| Buku-buku karya guru-guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang |
Aku seorang guru yang telah melewatkan
begitu panjang waktu tanpa meninggalkan jejak keabadian, yaitu tulisan. Bukan
tanpa usaha, melainkan gagal dalam perjalanannya. Inilah wujud keinginan yang
bersanding dengan usaha tanpa ilmu. Akhirnya, hasrat menjadi penulis pun dikuburkan
dalam-dalam tanpa janji kapan bisa kembali.
Pertemuan dengan Kelas Belajar Menulis
PGRI merupakan awal perjalanan nasib meraih mimpi yang sudah begitu lama
tertunda. Kegiatan belajar dengan cara tak biasa dan dibersamai oleh para
mentor yang tulus berbagi telah mengantarkan aku kepada terwujudnya impian menjadi
penulis dengan cara yang unik. Ya, dalam kelas belajar ini, aku yang menamai
diri "guru jadul" dalam sekejap mata menjelma menjadi "guru
gaul". Betapa tidak! Syarat belajar menulis di kelas ini adalah mempunyai
blog yang otomatis menjadikan pengelolanya seorang blogger, sementara
selama ini tentang blog saja aku tidak paham. Dari sini pula kisah perjuangan
guru beraroma pensiun bermula.
Diawali dengan perjuangan dalam membuat
dan mengelola blog yang menghebohkan, melibatkan anak dan teman sejawat,
akhirnya rangkaian kata sederhana hingga artikel berhasil dipublikasikan. Bagi
sebagian orang, dengan menyisihkan sedikit waktu saja sudah bisa menghasilkan
tulisan yang bermutu. Sementara, aku harus menguras pikiran, tenaga dan waktu untuk
sekedar menghasilkan karya sederhana. Bukan perkara ringan bagi seorang pemula
yang terlanjur usang baru belajar. Namun, aku tak mau kalah dengan alasan usia
yang tak lagi muda. Aku hanya ingin memperjuangkan nasib sebelum takdir
berkata.
Keinginan sederhana untuk menjadi
penulis yang bisa berbagi kebaikan tak hanya sekedar tercapai. Menulis dari
hati telah pula mengantarkan sang blogger pemula meraih juara dua di
ajang Lomba Blog Tingkat Nasional dalam Rangka Memperingati Bulan Bahasa dan
Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh KOGTIK PGRI pada bulan Oktober 2021. Pada
momen itu, aku semakin menyadari pentingnya membangun kesadaran berliterasi.
Istilah Guru Penggerak tanpa SK yang digaungkan oleh Om Jay - guru blogger
yang juga founder kelas menulis ini - sekaligus menjadi tema artikel
pada lomba tersebut semakin memberikan kekuatan padaku untuk bergerak tanpa
ikatan tertulis apa pun dengan pihak pengambil kebijakan.
Menyadari pentingnya kompetensi menulis
di kalangan guru, aku berusaha sedemikian rupa mengajak kawan-kawan untuk ikut belajar
di kelas Belajar Menulis PGRI ini. Berbagai cara aku lakukan agar mereka dapat
terlibat di dalamnya. Aksi kebut menerbitkan buku karya tunggal aku lakukan
agar dapat menjadi bukti nyata bahwa menulis bisa dilakukan oleh siapa saja.
Aksi lainnya, aku berbagi cerita tentang
capaian juara kedua lomba blog beserta hadiah uang tunai dengan nominal Rp. 750.000,-, sebuah buku “Kurikulum Ngumpet” karya Wijaya Kusumah, M.Pd. dan Dr. Capri
Anjaya, dan sebuah printer Epson L121. Tujuannya agar kawan-kawan guru percaya
bahwa aku yang sebelumnya tidak bisa menulis, setelah melalui proses belajar
menjadi bisa menulis, bahkan sampai menjadi juara.
Tak hanya itu, aku juga bergegas mengajukan
kenaikan pangkat dari IV a ke IV b yang sudah tiga belas tahun tidak diutak-atik
keberadaannya. Tentu saja satu sekolah paham betul penyebabnya, yaitu kurang
syarat yang tak lain belum adanya jurnal hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Berkat bergabung dalam kelas Belajar Menulis PGRI, jalan menerbitkan jurnal
hasil PTK yang sudah lima tahun terpendam pun terbuka. Dengan pengusulan
kenaikan pangkat tersebut, maka aku menjadi orang pertama di sekolahku yang
berani melangkah menuju pangkat IV b. Itu pula yang aku jadikan dasar membujuk kawan-kawan
guru di sekolahku agar mau belajar menulis juga.
Tak kurang usaha, aku juga mengajukan
diadakannya workshop tentang menulis kepada pihak sekolah. Alhamdulillah
disetujui. Akhirnya, pada tanggal 6 dan 7 Desember 2021 berlangsunglah kegiatan
“Workshop Literasi Digital dengan Menggunakan Platform Blog”.
Pada workshop tersebut aku bertindak sebagai narasumber tentang literasi,
dan Ibu Nova Indriani, S.T., M.Pd. sebagai narasumber tentang pengelolaan blog.
Alhamdulillah, kolaborasi tersebut membuahkan hasil. Kawan-kawan guru sangat
antusias mengikuti kegiatan workshop dan termotivasi untuk menghasilkan
karya tulis.
Kebahagiaan saat aku berhasil menerbitkan
buku karya tunggal ternyata tak seberapa dibandingkan dengan kebahagiaan yang
kurasa saat kudapatkan kawan-kawanku begitu bersemangat menyambut ajakan
menulis buku karya bersama. Akhirnya, kami pun berhasil menerbitkan sebuah buku
antologi “Romantika Keluarga SMK Negeri 2 Pangkalpinang” pada akhir Februari
2022 dengan dua puluh dua penulis yang terdiri dari dua puluh satu guru dan
satu siswa.
Banyak kisah di balik terbitnya buku
tersebut. Beberapa guru yang sudah dan sedang mengikuti kegiatan pelatihan
Belajar Menulis PGRI tentunya lancar-lancar saja terkait pengumpulan naskah.
Tentu saja hal ini disebabkan mereka sudah terbiasa menulis. Namun, bagi kawan
yang belum belajar menulis, hal ini menjadi lumayan sulit. Ada kawan yang hampir
setiap hari aku tanyakan tentang kemajuan tulisannya. Entah karena bosan
ditanyakan atau memang karena ikhlas, akhirnya selesai juga. He … he …
Ada lagi kisah tentang guru muda yang
sepantaran anak sulungku. Beliau bersemangat sekali untuk menulis tetapi belum
membuahkan hasil. Setiap kali ditanya, jawabannya sedang proses, sementara
waktu sudah berlalu satu bulan. Aku curiga beliau mengalami kendala dalam
menulis. Akhirnya, aku todong beliau membuka laptopnya. Ternyata benar, baru
selesai satu halaman. Untuk kasus ini, aku menawarkan diri membantunya mengetik
sementara beliau memaparkan ceritanya secara lisan.
Setelah aku mengetik satu paragraf yang
belum sempurna, aku pun menemukan permasalahan yang dihadapi guru tersebut. Ternyata,
beliau ingin mengeluarkan seluruh ide di kepalanya dalam satu cerita. Artinya,
terlalu banyak yang ingin diceritakan sehingga bingung menguraikannya. Kemudian,
aku jelaskan bahwa cukup satu topik saja yang ditulis dalam satu cerita, dan kisah
yang lain ditulis pada episode berikutnya. Setelah itu, beliau langsung
mengambil alih laptop dan meneruskan tulisannya. Dalam sekejap saja naskah
tulisan selesai dan diserahkan kepadaku. Masya Allah, isi dan bahasanya sangat bagus.
Terlihat sekali bakat menulis yang luar biasa.
Kisah lain yang membuat aku terkesan
juga terkait satu orang guru muda yang setiap kali bertemu aku tagih tulisannya.
Beliau bersemangat sekali menulis tetapi prosesnya agak sulit. Namun, berkat
dorongan suaminya dengan membuat perbandingan dengan aku yang sudah tua saja bisa,
akhirnya beliau bisa menyelesaikan tulisan tersebut. Setelah naskah diserahkan
kepadaku, beliau pun berkata, “Ternyata aku bisa nulis, ya Bu, setelah
dipaksa.” Aku langsung menjawab, “Tuh kan … Ibu juga bilang apa? Pasti
bisa!” jawabku memberikan semangat.
Aku tidak peduli dengan apa pun tanggapan
kawan-kawan guru yang aku uber-uber untuk segera menyelesaikan tulisan mereka. Aku
hanya meyakini bahwa mengawali sesuatu memang harus dipaksa, selanjutnya
menjadi kebiasaan, dan seterusnya menjadi kebutuhan. Dari pengalaman pertama
tersebut, aku berharap mereka merasakan sensasi menghasilkan karya perdana yang
biasanya memacu untuk menulis karya-karya berikutnya seperti yang pernah aku
rasakan. Itulah sebabnya aku mempercepat proses pengeditan naskah buku tersebut
agar segera diterbitkan. Benar adanya. Beberapa guru sudah mengajak menulis lagi,
bahkan sebelum buku diterbitkan.
Semangat literasi di kalangan guru di
sekolahku terlihat semakin menyala. Guru-guru yang semula pesimis untuk bisa
naik pangkat, terutama dari IV a ke IV b pun sudah mulai bergerak. Pelatihan
PTK yang diadakan di sekolah diikuti oleh guru-guru sesuai kuota. Bahkan, ada
yang tidak kebagian jatah. Perubahan besar terjadi. Kawan-kawan guru sudah
mulai merasakan pentingnya menulis. Aku yang ditawarkan untuk ikut ambil bagian
pada kegiatan tersebut memilih menolak. Aku lebih mengutamakan kawan-kawan yang
membutuhkan, karena aku baru saja mengusulkan kenaikan pangkat.
Kamis, 17 Maret 2022, seminar hasil PTK
diadakan di sekolahku. Tidak hanya guru-guru SMK Negeri 2 Pangkalpinang yang
berpartisipasi, melainkan juga guru-guru dari sekolah lain di Kota
Pangkapinang. Momen ini pun ternyata membawa aku kepada pertemuan yang tak
disangka-sangka dengan kawan guru yang bertugas di MAN 1 Pangkalpinang saat
mereka masuk ke ruang guru untuk keperluan ke toilet dan salat zuhur. Tak mau
menyia-nyiakan kesempatan, aku pun langsung mempromosikan kelas Belajar Menulis
PGRI. Buku-buku solo dan antologi karya guru-guru SMKN 2 Pangkalpinang yang
terpajang cantik di lemari kaca kutunjukkan sebagai bukti nyata. Gayung pun
bersambut. Beberapa nomor telepon pintar langsung bertengger di gawaiku untuk digabungkan ke dalam grup WA Belajar Menulis periode berikutnya. Insya
Allah.
Kini aku sedikit lega. Rasa bahagiaku
tak dapat aku ceritakan. Guru-guru yang berada di satu ruangan denganku, yaitu
guru-guru pengampu mata pelajaran Normatif dan Adaptif sebagian sudah tersentuh
gerakan literasi. Bahkan, gerakan mereka jauh melampaui aku. Ibu Susan yang
kecepatan menulisnya luar biasa sudah menghasilkan dua buku karya tunggal dan banyak
sekali buku antologi. Ibu Derliana yang cerdas dengan kecepatan menulis yang
tak bisa aku tandingi sudah menerbitkan satu buku solo dan banyak sekali buku antologi.
Bahkan, sebentar lagi akan menerbitkan buku solo berikutnya. Mudah-mudahan
segera terwujud. Inilah yang membuat hatiku berbunga-bunga. Untuk guru-guru
lainnya, terutama yang masih muda, tinggal menunggu waktunya saja.
Target selanjutnya adalah menggerakkan guru-guru
produktif (kejuruan) yang bermarkas di bengkel masing-masing. Menjangkau mereka
agak sulit karena lokasi masing-masing bengkel lumayan jauh, sementara intensitas
bertemu dengan mereka agak jarang. Untuk guru-guru produktif perempuan sudah
mulai aktif, bahkan sudah tergabung dalam buku antologi perdana. Hal ini
disebabkan seringnya mereka berkunjung ke ruang guru Normatif dan Adaptif. Sementara
untuk bapak-bapak, melalui perbincangan sepintas masih alot. Berbagai alasan
kesibukan masih menjadi tameng penolakan.
Senin 21 Maret 2022 aku ditugaskan
menjadi pembina upacara yang sebenarnya belum giliranku. Untuk diketahui
pembaca, momen menjadi pembina upacara di sekolahku adalah sesuatu yang langka
karena seratusan guru antri dijadwalkan. Mendapatkan kesempatan dua sampai tiga
tahun saja sudah merupakan hal luar biasa. Bahkan, ada yang sudah belasan tahun
tidak mendapatkan kesempatan karena pada saat gilirannya tiba, ada saja
kegiatan yang menjadi penyebab untuk batal. Pada upacara tersebut rencananya dilakukan
peluncuran buku perdana kami sekaligus menjadi ajang motivasi gerakan literasi
guru dan siswa. Sayangya, hari hujan sehingga upacara ditiadakan. Kami hanya
bisa mengambil foto bersama di depan kantor utama sekolah. Tidak semua penulis
bisa hadir karena beberapa diantaranya sedang ada kegiatan di luar daerah.
| Para penulis buku antolgi perdana “Romantika Keluarga SMK Negeri 2 Pangklpinang” |
Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya
Surat Keputusan (SK) yang menguatkan. Aku bergerak bukan karena ditugaskan. Aku
hanya berbuat dengan bermodalkan kesadaran dan keikhlasan. Aku melihat potensi
besar ada di sekolah ini. Begitu banyak karya inovatif yang telah dihasilkan
oleh tangan-tangan terampil para guru dan siswa. Sayang sekali kalau tidak
diabadikan dalam tulisan.
Aku sadar, usia kerjaku sudah tidak
genap satu dasawarsa lagi. Aku ingin ada jejak literasi yang bisa ditinggalkan
di sekolah ini. Dengan adanya buku yang diwariskan kepada generasi selanjutnya,
mereka yang tidak sempat bertatap muka denganku dapat mengenalku lewat tulisan,
begitu juga dengan guru-guru lainnya.
Aku juga tidak bisa banyak berkarya
karena potensi diri yang sudah terlanjur lama tidak tergali. Sementara, kondisi
fisik yang termakan usia sudah tidak mendukung lagi untuk bergerak cepat.
Namun, dengan adanya perpanjangan tangan para generasi muda, kisah tentang
sekolahku pasti tidak akan terhenti. Setidaknya, itulah yang dapat aku lakukan.
Aku bersyukur bahwa Allah telah memberikan aku kesempatan bertemu dengan Kelas
Belajar Menulis PGRI asuhan Om Jay sebelum aku meninggalkan sekolah tercinta
ini. Inilah takdir indahku setelah nasib diperjuangkan.
Pangkalpinang, 21 Maret 2022
Rosminiyati
Salam Sang Juara..
ReplyDeleteWah..
perlu belajar kepada bunda Ros nih... agar bisa menulis dengan baik dan bagus
Luar biasa, semangat Bunda.... Sebarkan terus virus literasinya.
ReplyDeleteSebuah langkah literasi yang mantul. Selamat atas terbitnya buku kolaborasi sekolah.
ReplyDeleteWah banyak hal keren dari postingan ini. Mulai dari gambar paling pertama, Saya masih harus bermimpi dulu suatu saat sekolah saya punya rak/lemari khusus untuk etalase buku karya guru.
ReplyDeleteTerlihat sekali Bu Ros semangat pantang menyerah menggerakkan rekan guru untuk menulis. Memang harus bermental baja untuk melakukannya