keberanian untuk unjuk gigi.

 

Tak kuat menahan gejolak cinta

Kasmaran dalam pelukan tahta

Ingin kugapai sang mahkota

Berbalut lembaran cerita

Dalam barisan kata

Yang rapi tertata.

 

Kini mulai kurasa

Ada sebuah sketsa

Dalam menata bahasa

Merangkai puisi atau prosa

Bercerita tentang tema tak biasa.

 

Tak pernah kalah sebelum berjuang

Terus melangkah mencari peluang

Tak ada istilah waktu terbuang

Apalagi kekosongan ruang.

 

Cinta kini telah menjawab

Keraguan yang tak bersebab

Menjadi penulis harus beradab.

 

Pangkalpinang, 3 Agustus 2021

Tuesday, August 3, 2021

Aneh tapi Nyata-Durian di dalam Durian

 

Keberuntungan tak terjadi setiap saat. Tak pula kepada semua orang. Perjalanan yang baru beberapa tapak menuju mahkota penulis terasa sangat jauh. Menjadikan menulis sebagai passion tak selalu berjalan mulus. Kampanye “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi” terkadang dirasakan sangat berat. Bukan hanya karena waktu, tetapi juga karena ide yang sulit didapat. Namun, benar adanya.  Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan tak terduga. 

Pagi ini, pukul 07.30 saya kedatangan tamu istimewa membawa kabar istimewa. Pak H. Baharudin bin H. Ishak namanya. Beliau adalah tentangga orang tua saya (saya juga waktu masih tinggal bersama orang tua). Kami memanggil beliau dengan sebutan Mang Bahar (mang=paman). Sekarang Mang Bahar tinggal di desa Puding Besar Kabupaten Bangka. Rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman orang tua saya ditinggali oleh anaknya. Rumah beliau di desa Puding Besar berjarak kira-kira 29 kilometer dari rumah saya, kota Pangkalpinang, atau perjalanan sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor. Bersyukur saya ada di rumah karena hari ini giliran bekerja dari rumah, sehingga bisa meyambut kedatangan beliau. 

Mang Bahar adalah seorang pemuka agama di desa Puding Besar. Kedatangan beliau kali ini merupakan kedatangan kedua kalinya ke rumah kami. Pertama, sekitar 3 tahun yang lalu pada saat beliau berniat merenovasi sebuah masjid tua yang bersejarah di desanya. Kedatangan beliau bukannya tidak beralasan. Itu semua karena suami saya berprofesi sebagai wartawan di media Bangka Pos, group Kompas-Gramedia. Beliau meminta suami saya untuk mengabarkan tentang masjid bersejarah itu.  

Kedatangan Mang Bahar kali ini membawa sebuah durian istimewa. Tidak seperti biasanya, durian ini berukuran sangat kecil, kurang lebih sama dengan besarnya daging durian yang masih utuh dengan bijinya. Bertekstur keras dan mempunyai warna seperti daging buah durian. Aromanya pun istimewa, kurang lebih sama persis dengan durian biasa.

H. Baharudin dan durian unik

 

 


 

 


Terdorong rasa ingin tahu yang besar, saya dan suami menanyakan asal-usul durian istimewa tersebut. Berkisahlah beliau pada kami. Semalam, beliau dengan temannya yang bernama Pak Hasanusi makan durian di rumah beliau. Durian tersebut dibawa oleh Pak Hasanusi dari “kelekak” (hutan kecil yang dirawat, biasanya ditanami pohon tahunan yang diwariskan secara turun temurun) durian milik pak Hasanusi. Jumlahnya 3 buah. Buah pertama dan kedua dikupas dan dinikmati bersama. Normal-normal saja. Di buah ketiga muncullah keunikan. Di salah satu “lundang” (ruang/rongga kulit) durian, menempel sebuah durian istimewa tersebut. Posisinya tepat menempati ruang/rongga kulit durian. Masya Allah. Hanya itu yang dapat saya ucapkan.

Penasaran dengan detil cerita Mang Bahar tentang posisi durian unik tersebut, saya pun meminta suami untuk membeli durian di pinggir jalan di dekat rumah (modus ingin makan durian juga). Mang Bahar segera membelah kulit durian dan meletakkan durian istimewa yang dibawanya ke dalam “lundang”. Kira-kira seperti inilah kondisi ditemukannya durian unik di dalam durian tersebut.

Posisi si durian unik 

 






Aneh tapi nyata. Itu sebuah fakta yang benar-benar terjadi. Bukan hoax. Ingin segera berbagi dengan yang lainnya, suami pun menelpon rekan kerjanya sesama personil di Bangka Pos. Wawan, cameraman dan Edy Yusmanto, PIC (Person in Charge) atau koordinator video Bangka Pos pun segera meluncur ke kediaman kami. Setelah berbincang sejenak, mereka berdua melakukan siaran langsung video, berbincang dengan Mang Bahar di teras rumah. Berikut ini link-nya.  

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=190350319805539&id=177892288911274

Menjelang siang, buah durian istimewa (biji durian berduri) itu mulai merekah laiknya durian yang dalam proses dibelah. Sebetulnya saya penasaran dengan bagian dalamnya, tapi sudahlah. Yang terpenting kita semua dapat mengambil hikmah dari keanehan ini. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak. Maha besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

kulit durian unik merekah


 

 

 

 

 




Sekitar pukul 10.30 Mang Bahar meninggalkan rumah kami dengan membawa pulang durian unik itu bersamanya. Tak lama kemudian, Mas Wawan dan Edy Yusmanto pamit pulang setelah diminta berfoto oleh suami untuk dokumentasi saya. Terima kasih Mang Bahar yang telah jauh-jauh datang sekaligus menjadi sumber inspirasi saya pagi ini. Terima kasih juga buat Mas Wawan dan Edy yang telah mengizinkan fotonya menghiasi tulisan saya ini.   

Mas Wawan dan Mas Edy

   

 





Entah berapa lama durian di dalam durian itu bisa bertahan. Membusuk atau mengering nantinya. Itu tak penting. Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Saya bersyukur pagi-pagi mendapat rezeki, bisa menjadi saksi mata keunikan durian di dalam durian secara langsung. Bersyukur juga ditakdirkan Allah bergabung di dalam kelas belajar menulis bersama PGRI dan Om Jay (Bpk. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru bloger Indonesia, motivator, penulis buku) sehingga saya dapat mengabadikan keunikan ini di dalam tulisan saya. Semoga Allah merahmati dan memberkahi kita semua.

 

Pangkalpinang, 3 Agustus 2021

Rosminiyati












Pantun Kemerdekaan


SEMANGAT HARI MERDEKA

Oleh: Rosminiyati


 Taruh gelas bagus di samping boneka,

Disimpan bertahun di tempat sama,

Tujuh belas Agustus hari merdeka.

Pada tahun empat puluh lima. 


Beli pita seorang dara,

Jahitkan baju model draperi,

Mari kita bergembira,

Rayakan kemerdekaan RI.


Pasang dasi kemeja cual,

Tanpa diberi benang simpul,

Rayakan proklamasi ala virtual,

Untuk hindari kumpul-kumpul.


Uang dolar patokan rupiah,

Siapa gerangan mau memberi,

Kemerdekaan bukan hadiah,

Hasil perjuangan anak negeri.


Kaum bangsawan membawa upeti,

Upeti diperiksa oleh paduka,

Para pahlawan rela mati,

Demi bangsa yang merdeka.


Pasang lentera jangan letih,

Karena malam telah tiba,

Kibarkan bendera merah putih,

Tanpa kalam sebagai aba-aba.


Berbalut kepekaan menghias dada,

Bermahkota budi menjunjung bakti,

Rebut kemerdekaan kini tiada,

Pemuda-pemudi sebagai pengganti.


Terbentur karang saat memancing,

Perahu ditambat di tepi pantai,

Pahlawan perang dengan bambu runcing,

Bangsa yang hebat tak boleh santai.


Air menggerus tepian jurang,

Jangan menari cari sensasi,

Kobarkan terus semangat perang,

Mengisi hari dengan prestasi.


Makan mangga di kala luang,

Daging dimakan buang bijinya.

Betapa bangga para pejuang,

Menyaksikan pemuda  mengisinya.


Tak ada pawai antri berjajar,

Karnaval ala kolonial,

Ambil gawai mulai belajar,

Berjuang  ala milenial.


Burung tekukur hinggap di jendela,

Pijakkan kaki kuncupkan sayapnya.

Mari bersyukur pada Allah taala,

Atas rezeki dan segala nikmat-Nya.


Pangkalpinang, 2 Agustus 2021

Rosminiyati

Pantun Perkenalan

 PEMILIK NAMA

Oleh: Rosminiyati


Di depan rumah bunga sekuntum,

Lidah buaya tanaman berduri,

Mukaddimah assalamualaikum,

Izinkan saya memperkenalkan diri.


Pohon pepaya dihinggapi merpati,

Kayu manis di sebelah pohon pinang,

Nama saya Rosminiyati,

Orangnya manis asal Pangkalpinang.


Merajut benang menjadi sejadah,

Duduk santai tanpa bertanya,

Kota Pangkalpinang sangatlah indah,

Banyak pantai yang mengelilinginya.


Pangkalpinang, 1 Agustus 2021

Rosminiyati


* Pantun ini telah diterbitkan dalam buku antologi "Merdeka Berpantun Cinta Budaya Negeri" pada September 2021


Monday, August 2, 2021

Pemasaran Buku




Judul               :    Pelatihan Belajar Menulis PGRI

Resume ke     :    10

Gelombang     :    19

Tanggal           :    2 Agustus 2021

Tema              :    Pemasaran Buku

Narasumber    :   Agus Subardana


Sudah 9 pertemuan terlewati. Banyak sekali warna-warni mirip pelangi yang menghiasi perjalanan seorang pengembara cinta di ujung waktu. Mengejar impian mengukir mahkota. Meski terseok melewati jalan berkelok, tak pernah berhenti meski sekejap sebelum mahkota dalam genggaman.

Malam ini adalah pertemuan kesepuluh belajar menulis bersama Om Jay dan PGRI. “Pemasaran Buku” begitulah temanya. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa tema ini akan menjadi bagian pembahasan.

Kembali Om Jay, guru blogger Indonesia, pemrakarsa kegiatan belajar ini, menyapa sebagai pembuka kuliah malam. Salam secara Islam dan nasional dihaturkan kepada peserta, guru hebat semuanya. Merinding rasanya disapa dengan ‘guru hebat Indonesia’ karena saya merasa bukan siapa-siapa. Tak bisa disangkal, ucapan adalah doa. Mudah-mudahan doa Om Jay menjadi nyata. Terselip doa yang lain juga, semoga para peserta sehat dan bisa belajar bersama. Aamiin.

Sisipan lagu merdu yang dikirim Ibu Rokayah membuat diri semakin bergairah. “Kuselalu merindukanmu …Kau terindah, kan selalu terindah. … kau pemilik hatiku…” seperti diri ini, yang merindukan karya indah dalam dekapanku.

Moderator andal, Bu Aam mulai membuka kelas dengan memberikan pengarahan tentang kegiatan selama 1 minggu ini peserta akan ditemani oleh 3 narasumber penting dari penerbit mayor, PT Andi Offset Yogyakarta.

Narasumber pada pertemuan ini adalah Bapak Agus Subardana, S.E. M.M. Lulusan S1 dan S2 jurusan Pemasaran. Beliau sudah bekerja di Penerbit ANDI Yogayakarta selama 17 tahun, sejak tahun 1999 sampai sekarang. Beliau menggeluti bidang pemasaran di Penerbit Andi yang beralamat di Jl. Beo No. 38 – 40 Demangan Baru, Yogyakarta.  Selain itu, beliau juga sering menjadi moderator di berbagai event webinar.

Menyapa peserta dengan ucapan salam, Pak Agus Subardana memulai kuliahnya. Beliau mengajak belajar bersama mengenai pemasaran buku di saat pandemi covid 19 seperti sekarang ini.

Pak Agus memaparkan tentang pentingnya buku. Buku merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan dan sarana utama bagi proses pembelajaran dan penyampaian informasi. Buku sudah diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini dengan mengajarkannya membaca beraneka buku.  

Pemerintah mendorong kegiatan membaca sebagai wujud dukungan dan tindakan nyata dalam membangun budaya membaca sejak dini. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan generasi muda yang cerdas dengan minat baca yang tinggi, khususnya anak-anak. Kondisi ini dicermati sebagai peluang usaha oleh pengusaha yang bergerak di bidang penerbitan buku.

Perkembangan industri penerbitan buku pada saat covid di Indonesia mengalami penurunan drastis. Dampak penjualan buku selama PPKM berjalaan, dari Maret – Mei 2021, sangat dirasakan. Pengunjung buku berkurang di tok-toko buku menyebabkan banyak penerbit buku mayor yang berjumlah 1.328 tergabung dalam IKAPI kini berkurang. Tidak demikian halnya dengan Penerbit Andi Offset. Penerbit ini  tetap bisa eksis manis.


Grafik pemasaran buku di toko-toko dapat dilhat dari grafik berikut.









Dalam rangka mempertahankan keberadaan industri buku, langkah yang tepat dalam pemasaran buku harus dilakukan. Ini penting karena buku menjadi sumber untuk mencerdaskan bangsa.

Strategi pemasaran penjualan buku sangat unik dan banyak aspek yang harus dipelajari. Pemasaran dapat dilakukan melakukan media sosial online dan off line. Tak hanya itu, kajian terhadap selera pasar perlu dipertimbangkan untuk menghasilkan jenis-jenis buku menjadi trend.

Faktor-faktor yang mempengaruhi startegi pemasaran buku terbagi menjadi faktor mikro dan faktor makro. Faktor mikro meliputi perantara, pemasok, pesaing, dan masyarakat. Faktor mikro dipengaruhi oleh demografi, ekonomi, politik-hukum, teknologi-fisik, dan sosial-budaya.

Penerbit Andi Offset sendiri merupakan industri penerbit buku yang sudah berjalan 40 tahun. Penerbit ini telah menerbitkan lebih dari 10,000 judul buku. Karena itu, mereka mengelompokkan buku menjadi 32 katagori: buku anak, buku bisnis, buku pertanian, buku fiksi - novel, buku pengembangan diri, buku teks, dll. Jenis-jenis tersebut dipetakan sesuai segmentasi jenis kategori buku.

Strategi Pemasaran buku yang telah dilakukan oleh penerbit Andi Offset dipetakan menjadi dua strategi pemasaran yaitu serangan udara atau online dan serangan darat atau offline dengan berlandaskan pada faktor mikro dan faktor makro. Dua strategi tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut.

Strategi online dapat dilakukan dengan promosi melalui whatsapp, website, atau market place dan reseller. Keuntungan penggunaan website dapat diisi dengan produk, harga, testimoni, dan sebagainya. Melalui website, informasi tentang produk dapat dilakukan secara besar-besaran. Selanjutnya, informasi dapat dicapai oleh konsumen baru, mempertahankan konsumen lama. Tak kalah penting, menjaga kestabilan penjualan saat kondisi pasar sedang lemah dan menjaga kestabilan dan menaikkan profit. Melalui online, desain dan produk yang baik dapat berdampak pada pembaca.

Startegi offline  tetap dilakukan penerbit Andi Offset. Penerbit ini mempunyai 87 cabang di kota-kota di seluruh Indonesia. Strategi offline dilakukan dengan cara pengelompokan target pasar yang dituju. Pengelompokan ini berdasarkan jenis toko buku: modern, semi modern, dan tradisional. Hal ini perlu dilakukan karena setiap jenis toko buku mempunyai jenis administrasi dan tempat yang berbeda.

Toko buku modern, seperti Gramedia, Gunung Agung, menggunakan sistem administrasi perkembangan teknologi. Semuanya dapat dikendalikan dengan sistem terpusat dan tercatat semua. Sistem penjualannya melalui konsinyasi. Toko buku tradisional masih melakukan sistem tunai.

Startegi yang dilakukan di toko-toko modern sebagai berikut. Pertama, menawarkan buku-buku kepada toko-toko buku, menguasai display agar konsumen dapat dengan cepat memilih buku yang akan dibeli. Kedua, dengan promosi di toko buku dengan menggunakan neon box, banner, dan flyer. Ketiga, promosi pada event-event tertentu, misalnya pada tahun ajaran baru, potongan harga, dan lain-lain. Kunci melakukan strategi ini dengan selalu menjaga komunikasi dengan pihak toko modern.

Untuk penjualan secara off line, dilakukan juga langsung ke instansi dengan mendatangi instansi tersebut. Misalnya, mendatangi sekolah-sekolah dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Kegiatan ini dilakukan dengan membagi buku-buku tersebut ke dalam jenis yang sesuai dengan jenjangnya. Ditawarkan juga buku-buku referensi untuk perpustakaan atau buku umum.

Melalui pemaparan yang disampaikan Pak Agus, semakin bertambah semangat ingin cepat-cepat menerbitkan buku. Bukan hanya itu, ilmu tentang trend pasar menjadikan peserta semakin mengerti jenis buku yang akan ditulis agar tulisan kita dapat diterima. Menulis pun menjadi tak sia-sia. Tak kalah menarik adalah strategi promosi yang harus digencarkan. Dengan demikian, tulisan yang dibuat dengan penuh perjuangan dapat bermafaat bagi pembaca. 

Terima kasih atas kebersamaan yang hangat malam ini Om Jay, Bu Aam dan Pak Agus. Semoga ilmunya menjadi amal jariah, yang tak putus hingga hari nanti.

 

 

Pangkalpinang, 2 Agustus 2021

Rosminiyati, S,Pd.

 








 





Menulis, Menulis, Menulis!