Monday, March 21, 2022

Jejak Literasi

 

Buku-buku karya guru-guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang

Waktu tak pernah menunggu siapa pun untuk menyapa. Ia akan terus melaju tanpa mempedulikan hati yang menanti. Tanpa pandang bulu, sang waktu akan menggilas jiwa yang abai. Penyesalan datang setelah semuanya berlalu.

Aku seorang guru yang telah melewatkan begitu panjang waktu tanpa meninggalkan jejak keabadian, yaitu tulisan. Bukan tanpa usaha, melainkan gagal dalam perjalanannya. Inilah wujud keinginan yang bersanding dengan usaha tanpa ilmu. Akhirnya, hasrat menjadi penulis pun dikuburkan dalam-dalam tanpa janji kapan bisa kembali.

Pertemuan dengan Kelas Belajar Menulis PGRI merupakan awal perjalanan nasib meraih mimpi yang sudah begitu lama tertunda. Kegiatan belajar dengan cara tak biasa dan dibersamai oleh para mentor yang tulus berbagi telah mengantarkan aku kepada terwujudnya impian menjadi penulis dengan cara yang unik. Ya, dalam kelas belajar ini, aku yang menamai diri "guru jadul" dalam sekejap mata menjelma menjadi "guru gaul". Betapa tidak! Syarat belajar menulis di kelas ini adalah mempunyai blog yang otomatis menjadikan pengelolanya seorang blogger, sementara selama ini tentang blog saja aku tidak paham. Dari sini pula kisah perjuangan guru beraroma pensiun bermula.

Diawali dengan perjuangan dalam membuat dan mengelola blog yang menghebohkan, melibatkan anak dan teman sejawat, akhirnya rangkaian kata sederhana hingga artikel berhasil dipublikasikan. Bagi sebagian orang, dengan menyisihkan sedikit waktu saja sudah bisa menghasilkan tulisan yang bermutu. Sementara, aku harus menguras pikiran, tenaga dan waktu untuk sekedar menghasilkan karya sederhana. Bukan perkara ringan bagi seorang pemula yang terlanjur usang baru belajar. Namun, aku tak mau kalah dengan alasan usia yang tak lagi muda. Aku hanya ingin memperjuangkan nasib sebelum takdir berkata.

Keinginan sederhana untuk menjadi penulis yang bisa berbagi kebaikan tak hanya sekedar tercapai. Menulis dari hati telah pula mengantarkan sang blogger pemula meraih juara dua di ajang Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Rangka Memperingati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh KOGTIK PGRI pada bulan Oktober 2021. Pada momen itu, aku semakin menyadari pentingnya membangun kesadaran berliterasi. Istilah Guru Penggerak tanpa SK yang digaungkan oleh Om Jay - guru blogger yang juga founder kelas menulis ini - sekaligus menjadi tema artikel pada lomba tersebut semakin memberikan kekuatan padaku untuk bergerak tanpa ikatan tertulis apa pun dengan pihak pengambil kebijakan.

Menyadari pentingnya kompetensi menulis di kalangan guru, aku berusaha sedemikian rupa mengajak kawan-kawan untuk ikut belajar di kelas Belajar Menulis PGRI ini. Berbagai cara aku lakukan agar mereka dapat terlibat di dalamnya. Aksi kebut menerbitkan buku karya tunggal aku lakukan agar dapat menjadi bukti nyata bahwa menulis bisa dilakukan oleh siapa saja.

Aksi lainnya, aku berbagi cerita tentang capaian juara kedua lomba blog beserta hadiah uang tunai dengan nominal Rp. 750.000,-, sebuah buku “Kurikulum Ngumpet” karya Wijaya Kusumah, M.Pd. dan Dr. Capri Anjaya, dan sebuah printer Epson L121. Tujuannya agar kawan-kawan guru percaya bahwa aku yang sebelumnya tidak bisa menulis, setelah melalui proses belajar menjadi bisa menulis, bahkan sampai menjadi juara.

Tak hanya itu, aku juga bergegas mengajukan kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang sudah tiga belas tahun tidak diutak-atik keberadaannya. Tentu saja satu sekolah paham betul penyebabnya, yaitu kurang syarat yang tak lain belum adanya jurnal hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berkat bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI, jalan menerbitkan jurnal hasil PTK yang sudah lima tahun terpendam pun terbuka. Dengan pengusulan kenaikan pangkat tersebut, maka aku menjadi orang pertama di sekolahku yang berani melangkah menuju pangkat IV b. Itu pula yang aku jadikan dasar membujuk kawan-kawan guru di sekolahku agar mau belajar menulis juga.

Tak kurang usaha, aku juga mengajukan diadakannya workshop tentang menulis kepada pihak sekolah. Alhamdulillah disetujui. Akhirnya, pada tanggal 6 dan 7 Desember 2021 berlangsunglah kegiatan “Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog”. Pada workshop tersebut aku bertindak sebagai narasumber tentang literasi, dan Ibu Nova Indriani, S.T., M.Pd. sebagai narasumber tentang pengelolaan blog. Alhamdulillah, kolaborasi tersebut membuahkan hasil. Kawan-kawan guru sangat antusias mengikuti kegiatan workshop dan termotivasi untuk menghasilkan karya tulis.

Kebahagiaan saat aku berhasil menerbitkan buku karya tunggal ternyata tak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan yang kurasa saat kudapatkan kawan-kawanku begitu bersemangat menyambut ajakan menulis buku karya bersama. Akhirnya, kami pun berhasil menerbitkan sebuah buku antologi “Romantika Keluarga SMK Negeri 2 Pangkalpinang” pada akhir Februari 2022 dengan dua puluh dua penulis yang terdiri dari dua puluh satu guru dan satu siswa.

Banyak kisah di balik terbitnya buku tersebut. Beberapa guru yang sudah dan sedang mengikuti kegiatan pelatihan Belajar Menulis PGRI tentunya lancar-lancar saja terkait pengumpulan naskah. Tentu saja hal ini disebabkan mereka sudah terbiasa menulis. Namun, bagi kawan yang belum belajar menulis, hal ini menjadi lumayan sulit. Ada kawan yang hampir setiap hari aku tanyakan tentang kemajuan tulisannya. Entah karena bosan ditanyakan atau memang karena ikhlas, akhirnya selesai juga. He … he …

Ada lagi kisah tentang guru muda yang sepantaran anak sulungku. Beliau bersemangat sekali untuk menulis tetapi belum membuahkan hasil. Setiap kali ditanya, jawabannya sedang proses, sementara waktu sudah berlalu satu bulan. Aku curiga beliau mengalami kendala dalam menulis. Akhirnya, aku todong beliau membuka laptopnya. Ternyata benar, baru selesai satu halaman. Untuk kasus ini, aku menawarkan diri membantunya mengetik sementara beliau memaparkan ceritanya secara lisan.

Setelah aku mengetik satu paragraf yang belum sempurna, aku pun menemukan permasalahan yang dihadapi guru tersebut. Ternyata, beliau ingin mengeluarkan seluruh ide di kepalanya dalam satu cerita. Artinya, terlalu banyak yang ingin diceritakan sehingga bingung menguraikannya. Kemudian, aku jelaskan bahwa cukup satu topik saja yang ditulis dalam satu cerita, dan kisah yang lain ditulis pada episode berikutnya. Setelah itu, beliau langsung mengambil alih laptop dan meneruskan tulisannya. Dalam sekejap saja naskah tulisan selesai dan diserahkan kepadaku. Masya Allah, isi dan bahasanya sangat bagus. Terlihat sekali bakat menulis yang luar biasa.

Kisah lain yang membuat aku terkesan juga terkait satu orang guru muda yang setiap kali bertemu aku tagih tulisannya. Beliau bersemangat sekali menulis tetapi prosesnya agak sulit. Namun, berkat dorongan suaminya dengan membuat perbandingan dengan aku yang sudah tua saja bisa, akhirnya beliau bisa menyelesaikan tulisan tersebut. Setelah naskah diserahkan kepadaku, beliau pun berkata, “Ternyata aku bisa nulis, ya Bu, setelah dipaksa.” Aku langsung menjawab, “Tuh kan … Ibu juga bilang apa? Pasti bisa!” jawabku memberikan semangat.

Aku tidak peduli dengan apa pun tanggapan kawan-kawan guru yang aku uber-uber untuk segera menyelesaikan tulisan mereka. Aku hanya meyakini bahwa mengawali sesuatu memang harus dipaksa, selanjutnya menjadi kebiasaan, dan seterusnya menjadi kebutuhan. Dari pengalaman pertama tersebut, aku berharap mereka merasakan sensasi menghasilkan karya perdana yang biasanya memacu untuk menulis karya-karya berikutnya seperti yang pernah aku rasakan. Itulah sebabnya aku mempercepat proses pengeditan naskah buku tersebut agar segera diterbitkan. Benar adanya. Beberapa guru sudah mengajak menulis lagi, bahkan sebelum buku diterbitkan.

Semangat literasi di kalangan guru di sekolahku terlihat semakin menyala. Guru-guru yang semula pesimis untuk bisa naik pangkat, terutama dari IV a ke IV b pun sudah mulai bergerak. Pelatihan PTK yang diadakan di sekolah diikuti oleh guru-guru sesuai kuota. Bahkan, ada yang tidak kebagian jatah. Perubahan besar terjadi. Kawan-kawan guru sudah mulai merasakan pentingnya menulis. Aku yang ditawarkan untuk ikut ambil bagian pada kegiatan tersebut memilih menolak. Aku lebih mengutamakan kawan-kawan yang membutuhkan, karena aku baru saja mengusulkan kenaikan pangkat.

Kamis, 17 Maret 2022, seminar hasil PTK diadakan di sekolahku. Tidak hanya guru-guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang yang berpartisipasi, melainkan juga guru-guru dari sekolah lain di Kota Pangkapinang. Momen ini pun ternyata membawa aku kepada pertemuan yang tak disangka-sangka dengan kawan guru yang bertugas di MAN 1 Pangkalpinang saat mereka masuk ke ruang guru untuk keperluan ke toilet dan salat zuhur. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, aku pun langsung mempromosikan kelas Belajar Menulis PGRI. Buku-buku solo dan antologi karya guru-guru SMKN 2 Pangkalpinang yang terpajang cantik di lemari kaca kutunjukkan sebagai bukti nyata. Gayung pun bersambut. Beberapa nomor telepon pintar langsung bertengger di gawaiku untuk digabungkan ke dalam grup WA Belajar Menulis periode berikutnya. Insya Allah.

Kini aku sedikit lega. Rasa bahagiaku tak dapat aku ceritakan. Guru-guru yang berada di satu ruangan denganku, yaitu guru-guru pengampu mata pelajaran Normatif dan Adaptif sebagian sudah tersentuh gerakan literasi. Bahkan, gerakan mereka jauh melampaui aku. Ibu Susan yang kecepatan menulisnya luar biasa sudah menghasilkan dua buku karya tunggal dan banyak sekali buku antologi. Ibu Derliana yang cerdas dengan kecepatan menulis yang tak bisa aku tandingi sudah menerbitkan satu buku solo dan banyak sekali buku antologi. Bahkan, sebentar lagi akan menerbitkan buku solo berikutnya. Mudah-mudahan segera terwujud. Inilah yang membuat hatiku berbunga-bunga. Untuk guru-guru lainnya, terutama yang masih muda, tinggal menunggu waktunya saja.

Target selanjutnya adalah menggerakkan guru-guru produktif (kejuruan) yang bermarkas di bengkel masing-masing. Menjangkau mereka agak sulit karena lokasi masing-masing bengkel lumayan jauh, sementara intensitas bertemu dengan mereka agak jarang. Untuk guru-guru produktif perempuan sudah mulai aktif, bahkan sudah tergabung dalam buku antologi perdana. Hal ini disebabkan seringnya mereka berkunjung ke ruang guru Normatif dan Adaptif. Sementara untuk bapak-bapak, melalui perbincangan sepintas masih alot. Berbagai alasan kesibukan masih menjadi tameng penolakan.

Senin 21 Maret 2022 aku ditugaskan menjadi pembina upacara yang sebenarnya belum giliranku. Untuk diketahui pembaca, momen menjadi pembina upacara di sekolahku adalah sesuatu yang langka karena seratusan guru antri dijadwalkan. Mendapatkan kesempatan dua sampai tiga tahun saja sudah merupakan hal luar biasa. Bahkan, ada yang sudah belasan tahun tidak mendapatkan kesempatan karena pada saat gilirannya tiba, ada saja kegiatan yang menjadi penyebab untuk batal. Pada upacara tersebut rencananya dilakukan peluncuran buku perdana kami sekaligus menjadi ajang motivasi gerakan literasi guru dan siswa. Sayangya, hari hujan sehingga upacara ditiadakan. Kami hanya bisa mengambil foto bersama di depan kantor utama sekolah. Tidak semua penulis bisa hadir karena beberapa diantaranya sedang ada kegiatan di luar daerah.

Para penulis buku antolgi perdana “Romantika Keluarga SMK Negeri 2 Pangklpinang”

Sebuah gerakan tentu saja tidak mungkin dijalankan sendiri. Sebagai contoh, beberapa bulan ini aku menjalankan gerakan literasi di kalangan siswa, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, apalagi pada masa pandemi yang membatasi pertemuan. Baru ada satu siswa yang terlibat aktif dalam menulis, yaitu siswa yang tergabung dalam buku antologi guru. Untuk itulah aku menggencarkan gerakan di kalangan guru. Jika sebagian besar guru telah sadar berliterasi, tentunya siswa-siswa akan digerakkan secara bersama. Jika semua sudah bergerak, bukan tidak mungkin seribu lima ratusan siswa akan menghasilkan karya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Semoga!

Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya Surat Keputusan (SK) yang menguatkan. Aku bergerak bukan karena ditugaskan. Aku hanya berbuat dengan bermodalkan kesadaran dan keikhlasan. Aku melihat potensi besar ada di sekolah ini. Begitu banyak karya inovatif yang telah dihasilkan oleh tangan-tangan terampil para guru dan siswa. Sayang sekali kalau tidak diabadikan dalam tulisan.

Aku sadar, usia kerjaku sudah tidak genap satu dasawarsa lagi. Aku ingin ada jejak literasi yang bisa ditinggalkan di sekolah ini. Dengan adanya buku yang diwariskan kepada generasi selanjutnya, mereka yang tidak sempat bertatap muka denganku dapat mengenalku lewat tulisan, begitu juga dengan guru-guru lainnya.

Aku juga tidak bisa banyak berkarya karena potensi diri yang sudah terlanjur lama tidak tergali. Sementara, kondisi fisik yang termakan usia sudah tidak mendukung lagi untuk bergerak cepat. Namun, dengan adanya perpanjangan tangan para generasi muda, kisah tentang sekolahku pasti tidak akan terhenti. Setidaknya, itulah yang dapat aku lakukan. Aku bersyukur bahwa Allah telah memberikan aku kesempatan bertemu dengan Kelas Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay sebelum aku meninggalkan sekolah tercinta ini. Inilah takdir indahku setelah nasib diperjuangkan.


Pangkalpinang, 21 Maret 2022

Rosminiyati

4 comments:

  1. Salam Sang Juara..
    Wah..
    perlu belajar kepada bunda Ros nih... agar bisa menulis dengan baik dan bagus

    ReplyDelete
  2. Luar biasa, semangat Bunda.... Sebarkan terus virus literasinya.

    ReplyDelete
  3. Sebuah langkah literasi yang mantul. Selamat atas terbitnya buku kolaborasi sekolah.

    ReplyDelete
  4. Wah banyak hal keren dari postingan ini. Mulai dari gambar paling pertama, Saya masih harus bermimpi dulu suatu saat sekolah saya punya rak/lemari khusus untuk etalase buku karya guru.

    Terlihat sekali Bu Ros semangat pantang menyerah menggerakkan rekan guru untuk menulis. Memang harus bermental baja untuk melakukannya

    ReplyDelete

Menulis, Menulis, Menulis!